BAB 1 PILIHAN SULIT
“Menikah denganku atau aku terpaksa menghentikan pengobatan ibumu,” kata Raja kepada gadis cantik yang sedang terdiam di hadapannya ini.
Nadila tersentak, ia merasa seluruh persendiannya hampir copot. Wajah Raja Syailendra bosnya terlihat sangat mengerikan saat ini. Ia merasa oksigen di ruangan itu menipis hingga napasnya terasa sesak.
“Me-menikah?” tanya Nadila gugup.
Brak!
Jantung Nadila benar-benar hampir copot karena Raja menggebrak mejanya dengan keras. Rasanya ia ingin menghilang saja dari ruangan itu.
“Kamu pikir kamu itu siapa, hah? Ingat, almarhum papa kamu masih memiliki hutang yang sangat banyak di perusahaan ini. Dan selama ini pengobatan ibumu ditanggung oleh perusahaan ini. Jadi, aku mint kamu menikah denganku atau pengobatan ibumu aku hentikan!” kata Raja.
Saat ini lelaki itu juga sedang bingung, Karin- kekasihnya mendadak membatalkan pernikahan satu jam sebelum ijab qobul. Dan saat ini Raja tidak mungkin mempertaruhkan nama baiknya. Satu-satunya cara adalah mengganti pengantin wanitanya.
“Saya mohon, Pak. Jangan hentikkan pengobatan ibu saya,” ujar Nadila lirih sambil meremas ujung blouse yang ia kenakan.
Raja mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak lima centi saja dari wajah Nadila. Matanya memicing tajam menatap Nadila seolah ingin menelan Nadila bulat- bulat.
“Kamu tau jika di luar sana tamu undangan sudah menunggu? Keluarga saya akan mendapat malu. Dan satu-satunya cara adalah dengan menggantikan pengantin perempuan, menikah denganku hari ini juga!” teriak Raja tepat di wajah Nadila membuat gadis cantik itu memejamkan matanya.
“Tapi, kenapa saya harus menikah dengan Pak Raja? Saya ini hanya sekretaris Anda. Bagaimana bisa?’
“Bisa saja, aku yang sudah memberimu pekerjaan bukan? Dan lagi, pernikahan ini hanya pernikahan sementara saja, Nadila.”
Nadila menoleh, tampak Ajeng- mama Raja sudah berdiri di depan pintu ruangan.
“Ma, bagaimana di kondisi di luar?” tanya Raja.
“Belum ada yang tau jika Karin pergi, Raja. Tapi…”
“Nadila, apa begini caramu membalas budi kepadaku? Atau, bagaimana jika aku menghentikan semua pengobatan ibumu dan setelah itu memecatmu?” kata Raja
Nadila mulai menangis tersedu, ia tidak bisa membayangkan jika pengobatan ibunya dihentikan. Kedua orang tua Nadila mengalami kecelakaan. Ayah Nadila meninggal sementara sang ibu masih koma. Dan karena ayahnya memiliki banyak hutang di perusahaan, akhirnya Nadila pun bekerja di perusahaan itu demi membayar utang sang ayah dan juga supaya pengobatan ibunya bisa lanjut
.
“Dengan menangis seperti itu, kamu pikir aku bisa luluh? Bangun, Nadila!Semua tidak akan mengubah keadaan dan Karin juga sudah pergi entah ke mana,” kata Raja
Dan hari ini adalah pernikahan Raja dan Karin. Beberapa menit yang lalu Karin masih duduk di ruang ganti ini bersamanya. Nadila tidak pernah curiga, saat wanita itu meminta diambilkan makanan ia pun langsung meninggalkan ruangan itu. Namun, saat ia kembali Karin sudah tidak ada dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan jika ia tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan Raja.
“Kamu itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa jika kamu tidak bekerja di perusahaanku. Jadi, cepat putuskan… menikah atau menjadi manusia yang tidak tau balas budi,” kata Raja
Jika tidak memikirkan jasa Raja kepadanya, ingin rasanya Nadila melempar vas bunga yang ada di meja ke wajah Raja. Tetapi, apa daya, gadis bertubuh mungil itu mempunyai hutang budi yang tidak sedikit kepada Raja.
Raja sendiri selalu saja memperlakukan Nadila dengan menyebalkan. Ada saja tugas yang harus ia kerjakan. Bahkan, terkadang Nadila harus melakukan pekerjaan di luar jam kerjanya.
“Jadi, bagaimana? Jangan kebanyakan berpikir, kalau kamu mau menjadi istriku, kamu nggak perlu bekerja lagi, dan kamu juga sudah membalas budi kepadaku, bukan?” kata Raja.
“Jika aku tidak mau?”
“Pilihannya hanya dua Nadila, kamu akan aku pecat dan kami tidak akan mau lagi menolong ibumu,” kata Raja lagi.
“Tapi ….”
“Tapi apa?” tanya Raja sambil menaikkan kedua alis matanya.
Nadila terdiam, saat ini ia memang tidak bisa melakukan hal lain. Tapi, menjadi istri lelaki menyebalkan seperti Raja? Nadila rasanya tidak sanggup membayangkan.
“Kamu anak baik, Nadila. Tante hanya meminta tolong, nama baik kami sedang dipertaruhkan saat ini,” kata Ajeng.
Rasanya sakit sekali menerima penghinaan dari bosnya itu. Tetapi, apa mau dikata, saat ini Nadila tidak memiliki pilihan lain yang jauh lebih baik. Jika ia sampai dipecat, harus ke mana ia mencari pekerjaan sebagus pekerjaannya sekarang? Bagaimana ia bisa membiayai pengobatan ibunya. Dan lagi apa yang dikatakan oleh Raja benar. Ia sudah banyak memiliki utang budi kepada Ajeng dan Raja.
Hidup terasa begitu berat bagi Nadila, kenapa semua ini harus terjadi kepadanya?
“Kamu tidak ada pilihan lain selain menerima tawaranku, Nadila,” kata Raja.
Nadila mengangkat wajahnya menatap Raja lalu menganggukkan kepalanya perlahan.
“Iya, Pak. Saya sudah tau keputusan apa yang akan saya ambil,” jawab Nadila lirih.
“Jadilah anak yang baik, Nadila. Katakan sekarang apa keputusanmu,” kata Raja sambil melipat tangan di depan dadanya.
Nadila menatap Ajeng dan Raja bergantian, gadis cantik itu menelan salivanya. Ah, ini keputusan yang sangat sulit bagi Nadila.
“A-aku ….”
Nadila memejamkan matanya dan menghela napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
“Baiklah, aku akan menikah dengan Anda, Pak Raja,” jawab Nadila.
Terdengar helaan napas lega di ruangan itu. Ajeng langsung merangkul bahu Nadila.
“Kalian tunggu apa lagi, cepat dandani pengantinnya,” kata Ajeng kepada MUA yang sedari tadi hanya berdiri terpaku di ruangan itu.
Tiga orang MUA yang ada pun bergegas mendekat dan membantu Nadila untuk memakai gaun pengantin dan make-up. Beruntung ukuran tubuh Nadila dan Karin sama sehingga gaun yang seharusnya dikenakan oleh Karin dapat dikenakan oleh Nadila.
Sementara Nadila sendiri hanya bisa menyebarkan hatinya. Ia merasa terjebak dalam pernikahan ini. Kenapa pula Karin harus melarikan diri tepat di hari pernikahannya. Jika memang merasa tidak cocok seharusnya ia bisa mengatakan baik-baik kepada Raja jauh-jauh hari. Bukan seperti ini. Dan apesnya dialah yang harus menjadi tumbal.
Hanya butuh waktu 25 menit untuk mendandani Nadila. Beruntung gadis itu pada dasarnya sudah cantik sehingga tidak butuh make-up tebal untuknya.
Dengan mengenakan gaun pengantin yang seharusnya dikenakan oleh Karin, Nadila pun tampil dengan elegan. Ajeng yang menatap calon menantunya itu dan bernapas dengan lega. Setidaknya meski bukan dengan Karin keluarga besarnya terhindar dari rasa malu.
“Kamu cantik, Nadila. Terima kasih sudah mau menyelamatkan keluarga kami dari rasa malu,” kata Ajeng sambil menggenggam kedua tangan Nadila dengan erat.
“Ayo kita keluar, pernikahan akan segera dimulai,” kata Raja.
Mereka pun keluar dari ruangan itu dan bergegas menuju ballroom tempat pernikahan akan dilaksanakan.