“Mas bangunlah ini sudah siang sekali.” Silvana membangunkan suaminya dengan penuh cinta. Silvana selalu memanjakan David yang sejak awal sudah dimanjakan orang tuanya.
Salah….
“Bisa tidak sebentar lagi aku masih tertidur.” tutur David bermalas-malasan bahkan dia merangkul lengan istrinya itu.
“Ayolah sayang ini sudah siang sekali. Apa kamu tidak apel pagi?” Silvana menggerutu dia mendumel dengan Merujukkan bibirnya yang tipis itu.
Cangkir
“Aku hanya bercanda sayang! Perasaan pernikahan kita sudah 5 tahun tapi kok kamu belum mengenal ya bagaimana karakter suamimu ini,” David berpindah dari kasurnya itu.
“Entahlah kadang-kadang aku tidak mengenalimu.”
“Kau ini laki-laki mengatakan itu, dari pernikahan hingga saat ini aku tetap mencintai.” David tersenyum dia merayu istrinya.
Jika sudah dengan rayuan seperti ini Silvana akan luluh dia akan melupakan problemanya. Karena selama ini dia hanya merasa sebagai istri tapi bukan sebagai menantu. Ibu mertua yang selalu menyudutkan dirinya tapi wajar saja dia hanyalah anak yatim piatu yang hidup bersandar dengan kakaknya. Apalagi sampai saat ini dia belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Meski ini tetap mereka rahasiakan tapi entahlah sebagai seorang wanita dia merasa miris, dia juga ingin menggendong buah hatinya yang tak mungkin bisa terjadi karena vonis dokter mengatakan jika suami Tengah bermasalah akan kesuburannya.
Tapi lagi-lagi seorang wanita biasa tetap disalahkan dalam hal ini. Ibu mertuanya selalu menyulitkan dirinya, banyak kata-kata pedas yang membuat dia sakit pendengaran. Kedudukan serta derajat mereka memang sangat berbeda membuat statusnya selalu dipertanyakan.
Kalau sudah mandi begini kan sudah semakin tampan goda Silvana pada suaminya itu
Siap Ibu.” ucap David memberi hormat terhadap istrinya itu membuat Silvana terkekeh.
“Apa ada memberi hormat tanpa mengenakan pakaian seperti ini kamu Mas!” Silvana terkekeh dia tertawa kecil dia sudah selesai menyusun pakaian yang hendak dipakai oleh suaminya itu.
Sebagai abdi negara David memiliki akan selalu dinas keluar kota untuk menemani atasannya.
Sebagai seorang istri Silvana tetap mengerti bukan sekali lagi ataupun dua kali dia ditinggal pergi itulah pengabdiannya sebagai seorang istri yang selalu mendukung suaminya itu.
“Aku tidak lama hanya dua hari saja setelah itu akan pulang nanti apa yang akan aku bawakan. Hem?” Tanya David meraih pinggang istrinya itu. Lalu dia memberi sentuhan di kening serta mengecup singkat bibir Silvana yang mungil.
Setelah sarapan David pun pergi lengkap dengan pakaian dinasnya itu. Dia pergi mengendarai mobilnya itu.
Tinggallah Silvana seorang diri, dia bersyukur rumah tangganya tetap baik-baik saja. Walau hubungan mereka sudah berjalan 5 tahun banyak suka duka melengkapi perjalanan hubungan mereka. Apalagi momongan yang belum bisa mereka wujudkan, sebagai seorang wanita dia akan tetap mendampingi suaminya betapapun suaminya tidak akan pernah bisa memberikan dia keturunan.
Bagi Silvana dicintai dengan tulus oleh laki-laki yang ia cintai itu sudah lebih cukup. Seperti biasanya dia akan melenggang ke rumah panti asuhan yang sengaja didirikan oleh suaminya untuk mengisi pengantin Silvana ketika suaminya berada di luar kota.
Mendapatkan banyak anak di sana membuat dia merasa senang. Bahkan dia juga merasa jika hal ini sangat menyenangkan.
Dia sebagai ibu panti membuat Silvana merasa senang. Andai saja rahimnya itu bisa melahirkan seorang anak. Mungkin dia akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini harkat pernikahannya itu akan berbuah. Dengan buah cinta dari dia dan suaminya. Tapi hingga sampai sekarang Silvana harus menelan pil pahit jika dia tidak bisa memberikan keturunan karena suaminya tidak bisa membuatnya hamil.
“Ibu kok Ibu sedih?” tanya Vella salah satu anak panti yang dekat sekali dengan Silvana.
“Ibu tidak bersedih sayang, Ibu hanya kelilipan saja.”Silvana berdusta dia tersenyum membuat Vella menyerngitkan keningnya.
“Kata ibu ustadzah kalau bohong itu berdosa loh ibu.”Vella terkekeh yang duduk di samping Silvana.
“Ibu sedih, karena Ibu tidak memiliki anak.”ucap Silvana lirik.
“Kalau kita berkata seperti itu, berarti kita tidak bersyukur dong Bu! Ibu kan memiliki kami anak-anak ibu, kami juga tidak beruntung karena kami tidak memiliki orang tua. Tapi Allah baik, dia mengirimkan ibu untuk menjadi ibu kami.”Vella memeluk Silvana yang membuat Silvana tidak sanggup dan dia pun menangis.
Grep…
“Nak Silva, Jangan bersedih.”ucap ibu panti yang mendekati mereka. Dengan cepat Silvana menyeka air matanya itu. Hingga ia terlihat biasa saja, terkadang perkataan anak kecil itu lebih manjur daripada kata-kata orang dewasa. Benarnya dikatakan Vella semua orang yang hidup ini memiliki batas masing-masing. Sesulit apapun yang kita raih, jika itu bukan milik kita kita tidak akan mendapatkannya. Silvana merasa tenang tak lama dia pun pulang ke rumah apalagi hari Sudah siang.
Bersambung