Supreme Sword Emperor

Bab 1 | Mengasingkan Diri

Daratan luas dengan beribu puncak gunung bernama Benua Douxi terbentang puluhan ribu mil dengan banyak faksi yang mendiaminya. Di bagian selatan benua Douxi, tepatnya di Pegunungan Wulong dibelakang istana Quiya dari kekaisaran Wushen terjadi sebuah pertarungan besar.

KLANG!

 KLANG!

DUAR!

Ledakan besar akibat benturan serangan pedang terjadi. 

Beberapa puncak pegunungan dengan rerimbunan pohon yang ada disekitarnya hancur lebur manjadi debu. 

Seorang pria dengan pakaian kaisar terlihat melayang di udara dengan tangan kiri memegang dadanya dan tangan kanan memegang pedang berbilah panjang berwarna kuning keemasan. 

Aliran darah mulai membasahi tangannya dan juga bilah pedang tersebut.

UGH!

Seketika pria itu berlutut satu kaki dengan ditopang pedangnya.

“Kurasa latihan hari ini kita sudahi saja,”ujar seorang lainnya yang berdiri di udara juga namun dengan keadaan lebih baik, hanya terlihat ada beberapa luka gores di tangan dan wajahnya.

“Kemampuan pedangmu semakin kuat saja. Aku tak menyangka perbedaannya sampai sejauh ini,”balas Shi Chen ,kaisar dari kekaisaran Wushen.

“Haha kamu terlalu merendah Kaisar Shi Chen,”balas Sheng Zheng , pria yang berdiri di depan Shi Chen.  

“Sudah ku bilang jangan memanggilku dengan sebutan kaisar jika hanya ada kita berdua saja.”

“Haha maafkan aku, aku sering lupa akan hal itu. Tetapi agak aneh jika memanggilmu langsung dengan nama. Kamu saat ini adalah kaisar Wushen yang sangat agung.”

“Kaisar agung? Itu hanya panggilan dari orang orang bodoh yang tak tahu jika aku masihlah lemah dibandingkan denganmu.”

“Kamu terlalu merendah. Kita berdua adalah dua pendekar pedang yang pernah bersama sama menghancurkan kekaisaran Weilong dan empat faksi besar lainnya yang bersekongkol untuk menguasai benua. Karena kemampuan memimpin dan berpolitik yang hebat kamu dipercaya menjadi kaisar kekaisaran Wushen yang baru. Sementara aku berada di sampingmu untuk membantumu mengendalikan benua.”

“Pencapaian dimasa itu sangat luar biasa. Namun kedamaian saat ini sudah tercipta. Lebih dari 100 tahun tak ada gejolak apapun lagi. Tak ada lagi tujuan yang membuat semangat bergairah.”

“Hemm kamu benar juga. Dunia terasa begitu membosankan.”

Kaisar Shi Chen dan Sheng Zheng kembali ke istana setelah sepakat mengakhiri latihan yang rutin mereka lakukan agar kemampuan mereka tidak luntur apalagi setelah kedamaian benua di dapatkan .

Pada malam harinya, di aula istana Qiuya. Kaisar Shi Chen tengah berbincang dengan Sheng Zheng .

“Long Chen, kurasa sudah saatnya aku untuk pergi,”ujar Sheng Zheng.

Sontak kaisar Shi Chen terkejut. Ia menaruh cawan araknya dan menatap kearah juniornya yang terlihat begitu aneh.

“Apakah kamu serius ingin pergi, Zheng?”

“Tentu saja. Aku ingin melihat bagaimana keadaan diluar sana. Sudah lebih dari 100 tahun aku menemanimu. Jadi kini aku ingin pergi berkelana kembali.”

“Begitu ya. Sayang sekali, padahal aku berniat menunjukmu sebagai pewaris tahta kekaisaran Wushen ini.”

“Kamu tahu bagaimana aku ini bukan? Tidak bisa memimpin sesuatu apalagi berdiri didepan orang banyak. Hanya kamu yang pantas duduk di posisi itu.”

“Tapi aku berharap suatu saat kamu kembali untuk memimpin kekaisaran Wushen ini.”

“Aku pasti akan kembali kemari. Tapi soal permintaanmu yang satu itu kurasa akan sulit.”

“Begitu ya. Padahal aku berharap sekali.”

“Daripada kamu memikirkan cara untuk membuatku menerima tawaranmu itu, lebih baik kamu didik Shi Hao menjadi layak sepertimu.”

Kaisar Shi Chen menatap Sheng Zheng dalam- dalam. Namun ia segera menghela napas panjang.

“Anak itu masih cukup belia, dia sedang aku minta fokus berlatih untuk meningkatkan kemampuan dan juga basis kultivasinya. Mungkin dia kelak akan menjadi pewarisku tapi…aku masih berharap kamu mau menerimanya.”

Sheng Zheng menggelengkan kepalanya. Tangannya meraih kembali cawan berisi arak yang dituangkan Shi Chen

GLEK!

“Ahhh segar sekali…”

Tatapan Kaisar Shi Chen masih tertuju pada Sheng Zheng.

“Oh iya…sebagai tanda jika aku akan kembali. Aku titipkan pedang hitam sembilan naga ini padamu,” Sheng Zheng dengan mengeluakan pedangnya.

Pedang besar dengan ujung gagang ada ornamen naga dan pembatas bilah dan gagang ada sayap phoenix perlahan terbang melayang menuju Shi Chen. Bilah pedang yang berwarna merah kehitaman terlihat bersinar mengkilap.

Kaisar Shi Chen menerima pedang hitam sembilan naga dengan mengkerutkan keningnya.

“Kamu akan berkelana tanpa pedangmu?”tanya Kaisar Shi Chen. 

“Pedang hanyalah sebuah alat untuk memperkuat kemampuan. Bagi kita berdua yang sudah mencapai ranah Setengah dewa awal, tanpa pedang tingkat langit sekalipun kita bisa tetap membuat pedang dengan energi Qi kita. Meskipun lebih bagus dengan pedang berbentuk fisik tapi aku ingin sedikit menantang diriku,”jelas Sheng Zheng

“Kamu benar juga. Meskipun langkah menjadi dewa tinggal tingkat lagi. Namun situasi dunia yang sudah aman tidak bisa membuat kita mencapai itu selin terus mencoba hal baru atau mengasingkan diri beratus tahun.” Shi Chen menghela napas dengan meremas cawan ditangannya, lanjut bicara dengan cepat,” Baiklah! Akan aku jaga pedangmu ini sampai kamu kembali lagi ,”balas Shi Chen

Sheng Zheng akhirnya meninggalkan istana Qiuya milik kekaisaran Wushen. Ia pergi k arah selatan sejauh ribuan mil.

pada sebuah kawasan hutan dengan puncak gunung batu kristal yang keras. Sheng Zheng menghentikan terbangnya, ia melayang dengan pandangan tertuju pada sebuah gua dibalik rerimbunan hutan yang dapat dirasakannya.

Segera ia melesat ke dalam gua tersebut. Begitu masuk ke gua, ia memperhatikan ke sekitanya dengan seksama.

“Mungkin ini tempat yang cocok untuk mengasingkan diri. Aku sudah lama tidak berkultivasi dengan tenang sejak perang berakhir .” Sheng Zheng tersenyum tipis.

Setelah berjalan cukup lama di dalam gua yang agak gelap minim cahya, akhirnya Sheng Zheng sampai di sebuah tempat berbentuk lingkaran dengan sedikit cahaya matahari yang masuk melalui celah diatas atap gua. Ia duduk diatas batu yang berada tepat di bawah sinar matahari tersebut.

WUZ! 

WUZ!

Tangan membentuk segel dengan cepat. Sebuah lingkaran formasi muncul dibawah batu yang di dudukinya.

Formasi 12 pedang!

Perlahan formasi di tanah mulai naik membentuk 12 pedang yang berdiri tegak dengan bilah menghadap langit gua. Lalu pedang mulai berputar dan membentuk sebuah formasi.

Formasi pelindung 12 pedang selesai diaktifkan. 

“Saatnya berkultivasi,” Sheng Zheng dengan perlahan memejamkan matanya. 

Waktu berjalan dengan cepat ribuan tahun berlalu. Gunung kristal keras tempat Sheng Zheng mengasingkan dirinya mulai berubah, perlahan ketinggian gunung berubah dengan hutan yang semakin naik. 

Saat awal kedatangan Sheng Zheng, mulut gua berada cukup tinggi dari permukaan tanah datar dimana pepohonan tumbuh. Namun setelah beribu tahu, mulut gua telah menjadi sama rata dengan permukaan tana. Selain itu pintu mulut gua mulai tertutup dengan bebatuan yang runtuh sehingga membuat gua seakan “menghilang”. 

Keadaan benua Douxi juga mengalami perubahan besar. Kedamaian runtuh dengan gejolak peperangan untuk menjadi penguasa kembali terjadi.

Kekaisaran Wushen yang sempat menjadi kekuatan paling mendominasi mulai melemah sejak Kaisar Shi Chen mati dibunuh Kaisar Duan Feng Zi dari kekaisaran Shelong, ratusan tahun setelah Sheng Zheng pergi untuk berkelana yang nyatanya malah mengasingkan diri untuk berkultivasi.

Pada masa ini Kekaisaran Wushen masih berdiri, namun dibawah kepemimpinan Shi Gu Feng, keturuanan Shi Chen perlahan kekuatan dan dominasi semakin mengalami kemunduran.

Benua Xia kini terpecah menjadi 4 kekaisaran, yaitu kekaisaran Wushen, kekaisaran Shelong, kekaisaran Chunyun dan ke kekaisaran Dowang. Terdapat juga banyak faksi besar yang berdiri tanpa terikat kekaisaran seperti istana suci delapan bintang, menara Suzang, guild alkemis, aula surgawi dan lainnya. selain faksi besar tersebut banyak bermunculan sekte baru yang sebagian menjadi bagian dari para faksi besar maupun memilih berdiri sendiri tanpa terikat dengan faksi manapun.

Dunia kultivasi sendiri di benua Xia saat ini dibagi menjadi 10 ranah yaitu Pengumpulan Qi, Penciptaan Qi, Penempaan Qi, Roh Qi, Raja, Petapa, Kaisar, Suci, Setengah Dewa dan Dewa paling puncak. Dengan masing-masing dibagi menjadi tiga tingkat yaitu awal, setengah langkah dan puncak.

Untuk tingkatan pedang dibagi atas 5, yaitu pedang tingkat bumi, tingkat hitam, tingkat surgawi ,tingkat misteri dan tingkat Langit. 

••••

Waktu berjalan dengan cepat, di masa saat ini, ribuan tahun semenjak Sheng Zheng mengasingkan diri.

Deretan pegunungan memanjang dari barat ke timur, di tengah pegunungan ada sebuah gunung besar menjulang tinggi bernama gunung Liong dengan di kelilingi hutan lebat . Sekelompok orang tengah mengejar seorang wanita muda yang sudah terluka.

Aku harus bisa pergi ke kota Changzhou. Jika tidak maka aku akan berakhir,”gumam wanita muda tersebut.

TAP!

 TAP!

Lompatan beberapa orang pada dahan pohon dibelakang si wanita membuat si wanita menoleh ke belakang sekilas.

“Mau kemana kamu cantik.”

“Kamu takkan bisa lolos.”

Dengan seluruh tenaganya wanita yang bernama Bie Chang melompat diantara diantara dahan pohon.

Tiba-tiba salah seorang dari kelompok orang yang mengejarnya melesatkan tebasan pedang kearahnya.

WUZZ!

 SRAT!

Tebasan memotong dahan pohon tempat kaki Bie Chang berpijak. Seketika hal itu membuatnya kehilangan pijakan dan jatuh.

BRUK!

UGH!

Bie Chang terjatuh, ia tersungkur ke tanah. Tubuhnya yang sudah penuh luka kini bertambah lusuh.

Perlahan ia mencoba untuk bangkit berdiri, namun tenaganya sudah habis.

“Berhentilah mencoba melarikan diri manis,”ujar salah satu orang dari atas dahan pohon.

Bie Chang mengangkat kepalanya dan melihat kearah suara. Kelompok perampok yang mengejarnya telah mengepungnya. Tangannya mengepal kuat mencoba mengeluarkan pedangnya kembali. Kakinya coba digerakkan namun terasa sakit. Sepertinya terkilir akibat terjatuh tadi.

“Kalian pecundang!!! Mengejarku dengan jumlah yang sangat banyak. Dan juga beraninya keroyokan!” Hardik Bie Chang memasang raut wajah marah dan kesal.

“Hahaha…tidak peduli apapun perkataanmu. Yang jelas segera serahkan semua yang kamu punya.” 

Seseorang yang tadi berujar menghunuskan pedangnya ke arah Bie Chang.

“Ambil jika memang kalian menginginkannya.”

“Kalo begitu jangan marah pada kami jika membunuhmu!”

WUZZ!

Orang tersebut melesat kearah Bie Chang yang masih terduduk ditanah. 

 Bie Chang yang melihat serangan pedang yang mengarah padanya yang sudah tak berdaya hanya bisa menutup matanya. Ia yang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga akhirnya memilih pasrah.

Ayah, ibu, adik, maafkan aku. Sepertinya aku akan segera menyusul kalian.”

Bie Chang menutup matanya dengan kepasrahan.

DUAR!!

Ledakan besar terjadi. Kepulan asap terjadi.

Suara keras tiba-tiba terdengar ditengah kepulan asap.

“Menggunakan serangan seperti ini untuk membunuh orang yang tak berdaya bukankah sungguh memalukan? Apa kamu tak punya rasa kemanusiaan?”

Suara yang tiba-tiba terdengar membuat Bie Chang dan kelompok perampok yang ada menjadi terkejut.

KRATAK!

KRATAK!

Suara gemeratak ujung pedang yang diapit dengan dua jari orang yang barusan berbicara terdengar. 

Perlahan kepulan asap menghilang. Nampak pedang orang yang menyerang Bie Chang ditahan dua jari oleh seseorang didalam kepulan asap.

Pemandangan itu membuat semua orang terkejut dengan mata terbelalak.

“Apa!? Serangan Huang Li ditahan dengan dua jari? Serangan yang bahkan bisa membunuh pendekar pedang ranah penciptaan Qi setengah langkah ditahan sebegitu mudah? Siapa orang ini sebenarnya?”

Huang Li mengkerutkan keningnya.

“Siapa kamu?” seru Huang li keras

“Tak perlu siapa aku, karena tak ada gunanya bagi orang yang akan mati.” balas orang yang mengapit ujung pedang

“Apa katamu!”

Lates Chapters

Bab 7 | Serangan

Rombongan tersebut bergerak sangat lambat meskipun menggunakan kuda yang menarik dua kereta mereka. Di sekeliling kereta kuda ada beberapa orang yang berjalan perlahan seperti pengawal.…

Bab 6 | Serakah

Segera inti iblis dimasukan ke cincin penyimpanan. Pandangan Bie Chang kini beralih pada ganoderma api yang ada ditangan Sheng Zheng. "Tuan Zheng, ganoderma api ini…

Bab 5 | Inti Binatang Iblis

"Kenapa berhenti tiba-tiba tuan Zheng?" Bie Chang mengusap keningnya yang menabrak punggung Sheng Zheng tadi. Namun Sheng Zheng tidak merespon perkataan itu. Bie Chang yang…

Bab 4 | Alasan

"Aku ingin jadi muridmu tuan Sheng! Tolong terima aku!" pinta Bie Chang bersujud seperti menyembah Sheng Zheng Sheng Zheng yang melihat itu mengkerutkan keningnya. "Maaf…

Bab 3 | Menjadi Murid

Sheng Zheng dan Bie Chang mulai bergerak menuju kota Changzhou. Sebelumnya Sheng Zheng telah mengambil beberapa cincin penyimpanan milik Huang Li dan lainnya.   Bie Chang…

Bab 2 | Menuju Kota Changzhou

Bie Chang membuka matanya begitu merasa serangan Huang Li tidak mengenainya. Percakapan yang terdengar juga membuatnya perlahan membuka matanya. Ia melihat seorang pria berdiri didepannya…
error: Content is protected !!