Misteri Kegelapan

1. Mbok Ijah

Aku berjalan menuju ke dapur, tempat dimana Mbok Ijah sedang menyiapkan makanan. Wajahnya terlihat sangat pucat.

“Mbok Ijah pucat sekali, Mbok sakit?” tanyaku.

“Ndak apa-apa, Den. Simbok hanya sedikit lelah.”

“Aku panggilkan Mama ya, Mbok.”

“Ndak usah, Den. Simbok —”

Aku segera berlari menuju kamar Mama tanpa mengerjakan ucapan Mbok Ijah.

“Ma, Mbok Ijah sakit,” ucapku pada Mama yang duduk diam di atas ranjang.

“Sudah, Nak. Kasihan Mbok Ijah. Jangan ganggu Mbok Ijah terus, ya. Dia akan selalu pucat setiap kali melihat kita.” Mama berkata dengan lirih.

Ah, iya, aku lupa. Aku memang sudah berjanji untuk tak menampakkan diri lagi di depan manusia. Tapi apa daya karena memang aku sangat suka untuk bermain-main dengan Mbok Ijah.

***

 

Lates Chapters

7. Boneka

Di sebuah desa kecil yang terpencil, terdapat sebuah rumah tua yang ditinggalkan bertahun-tahun lamanya. Legenda mengatakan bahwa rumah itu dulu dihuni oleh seorang wanita tua…

6. Jangan Percaya, Bu!

Suara petir menggelegar, menampakkan kilat yang terlihat dari sela kaca jendela yang sedikit terbuka. Seorang anak kecil meringkuk di atas ranjang dengan menangkupkan kedua tangannya…

5. Gelang Merah

Di Korea, terdapat peraturan yang berlaku di semua rumah sakit. Ketika pasien masih hidup, gelang berwarna putih diikatkan di lengan kanan mereka. Gelang itu berisi…

4. Lompat Tali

Berkali-kali aku mencoba, aku selalu saja kalah saat bermain lompat tali bersama Mira. "Mira, sekali lagi," pintaku pada Mira. Kali ini aku bisa tertawa bahagia…

3. Kenyang

Tiga puluh menit yang lalu aku melihat tetanggaku memposting makanan pada status WA. Membuat liurku keluar, dan perut ini menjadi sangat lapar. Baru saja ku…

2. Mati Lampu

Mati lampu di saat sedang banyak pekerjaan membuat Hendra menjadi sangat jengkel. "Ah, dimana sih korek?" ucapnya sambil meraba-raba mencari korek api untuk menyalakan lilin…
error: Content is protected !!