“Tt-tidak kok!” Riana langsung mendorong Wira untuk segera menjauh darinya, lelaki itu hanya tertawa pelan melihat Riana gelagapan karena terpergok ibunya.
“Kamu tidak usah malu, Riana. Kalian kan saling suka, jadi tidak papa kalau hanya pelukan saja, tapi kalau lebih nikah dulu, baru nanti bisa puas mau ngapain saja!” Desi tidak mau kalau mereka melakukan hal lebih dari sekedar pelukan, karena dia tidak mau kalau kedua orang yang berada di depannya ini malah menjadi menginginkan lebih.
“Tidak kok, Tante! Aku tahu betul kalau itu tidak boleh,” ucap Riana. Dia memang tidak ingin melakukan hal yang lebih, bisa-bisa kedua orang tuanya akan sedih melihat dirinya tengah melakukan hal tidak-tidak sebelum menikah.
“Jadi apa hubungan kalian sekarang?” Desi bertanya dengan antusias, dia sangat penasaran tentang hubungan mereka berdua.
Riana tidak menjawab, dia juga merasa bingung dengan hubungan mereka yang masih tidak jelas sekarang apa? Teman atau sepasang kekasih sekarang? Wira dan dirinya belum ada memutuskan hubungan mereka apa, karena hanya mengatakan perasaan saja sebelum Desi datang tadi.
“Belum. Kami masih belum berpacaran,” Wira menyahut karena melihat Riana yang terlihat bingung.
Riana yang mendengar jawaban dari Wira, dia menjadi murung tetapi tidak bisa berbuat banyak karena memang mereka belum memperjelas hubungan ini.
“Kenapa?” Desi menanyakan hal itu karena merasa mereka sudah saling menyatakan perasaan, tetapi hubungan mereka malah masih belum jelas.
“Nanti saja. Sekarang aku mau pamit kembali ke kantor dulu, karena banyak pekerjaan di sana.” Wira mengusap kepala Riana lembut dengan senyuman manis, lalu berpamitan kepada sang ibu untuk segera pergi.
Setelah kepergian Wira, kedua wanita itu terdiam sesaat, lelaki tersebut sudah membawa makan siangnya saja ke kantor lantaran dia tidak bisa menahan senyum sedari tadi. Jadi memilih untuk tidak jadi makan siang bersama dengan alasan banyak pekerjaan.
“Ayo kita makan saja, nanti dingin malah tidak enak.” Desi seperti biasa akan membantu Riana untuk makan, dia aelalu makan belakangan sesudah memastikan wanita tersebut sudah kenyang dengan makanannya.
Riana amat senang setiap kali disuapi oleh Desi, dia bahkan tanpa sadar makan dengan banyak sampai tubuhnya mulai sedikit berisi dari pada sebelumnya. “Tante, aku sudah kenyang!”
“Benaran sudah kenyang?” Desi menanyakan sekedar memastikan, Riana menjawab dengan anggukan kepala. “Kalau begitu, kamu minum obat dulu.”
Setelah memastikan Riana sudah meminum obatnya, baru Desi menyantap makanannya dengan tenang. Ibartkan sekarang dia tengah menjaga anaknya sendiri dengan telaten bahkan penuh dengan perhatian, Desi adalah mertua terbaik bagi Riana kalau dia memang berjodoh dengan Wira nantinya. Kapan lagi seorang wanita bisa mendapatkan seorang mertua sepeti Desi, dia bahkan menganggap orang lain yang belum memiliki hubungan apa pun dengannya dengan baik, apalagi menantunya nanti.
“Tante, apakah akan merestui kalau aku bersama dengan Wira? Kalau misalkan tidak, tidak madalah,” tanya Riana memastikan kalau Desi memberikan restu kepada dirinya.
“Kenapa kamu menanyakan jawaban yang sudah pasti? Tentu saja aku akan merestui kalian berdua,” sahut Desi dengan senyuman menenangkan Riana.
Dia takut kalau Desi tidak merestui hubungannya, nanti malah akan bernasip sepertu pernikahannya sebelumnya. Dia tidak mau gagal dalam pernikahan untuk kedua kali, sedangkan satu kali saja sudah menjadi bahan gunjiingan orang lain, apalagi dua. Sungguh Riana sangat amat senang mendengar jawaban dari Desi, dia sampai tidak sabar segera menikah dengan Wira dan memiliki kehidupan yang selalu dia impikan dan doakan setiap kali salat, dia ingin sekali memiliki keluarga yang bahagi nan hangat. Hanya sesederhana itilah keinginan Riana, tetapi Reynald tidak bisa memberikan hal tersebut kepadanya sampai beberapa tahun pernikahan.
“Terima kasih selama ini sudah baik kepadaku dan bahkan memberikanku restu.” Riana menatap lekat Desi, dia masih tidak percaya kalau semua ini bukanlah mimpi.
“Tante yang seharusnya berterima kasih, karena kamu membuat senyuman yang hilang dari anak lelakiku itu menjadi muncul kembali.” Desi mengusap pelan rambut Riana lembut, dia memang selalu suka memperlakukan orang yang dia sayang seperti anak kecil.
*
Di kantor Reynald tengah melamunkan Tiara, dia merasa kalau wanita itu sangat cantik dan nampak elegan sekali kalau diperhatikan. Bahkan Diandra calon istrinya sekarang kalah jauh dengan wanita yang dia tabrak kemarin, andaikan bisa bertemu dengan wanita tersebut mungkin dia tidak akan memilih bersama dengan Diandra yang ternyata adalah orang yang galak, tetapi memilih wanita yang masih belum dia ketahui namanya tersebut untuk dijadikan istri.
“Siapa, ya, nama wanita itu?” Reynald bertanya kepada diri sendiri, dia sangat penasaran dengan wanita tersebut.
Hanya saja sekarang dia tidak bisa kemana-mana karena Wira terus memberikan pekerjaan yang banyak kepada dirinya. Yah, Wira tidak mau kalau Reynald mengunjungi Riana di rumah sakit lagi, jadi dia senfaja memberikan pekerjaan yang banyak kepada lelaki itu, alhasil Reynald selalu terjebak di ruangannya untuk mengerjakan beberapa lembar dokumen yang menumpuk.
“Argh! Gara-gara bos sialan itu aku tidak bisa kemana-mana! Bahkan makan siang saja sampai diantarkan kemari, apa dia sengaja melakukan hal ini kepadaku?!” Reynald berteriak frustasi, untung saja ruangannya kedap suara sehingga tidak kedengaran sampai keluar sana.
Reynald menggebrak meja, setelah merasa tenang baru mulai mengerjakan pekerjaannya lagi sampai selesai, tetapi dia malah teringat akan memberikan uang ganti rugi kepada wanita itu, jadi bukankah dia akan bertemu dengannya nanti.
“Aku harus menanyakan nama dan meminta nomor telponnya nanti!” Reynald sangat antusias memikirkan hari besok, apalagi Diandra tidak akan datang ke kantor lagi, dia akan leluasa mendekagi wanita tersebut.
Memang kalau lelaki yang sudah pernah berselingkuh, tidak mungkin dapat bisa membuang sifatnya tersebut kecuali dia berusaha untuk membuang sifat buruknya tersebut. Apalagi orang seperti Reynald ini, dia tidak bisa melihat wanita cantik sedikit saja dan perangai Diandra juga kurang baik setelah lama mengenal calon istrinya tersebut lebih jauh.
Sekarang semua pekerjaan Reynald sudah selesai, dia bergegas berjalan menuju ruangan Wira berada dengan sangat semangat. Lelaki itu ingin menanyai masalah di mana dia akan bertemu dengan wanita yang dirinya buat jatuh tersebut, dia ingin menyerahkan uang ganti rugi.
“Pekerjaan saya sudah selesai.” Reynald menaruh beberapa dokumen di meja Wira.
Wira segera membaca dokumen itu untuk memeriksa apakah hasilnya masih sama seperti kemarin atau tidak, ternyata hasilnya lebih baik dari pada kemarin. Jadi dia tidak perlu untuk mengerjakan ulang pekerjaan oleh mantan suami Riana tersebut.
“Begini, saya ingin menanyakan di mana kami akan bertemu?” Reynald memberanikan diri untuk bertanya perihal Tiara.
“Dengan siapa?” Wira menautkan alisnya karena tidak mengerti apa yang Reynald tanyakan.
“Em, saya dan wanita yang saya buat terjatuh itu,” ucap Reynald memperjelas perkataannya.
“Kalian tidak akan bertemu, saya yang akan menyampaikan uang itu atau tinggal teransfer saja. Jadi tidak usah bertemu!”