The Last Bampior

Alvaro sang penjaga

Aileen bersembunyi di sudut ruangan, ia mendekap kedua lututnya dengan tubuh yang bergetar. Sementara itu di luar kamarnya terdengar suara dentuman dan teriakan kesakitan kedua orang tuanya serta asisten mereka yang sedang melawan Kim Lee Hoon dan anak buahnya.

Aileen memberanikan diri mengintip suasana di luar kamar. Betapa terkejutnya Aileen melihat kedua orang tuanya sudah bersimbah darah karena melawan Kim Lee Hoon.

Kim Lee Hoon  merupakan adik dari raja vampir Kim Dong Hoon yang sedang memburu Aileen. Air mata Aileen mengalir deras, ingin sekali ia membantu melawan Kim Lee Hoon dan menolong kedua orang tuanya, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ilmu bela diri saja ia tidak bisa, Kim Hyun Sik menyuruhnya untuk tetap bersembunyi di kamar. Apa pun yang terjadi Aileen tidak boleh keluar kamar.

“Katakan di mana anakmu?!” teriak Kim Lee Hoon.

Dengan posisi bersimpuh, Hye Chin menjawab, “Aku tidak punya anak.

“Jangan menipuku! Aku sudah tahu kalau kalian mempunyai anak. Di mana dia? Jika kamu tidak beritahu keberadaannya, maka kita semua akan musnah karena ganghan bampior merupakan seorang monster yang haus akan kekuasaan.” Kim Lee Hoon geram dan memukul kembali Hye Chin hingga tubuhnya terpelanting menabrak dinding rumahnya.

“Hentikan! Aku sudah bilang tidak anak di rumah ini,” Hyun Sik berusaha meyakinkan Kim Lee Hoon.

Namun, bukannya membuat Kim Lee Hoon mempercayainya, justru malah membuatnya semakin murka.

“Pengkhianat!” teriak Kim Lee Hoon , kemudian ia melayang di atas Song Hye Chin.

Lalu Kim Lee Hoon mengeluarkan pistol berisi peluru perak dan mengarahkannya ke jantung Hye Chin. Tanpa ampun Kim Lee Hoon menembak jantung Hye Chin. Tubuh Hye Chin bergetar hebat setelah tertembus peluru perak. Sebelum tubuhnya hancur, Hye chin sempat melirik ke arah Aileen yang mengintip dari balik pintu.

“Ibuuuu!” teriak Aileen.

Kemudian ia tersadar dari meditasinya dengan napas yang tersengal-sengal.

“Ibu … maafkan aku,” ujar Aileen yang menangis sedih.

“Hei, aku bukan ibumu!” teriak Myunsik dari luar rumahnya, ia merupakan tetangganya.

“Cepat bangun! kemarin kamu sendiri yang memintaku membangunkanmu. Hampir sepuluh menit aku mengetuk pintu tapi kamu masih bisa tertidur lelap. Giliran aku akan pergi, kamu malah memanggilku ibu. Aneh!” Myunsik menggerutu.

Aileen segera menghapus air matanya, lalu ia membuka pintu apartemennya.

“Terima kasih karena telah membangunkan aku. Maaf jika aku merepotkan kamu,” ujar Aileen membungkukkan tubuhnya di hadapan Myunsik.

“Hanya permintaan maaf saja?” tanya Myunsik.

“Lalu?”

“Kita sudah sepakat, jika aku membangunkan kamu tepat waktu maka kamu akan memberiku dua botol soda.” Myunsik yang merupakan seorang pengangguran berharap Aileen tidak melupakan janjinya.

Walaupun Myunsik merupakan pria berusia dua puluh delapan tahun dan menganggur, tapi hannya dia yang peduli terhadap Aileen sejak kedatangannya tiga tahun lalu ke apartemennya sekarang.

Walau apartemennya hanya memiliki dua ruangan saja, Aileen bersyukur mendapatkan tempat tinggal yang layak dan tidak beratapkan langit lagi seperti di Guryong. Tempat yang kumuh yang memaksa Aileen harus berjuang sendirian untuk dapat bertahan hidup.

“Cepatlah bersiap pergi bekerja, kamu tidak ingin gajimu di potong lagi karena terlambat. Bukan?”

Aileen tersenyum mendengar ucapan Myunsik yang sangat perhatian kepadanya.

“Baik, aku akan segera berangkat kerja.” Aileen masuk ke dalam, sedangkan Myunsik tetap berdiri di luar.

Tidak lama kemudian Aileen keluar dan sudah berpakaian rapi. Myunsik kemudian mendekati Aileen.

“Jangan lupa belikan aku dua botol soda, seperti biasa.” Myunsik memastikan agar Aileen tidak lupa.

“Baiklah, aku akan belikan,” jawab Aileen.

“Pergilah, aku akan merapikan rumahmu. Kuncinya akan aku simpan di kotak itu,” ujar Myunsik sambil menunjuk ke arah kotak kecil yang terletak di samping pintu.

Aileen mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia pergi meninggalkan rumahnya.

“Syukurlah, aku mendapatkan tetangga yang baik seperti Myunsik. Aku selalu dibangunkan setiap pagi dan ia selalu merapikan rumahku.” Aileen tersenyum lebar jika mengingat kebaikan dari Myunsik.

Setelah Aileen pergi menggunakan motor pinjaman dari atasannya, Myunsik kemudian bergegas merapikan rumah Aileen.

“Pekerjaanku sudah selesai, saatnya aku mencari sarapan.” Myunsik tersenyum lebar.

Kemudian ia membuka lemari pakaian milik Aileen yang sudah miring pintunya. Kemudian ia memindahkan beberapa pakaian  milik Aileen ke tempat yang lain.

Di bawah tumpukan pakaian tersebut terdapat amplop berisi uang gaji Aileen.

“Benar, Aileen sudah gajian. Aku akan mengambil satu lembar saja ya Aileen. Sebagai upah karena aku telah merapikan rumahmu,” ujar Myunsik, seolah-oleh Aileen sedang bersamanya.

Myunsik mengambil satu lembar uang senilai 10.000 Won. Kemudian ia tersenyum senang setelah melihat uang yang dipegangnya.

“Aku sangat beruntung bertetangga dengan wanita bodoh seperti Aileen. Dengan mudahnya percaya denganku untuk merapikan rumahnya. Jika seperti ini terus, aku tidak butuh bekerja, cukup mengambil uang milik Aileen saja.” Myunsik lalu tertawa puas.

Ia kemudian mengunci rumah Aileen dan menyimpan kunci rumah Aileen di tempat yang sudah disepakati.

Setelah ia mengunci pintu rumahnya, Myunsik di kejutkan dengan sosok Alvaro yang sudah berdiri di sampingnya.

“Astaga! Siapa kamu? Mengejutkan aku saja. Bodoh!” Myunsik memarahi Alvaro yang bergeming.

“Kembalikan uang Aileen!” ujar Alvaro tanpa basa-basi.

“Apa? uang apa?” tanya Myunsik gugup. Ia bingung dari mana pria asing itu mengetahui jika uang Aileen sudah ia curi.

“Kembalikan uang Aileen! Atau kamu akan merasakan kerasnya tanah jika aku lempar kamu dari lantai empat.” Alvaro mengancam Myunsik.

Mendengar ancaman dari Alvaro membuat Myunsik ketakutan, terlebih lagi kedua mata Alvaro kini berwarna merah.

“O … oke. Aku akan kembalikan uang Aileen,” jawab Myunsik. Ia terpaksa mengembalikan uang Aileen ke dalam lemari. Setelah selesai, Myunsik kembali mengunci pintu dan menyimpan kunci rumah Aileen di kotak yang sudah disepakati.

“Aku sudah mengembalikan uang Aileen, kamu pergilah!” ujar Myunsik tanpa berani menatap wajah Alvaro yang masih menatapnya dengan tajam.

“Baiklah! Tapi kamu turun terlebih dahulu.” Alvaro tersenyum kepada Myunsik.

“Apa? apa maksud kamu? Aku …” belum juga selesai ucapan Myunsik, Alvaro sudah melempar tubuh Myunsik dari balkon kamar Aileen.

“Aaaaaaa ….” teriak Myunsik. Tubuhnya kini mendarat tepat di atas kasur yang sedang di jemur di lantai dasar. Jatuhnya tubuh Myunsik dari lantai empat membuat para warga sekitar terkejut.

“Pria menyeramkan itu yang melemparku dari lantai empat,” ujar Myunsik yang kesakitan. Beberapa warga menuju lantai empat dan tidak ditemukan siapa pun di sana.

“Anak itu kembali mengerjai kita. Aku rasa Myunsik sedang dalam keadaan mabuk,” ujar Dong Hee kepada warga yang lain. Mengira Myunsik berbohong karena sedang mabuk, para warga meninggalkan tubuh Myunsik yang kesakitan.

Sementara itu, Aileen yang datang tepat waktu ke restoran Chicken Pop tempatnya bekerja, mendapatkan apresiasi dari atasannya yang bernama Dong Jun.

“Hari ini kamu tidak terlambat. Bagus! Sekarang rapikan semua kotak pengiriman. Sebentar lagi kamu akan mengantarkan makanan ke pelanggan.” Dong Jun menatap Aileen dari bawah hingga ke atas.

“Baik, pak.” Aileen segera menuju ruangan tempat penyimpanan kotak pengiriman makanan.

Lalu Dong Jun mendekati Aileen dari belakang. Tanpa ragu tangannya menyentuh pinggang Aileen.

Aileen terkejut dengan sentuhan tangan Dong Jun, “Maaf, pak. Sikap bapak tadi sangat tidak sopan.” Aileen protes.

“Aku hanya memegangmu saja, atau kamu mau aku cumbu?” pertanyaan Dong Jun yang membuat Aileen marah.

“Hentikan! Atau aku akan teriak.” Ancam Aileen tanpa rasa takut, kedua matanya terlihat merah.

“Walau aku membutuhkan pekerjaan ini, tapi aku tidak akan tinggal diam jika dilecehkan,” ujar Aileen tegas.

Dong Jun tidak peduli dengan kemarahan Aileen, ia tetap berusaha menghampiri Aileen. Namun, langkahnya berhenti ketika Alvaro menghadangnya.

 

Lates Chapters

Ingatan Masa Lalu

“Kamu lagi! Sedang apa kamu di sini? Jika mau membeli makanan sebaiknya di dalam ruangan, bukan di sini.” Dong Jun mengusir Alvaro. “Aku akan membuat…
error: Content is protected !!