“Kamu kalau nggak nurut sama kami mending nggak usah kuliah! Dikasih tahu yang bener malah ngelawan mulu!”
Sebuah pernyataan yang membuat Erina harus mengubur semua mimpinya karena sikap egois kedua orang tuanya, terutama sang ayah yang selalu meminta Erina menjadi apa yang ayahnya mau.
Erina, gadis yang sejak kecil hingga remaja menghabiskan waktunya berkutat dengan buku dan sekolah, sesekali ia bisa menghabiskan waktu bermain dengan teman-temannya, itu pun hanya beberapa. Selebihnya, ia harus memeras otak dan pikiran bergelut menyusuri kata-kata serta berbagai rumus yang telah merantai hidupnya.
“Ayah … Ibu, Erina mau masuk klub bulutangkis. Boleh nggak?” tanya Erina dengan rasa takut.
“Buat apa masuk klub kaya gituan? Udah kamu belajar aja yang bener, rajin. Nggak ada gunanya kamu ikut kaya gitu-gituan, orang tua kamu bukan orang kaya Erina, pahami itu!”
Ucapan ibunda yang seharusnya menguatkan dan memberi semangat justru malah menghancurkan harapan dan impian Erina yang sejak kecil bercita-cita menjadi pebulutangkis.
“Masuk klub kaya gitu nggak cukup uang sedikit, Erina. Orang tua kamu itu cuma karyawan biasa, mana sanggup untuk masukin kamu ke sana,” tambah sang ibunda yang membuat hati Erina semakin hancur.
“Kalau kamu mau main bulutangkis, tuh di belakang rumah ada lapangan ‘kan? Bisa kamu pakai sepuas kamu, gratis malah!” sahut sang Ayah.
Erina hanya diam menunduk. Harapan dan mimpinya pupus sudah, impian yang telah ia bangun dan pupuk sejak kecil, angannya keliling dunia dengan menjadi atlet bulutangkis kini harus kandas dan sirna.
Selepas menggantungkan impiannya menjadi atlet bulutangkis, ERina kini bercita-cita menjadi seorang kriminolog. Ketertarikannya pada dunia investigasi membawanya mempelajari hal-hal berbau kejahatan dan penyidikan. Semua itu tak terlepas dari gagalnya Erina menjadi seorang polwan, tapi lagi-lagi karir polwan adalah keinginan sang ayah dan bukan dirinya.
“Kamu mau masuk jurusan apa, Er?” tanya sang Ayah seusai shalat Magrib.
“Kriminolog, Yah.”
“Kamu tuh kalau cari jurusan yang bener dikit kenapa, sih! Yang biayain kuliah kamu itu orang tua!”
“Tapi itu jurusan banyak peminatnya, Yah dan masih ada hubungannya dengan polisi. Bedanya Erina di belakang layar dan nggak pakai seragam,” papar Erina seraya berdoa semoga saja sang ayah berubah pikiran.
“UItu S1 apa D3?” tanya sang Ayah lagi.
“S1, Yah dan adanya hanya di Universitas Indonesia.”
“Apalagi UI, mahal! Belum tentu kamu langsung kerja! Nyari jurusan itu yang keluar, lulus, langsung kerja!” gaya bicara sang ayah yang meledak-ledak membuat Erina takut dan enggan berdebat.
“Terus, selain kriminolog apalagi jurusan yang kamu mau?” sang Ibu kini turut dalam percakapan.
“Bahasa,” jawab Erina singkat.
“Bahasa apa?” tanya Ayah.
“Inggrs.”
Erina memang dikenal sebagai anak yang pintar bahasa Inggris sejak SD, bahkan di bangku SMA ia mewakili sekolah untuk ikut lomba debat bahasa Inggris antar sekolah.
“S1 apa D3?” cecar sang Ayah bak polisi.
“D3, Yah.”
“Nggak usah kuliah kalau cuma sampai D3! Kuliah kerja apaan kalau gelarnya cuma D3!” emosi sang Ayah membuat ERina hampir menitikkan air mata, namun ia harus kuat karena kedua orang tuanya paling tak menyenangi anak cengeng dan mudah menyerah meskipun Erina adalah anak tunggal.
Erina menumpahkan semua tangis pilunya di kamar. Sebisa mungkin ia menahan agar suara tangisnya tak keluar dari kerongkongannya. Entah dosa apa yang telah diperbuat di kehidupan sebelumnya, kenapa begitu sulit mencapai mimpi-mimpinya di saat ia melihat teman-teman sekolahnya mudah dan bahagia karena didukung oleh kedua orang tua mereka.
Satu hal yang paling membuat Erina kecewa atas sikap orang tuanya adalah saat dirinya dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru pada universitas negeri ternama di Yogyakarta, tapi sayangnya lagi-lagi ia harus menelan pil pahit saat tak diizinkan untuk mengambil jurusan tersebut. Luluh lantak semua energi dan kerja kerasnya selama ini dan dari sanalah Erina mulai masa bodoh dengan masa depannya.
“Er, kamu mau ambil jurusan apa? Kuliah di mana?” tanya Sekar, sahabat Erina.
“Nggak tahu. Aku nggak mikirin kuliah! Percuma juga, nggak bakalan di ACC,” jawabnya.
“Lah, kok gitu? Bukannya kamu keterima di UGM?” tanya Sekar lagi penasaran.
“Iya, UGM. Universitas Gagal Masuk,” seloroh Erina.
“Ish, orang ditanya serius kok jawabnya gitu sih! Emang nggak bisa diusahakan apa yang di UGM? Sayang lho, banyak yang mau masuk kamu malah ngebuang.”
“I wish turn back the time, aku pengen banget masuk ke sana, tapi apa mau dikata. Nasi sudah jadi kotoran.”
Sekar sangat mengerti bagaimana perasaan Erina saat ini. Mereka berdua sama-sama berjuang untuk dapat masuk ke universitas bergengsi tersebut dan Erina lah yang akhirnya lulus, tapi sayangnya justru keadaan tak bisa ditebak.
“Terus rencana kamu apa sekarang? Masih mau nyoba di Yogya?” tanya Sekar seraya mengusap pelan punggung Erina.
“Kayaknya enggak deh, aku capek. Biaya lagi kan? Daripada kena kultum, mending di sini aja.”
“Udah nyari?”
Erina menggeleng. “Udah nggak minat kuliah lagi, Kar. Rasanya aku pengen kerja aja, cari uang yang banyak, jalan-jalan ke luar negeri, foya-foya uang sendiri, nggak ada yang ganggu gugat.”
“Aku nggak bisa ngomong banyak, Er. Tapi apapun itu aku mau yang terbaik buat kamu.”
Singkat cerita, Erina pada akhirnya memutuskan kuliah di Jakarta pada salah satu perguruan swasta dengan jurusan ilmu politik. Itu pun ia asal pilih karena rasa sakit hati atas leburnya mimpi-mimpi yang telah di pupuknya.
Erina menghabiskan kurang lebih lima tahun untuk bisa lulus S1 nya. SEtahun ia gunakan untuk bekerja tepat saat di mana seharusnya otaknya ia pakai untuk skripsi dan pekerjaan yang dipilihnya pun jauh dari jurusan yang ia ambil, tapi justru Erina mendapat ketenangan dan kepuasan batin karena ia banyak bertemu dengan orang-orang yang bisa menjadi teman canda dalam duka.
Menjelang kelulusan, Erina memutuskan ingin melanjutkan kuliah S-2 dan mimpinya sekarang adalah ia ingin kuliah di luar negeri. Saat ada kesempatan tanpa bicara dengan orang tuanya ia mendaftarkan diri ke salah satu universitas yang menyediakan beasiswa dan saat namanya lulus, hatinya berbunga dan hendak memberitahukan pada kedua orang tuanya.
“Ayah, Ibu, ada yang ingin Erina sampaikan,” ucapnya menyembunyikan rasa senangnya.
“Ngomong aja,” sahut sang Ayah.
“Erina mau lanjut S2 ….”
“Biaya dari mana? S1 kamu aja udah habis biaya banyak!” sang Ayah tiba-tiba memotong.
Sabar … sabar, Er.
“Karena itu, Erina daftar beasiswa S2 keluar negeri dan lulus,” ucapnya semangat.
“Kamu? Daftar S2? Dapat di mana?” tanya sang Ibu tampak antusias.
“Di Inggris,” dengan penuh percaya diri Erina menjawab.
“Ngapain jauh-jauh kuliah keluar negeri! Di sini juga masih banyak yang bagus! Belum pergaulannya, belum biayanya, terus kalau kamu di luar negeri sama siapa? Nggak usah diambil!” perintah Ayah.
Entah sudah berapa kali Erina harus menerima ucapan seperti ini. Berkali-kali dipatahkan, dihancurkan, diremehkan, tak dipercaya. Ia tak banyak bicara dan merobek surat pengumuman lulusnya.
“Percuma aku punya impian! Percuma aku punya mimpi! Aku hanya dreamcatcher, penangkap mimpi yang ada dalam imajinasi dan ilusi!” ucapnya dengan air mata berderai.
Dan semenjak kejadian itu, Erina benar-benar tak lagi peduli dengan impiannya. Ia kini hanya fokus untuk mencari pekerjaan dan seperti telah telah digariskan Tuhan, ia justru mendapat pekerjaan di luar ekspektasinya. Erina kini bekerja sebagai seorang guru, sebuah pekerjaan yang sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya. Namun dengan menjadi seorang guru, ia memiliki pandangan jalan hidup lain dan lebih peka pada orang lain. Erina menjadi guru favorit muridnya bercerita, keluh kesah, mulai dari masalah keluarga hingga percintaan.
“Apakah ini jalan hidup yang Tuhan telah pilihkan untukku? Dengan menjadi seorang pendidik agar aku bisa membagikan pengalaman pahitku pada mereka yang punya mimpi dan keinginan yang sama sepertiku dulu?”