Astagfirullahaladzim
Reflek aku menutup mulut dengan telapak tangan.
Ternyata dia …
Seorang laki-laki yang aku kenal di masa putih abu-abu, Willy Jonaetzar. Dia menyematkan di profil WA nya dengan nama ‘Willy Jona.’
Teman sekelasku, meski usia kami terpaut 2 tahun. Dikarenakan berdasarkan cerita darinya saat perkenalan kami di masa itu, dia pernah tinggal berpindah-pindah dan penyesuaian dengan adaptasinya juga. Masa SD pernah berhenti di kelas empat, sebelum akhirnya pindah ke tempat baru dan mengulang di kelas empat juga setelah perpindahan ke sini. Selepas SD, dia harus meneruskan sekolah di Luar Negeri karena ikut orang tuanya. Kembali kesini setelah masuk SMA, hingga akhirnya di sanalah kita bertemu berkenalan dan jadi teman. Kami satu kelas saat kelas dua. Ya, waktu itu bukan kelas sebelas, tapi masih kelas 1,2 dan 3. Sedangkan kelas 1 aku hanya sekedar tahu tapi tidak saling kenal. Diantara ratusan siswa satu sekolah dalam satu angkatan dan beda-beda kelas tentu tidak akan saling mengenal. Kebetulan kami sama-sama jurusan IPA. Jurusun IPA sendiri ada empat kelas dan takdir mempertemukan kita di kelas yang sama.
Etzar ini anak yang cukup terkenal banyak gadis mengelu-elukan dia. Bahkan tidak satu kelas pun banyak yang akan kenal dan sok PDKT ke dia. Mungkin cuma aku yang kuper tidak ingin tahu banyak tentangnya di masa itu, baru setelah satu kelas dan sering kerja kelompok bareng dalam praktikum fisika dan kimia kami jadi semakin akrab. Dari sana juga kami jadi sering belajar kelompok juga usai pulang sekolah. Aku senyum-senyum sendiri mengingat masa itu.
Setelah lulus dia meneruskan studi di Amerika. Belajar bisnis juga di sana, kami pun sudah benar-benar los kontak, makanya kaget saja sekarang dia menghubungiku.
[Assalamu’alaikum, Mah. Apa kabar?] pesan yang dia kirim.
Teman – temanku juga berbeda dalam memanggil namaku, jadi terkadang jika ada yang ganti nomor sudah bisa tahu dari caranya memanggil namaku dia termasuk teman kerja, teman kuliah atau teman komunitas. Istilahnya panggilan akrab atau alias.
Dia terlihat mengetik, mungkin karena aku lama membalas kali ya.
[Sudah dibaca, tapi kok tidak dijawab. Kamu masih ingat aku ngga, Mah?]
Diantara banyak teman cuma beberapa yang memanggil sapaanku ‘Mah’, akronim dari Fatimah yang diambil belakangnya. Kata mereka biar lebih enak aja ucapannya dan beda dari yang lain. Termasuk salah satunya Etzar. Sehingga ‘Mah’ bukan ala anak baru gede yang dengan panggilan alay Mamah Papah, bukan gitu ya.
Aku sendiri juga punya panggilan khusus untuknya. Keluarga dan teman-teman biasanya juga memanggilnya Willy, sedangkan aku memanggilnya Etzar. Entah kenapa lebih akrab saja rasanya.
[Hi Etzar, waalaikumsalam. Maaf lama bales. Habisnya aku masih speechless setelah lama los kontak tiba-tiba muncul WA darimu. Alhamdulillah kabar baik, kamu sendiri bagaimana?]
[Baik juga dong, makanya aku bisa hubungi kamu, hehehe]
[Eh tunggu, dapat nomor aku dari siapa kamu?]
[Ada deh, meet up yuk.]
Apaan nih anak tiba-tiba ngajak meet up saja.
[Kamu emang ada di Jogja?] tanyaku.
Dia memanggilku.
“Assalamu’alaikum,” sapanya renyah dj ujung telepon.
“Waalaikumsalam.”
“Ngetik lama banget lebih jelas lewat telepon kan?” ucapnya.
“Hehe iya,” jawabku singkat.
“Iya mah jadi sekarang aku di Jogja, belum lama aku kembali sekitar setengah tahunanlah.”
‘Setengah tahun?’ tapi kenapa dia baru hubungi aku, ya.
“Mah kamu masih di sana?”
“Eh, iya, zar. Masih.”
“Mah meet up saja yuk biar lebih jelas.”
Aku bingung mau jawab apa.
“Mmm, gimana ya? Sama siapa saja?” tanyaku balik.
“Jiah, berdua aja. Emang napa sih?”
Sebenarnya ya ngga papa juga sih ketemu berdua, tapi rasanya aku masih canggung. Apalagi sudah lama aku tidak bertemu berduaan dengan. Meskipun terakhir kali dengan Mas Rahmat, itupun awalnya karena kita ada hubungan bisnis.
“Boleh sih, cuma nunggu aku selo ya zar. Maklum karyawan bagian marketing lagi, hehehe.” Aku beralibi meskipun pulang kerja pun sebenarnya bisa kita ketemu.
“OK deh kalau begitu, besok kabar-kabar, ya? Jangan lupa save nomor aku.”
“Siap.”
“Ya udah, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawabku mengakhiri panggilan kami.
Aku terus memandangi Profil Etzar. Entah kenapa berasa ada sesuatu yang ingin ku ingat, tapi entah apa.
Aku membuka grup WA SMA. Ternyata nomor Etzar udah nangkring aja di dalam sana. Aku scroll isi grup tersebut, Etzar dimasukkan oleh yakob.
Sudah pasti Etzar ambil nomorku dari sana.
*****
Perjalanan tidak selalu berjalan mulus, kadang ada belokan dan tanjakan tajam yang tak bisa kita hindari. Perjalanan cinta pun tak semua berjalan baik, kadang akan menyisakan lara dihati.
Tanpanya aku tetap masih berdiri tegak. Kehilangan cinta Mas Rahmat tak akan membuat mati, asalkan masih tetap ada iman di dada. Selama ada cinta sang maha pemilik hidup, Allah akan membersamai setiap langkah kita. Bukankah kesedihan dan kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri. Tinggal kita memilih, mau bahagia atau sedih hari ini.
Kurang lebih sudah jalan dua bulan sejak kejadian itu. Sedikit mulai bisa menetralkan perasaan. Tak pernah lagi mengharapkannya dalam setiap angan dan doaku.
Mungkin ada baiknya aku mencoba menerima pria lain dalam hidupku, yang tulus mengharapkanku tanpa aku meminta. Ya … aku mulai membuka diri.
Bukan memilih mana yang datang duluan setelah Mas Rahmat, tapi lebih matang lagi dalam mempertimbangkan baik buruknya. Karena menikah itu hingga ujung waktu, sampai maut memisahkan.
Di tempat kerjaku yang dulu setiap weekend susah ambil libur, tetapi kini berhubung aku memang posisi bagus. Tentu saja hanya lima hari kerja senin sampai jum’at pukul delapan hingga pukul lima sore. Sabtu minggu aku libur begitu pula hari libur nasional. Sesekali saat urgent, harus ketemu klien dari luar negeri misalnya kadang Sabtu juga masuk demi memenangkan sebuah proyek. Kalau dulu pemasaran produk propertinya. Sekarang adalah proyek besar yang harus aku handel.
[Fat, besok libur ngga?]
[Besok acara kemana, Fat?]
Begitulah rata-rata isi pesan di WhatsApp ku dari teman pria. Dulu aku cuek ada yang aku balas ada yang tidak. Baru sekarang aku memperhatikan pesan mereka. Aku jawab sepatah dua patah kata seperti biasa. Ketika menjawab aku juga mencari alasan dengan ada acara entah apa. Meskipun mulai terbuka, aku tak mau memberikan harapan tak pasti untuk mereka. Karena aku tahu rasanya, sakit.
Meski begitu kali ini rasanya berbeda ketika ada satu kontak yang bertanya. [Mah, besok libur?]. Ya, sebuah pesan dari Etzar.
Entah kenapa aku memilih menjawabnya.
[Iya … Aku libur]
[Besok, aku main ke rumahmu ya, Mah]
Aku masih ragu untuk menjawabnya sampai dia pun bertanya ulang.
[Gimana Mah, boleh?]
[Jam berapa?] Dengan harap-harap cemas aku balik tanya, sebelum meng’iya’kan.
[Paling siang jam 13.00]
[Terus mau apa kerumah] Ya … Aku masih bingung, karena tak pernah ada teman laki-laki aku ijinkan datang ke rumah. Selain yang pernah singgah di hati. Dulu sih pernah jaman masih putih abu-abu, tapi kan ramai-ramai.
[Jiah … kok ngapain sih Mah, emang mau apa?] Emot ketawa ngakak dengan mata merem selalu ia sematkan.
[Hehehe … iya boleh] Setelah bergulat lama dengan pikiran antara boleh dan tidak, akhirnya terketik juga jawaban itu.
[Sip … lagi apa mah jam segini belum tidur?]
[Iya, ini udah mau tidur]
[Good night … Mimpi indah ya, sampai ketemu besok]
Tak aku jawab.
Hoam. Kantuk mulai menyergap. Kutaruh gawai diatas nakas, matikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur.
*****
————–
Kurang lebih sudah lewat tiga puluh menit dari jam yang sudah ditentukan, tapi dia bahkan belum ada tanda-tanda akan datang.