Liarnya Dunia

Jendela dunia

Asma dan Raisa adalah Anak kuliahan yang masih berstatus semester pertama. mereka sama-sama menyukai sastra, Asma merujuk pada sastra khusus novel, sedangkan Raisa merujuk pada puisi. 

Walaupun sama-sama jurusan sastra namun setiap prodi memberi kebebasan untuk merujuk pada bidang yang diinginkan.

Kampus menjelang akhir ospek UKM sastra mengadakan lomba sastra bagi peserta baru khusus jurusan sastra sebagai potensi dasar untuk masuk dunia sastra bagi seluruh peserta didik baru diwajibkan untuk mengikutinya. 

Seluruh peserta jurusan sastra khusus semester pertama ikut andil karena hadiahnya adalah dapat beasiswa penuh dari kampus, minimnya dasar yang mereka ketahui membuat satu persatu terlempar dan gagal semi final, bahkan banyak yang lengser pada awal perlombaan.

namun hanya 2 peserta yang berhasil lolos ke final yaitu Raisa dan Asma. Karena pertanyaan langsung dipimpin oleh pak Dafit selaku ketua prodi sastra, banyak tidak lolos tahap final, 

“ Baiklah saya akan menanyakan 3 pertanyaan,

Ketika kalian menghadapi masalah hidup 

Sikap ketika kalian berteman

Ketika kalian mencintai seseorang 

Dan kalian wajib menjawab dengan Bahasa dan sastra, pertanyaan ini sengaja saya tanyakan biar kalian punya bekal untuk bisa mengasah potensi, lebih lebih rektor telah memberikan hadiah yang luar biasa kepada pemenangnya, berupa beasiswa penuh dari kampus, lumayan kan, biasa per  semester meter lima juta digratiskan, kecuali kebutuhan kalian sendiri, “ Tuturnya.

“Pertanyaan pertama, bagaimana sikap kalian menghadapi masalah hidup ?”

Asma mengacungkan tangan kemudian menjawab, “Habiburrahman pernah berkata dalam syairnya  siapa yang menginginkan dunia maka dia harus punya imu, siapa yang menginginkan akhirat ia juga harus punya ilmu. Ilmu adalah pangkal kesuksesan untuk mendapatkan apa saja, dan jelaslah bahwa kalau kita berjalan di dunia ini tanpa ilmu, seperti sedang mengembara namun tidak mempunyai tujuannya,” Jelas Asma. 

Seluruh peserta yang menyaksikan menjadi tercengang, jawaban yang diucapkan Asma adalah jawaban yang sangat akurat dan masuk akal, bahkan rektor yang menyaksikan juga memberikan jempol padanya, riau riuh tepuk tangan pun bergemuruh! 

“ Baik Raisa silahkan. “Lanjut pak Dafit. 

“ Kutipan syair tere liye begitu indah, dalam kata-kata bijaknya beliau  memaparkan, daun yang jatuh tidak pernah membenci angin , dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja, tak melawan, mengikhlaskan begitu saja. Seakan-akan beliau menggambarkan bahwa masalah hidup adalah takdir yang harus diiringi dengan doa dan usaha, ikhlas memang bukanlah pilihan yang buruk, namun berusaha juga menandakan kalau kita punya tujuan akan kehidupan kita.” Tuturnya.

Mendengar jawaban Raisa dan seluruh ruangan kembali dihebohkan dengan tepuk tangan yang meria. 

“Lanjut pertanyaan kedua,  apa sikap kalian ketika kalian memilih teman kriteria yang baik menurut kalian? Dan yang pantas kalian pertahankan?”

Lagi-lagi Asma mengacungkan tangan lebih dulu, “Lagi- lagi Habiburrahman bersyair untuk menjawab pertanyaan pak Dafit. Memenuhi segala kecocokan dalam hati manusia adalah hal yang tidak mungkin kamu capai. dalam artian, dalam sikap atau budaya apalagi agama. Tetapi rasa nyaman lah yang membuat saya bertahan dalam berteman, bukan karena beda agama dan budaya. “ 

setelah Asma menjawab, pak Dafit kembali menunjuk Raisa “Silahkan Raisa, “ 

“ Saya berhasil terhipnotis oleh syair tere liye, beliau berkata dalam kata kata bijaknya. waktu yang akan menjelaskan dengan baik ketulusan seseorang. Niat baik, dan tujuan tujuannya. Jika sejatinya memang baik. Maka seiring berjalan sebaliknya, jika hanya topeng maka seiring waktu berlalu akan terbuka juga. Maka teman yang saya butuhkan adalah teman yang tulus, menyayangi saya apa adanya, dan menerima kekurangan satu sama lain.”

Seluruh ruangan pun dibuat heboh dengan kata-kata sihir dari dua peserta itu, kepandaian

“ Baik pertanyaan terakhir. Apa tindakan kalian terhadap cinta, sekarang cinta 70% telah membuat manusia hilang akal, bahkan tidak jarang masa depannya dikorbankan hanya untuk cinta yang semu?”

“Huuuuuuu” Kaum hawa bersorak, kenyataannya memang cinta telah membutakan jiwanya, dan tidak jarang hal itu terjadi pada kaum milenial.

Bukan pertama kalinya asma mengacungkan tangan mendahului Raisa, walaupun mereka sama sama pandai dalam sastra, Asma selalu ingin memberikan jawaban terbaiknya. 

“Habiburrahman dengan tegas menjawab persoalan itu Pak, dengan syairnya yang sangat luar biasa. Beliau menjawab,  benar mencintai mahluk itu sangat berpeluang mengalami kehilangan. Kebersamaan bersama mahluk juga berperan mengalami perpisahan. Hanya cinta kepada Allah yang tidak. Beliau menjawab seakan menandakan bahwa, Makhluk itu ada kita harus menghadapinya dengan sekedarnya saja, jangan candu atau overdosis  biar tidak menyesal dikemudian hari,”

“Selanjutnya bagaimana dengan tanggapanmu  Raisa?”

“Dalam syairnya yang indah tere liye pernah berkata.  sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apa lagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan  itu semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk mensugesti, bertanya pada diri sendiri apa memang sesuka itu,

 kita belajar dari syairnya bahwa cinta sejati adalah ketika yang mencintai kita sanggup memiliki kita seutuhnya dengan menyatakan Qobiltu!”

“Huhu”

Lagi riah riuh berhasil membuat peserta yang menyaksikan terhipnotis, Seluruh ruangan dibuat terkesan dengan jawaban Raisa. 

Pak Dafit kemudian menambahkan, ” Kalian memang berbakat menjadi seorang penulis. Jangan sia-sia kan bakat kalian. Ada info menarik juga loh.  Elsufi publishing sedang mengadakan asah kompetensi sastra, dengan  tema Bahasa budaya dan sastra diera digital, yang  menang lumayan buat uang jajan bisa langsung kunjungi Instagram @ komunitas rumah menulis atau @ elsufi publishing, baik saya lanjut, 

Kesimpulan dari pertanyaan saya,  sastra bisa menjawab semua pertanyaan dalam hidup kalian,  baik pertemanan atau percintaan. Apa lagi sampai kalian membuat cerita yang menarik seperti novel atau puisi-puisi hikmah karena  dengan tulisan karya karya yang menarik kita bisa dikenang dan orang lain bisa mengambil pelajaran dari tulisan kita.

Dengan teknologi yang sudah semakin jaya, semua ini merupakan bentuk dari kuasa tuhan dalam memanjakan umatnya supaya bisa realistis dan kondusif dalam menghadapi perkembangan zaman, tiga pertanyaan itu adalah kesimpulan dari apa tujuan kita hidup, mengapa kita hidup, dan bagaimana kita menjalankan kehidupan. 

Pepatah arab pernah berkata ilmu itu liar dan pengikatnya adalah tulisan. Baiklah, karena disini jurinya hanya saya dan pak rektor, maka kami mau berembuk dulu lima menit,”

Peserta yang hadir mulai mendukung kandidat dari bidangnya, yang mendukung Asma tentunya adalah grup sastra, begitupun dengan Raisa yang grup puisi, suasana dibuat tegang karena keputusan ini seakan menentukan siapa bidang yang paling unggul!

“Baiklah kami sudah memutuskan siapa yang berhak menjadi pemenangnya, pemenangnya adalah. .. Asma,”

“Huuuuuuu, Hidup novel, novel novel novel.”

Ruangan yang hening akhirnya kembali bersorak dengan  gemuruh oleh peserta yang menyaksikan,

“Selamat ya Asma, bukumu sangat saya nantikan untuk terbit,”

Percayalah,  bahwa sastra akan menjawab hidupmu!

 

error: Content is protected !!