Maira duduk sendirian di bangku taman, memandangi hamparan rumput hijau yang luas di hadapannya. Angin sepoi-sepoi meniup lembut rambut panjangnya, tetapi tidak mampu menghapus kegalauan yang merundung hatinya. Ia mencoba menikmati suasana sore yang tenang itu. Namun, pikirannya tak bisa berhenti berputar-putar pada satu hal, cinta.
Dulu, Maira percaya bahwa cinta adalah segalanya. Cinta pertama yang ia rasakan ketika duduk di bangku SMA begitu indah, mengubah dunianya menjadi lebih berwarna. Namun, seiring berjalannya waktu, kebahagiaan itu hancur berantakan, meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hatinya. Sejak saat itu, Maira memutuskan untuk menutup diri dari semua perasaan yang bisa membuatnya rapuh.
Ponselnya bergetar, menandakan pesan masuk. Maira melirik layar ponselnya dan melihat nama Dika terpampang di sana. Dika adalah teman sekelasnya di universitas, yang akhir-akhir ini semakin sering mengirim pesan dan mencoba mendekatinya. Awalnya, Maira merasa Dika adalah pria yang menyenangkan. Tetapi, seiring waktu, Maira mulai merasa takut—takut bahwa kedekatan ini akan membawa dirinya ke dalam jurang kekecewaan yang sama seperti dulu.
“Hei, Maira. Kamu di mana? Aku di kampus nih, baru selesai kelas. Mau ketemuan? Ada yang mau aku omongin.”
Maira membaca pesan itu dengan hati yang bimbang. Dika memang baik, selalu perhatian dan sopan, tetapi setiap kali ia berpikir untuk lebih dekat dengan pria itu, bayangan masa lalu kembali menghantui. Luka yang belum sembuh sepenuhnya terasa perih lagi, membuatnya ingin lari sejauh mungkin dari apa pun yang berhubungan dengan cinta.
“Aku lagi di taman dekat kampus. Tapi aku nggak yakin bisa lama-lama. Banyak tugas yang belum selesai,” balas Maira, mencoba mencari alasan untuk menghindar.
Tak lama kemudian, Dika muncul di kejauhan, berjalan menuju bangku tempat Maira duduk. Wajahnya ceria seperti biasa, seolah tak ada yang bisa merusak mood-nya. Maira tersenyum tipis, meski hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia tidak bisa menahan perasaan cemas yang melingkupi dirinya.
“Hey,” sapa Dika sambil duduk di samping Maira. “Kamu nggak apa-apa? Kelihatannya nggak seperti biasanya.”
Maira menggelengkan kepala. “Aku baik-baik aja. Cuma banyak yang dipikirin aja.”
Dika menatapnya dengan pandangan penuh perhatian, seolah mencoba membaca apa yang sebenarnya dirasakan Maira. “Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa cerita ke aku, Mai. Aku siap dengerin kapan saja.”
Maira tersentuh dengan perkataan Dika, tetapi perasaan takut yang sudah tertanam dalam hatinya membuatnya ragu untuk membuka diri. “Nggak ada yang serius, kok. Cuma soal kuliah, tugas-tugas, dan sebagainya.”
Dika tampak tidak puas dengan jawaban itu, tetapi ia tidak memaksa. “Oke, kalau kamu bilang begitu. Tapi ingat, aku selalu ada kalau kamu butuh.”
Maira hanya bisa mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ada pertempuran sengit antara keinginan untuk membuka diri dan ketakutan yang sudah menjadi bagian dari dirinya. Ia tahu bahwa jika ia tidak segera menghadapi rasa takutnya, ia akan terus terjebak dalam masa lalu dan kehilangan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang baru.
Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan yang canggung, Dika memecah suasana. “Aku punya sesuatu untukmu, tapi janji jangan ketawa ya.”
Maira mengangkat alis, merasa penasaran. “Apa itu?”
Dika mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya dan menyerahkannya kepada Maira. “Buka aja.”
Dengan rasa ingin tahu, Maira membuka kotak itu dan menemukan sebuah gelang yang terbuat dari benang warna-warni. Gelang itu sederhana, tetapi memiliki pesona tersendiri. Maira memandang Dika dengan tatapan bertanya.
“Aku tahu kamu suka hal-hal yang sederhana tapi bermakna. Jadi, aku buat ini sendiri. Mungkin ini nggak seberapa, tapi aku berharap kamu suka,” kata Dika dengan senyum canggung.
Maira merasakan hangatnya perhatian Dika melalui hadiah kecil itu. Ia terdiam, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. Dika adalah sosok yang berbeda dari orang-orang di masa lalunya, tetapi Maira masih terlalu takut untuk mempercayai bahwa segalanya akan baik-baik saja.
“Terima kasih, Dika. Aku suka banget. Kamu selalu perhatian, dan aku… aku hargai itu,” kata Maira dengan suara lirih.
Dika tersenyum lega. “Senang kamu suka. Aku cuma ingin kamu tahu, Mai. Bahwa nggak semua cinta itu menyakitkan. Mungkin kamu pernah terluka, tapi bukan berarti kamu harus menutup diri dari semua orang.”
Kata-kata Dika menusuk tepat di hati Maira. Ia tahu bahwa Dika benar, tetapi menerima kenyataan itu lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Maira terjebak dalam ketakutannya sendiri, takut untuk mencintai lagi karena trauma yang belum sepenuhnya sembuh.
“Aku… aku nggak tahu, Dika. Semua ini terlalu rumit,” ujar Maira, mencoba mengungkapkan kebingungan yang ia rasakan.
Dika mengangguk, mengerti. “Aku nggak akan memaksa kamu untuk berubah secepatnya. Tapi aku ingin kamu tahu, aku ada di sini, siap mendampingimu kapan saja kamu butuh. Dan kalaupun kamu nggak siap sekarang, aku akan tetap ada.”
Maira merasa lega mendengar itu, tetapi rasa takutnya masih ada. Bagaimana jika semuanya berakhir buruk lagi? Bagaimana jika ia kembali terluka dan tidak bisa bangkit?
Maira menatap gelang di tangannya, merasakan sentuhan benang yang lembut di kulitnya. “Aku butuh waktu, Dika. Aku nggak bisa langsung membuka diri. Tapi… terima kasih untuk segalanya.”
Dika mengangguk pelan. “Waktu adalah yang kamu butuhkan, Mai. Dan aku akan ada di sini, menunggu, sampai kamu siap.”
Maira tersenyum kecil, merasa ada sedikit beban yang terangkat dari hatinya. Meskipun ketakutan itu belum sepenuhnya hilang, ia tahu bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi semuanya. Mungkin, suatu hari nanti, ia akan bisa membuka hatinya lagi dan merasakan cinta tanpa rasa takut. Hingga saat itu tiba, Maira akan mencoba berdamai dengan masa lalunya, perlahan tapi pasti.
di bawah langit senja yang mulai berubah warna, Maira merasa ada secercah harapan di dalam hatinya—harapan bahwa cinta yang ia takutkan mungkin bisa menjadi obat bagi luka yang belum sembuh.