Terpaksa Nikah SMA

Tak Lagi Sama

“Keluar Kamu dari rumah saya!” bentak seorang pria paruh baya sambil menatap nyalang ke arah putrinya.

Gadis itu menangis histeris. Air matanya tak mau berhenti membasahi pipi putihnya, yang kini bersemu merah karena sempat menahan tangis.

“Maafin Mila, Ayah. I-ini bukan kemauan Mila,” jelasnya, masih tersedu-sedu.

” Saya tidak mau nama baik keluarga ini tercoreng, dari sekian banyak keluarga besar ayah, satu pun tak ada yang muka tembok seperti kau! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga, jangan buat saya merah padam, paham! ” Tunjuk sang ayah kepada Mila yang sedari tadi, menangis histeris di bawah kakinya.

Mila kemudian menoleh ke arah wanita paruh baya yang hanya diam sembari menangis, wanita itu syok mendengar kabar bahwa anak semata wayangnya tengah mengandung. Padahal putrinya itu masih bersekolah dan tak pernah terlihat dekat dengan lelaki mana pun. Orang tua mana yang tak akan kecewa bila anaknya melakukan hal menjijikkan seperti itu.

“Bunda … dengerin Mila, Bun. Mila gak salah, i-ini kesalahan.” Mila menunduk dalam, hingga air matanya berjatuhan ke lantai.

Wanita yang dipanggil bunda itu hanya diam tak mampu berkata-kata. Ia sangat syok mendengar kabar mengejutkan yang menimpa putrinya, ia bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Kekecewaan sudah terlanjur memenuhi hatinya.

“Mau membela diri lagi? Sekarang juga, angkat kakimu dari rumah saya. Cepat!”

Mila berdiri dari duduknya. Percuma saja ia menjelaskan panjang lebar kepada orang tuanya, mereka tidak akan pernah percaya. Mila pun melangkah keluar dari rumah keluarga Gilbran Aditama.

Berat bagi Mila untuk melangkah keluar dari rumah yang sudah tujuh belas tahun ini ia tempati, kenangan manis bersama kedua orang tuanya kembali berputar memenuhi otaknya. Berjalan menyusuri jalan raya di tengah gelapnya malam, tanpa tahu tujuan. Semua kemewahan yang Mila miliki, kini hilang sudah, teman-teman yang mengerumuninya dulu pun satu per satu mulai berpaling membelakanginya.

Mila menangis tersedu -sedu, rambutnya menari-nari kecil ketika diterpa angin malam yang kian dingin hingga menusuk ke tulang. Di halte bus, Mila berhenti. Sekadar demi melepas penat setelah jauh berjalan. Satu per satu bulir hujan jatuh membasahi bumi, seakan ikut menangis meratapi nasib Mila.

Pandangannya memburam ditutupi air mata yang tak henti-hentinya meluncur dari pelupuk mata Mila, ia sakit hati dan terluka, ia putus asa dalam keheningan malam yang sunyi. Tidak ada sandaran dan dekapan hangat penguat lara.

“Mila?

Seorang gadis berpakaian kasual dan berambut panjang, menepuk pelan pundak Mila yang sedang duduk termenung.

Mila mendongkak menatap wajah gadis yang menepuk pundaknya tersebut.

“Aina?”

Aina segera duduk di samping Mila. Tatapan bingung pun ia berikan pada Mila yang saat ini terlihat begitu berbeda dari biasanya.

“Kamu ngapain malam-malam di sini sendirian, Mila?”

Tiba-tiba Mila memeluk erat tubuh Aina sambil menangis. Aina semakin dibuat bingung. Bagaimana tidak? Gadis di sampingnya ini adalah sosok yang ceria, tapi bagaimana bisa dia sampai menangis pilu seperti ini?

Aina mengelus pundak Mila lembut. “Mil, kamu kenapa? Kalau kamu mau nangis, nangis aja, gak usah ditahan,” ucap Aina, mencoba memahami keadaan sahabatnya.

Mila menurut. Seiring meredanya tangisan Mila, hujan justru semakin deras dengan ditambah suara guntur yang memekakkan telinga, membuat siapa saja enggan untuk keluar dari persemaian.

Mila menatap Aina sendu. “Aku hamil, Na … .”

“Ap-apa?” Aina terkejut. Ia tak menyangka jika temannya, Mila, yang terlihat gadis baik-baik ternyata kini telah mengandung. Terus, sekarang kamu gimana?”

“Ayah ngusir aku dari rumah. Mona dan yang lainya gak mau nolongin aku.” Pipi Mila kembali dibasahi air mata.

“Yang sabar, ya, Mil.”

“Gimana kalau kamu tinggal di rumah aku aja? Aku tahu, rumahku jelek. Mungkin, kamu gak akan betah, tapi untuk sekarang kamu boleh tinggal denganku.”

Mila menatap intens wajah Aina yang tersenyum lebar kepadanya. Mata Mila berkaca-kaca, ia senang sekaligus bingung, bagaimana bisa Aina menawarkan bantuan dengan mudah, padahal mereka tidak terlalu dekat. Sementara teman dekat yang selama ini Mila banggakan? Tak ada satu pun yang mau membantu, di saat Mila susah seperti ini. Mila merasa sesak saat mengingat kenyataan tersebut.

“Tapi Na, aku nanti nyusahin kamu.”

“Gak papa, kok. Yuk! Kita ke rumahku. Aku rasa … hujannya gak mau berhenti.” Aina berdiri memegangi payung dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya terulur pada Mila. Mila menyambut uluran tangan Aina dengan haru, mereka pun berjalan bersama dan hilang di kegelapan malam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

TAMAT

Bulan kemudian.... Mila terdiam cemas di atas brangkar rumah sakit, ia sangat takut hari ini adalah hari persalinan yang telah dinanti. Arjuna sedari tadi terus…

Kain Putih

Jasad Saras masih berada di ruangan UGD setelah di bersihkan. Arjuna tidak kuasa lagi melihat wajah pucat pasi gadis itu, ia memilih duduk di luar…

Perpisahan

Setelah mendengar cerita Mila, hari ini Arjuna mulai mengatur rencana, ia meminta bantuan kepada sahabatnya Nakula, untuk melacak keberadaan Kevin. Setelah kejadian kemarin Arjuna tidak…

Terlepas

Kevin membuka kamar kurungan Mila dengan perasaan senang, dia sudah bersusah payah memasak semua makanan kesukaan wanita itu. Dia ingin kembali mengenang masa lalu saat…

Berbeda

"Mila cuman cinta suami Mila! Lepasin Mila Kevin!" Teriak Mila lantang. Ia khawatir dengan bayinya air mata yang ia tahan kini berhasil lolos dari pelupuk…

Psikopat

Hari ini selesai simulasi, Arjuna mengantarkan Mila ke Mal, katanya dia ingin membeli beberapa perlengkapan mandi dan beberapa barang pribadi untuknya. "Mbul, maaf ya, aku…

Undangan

"Mila, maaf ya soal tadi. Mbak benar-benar tidak berniat melukai hati kamu." "Nggak apa-apa kok, Mbak. Mila paham, makasih juga sudah ngajak aku jalan pagi…

Mengenali

"Hai, kenalin aku... Kevin. Kevin Dirgantara!" Deg Jantung Mila rasanya ingin keluar dari tempatnya, detak jantung wanita itu mulai menggila, keringat dingin mulai membasahi pelipis…

Familier

"Kak, aku pergi dulu ya!" Mila menyembulkan kepalanya di balik pintu, ia sudah bersiap dengan baju olahraga khusus ibu hamil miliknya, tidak lupa bando polkadot…

Tak Sanggup Merindu

Dert.... dert.... Ponsel Mila bergetar, sebuah notifikasi dari nomor Aina muncul di layar pop up. Mila yang fokus menatap bukunya kini beralih meraih ponsel di…

Kalah Atau Tersebar

"SELURUH SISWA DAN SISWI. DIMOHON UNTUK SEGERA MENUJU LAPANGAN. HARI INI SEKOLAH KITA KEDATANGAN TAMU. DARI INTERNASIONAL SCHOOL. ANAK-ANAK DIHIMBAU UNTUK TERTIB." Suara pak kepala…

Versi Arjuna

Subuh pagi, Arjuna terbangun dengan tubuh lelah. Kepalanya masih terasa berat, ia memijit keningnya, mencoba mengurangi rasa sakit yang belum juga menghilang dari semalam. Arjuna…

Awal Dari Penyesalan

Sadewa masih terus menatap Arjuna dengan pandangan khawatir. Tapi Arjuna terus saja mendesak agar ia pulang. Mau tidak mau, Sadewa mengalah. Air matanya bahkan sudah…

Flashback

Malam itu di hari minggu. Arjuna tengah sibuk dengan berkas-berkas di kafenya, malam minggu seperti ini biasanya selalu ramai. Tapi mungkin tidak dengan hari ini.…

Rival Or Friend

Suara televisi yang menyala, menampilkan serial kartun anak-anak, menemani sepasang suami istri itu. Arjuna dan Mila duduk di sofa, berpelukan, sambil menikmati keripik pisang di…

SiCebol

Aina berjalan santai di jalan raya. Suasana malam ini terlihat begitu indah, dengan taburan bintang di langit sana. Malam ini Aina ingin sekali makan Samyang,…

REALLY LOVE U

"Eh, Jun. Kapan Mila lahiran, gue nggak sabar pengen lihat dede bayi. Si Jujun udah tue. Broooo!" kata Nakula terkekeh. "Iya, juga ya, Nak. Si…

Retak

KRIIIIINGGGGG!! BRAK!!! Arjuna mengedip-ngedipkan matanya. Mencerna apa yang baru saja terjadi, suara bising dari sahabatnya itu membuat ia refleks terbangun. Arjuna bolak balik menatap gawai…

Rumah Mertua

Seperti katanya tadi siang. Selepas beberes dan mandi. Arjuna dan Mila menuju kediaman orang tua Mila. Minggu lalu, Gilbran dan Rosa baru saja kembali dari…

Cinta itu Klise

Yudistira tidak tahu kapan ia benar-benar merasakan cinta, apakah cinta itu merasa terpesona dengan paras ayu lawan jenis, atau merasa kagum dengan sikapnya? Yang jelas…
error: Content is protected !!