Di satu meja interogasi yang terletak di tengah ruangan sebuah kantor polisi di wilayah Jakarta Pusat. Suasana di meja itu tampak sangat canggung. Seorang perempuan mudah berumur sekitar tujuh belas tahun terus menangis. Sementara, lelaki berseragam formal di hadapannya terus menatap penuh selidik.
“Apa kamu mabuk? Apa sebelumnya kamu meminum minuman beralkohol?”
“Tidak Pak, tidak ya, tidak. Sudah berulang kali kujawab tidak kenapa terus bertanya, sih?”
“Jangan banyak protes. Posisi kamu di sini adalah sebagai seorang tersangka kasus tabrakan beruntun. Apa kamu tahu berapa orang yang meninggal? Berapa kerugian yang kamu buat, hah?”
“Bukan. Itu semua bukan salah saya.” Arlian Permata menatap lelaki di depannya dengan berkaca-kaca. Sudah hampir dua jam dia berada di dalam kantor polisi. Menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. Ia hampir mati karena kesal.
“Aku ingin pulang! Biarkan aku pulang!”
Arlian menggebrak meja. Ia berdiri dari duduknya. Air mata menetes menuruni pipi gadis cantik itu. Bulu mata lentiknya bergetar setiap matanya mengerjap.
“Duduk, jangan buat keributan di sini!” Wahyu Pribadi, polisi berumur sekitar empat puluh lima tahun itu terpancing emosi. Ikut menaikkan nada suaranya.
“Aku mau pulang Pak, bukan aku yang salah bahkan kejadiannya seperti apa aku juga gak tahu.”
“Diam kamu. Cepat duduk lagi.”
“Bapak sudah menginterogasi saya lama, apa gak bosen? Saya bosen, pertanyaannya sama. Sudah dijawab tidak, diulangi terus.”
“Saya akan terus bertanya sampai kamu mengaku.”
“Nggak, aku mau pulang.” Arlian membalikkan badan kan melangkah pergi.
“Enak saja, habis bunuh orang kamu mau pergi begitu saja?” hardik Polisi bernama Wahyu itu lagi.
Orang-orang yang ada di kantor polisi menatap ke arah keduanya. Suara mereka mengganggu penghuni lainnya.
“Enggak!”
Polisi Wahyu segera berdiri. Menangkap tangan Arlian, ia mengambil borgol di atas meja kerjanya.
“Lepas. Lepaskan, aku mau pulang, aku bukan pembunuh!” Arlian meronta ia berusaha lepas dari borgol besi. Semakin keras ia meronta, kulit putih di pergelangan tangannya semakin memerah.
Polisi berwajah serius tadi memborgol tangan Arlian. Dengan Kursi besi yang didudukinya. Ia tak bisa lagi bertingkah macam-macam apa pagi pergi melarikan diri dari kantor polisi.
“Diam, dan kembali ke kursimu.”
“Ada apa ini?” Seorang lelaki mendekat. Terlihat bersimpati pada Arlian.
Keributan yang diciptakan Arlian membuat semua orang yang berada di kantor polisi itu menatapnya sedari tadi. Bagaimana mungkin gadis muda sepertinya membunuh beberapa orang sekaligus, tanpa dia menyadarinya.
“Tolong saya, saya tidak tahu apa-apa.” Arlian segera memelas. Ia mendekat pada lelaki yang tampak akan menolongnya.
Arya Bimasena, pengacara muda berumur sekitar tiga puluh lima tahun. Dengan badan tegap dan rahang yang tegas ia terlihat lebih muda dari umurnya. Ketampanan paripurna untuk seorang pengacara. Ia menatap polisi Wahyu dengan mengernyit lalu mengibaskan tangan, ada bau aneh dari badan polisi Wahyu.
“Kamu siapa?” Polisi bernama Wahyu tadi bertanya pada Arya.
Arya mengulurkan selembar kartu nama, “Arya Bimasena. Pengacara,” Ucapnya tegas.
Wahyu terpaksa mengulurkan tangan, ia menatap Arya Bimasena dengan sinis. Merasa urusannya dicampuri.
Arya Bimasena mengernyitkan alis, bau tubuh polisi Wahyu semakin menyengat, “Apa Bapak, suka makan daging anjing?”
Wahyu mengernyit, “Omong kosong apa ini?”
Lelaki yang menginterogasi Arlian itu terlihat tidak suka dengan perkataan Arya. Sok tahu dan ikut campur urusan sekali.
“Maaf, tetapi sepertinya anda harus menghentikan untuk memakan daging anjing.”
“Apa urusanmu? Aku makan daging anjing ataupun tidak itu bukan urusanmu!” sergah Polisi Wahyu seketika. Matanya memelotot menatap Arya.
Dalam penglihatan Arya, di sekitar tubuh Polisi Wahyu ada banyak anjing yang berada di dekatnya. Ada anjing yang pincang, ada beberapa yang sehat dan menjulurkan lidah. Karena anjing-anjing itu terlalu banyak, aroma tubuh Polisi Wahyu sama dengan mereka.
Merasa sarannya tak diterima Arya Bimasena, tak ambil pusing, “Kamu, siapa namamu?”
Arlian permata mengusap air mata di sudut matanya. Sedari tadi ia menangis, putus asa pada kasus yang menimpanya, “Arlian, namaku Arlian permata.”
“Bisa kamu ceritakan semua kejadian dari awal? Saya akan berusaha membantumu. Asal kamu menceritakan semuanya.”
“Bagaimana aku bercerita aku tak begitu ingat kejadiannya,” teriak Arlian Permata. Gadis itu kembali emosi setelah Arya Bimasena kembali mengulangi pertanyaan yang berulang kali ditanyakan polisi Wahyu.
Arya Bimasena mendekat pada meja interogasi. Ia berkata, “Pak, saya ingin mencoba untuk berbicara dahulu pada tersangka.”
“Baik,” jawab Polisi Wahyu. Ia melirik pada jam di pergelangan tangannya, “Saya beri kamu waktu 1x24jam. Buat dia mengakui semua perbuatannya.”
Wahyu segera mengambil kunci borgol dan membukanya. Ia masih sempat menatap heran pada Arlian. Bagaimana bisa ia menabrakkan mobil hingga terjadi tabrakan beruntun dan menghilangkan beberapa nyawa sekaligus, tetapi tak ingat apa-apa.
Arya Bimasena tak menjawab, ia menoleh ke belakang. Arlian Permata tersenyum penuh harap membalas pandangan Pengacara berwajah tampan yang akan menolongnya.
“Ikut aku sekarang!” Arya Bimasena berjalan keluar terlebih dahulu.
Sebelum keluar gadis berambut lurus sebahu itu melirik dengan sengit pada Polisi Wahyu. Sudah sekitar dua jam lebih ia berada di kantor polisi. Berulang kali dibentak dan dimarahi olehnya. Arlian segera mengikuti dari belakang.
Arlian menghentakkan kakinya, “Sebel, sebel, sebel … mereka semua hanya tahu menghakimi tanpa tahu rasanya berada di posisiku. Om, tolong selamatin aku. Aku gak mau dipenjara.”
“Kalau begitu duduklah. Ceritakan semuanya dari awal dengan jujur,” perintah Arya Bimasena.
“Apa kamu juga menuduhku menabrak semua orang?”
“Aku bukan tidak mempercayaimu, aku hanya menyuruhmu menceritakan semuanya.” Arya Bimasena menaikkan nada bicaranya. Ia menatap gadis muda di hadapannya dengan serius, “Duduklah!”
Gadis dengan setelan jeans dan kemeja biru muda itu duduk di sebelah Arya. Matanya menerawang, ia sedang mengingat-ingat kejadian semalam.
“Semalam, aku pergi ke klub malam milik teman. Ada pesta ulang tahun di sana, ngobrol dengan yang lain, sedikit bergoyang di lantai dansa.”
“Apa kamu minum-minuman beralkohol?” selidik Arya.
“Sedikit, itu hanya cocktail dengan campuran bir.”
“Aneh sekali!” Arya Bimasena menggaruk keningnya. Ia mengambil laptop dalam tas kerjanya, “Lihat ini, ini adalah rekaman CCTV di pinggir jalan. Terlihat jelas kamu mengendarai mobil seorang diri. Tiba-tiba mobilmu banting setir dan menabrak beberapa orang di pinggir jembatan.”
Bibir Arlian bergetar, matanya berkaca-kaca. Dalam rekaman CCTV itu sangat jelas terlihat itu adalah mobilnya, platnya juga sama.
Tiba-tiba saat Arlian sedang fokus mengamati gambar di layar monitor laptop pengacaranya. Bayangan hitam menyerupai tangan muncul di pundaknya.
Arya Bimasena yang melihat tak berani memberitahu kliennya, ia takut jika gadis muda itu akan ketakutan. Bayangan tangan hitam itu bergerak. Tepat saat sampai di leher Arlian, kuku bayangan hitam itu meruncing.
“Berhenti! Jangan ganggu dia.”
Bertepatan dengan pekikan Arya lampu di sepanjang koridor di depan ruang interogasi berkedip-kedip lalu mati.
Tak berapa lama lampu menyala lagi. Bayangan tangan di leher Arlian tadi menghilang. Namun, ada sesuatu yang aneh pada Arlian. Matanya melotot menatap Arya. Manik hitamnya membesar tanpa berkedip sedetik pun.
“Kamu kenapa, Arlian?”
Arlian terkekeh dengan parau. Suaranya berbeda, sorot matanya berkilat tajam.
“Si-siapa kamu?”
***Karma***
To Be Continued ….