Misteri Jam Antik Ibuku

Misteri Jam Antik Ibuku

Panji baru saja makan siang saat ponsel yang berada di saku celananya berdering kencang.  Secepatnya pria berusia 25 tahun itu mengambilnya lalu mengerutkan dahi saat nama sang tante terpampang jelas di layar.

 

“Nji, kamu bisa pulang secepatnya? Ibu kamu meninggal tadi pagi,” suara Kinar, adik sang ibu terdengar tak lama kemudian.

 

Panji terdiam dan merasa bumi yang dipijaknya semakin menjauh saat mendengar kabar kematian Kemala yang tiba-tiba, padahal mereka berdua masih bertukar cerita tadi malam.

 

“Tante jangan bercanda!” Sentak Panji ketika rasa terkejutnya hilang.

 

“Tante tidak bercanda, pihak rumah sakit yang datang ke rumah sudah mengkonfirmasi berita ini.” balas Kinar dengan nada tidak kalah kencang, disertai dengan isak tangis.

 

“Pihak rumah sakit yang datang ke rumah? Apa maksudnya ini, Tante?” tanya Panji heran.

 

“Ibu kamu meninggal tadi pagi sekitar jam 9, Tante berniat untuk memberikan ibu kamu makanan ke rumah, tapi kondisi rumah sepi maka dari itu Tante mencoba untuk memanggil beberapa orang tetangga dan mendobrak pintu rumah. Ibu kamu ditemukan tergeletak di lantai kamar dengan muka yang sudah pucat,” Panji hanya menghela napas kasar saat sang Tante menjelaskan kronologi kejadiannya dengan terbata-bata.

 

“Aku akan pulang hari ini juga, semoga saja masih ada kursi yang tersisa untuk hari ini di kereta,” putus Panji akhirnya.

 

“Tante tunggu,” ucap Kinar sebelum memutuskan percakapan telepon.

 

***

 

Di dalam kereta yang akan menempuh perjalanan kurang lebih 7 setengah jam, Panji teringat saat dia meninggalkan kota Jakarta menuju Jogja untuk berkuliah hingga bekerja sampai saat ini dan rela meninggalkan Kemala. Panji melakukan hal itu demi kehidupan yang lebih layak di masa depan, karena dia tahu jika sang ayah sudah tidak dapat diharapkan semenjak terjerat judi.  Matanya tak lama  terpejam dan mimpi pun menyambutnya.

 

Panji berjalan dalam kegelapan tanpa ada satupun cahaya yang menerangi.  Rasa takut segera bergelayut di dalam dada.  Di manakah dirinya berada? Apakah kegelapan yang tak ada ujungnya ini akan menenggelamkan dirinya tanpa sempat meminta tolong pada siapa pun.

 

Ding dong Ding dong

 

Pria berwajah datar itu melanjutkan langkah kakinya saat mendengar suara detak jam yang familiar di telinganya. Suara yang perlahan dia kenali adalah jam antik milik Kemala.  Jam yang menurut sang ibu sudah berusia lebih dari setengah abad.

 

Suara jam yang berdentang itu seakan menuntun langkah kaki Panji menuju tempat yang semestinya.  Suara yang semakin lama semakin terdengar nyaring dan memecah kesunyian tanpa batas ini.

 

‘Panji, cepatlah pulang.  Ibu sudah menantikan kamu.’

 

Panji terkesiap saat mendengar suara lembut Kemala.  Tapi pikirannya memberikan alarm peringatan.  Bukankah tadi Kinar berkata jika sang ibu sudah meninggal.  

 

‘Jadi suara siapakah itu?’ Pikirnya dalam hati.

 

Baru saja dia akan melangkah kembali, Panji merasa bahunya diguncang dengan keras.  Dia membuka mata dengan paksa dan setelah terbiasa akan cahaya yang masuk, Panji segera melihat siapa gerangan yang membangunkannya. Terlihat seorang gadis yang menatapnya dengan cemas.

 

“Maaf, kalau saya terpaksa membangunkan Mas.  Sebab sudah sejak tadi Mas. mengigau memanggil Ibu Mas,” ucap sang gadis yang akhirnya Panji ingat jika dari awal kereta berangkat gadis itu duduk di sebelahnya.

 

“Tidak apa-apa, Mbak.  Justru saya berterima kasih karena Mbak sudah membangunkan saya. Bisa-bisa satu kereta akan heboh jika igauan saya berubah menjadi teriakan,” Panji mengurai senyum maklum kepada gadis yang mulai merasa tenang saat ini.

 

“Kalau begitu Mas mau berbincang dengan saya? Sepertinya dalam waktu 4 jam lagi kereta ini akan tiba di stasiun Gambir,” Panji tak lama mengangguk sebab tidak ingin mengalami mimpi buruk lagi.

 

***

 

Panji menghembuskan napas berkali-kali saat memasuki rumah duka yang berada di kawasan Jakarta Barat.  Kinar sudah memberi tahu jika ruangan Kemala disemayamkan berada di lantai paling bawah dan rencananya akan dikremasi 3  hari lagi di daerah Dadap.

 

Pihak saudara dari Kemala dan Purwanto sudah mulai berdatangan dan mengucapkan simpati atas meninggalnya wanita yang tahun ini genap berusia 55 tahun itu.

 

“Panji, cepatlah ke sini. Lihatlah wajah terakhir ibu kamu sebelum peti ini di tutup.” Titah Purwanto saat melihat sang putra yang meletakkan tas ranselnya di meja kosong.

 

Sebenarnya Panji tidak rela melepas kepergian sang ibu yang begitu cepat, tapi akal sehatnya dengan cepat berkata jika tugas Kemala di dunia ini telah selesai dan sang ibu telah diterima di dalam rumah Tuhan.

 

Wajah Kemala begitu damai seakan hanya tertidur.  Namun saat Panji kembali melihatnya, jam antik yang terpasang di rumah muncul dalam bayangannya. Panji kembali tersentak dibuatnya, apakah ini pertanda jika dia harus memeriksa kondisi jam antik itu setelah semua acara pelarungan abu Kemala usai?

 

“Panji, peti akan segera ditutup. Kamu duduk saja dulu.” Panji menolak perintah Kinar dengan mengulas senyum tipis, karena dia ingin lebih lama melihat wajah sang ibu.

 

Dengan hati bergetar setelah mengucapkan salam perpisahan kepada Kemala, Panji berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah saat peti mulai ditutup dan para petugas rumah duka mulai memasang paku di sekitar peti mati.  

 

***

 

“Apakah kau mau langsung kembali ke Jogja atau masih mau di sini beberapa hari lagi?” Purwanto bertanya saat proses pelarungan abu Kemala di laut sudah selesai dilakukan.

 

Kapal kecil yang dinaiki pihak keluarga inti baru saja berlabuh di dermaga. Matahari yang semakin meninggi membuat cuaca di daerah Dadap ini semakin memanas, membuat peluh bercucuran dan membasahi baju Panji.

 

“Jatah cutiku masih tersisa 7 hari lagi, jadi aku akan tetap di sini selama seminggu ke depan,” jawab Panji yang mulai merasa kantuk dan lelah.

 

“Oke, kalau begitu kita makan siang dulu dengan keluarga ibumu sebelum pulang.” Ajak Purwanto dengan menyunggingkan senyum.

 

“Maaf aku sangat mengantuk jadi mau cepat pulang untuk tidur. Ayah saja yang makan dengan Tante Kinar dan yang lainnya,” jawab Panji yang merasa ini adalah kesempatan bagus untuk menyelidiki jam antik yang terpasang di rumah.

 

“Apa kamu tidak ingin bertemu dengan para sepupumu? Bukannya kamu sudah lama tidak bertemu dengan mereka?” tanya Purwanto yang merasa enggan jika Panji berada sendirian di rumah.

 

“Masih ada lain kali, Yah.  Aku sudah merasa sakit kepala karena kurang tidur beberapa hari ini. Dan jika memaksakan diri untuk ikut makan maka bisa jadi aku mengacaukan suasana karena moodku yang sedang tidak baik,” jawab Panji yang tidak bisa dibantah lagi oleh Purwanto.

 

“Baiklah, ini kunci rumah. Segera WA Ayah jika kau kalau sudah tiba di rumah,” ucap Purwanto sambil melemparkan anak kunci ke arah Panji.

 

***

Suasana sepi langsung menyambut Panji saat melangkah menuju rumah yang sudah dia tinggalkan selama hampir 7 tahun.  Kemala tidak melakukan perubahan tata letak terhadap semua perabotan dan hiasan yang ada didalamnya.

 

Ding dong Ding dong

 

Suara jam yang berdentang membuat Panji menoleh ke arah benda yang sudah sepatutnya masuk ke dalam jajaran koleksi barang antik karena umurnya yang sudah lebih dari setengah abad itu.  Bunyi dentangan yang sering membuat Panji merinding setiap kali mendengarnya. Panji merasa jika suara jam antik itu seakan menyimpan banyak misteri yang akan membawanya ke dunia lain.

 

‘Panji, kamu sudah pulang, Nak? Tolong Ibu, Panji.’ Seruan yang kembali terdengar dalam pikirannya membuat Panji tersentak.

Mengenyahkan rasa takut yang bergelayut di dada.  Panji melangkahkan kaki lebih dekat ke tempat jam antik yang memiliki ukuran cukup besar. Jam yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu jati. 

 

Jam itu semakin berdentang dengan kencang, saat keberadaan Panji semakin mendekat. Bahkan bulu kuduknya pun berdiri saat merasakan jika udara disekitarnya menjadi dingin.

 

‘Panji.  Cepat tinggalkan rumah ini!’ 

Sebuah suara lain tak lama menggema dipikirannya.  Suara yang baru saja didengarnya tapi terasa familiar. 

 

“Siapa di sana?” teriak Panji.

 

‘Cepat tinggalkan rumah ini, Panji! Jangan banyak bertanya!’ suara yang sama kembali terdengar membuat Panji berhenti melangkah.

 

‘Panji, tolong Ibu, Nak.  Ibu menderita!’ suara Kemala yang lirih kembali terdengar di telinga Panji.

Dua suara yang saling bertentangan akhirnya memenuhi pikiran Panji dan membuat pria itu gamang.  

 

Dia harus segera memeriksa keadaan jam antik milik Kemala agar rasa penasarannya terpenuhi.  Tapi dorongan untuk meninggalkan rumah ini juga semakin kuat dirasakan olehnya.

 

‘Jika ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan ibumu, sebaiknya tunggu ayahmu pulang agar kamu tidak sendirian di tempat yang sudah dipenuhi oleh aroma darah ini.’ Titah suara kedua dengan lebih keras yang akhirnya dituruti oleh Panji.

 

Namun saat menuju ke arah pintu, kakinya seakan terpaku, dia ingin keluar dari rumah ini tapi sesuatu mengunci langkah kakinya. Dalam keadaan bingung dan panik akhirnya Panji meraih apa saja yang dapat di tangkap oleh tangannya dan melemparkannya ke arah pintu depan yang langsung terbuka.  Suara ramai itu membuat para tetangga ramai-ramai menghampiri Panji yang sudah terduduk lemas di ambang pintu.

 

“Ada apa, Panji?” tanya seorang tetangga yang membantu memapah Panji ke ruang tengah.

 

“Tangan saya tergelincir sehingga membuat pot bunga itu terlempar,” jawab Panji dengan berdusta.

 

“Oalah, Bapak kira ada apaan.  Nak Panji sudah makan? Kalau belum, mau makan di rumah Bapak?” tawar sang tetangga dengan ramahnya.

 

“Saya belum makan, terima kasih atas tawarannya, Pak,” sahut Panji cepat lalu keduanya bergegas keluar dari rumah dan menutup pintu tanpa menguncinya.

 

***

 

“Panji, ternyata kamu di sini, Ayah kira rumah kita kemasukan maling karena pintunya tidak terkunci. Kenapa kau tidak WA Ayah?” ucap Purwanto saat memasuki rumah sang tetangga.

 

“Panji tadi sempat lemes, Yah dan akhirnya ditawari makan di sini.  Jadi lupa untuk mengunci pintu kembali,” sahut Panji dengan segera.

 

“Kalau begitu mau pulang sekarang? Sepertinya kau perlu tidur yang banyak,” ucap Purwanto dengan nada cemas.

 

Panji segera mengambil tas ranselnya dan mengucapkan terima kasih atas tumpangan dan makan kepada sang tuan rumah sebelum mengikuti langkah kaki Purwanto yang terlebih dahulu keluar dari rumah minimalis berlantai 2.

Setelah menghembuskan nafas berkali-kali, Panji menguatkan hati untuk kembali memasuki rumah yang sempat membuatnya ketakutan beberapa jam lalu.

 

“Ada apa Panji?” tanya Purwanto yang merasa tingkah laku sang putra sangat mencurigakan.

 

“Aku tidak pernah membayangkan akan kembali ke rumah ini tanpa adanya Ibu di dalamnya,” jawab Panji dengan tercekat.

 

“Itu karena kau jarang pulang ke sini.  Kau hanya pulang setahun sekali saat liburan Natal dan tahun baru,” sindir Purwanto dengan senyum sinis.

 

“Itu karena aku sedang mengejar promosi kenaikan jabatan,” ceplos Panji dengan nada datar yang direspon sindiran oleh Purwanto.

 

 Panji hanya terdiam, tidak berminat untuk membalas perkataan sang ayah. Matanya kembali mengarah ke arah jam antik yang kebetulan berdentang dengan nyaring.  Membuat kedua pria itu terkejut karena suara jam itu lebih nyaring daripada sebelumnya.

 

“Dasar jam kurang ajar. Buat jantungan saja, lihat saja akan aku jual kau ke toko barang loak!” Sentak Purwanto sambil menunjuk ke jam antik yang entah kenapa terus berdentang.

 

“Ayah, aku mau melihat kondisi dari jam itu.  Siapa tahu lagi ada bagian dalam yang rusak makanya  terus berbunyi dari tadi.”

 

“Itu hanya jam rusak yang sudah tidak berharga, apalagi tidak akan ada yang memutar sekrupnya lagi selain ibu kamu,” ucap Purwanto sambil mendengkus kasar.

 

Panji hanya terdiam sambil terus mendekat ke arah jam yang semakin melemah bunyinya saat pria itu mulai mengikis jaraknya dengan benda yang dihiasi dengan batu berlian di semua angkanya.  Memberikan kesan elegan sekaligus mistis dalam satu waktu.

Dengan perlahan dibukanya setiap rangkaian yang paling mudah lalu memeriksa komponen dari jam antik kesayangan Kemala yang diwariskan dari 2 generasi di atas Panji.

 

‘Sekarang adalah waktu yang aman untuk kamu memeriksa jam ini.  Dan usahakan agar kamu tidak sendirian di rumah ini.  Karena ternyata kamu juga menjadi incaran mereka.’

 

Panji yang mulai terbiasa dengan suara-suara itu hanya mengusap wajah dengan kasar, tidak menyangka jika dia terlibat dalam sesuatu yang sangat berbahaya.

Tangan kanan Panji segera memegang jarum jam yang lebih pantas disebut mata pisau karena cukup tajam bagi tangan kasarnya.  Sedetik kemudian, Panji seakan melihat sebuah bayangan yang memudar saat dia melepas tangan dari jarum jam itu.

 

Dengan menguatkan hati, Panji kembali meletakkan tangan kanannya ke tempat semula, tak lama sebuah bayangan muncul dalam benaknya seperti film yang diproyeksikan dalam sebuah layar.

Tampak Kemala baru saja menelepon dirinya dan segera bergegas menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum.  Tapi sebuah siluet hitam dengan cepat membekap Kemala dari belakang lalu menempelkannya sehelai kain ke mulutnya dan tak lama sang ibu tergeletak di lantai ubin yang keras ini.

 

Siluet hitam itu tertawa dengan puas saat melihat keadaan Kemala yang tidak berdaya. Siluet itu segera meninggalkan rumah ini setelah membersihkan semua jejak perbuatannya dan mengunci pintu dari luar.

 

‘Sentuh lagi bagian jarum jam yang panjang jika kamu ingin mengetahui lebih banyak.’ titah suara itu kembali dan Panji menurutinya.

 

Sebuah bayangan kembali muncul, kali ini sepertinya jauh hari sebelum kematian Kemala sebab Panji sempat melihat hari di kalender yang menunjuk pada waktu 6 bulan sebelumnya.

 

Dua siluet hitam yang sedang berbincang-bincang di ruang tamu.  Melihat postur tubuh keduanya, Panji menyakini jika salah satu diantaranya bukan Kemala sementara siluet lain yang lebih besar, Panji yakin itu adalah Purwanto.

 

Seketika Panji mengepalkan tangannya melihat adegan yang tak pantas dilakukan oleh kedua siluet itu.  Keduanya bercumbu dengan liarnya sampai memporak-porandakan keadaan di sekitar ruang tamu ini.  Panji merasa jijik dan murka mengetahui kelakuan busuk sang ayah yang berani berselingkuh di belakang ibunya.

 

“Mas, kapan kamu mau melaksanakan rencana itu?” sebuah pertanyaan siluet yang akhirnya Panji kenali adalah Kinar.

Jadi Kinar bersekongkol dengan sang ayah untuk menghabisi nyawa sang ibu? Sungguh sangat keterlaluan sekali.  Panji bertekad akan membalaskan rasa sakit hatinya kepada kedua orang itu. Secepatnya dia melepaskan tangan dari jarum jam itu lalu menatap wajah Purwanto dengan tatapan menyalang.

 

“Ayah, sebenarnya Ibu punya salah apa denganmu?” tanya Panji yang mulai diselimuti amarah.

 

“Apa maksud kau bertanya seperti itu, Nji.  Ayah tidak mengerti,” Purwanto yang belum tahu jika sang putra sudah mengetahui perselingkuhannya dengan adik iparnya.

 

“Apa Ayah tidak malu jika sudah berselingkuh?” tanya Panji dengan nada tajam.

 

“Jangan mengada-ada kau ini! Ayah tidak pernah berselingkuh di belakang ibumu,” elak Purwanto yang sempat terkejut jika kebusukannya sudah terbongkar.

 

Seakan tidak cukup rasa terkejutnya, Kinar tiba-tiba memasuki rumah yang penghuninya sudah bersiap untuk menumpahkan darah.

 

”Kebetulan sekali Tante juga datang. Aku bertanya-tanya dari mana Tante tahu kalau jam kematian ibuku jam 09.00, sementara aku diam-diam bertanya kepada temanku yang berkerja di kepolisian dan mereka tidak mengetahui dengan pasti jam kematian Ibu,” ucap Panji dengan nada sinis.

 

Kinar terkesiap saat mendengar tuduhan dari keponakannya. Ingin membantah juga sudah terlambat, karena Panji sudah mengambil pisau yang disiapkan dalam tas ranselnya. Dengan cepat, Panji menikam tubuh sang tante berkali-kali lalu beralih ke Purwanto yang memucat melihat sang putra yang sudah kehilangan akal sehatnya.

 

“Panji…. Turunkan pisau itu.  Lihat Tante kamu sudah bersimbah darah akibat tusukan dari kamu.” Ucap Purwanto dengan setengah menjerit.

 

Namun Panji yang sudah dibutakan oleh amarah tidak mendengarkan permintaan Purwanto dan langsung menancapkan pisau ke arah jantung pria yang langsung meregang nyawa.

 

‘Panji, bagus sekali, Nak. Ini artinya kamu sudah siap menggantikan ibu untuk merawat jam ini.  Sekarang ibu bisa dengan lega meninggalkan kamu. Jam ini akan menuntun kamu untuk melakukan tugasnya,’

Panji menoleh saat melihat bayangan Kemala yang memakai baju merah mulai memudar. 

 

Anehnya wajah Kemala yang saat ini terlihat adalah wajah seorang wanita berusia 20 tahunan. Perlahan tapi pasti bayangan itu mulai memudar dan lenyap bersama dengan bubungan asap yang mulai membakar ruang tamu ini.

 

Dengan cepat Panji menggotong jam yang anehnya tidak terasa berat lalu meninggalkan rumah yang menjadi saksi bisu tumbal yang dilakukan oleh keluarga Panji dari 2 generasi yang lalu, tidak peduli jika korban itu adalah keluarga dekat.

 

Saatnya Panji mengucapkan selamat tinggal untuk kehidupan normalnya karena jiwanya sudah menjadi tawanan dari iblis untuk selamanya sampai raga berpisah dari roh dan mencari penggantinya dari salah satu keturunan Panji.

 

 

 

 

 

error: Content is protected !!