Farida pun meminta Tasya untuk masuk ke dalam rumah agar tak mendengar percakapannya dengan Adam dan juga Feri.
Tasya yang menurut pun langsung berlari ke dalam rumah dan disambut oleh Nani.
“Jadi tadi kamu sudah ke sini, Mas?” tanya Farida.
“Iya. Tadi aku ke sini karena aku ingin bertemu denganmu tapi kamu tidak ada dan ternyata kamu sedang bersama laki-laki ini,” ucap Adam melirik ke arah Feri.
Feri masih membungkam mulutnya dan tak mengatakan sepatah kata apapun untuk menjawab ucapan Adam padanya.
“Iya, Mas. Aku memang menemui mas Feri tadi. Ada hal yang harus aku katakan padanya,” jawab Farida.
“Kamu ngapain sih, Farida. Masih aja mau deket sama laki-laki ini! Apa kamu nggak ingat bagaimana ibunya memperlakukan kamu kemarin malam.” Adam mencoba mengingatkan Farida akan kejadian malam itu.
“I-itu hanya kesalahpahaman saja, Mas. Sekarang aku dan mas Feri sudah baik-baik saja kok,” jelas Farida.
Adam semakin tak terima mendengar perkataan dari Farida. Dalam hatinya merasa sangat tak suka melihat kedekatan Farida dan Feri.
“Kesalahpahaman bagaimana sih, Farida. Jelas-jelas dia mengatai kamu pembohong dan juga dia bilang tidak akan merestui kalian. Lalu apa kamu masih bisa bilang itu sebagai kesalahpahaman.” Adam masih ngotot.
“M-maaf mas Adam. Maaf kalau aku ikut bicara tentang hal ini, tapi ibuku dan Farida sudah menyelesaikan masalah kemarin dan sekarang mereka sudah berbaikan jadi aku rasa tidak masalah kalau aku dan Mbak Farida dekat lagi,” ucap Feri.
Adam semakin membulatkan kedua matanya merasa sangat terkejut. “M-maksud kamu apa?” Adam menaikkan sebelah alisnya.
“Ibuku sudah memberi restu untuk hubunganku dan mbak Farida,” jelas Feri lagi.
Adam semakin kesal dan tak terima mengetahui kenyataan bahwa kini Farida sedang dekat dengan pria lain. Apalagi sekarang dirinya tengah ingin mendekati Farida lagi.
“Nggak! Aku nggak boleh membiarkan Farida bersatu dengan laki itu. Aku harus bisa mendapatkan Farida lagi,” batin Adam dengan tekat yang sudah sangat bulat untuk mendekati Farida lagi.
“Ya sudah kalau begitu mau apa lagi kamu masih di sini? Kan Farida sudah sampai rumah jadi lebih baik kamu pulang,” ucap Adam pada Feri dengan sangat sinis.
“M-mas, kamu kenapa malah mengusir mas Feri seperti itu sih,” ucap Farida tegas.
“Loh bukannya ngusir, tapi kan dia ke sini mau ngaterin kamu pulang nah sekarang kamu sudah sampai, terus mau apa lagi dia di sini.”
“Nggak apa-apa Mbak Farida. Aku pulang saja, lagipula apa yang dikatakan oleh mas Adam juga benar. Aku kan cuma mau nganterin mbak Farida pulang dan sekarang mbak Farida sudah sampai jadi aku bisa pulang,” ucap Feri dengan nada suara yang masih terdengar tenang.
“T-tapi mas.” Farida ragu-ragu untuk menahan Feri.
“Nggak apa-apa, mbak. Aku juga kan masih harus mengurus toko jadi aku pulang sekarang saja,” ucap Feri.
“Nah bagus kalau begitu. Lebih baik kamu pulang,” ucap Adam merasa senang.
“Lalu kamu sendiri kenapa masih ada di sini? Bukannya kamu ke sini cuma mau nganterin Tasya saja?” Ucap Farida melirik.
“I-iya ,,, t-tapi ada hal yang ingin aku katakan padamu dulu sebelum aku pulang,” ucap Adam terbata.
Tak mau berlama-lama akhirnya Feri pun berpamitan untuk pulang. Raut wajahnya masih tampak santai dan tak terlihat marah sama sekali.
Melihat Feri yang sudah pergi meninggalkan mereka berdua membuat Adam tampak sangat semringah.
Ia pun kemudian menyusun siasat untuk mendekati Farida lagi. Adam merasa kali ini ia telah benar-benar yakin bahwa Farida adalah wanita yang sesungguhnya ia inginkan.
“Kamu mau bicara apa, Mas?” tanya Farida yang kini gantian bersikap ketus pada Adam.
Adam menelan salivanya mendengar ucapan Farida yang sangat ketus padanya.
“Emmmm s-sebenarnya ini ada hubungannya dengan Tasya,” ucap Adam yang terpaksa menggunakan Tasya agar Farida mau mengobrol dengannya.
“Ada apa dengan Tasya, mas?” tanya Farida menoleh ke arah Adam.
Adam pun duduk di kursi teras rumah diikuti Farida yang kemudian ikut duduk tak jauh dari Adam.
“Begini Farida, sebenarnya aku kasian sama Tasya yang hanya bisa melihat salah satu orang tuanya. Dia tidak bisa melihat kedua orang tuanya tinggal di dalam satu atap lagi.”
Farida mengernyitkan keningnya tak mengerti apa yang dimaksud oleh Adam saat itu.
“Maksud kamu apa, mas? Bukankah Tasya sudah tahu tentang perpisahan kita dan dia juga sudah terbiasa tinggal denganmu tanpa aku.” Farida masih tak mengerti apa yang dikatakan oleh Adam.
“Benar, Farida. Tasya memang sudah merasa terbiasa tinggal denganmu tanpa dirimu, tapi terkadang aku kasian padanya karena dia seperti merindukan kedua orang tua yang lengkap,” ucap Adam akhirnya.
Akhirnya Farida paham apa yang dimaksud oleh Adam saat itu. Meski Farida belum tahu pasti apa yang Adam inginkan sebenarnya.
“Lalu maksud dari kata-kata mu tadi itu apa? aku tidak paham,” ucap Farida memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Tiba-tiba Adam meraih tangan Farida dan menggenggamnya cukup erat. Tatapan matanya mengarah kepada Farida yang masih belum menatapnya.
Namun, Farida segera menoleh ke arah Adam yang telah meraih tangannya. Ia berusaha menarik tangannya dari Adam tapi Adam menahannya cukup kuat.
“Farida, aku ingin kita kembali seperti dulu demi Tasya,” ucap Adam.
Farida terkejut bukan main mendengar perkataan Adam padanya. Jantungnya seperti berhenti berdetak.
“A-apa maksud kamu, Mas! Sadar mas, kamu itu sudah punya istri. Kamu nggak bisa mengajakku kembali seperti dulu meskipun itu demi Tasya,” ucap Farida menolak. Namun, tangannya masih belum dilepaskan oleh Adam.
“Sebenarnya aku sudah berpisah dari Santi, Farida. Ternyata selama ini dia membohongiku. Rupanya dia adalah wanita yang sudah punya anak dan juga suami. Dia menikah denganku hanya ingin menguras harta Mama Nadia saja. Karena itulah aku menceraikannya,” jelas Adam.
Farida semakin tak mengerti dengan cara berpikir Adam saat itu. Bahkan saat ia belum lama berpisah dari Santi, ia bisa meminta rujuk dengannya.
Farida menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Pikirannya masih berkelana dalam lamunan yang beragam.
“Bisa-bisanya mas Adam memintaku kembali setelah baru saja dia berpisah dari istrinya. Apa dia ingin menjadikanku pelampiasan,” batin Farida.
“Apa yang mas Adam katakan ini tulus? Atau dia hanya ingin menjadikanku sebagai pelariannya yang telah dikhianati oleh istrinya,” batin Farida lagi.
Farida masih melamun dengan bayangan di kepalanya yang terasa sangat penuh.
“Ibu, Tasya mau makan,” ucap Tasya yang tiba-tiba menghampiri Farida.
Seketika Adam pun melepaskan genggaman tangannya pada Farida dan lamunan Farida pun ikut buyar.
“Loh tadi kan Tasya sudah makan sebelum ke rumah ibu,” ucap Adam pada Tasya.
“Tasya mau makan masakan ibu, Yah. Kan sudah lama Tasya tidak makan masakan ibu,” ucap Tasya sembari mengerucutkan bibirnya.
“Tapi ayah kan masih bicara sama ibu, Tasya.” Adam merasa kesal karena diganggu oleh Tasya.
“Sudahlah mas, tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Lebih baik kamu pulang karena aku juga mau masak untuk Tasya,” ucap Farida bangkit dari duduknya.
Dengan cepat Adam menahan tangan Farida hingga langkah kakinya terhenti.
“Tolong kamu pikirkan lagi ucapanku tadi, ya. Ini semua demi Tasya,” bisik Adam mengingatkan Farida hingga membuat Farida tertegun.