“Kiara, nanti jangan lupa bawakan aku handuk ke kamar mandi. Oh ya, kamu boleh ikut mandi sekalian,” bisik Andra tepat di telinga Kiara. Membuat gadis itu geli tertahan.
“Tidak berani.” Kiara beringsut menjauh.
“Kamu bisa nurut nggak? Kamu akan memohon dan meminta itu di bawah kakiku, ingat itu!” bentak Andra dengan tertawa sangat keras. Hal itu selalu dilakukan saat mereka hanya berdua di dalam kamar Andra, ketika Kiara membersihkan kamar.
Seorang gadis cantik sedang melamun memikirkan nasib selanjutnya, dia bernama Kiara. Dia ingin sekali menanyakan sesuatu yang membuat penasaran. Banyak perempuan cantik dan lebih menggoda daripada dia yang hanya seorang gadis miskin. Hidup hanya menumpang dan tidak punya kelebihan apapun juga. Baru lulus SMA, hingga sulit mencari pekerjaan.
Andra seorang CEO tampan dari perusahaan ternama, yang masih memiliki istri sah. Hanya karena kondisi ekonomi membuat Kiara harus rela mendapatkan pekerjaan di keluarga itu, demi membayar hutang keluarganya. Usia yang mendekati kepala 3 tidak membuat seseorang bersikap dewasa. Baik Andra maupun Mimi, istri sahnya selalu mengunggulkan harta di atas segalanya.
Saat ini Kiara tinggal di rumah majikan, sekaligus calon suami. Disaat dia baru seminggu tinggal di rumah besar itu, istri dari Andra yang bernama Mimi, dengan berterus terang meminta dirinya untuk menjadi madu. Syok saat mendengar permintaaan tidak wajar. Namun Kiara tidak berdaya dengan kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan keluar dari rumah Andra. Gaji selama lima tahun sudah dia terima untuk melunasi hutang dan membayar kontrakan dan pengobatan orang tuanya.
“Boleh Kiara tanya mumpung Nyonya Mimi tidak ada?” tanya Kiara sesudah selesai makan. Sejak menjadi calon istri Kiara memanggil Andra dengan sebutan Om, atas permintaan Andra dan Mimi.
Sendok yang dipegang Andra turun di atas piring urung masuk ke mulutnya dan menatap tajam ke arah Kiara. Gadis di hadapannya tertunduk merasa sudah salah bicara hingga membuat Andra marah dan menghentikan aktivitas makan paginya.
“Apa, jangan bilang minta uang! Cepat menikah denganku supaya dapat uang belanja yang banyak,” jawab Andra tanpa melihat ke arah Kiara.
“Maaf, hanya penasaran saja. Beri aku alasan yang tepat mengapa Om Andra mau menikah denganku? Selain untuk membayar hutang keluarga,” ucap Kiara sambil memainkan jari di atas pangkuan. Kiara kesal, Andra terlalu sombong dengan hartanya.
“Kamu tahu, mengapa aku berniat menikahimu? Kulihat kamu cukup cantik untuk melahirkan keturunanku. Aku inginkan anak, dan itu tidak dapat Mimi wujudkan. Tapi jangan puas dulu saat menjadi istriku. Nanti jika sudah punya anak, kamu tetap pada posisi kamu sebagai pengasuh. Bukan istriku!” tegas Andra.
Kalimat Andra cukup membuat Kiara merasa tersudut. Posisinya sekarang bukan sebagai calon istri yang terhormat. Tetapi tidak lebih dari seorang pembantu yang siap dipecat sewaktu-waktu.
Andra menoleh, “Camkan itu! Sekarang kamu makan, jangan sampai membuat kami susah!”
“Susah bagaimana maksudnya?”
“Kalau kamu nggak makan, bakalan sakit. Kita yang susah, ngerti!” bentak Andra setengah berteriak.
Ruang makan yang sunyi mendadak menggema dengan bentakan Andra. Hampir semua pembantu datang mengintip dari balik cendela skat dapur. Ruang makan yang berbentuk seperti cafe dengan aksen khas Jawa. Ruang yang dingin, namun tidak dengan penghuni yang sekarang sedang duduk di ruangan itu.
“Sekarang kamu ikut ke taman belakang, biar lebih segar!”
Kiara mengikuti langkah Andra yang sudah semakin berani menarik tangannya dengan sengaja. Tepatnya setengah menyeret Kiara untuk segera berjalan ke taman belakang. Hal ini tentu saja membuatnya merasa risih. Selama ini Kiara tidak berpegangan tangan dengan laki-laki dewasa sedikitpun. Hanya mencium tangan kedua orang tuanya saja.
Sampai di taman ternyata Mimi sudah menunggu duduk di kursi kayu. Mereka berhenti dan saling berpandangan. Andra menghampiri istri pertamanya dan mencium lembut rambut yang tergerai sebahu. Pemandangan yang yang membuat Kiara kagum.
“Kalian kenapa saling diam?” tanya Mimi menoleh ke arah Kiara yang tepat berdiri di belakang Andra.
“Nggak ada apa-apa. Ini Kiara, hanya butuh penjelasan. Di sini lumayan segar untuk berbincang. Sebaiknya kamu saja yang bicara, dia akan lebih percaya apa maksud kita sebenarnya. Aku pikir dia bodoh, jika tidak mau menerima permintaan kita. Melahirkan anakku dan hidup serba kecukupan. Bukan begitu?” ucap Andra dengan penuh percaya diri sambil melirik sinis ke arah Kiara.
“Oke akan aku jelaskan. Setelah nanti kamu melahirkan anak kami, kamu bebas. Kalian harus bercerai. Ingat, aku adalah istri sah Mas Andra. Kami hanya menginginkan anak yang harus kamu lahirkan. Tidak boleh ada rasa diantara kalian. Jika kamu melanggar, maka aku akan tuntut kamu!” ancam Mimi terdengar kasar di telinga Kiara. Bahkan dia berbicara tanpa melihat ke arah gadis itu.
“Sebentar, saya masing bingung! Sebenarnya berapa banyak uang yang sudah Mbak Mimi dan Om Andra berikan kepada kedua orang tuaku? Mengapa hidupku harus dipertaruhkan? Dan kalian seperti menyembunyikan sesuatu dariku?”
“Baiklah, sebenarnya kamu bukanlah anak kandung dari kedua orang tua kamu. Lebih tepatnya kamu anak pungut yang ditaruh di bak sampah. Mereka tidak akan merasa kehilangan kamu sedikitpun,” jawab Mimi tanpa beban.
Terasa petir menyambar di siang hari. Kiara bingung dengan ucapan Mimi tidak mungkin kedua orang tua membohongi dirinya. Karena semenjak kacil hingga besar tinggal dan diasuh oleh mereka dengan penuh kasih sayang. Kiara saat ini berpikir, jika Mimi dan Andra sedang memprovokasi dirinya, supaya tidak berbakti kepada kedua orang tuanya.
“Jangan bohong denganku, katakan jika ini tidak benar?” sanggah Kiara dengan napas memburu.
“Buat apa kami bohong kepadamu? Apalagi kamu sebentar lagi akan menjadi maduku dan akan tinggal di sini selamanya. Selamanyaaa …!” ucap Mimi dengan tertawa sangat keras.
“Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?” tanya Kiara dengan napas semakin memburu.
“Dengarkan aku, dengar baik-baik, kuulangi sekali lagi Kiara! Kamu bukan anak kandung mereka. Jadi pikirkan masa depan kamu saja. Jangan membuat diri kamu susah!” ketus Mimi dengan tatapan tajam ke arah Kiara.
“I-ni … ini pasti ada yang salah. Ada yang salah, jangan bohongi aku, jika niat kalian hanya menjadikan aku sebagai orang bodoh. Menyesal aku telah menerima permintaan kalian!”
“Kamu akan menyesali perkataanmu barusan jika tahu kenyataan yang sesungguhnya. Tidak ada gunanya kami bohong. Kamu bisa lihat, besuk aku antar kamu ke rumah kedua orangtuamu. Tapi ingat, jangan sampai kamu pingsan sebelum tahu kondisi mereka saat ini!” sahut Andra berdiri berjalan mendekat.
“Tidak, aku tetap tidak percaya. Akan aku tanyakan ini kepada kedua orang tuaku. Jangan hasut aku!” tuduh Kiara dengan nada tinggi.