Diam-diam suka

1. Si Biang Onar

“Woy, berhenti lo!”

Baru juga mau berjalan masuk ke area sekolah, Rea sudah di bikin kaget oleh suara heboh yang datang dari arah taman sekolah baru nya itu.

Rea pikir sekolah baru nya ini adalah sekolah bonafit. Dan Dia pikir juga kalau di Sekolah bonafit itu nggak ada yang namanya si pembuat onar di sini. Tapi ternyata sama saja. Apa mungkin memang di semua sekolah itu sama ya? Mungkin memang iya sih. Soalnya, kayaknya nggak bakal seru kalau di Sekolah itu nggak ada si anak cupu, si kutu buku, si pangeran sekolah yang membuat para siswi berebut untuk mendapatkan perhatian darinya, serta satu lagi SI PEMBUAT ONAR yang sudah pasti bikin kesal semua penghuni Sekolah.

Rea terus saja memperhatikan tiga orang siswa yang saling berkejaran dengan peluit berbunyi nyaring ditiup oleh salah satunya.

“Woy, kampret! Berhenti nggak lo?! Awas, Ketangkep gue seret lo ke kantor BK!”

“Gue udah kebal sama BK. Lagian lo ngapain sih sok-sokan ngedisiplinin gue. Mentang-mentang lo itu ketua osis?”

Rea menggeleng. Ada ya siswa seperti itu?

“Udah deh, lo nggak usah deh atur-atur gue. Lagian gue cuma bolos bentar doang kok. Gue cuma sumpek sama pelajarannya pak Umar doang.”

“Ya nggak bisa gitu, kalau lo masih mau sekolah disini, lo harus ikutin semua aturan yang ada di sekolah ini. Kalau lo nggak mau tertib sama aturan disini, mending lo out aja dari sekolah ini. Sekolah juga nggak butuh murid berandalan kek lo. Mending kalau otak lo encer, nilai merah semua aja.” Pemuda yang menjabat sebagai ketua osis itu berteriak kesal.

“Bodo amat,” ujarnya, dan kembali berlari. Kali ini, Dia hampir memanjat pagar untuk melarikan diri dari sekolah.

“Aw…,” jerit Rea tertahan.

Gara-gara terlalu fokus dengan ketiga orang siswa yang berlarian tersebut, Rea sampai nggak memperhatikan apa yang ada di depannya.

Alhasil, Rea menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya, hingga menyebabkan buku-buku yang dibawa orang itu jatuh berserakan di atas lantai dan menimbulkan bunyi gedebuk cukup nyaring. Salah satu dari buku itu menimpa kaki Rea. Dan itu yang membuatnya menjerit seperti tadi.

“Sorry, sorry. Nggak sengaja.”

Rea mendongak.

Hatinya yang tadi sempat kesal, mendadak jadi berubah. Dia jadi merasa nggak enak saat mendapati ada seorang siswa berkacamata, yang tengah sibuk mengumpulkan buku-bukunya yang sempat berserakan di lantai, akibat dari insiden tabrakan tadi. Karenanya , Rea pun ikut jongkok untuk membantu cowok itu mengumpulkan bukunya.

“Nggak apa-apa, lagian gue juga yang salah kok, Gue jalan nggak lihat-lihat, mata gue meleng tadi. Soalnya sambil ngeliatin ke-tiga cowok yang lari-larian itu tadi.”

“Oh, itu. Mereka udah biasa kok kayak gitu.”

“Bi…asa?” tanya Rea heran. Menurutnya, ini hal aneh, bukan hal biasa seperti yang dibilang oleh cowok dihadapannya barusan.

Eh, tapi mungkin juga karena Rea masih baru kali ya, jadi belum terbiasa melihat hal yang seperti itu.

“Makasih,” ujar cowok berkacamata itu, saat Rea menyerahkan setumpuk buku padanya.

Cowok tersebut mendongak.

Saat mendapati wajah asing di hadapannya, cowok berkacamata itupun bertanya, “Lo anak baru, ya? Gue kayak baru ngeliat lo soalnya.”

“Iya, ini hari pertama gue sekolah disini.”

Rea kemudian mengulurkan tangannya, “kenalin nama gue Rea, Andrea Veronica Michele.”

Si cowok pun dengan cepat membalas uluran tangan Rea, “Gue Elang, Elang Prawira Adam, tapi, Lo boleh panggil gue …, El aja.”

“Ok, El. Senang bisa kenalan sama Lo,” jawab Rea dilengkapi dengan sebuah senyuman yang …, Sumpah, manisnya nggak ketulungan. El saja sampai nggak berkedip melihatnya.

“Ya udah, kalau gitu gue duluan ya, Rea. Mau nganter buku-buku ini ke kantor.”

Rea tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya pelan.

“Lepasin, gue!”

Rea yang saat itu hendak melangkahkan kakinya, terpaksa menoleh ke sana. Rupanya si biang onar itu sudah berhasil di tangkap sama kedua siswa tadi.

“Eh, El!” panggil Rea yang membuat El yang saat itu baru berjalan beberapa langkah jadi kembali berhenti.

“Ada apa, Rea?”

“Gue…, boleh ikut lo nggak?”

El diam sebentar, tapi akhirnya dia mengangguk juga. Rea pun tersenyum. Setidaknya, dia sudah menemukan satu orang teman disini. Ya walaupun dia itu memakai kacamata dan terkesan culun gitu.

“Lo pasti bertanya-tanya ya, sama ketiga orang yang lari-larian tadi itu?” tanya El ketika Rea sudah berjalan disampingnya.

Rea nyengir, “habis mereka aneh, udah gede masih aja lari-larian kayak anak kecil.”

“Ya udah, biar Lo kagak penasaran, sini gue kasih tau,” ujar El. “Yang dua orang tadi itu namanya Verrel, sama Ferdinand. Mereka tuh ketua osis sama wakilnya, dan tadi itu mereka biasa lagi patroli, dan bertugas untuk mengamankan Rama, siswa kelas XI, yang kerjanya bikin onar di sekolah ini.”

Rea manggut-manggut kecil.

“Saran gue sih, kalau bisa, Lo nggak usah deh dekat-dekat sama Rama.”

Rea cuma senyum-senyum saja. Seseram itukah si Rama ini, hingga dia tidak boleh dekat-dekat. Heh, ada-ada saja memang si El ini.

Sambil berjalan, El terus saja bercerita tentang si Rama ini. Hingga tanpa sadar, mereka sudah sampai didepan sebuah ruangan, dan El berhenti disitu,”ini ruang tata usaha. Lo pasti lagi nyari ruangan ini kan?

“Hehe…tahu aja lo, El,” ucap Rea sedikit malu-malu.

El tak menjawab. Dia langsung berjalan masuk kedalam ruangan yang ada tepat disebelah ruang tata usaha untuk menaruh buku-buku yang dibawanya.

***

“Lo jelasin aja semuanya nanti di kantor.”

Suara lantang yang disertai derap langkah cepat itu berhasil menyita perhatian para siswa, termasuk juga Mauren, teman sebangku Rea, yang saat itu lagi menemani Rea menyalin tugas dari buku catatannya.

“Dia lagi, dia lagi.”

“Dia siapa?” tanya Rea tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tulis.

“Siapa lagi Rea, kalau bukan si biang onar,” jawab Mauren, siswi yang kebetulan duduk sebangku sama Rea.

Mendengar kata si biang onar, Rea mendongak. Rasa penasaran tiba-tiba menghinggapi hatinya. Seperti apa sih tampang si biang onar itu?

Sayangnya, saat Rea melihat ke jendela, “si biang onar” yang dibilang Mauren itu sudah tidak ada di sana.

“Nggak usah dicari, orangnya udah nggak ada.”

“Inalillahi wa Inna ilaihi Raji’un, mudah-mudahan Allah ampuni semua dosa si biang onar.”

“Hahaha, maksud Gue orangnya udah pergi Rea, bukan death,” ucap Mauren sambil tertawa.Rea pun ikut ketawa juga akhirnya.

****

“Minggir dong, Gue mau duduk disini.”

Rea mendongak, saat mendengar suara dari yang datang dari arah belakangnya. Yang lebih bikin dia kaget adalah waktu tahu kalau orang yang berdiri di belakangnya itu adalah Rama, si maling mangga miliknya.

“Elo?”

Begitupun sama Rama. Dia juga kaget waktu tahu, kalau ternyata gadis yang duduk di meja kesayangannya itu adalah Rea.

“Lo ngapain disini? Hmm … Gue ngerti, pasti Lo kangen sama Gue ya, sampai Lo nyamperin Gue kemari.”

“Apa? Gue? Kangen ama Lo? Najis!” jawab Rea ketus.

“Alah, ngaku aja kalau semalem itu Lo nggak bisa tidur, gara-gara keingetan terus ama wajah tampan Gue.”

“Ih, amit-amit,”

Rama mendekatkan bibirnya ke telinga Rea, dan berbisik, ‘”jangan ngomong gitu, ntar Lo jatuh cinta beneran loh sama Gue,”

“Rese, Lo!”

Rea benar-benar kesal sama ucapan Rama. Apalagi saat cowok itu mau mencolek dagunya, dengan cepat Rea mengayunkan tangannya ke wajah cowok itu. Sayangnya, Rama berhasil menangkap sebelum tangan Rea mengenai wajahnya.

“Lo lupa ya, kemarin gue bilang apa? Tangan mulus Lo ini bisa pegal-pegal kalau dipakai buat mukulin wajah setampan Gue.”

“Lepasin tangan gue, atau lo mau Gue gigit lagi kayak kemaren?”

“Lo mau Gue cium lagi?” balas Rama

“Brengsek! Lo lepasin tangan Gue, atau gue bakal kasih tahu semua orang kalau lo itu mal…,”

Lates Chapters

Elang

“Hei…, mau ikut pulang bareng gue?” Rea menoleh. Seseorang yang ternyata adalah Elang menghentikan sepeda motornya tepat di sebelah Rea. Senyum manisnya menyembul dari balik…

Ketahuan ngintip

Duk! Duk! Duk! Ini bukan suara beduk yang dipukul. Suara yang didengar Rea sekarang ini berasal dari pantulan bola basket yang beradu dengan lantai lapangan…

Gue bukan maling

"Lo mau Gue cium lagi?" balas Rama "Brengsek! Lo lepasin tangan Gue, atau gue bakal kasih tahu semua orang kalau lo itu mal...," Dengan kesal…
error: Content is protected !!