Langit mendung membawa udara dingin ke seluruh kota. Semilir angin menghanyutkan lamunan seorang anak lelaki berusia 15 tahun yang sedang duduk menonton teman seusianya bermain bola di lapangan sekolah. Andai saja dia punya keberanian untuk maju dan bermain bersama mereka, mungkin saat ini dia tidak akan dikucilkan.
Namanya Bagas. Dia seorang yatim piatu sejak usia sepuluh tahun. Bagas dibesarkan oleh pamannya yang kurang memperhatikannya karena sibuk bekerja. Bahkan sang paman menyalahkan dirinya, karena tak ada satu wanita pun yang mau diperunsting, sebab mengira sang paman adalah seorang duda yang mempunyai seorang anak lelaki remaja.
“Gas! Ayo main bola!” ajak Andi, satu-satunya orang yang mau berteman dengannya.
Bagas menggelengkan kepala. Dia ingin menjauhi Andi, sebab tak ingin temannya itu ikut dikucilkan anak lain seperti dirinya.
“Kamu harus lawan rasa takut kamu, Gas! Aku tahu , kamu berbakat!” ujar Andi memberi semangat.
Hanya Andi, sosok teman yang tak pernah bosan membujuknya untuk melawan rasa takutnya terhadap suara peluit. Semua orang menertawakan Bagas. Bagi mereka, sangat aneh seseorang takut dengan suara peluit.
Kala itu, sepulang sekolah, langit masih cerah. Senyum tawa Bagas dan teman-temannya mewarnai hari. Namun, saat tiba di rumah, ia melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat. Seisi rumah berantakan. Bagas berlari masuk ingin melindungi ibunya yang sering diperlakukan kasar oleh sang ayah.
“Jangan pukul Ibu !” teriak Bagas sambil berjongkok menutupi tubuh sang ibu dengan ransel lusuh miliknya.
Sang ayah semakin murka. Bagas ditarik keluar, sedang ayahnya mengunci pintu dari dalam. Bagas teriak dari luar dan hanya bisa mengintip dari jendela. Para tetangga pun tidak ada yang berani ikut campur.
Bagas menangis sesenggukan. Hingga terdengar suara jeritan sang ibu yang memohon untuk diampuni. Entah apa permasalahan mereka, Bagas tak mengerti. Dari arah dapur, terdengar siulan teko air panas yang berbunyi mirip peluit, menandakan air yang dimasak sudah mendidih. Bagas mengintip dari jendela. Dia melihat sang ibu membentur meja kompor akibat didorong oleh ayahnya, hingga teko itu jatuh. Tubuh sang ibu tersiram air mendidih. Namun, wanita yang telah melahirkan Bagas itu menarik tangan suaminya. Ayah Bagas mengelak, tangannya menyenggol kompor yang masih menyala dan jatuh di dekat gas berukuran tiga kilo.
“Bagas … lariiiii!!!!” teriak sang ibu, ketika menyadari anaknya mengintip dari jendela sambil menangis terisak.
Bagas menggelengkan kepala, menolak perintah ibunya.
“LARIIIIII!!!!! MENJAUH DARI RUMAH INI!!!” seru sang ibu dengan sisa tenaga yang ada.
Duaarrrrr!!!!
Ledakan itu meluluh lantakkan seluruh lingkungan. Bagas terpental. Namun, dia selamat tanpa ada cedera setitik pun. Hanya menyisakan luka di hatinya yang tak pernah kering.
Semenjak saat itu, sang paman menampungnya demi sebuah warisan. Kini warisan itu telah habis, hingga pamannya memutuskan untuk bekerja serabutan. Sementara Bagas masih diliputi rasa trauma atas kejadian tragis yang menimpa kedua orang tuanya. Suara peluit yang mirip dengan teko air panas menjadi sumber ketakutan terbesarnya.
“Aku ingin segera dewasa dan hidup mandiri. Supaya Paman bisa menikah,” ucapnya ketika melihat pamannya bersedih saat ditolak sang kekasih untuk menikah.
“Kau memang penghalang jodohku! Tapi, aku tak tega melepasmu. Karena aku tahu, kau cuma memiliki aku sebagai keluargamu,” sahut sang paman .
Suatu hari, pertandingan sepak bola antar sekolah diadakan. Andi menjadi salah satu pemain andal dalam tim. Bagas hanya bisa memberikan semangat dari kejauhan. Jika sang wasit meniupkan peluit, dia segera menutup telinga rapat-rapat dengan kedua tangannya atau dia akan mengenakan headset dan memutar lagu dengan volume tinggi.
“Sayang sekali kamu nggak ikut main, Gas. Padahal dulu kamu paling jago nge-goal-in bola ke gawang lawan.” Andi berujar lirih, menyayangkan kemampuan sahabatnya yang sia-sia hanya karena takut dengan suara peluit.
Bagas tersenyum. “Aku nggak sehebat itu, Ndi.”
Priiitttt!!!!!
Pelatih meniupkan peluit dengan keras, menyeru kepada para pemain untuk bersiap ke lapangan. Tubuh bagas gemetar, tangannya seketika menutup kedua telinga dengan rapat . Wajahnya sudah semerah tomat, keringat tiba-tiba mengucur deras dari keningnya.
“Bagas! Kamu nggak apa-apa?” tanya Andi, panik.
Bagas tetap menunduk sambil menutup telinga.
Priiitttt!!!!
“Andi, buruan!” teriak sang Pelatih.
Andi resah. Dia tidak tega melihat keadaan Bagas, sementara dirinya harus segera memasuki lapangan.
Priitttt!!!
“Andi!!!!” Lagi-lagi sang pelatih meniupkan peluit untuk memanggil Andi.
“Cepat pergi!!!!” bentak Bagas pada Andi.
Bagas yang kini duduk di paling atas tribun mini paling pinggir dekat tangga, refleks mendorong Andi hingga remaja itu tersungkur. Tubuhnya tergelinding menuruni tangga tribun. Bagas berteriak, mengejar sahabatnya dengan penuh rasa bersalah. Namun, saat berada di bawah, Andi tidak sadarkan diri. Tim kesehatan dikerahkan untuk segera membawa Andi ke ambulans.
Semua orang panik. Bagas ikut menyusul ke dalam ambulans untuk memastikan keadaan sahabatnya, bersama pelatih dan beberapa teman satu tim sepak bola.
“Kamu ‘kan yang menyebabkan Andi jatuh?” Salah satu pemain bernama Rio mendorong bahu Bagas dengan kasar.
Bagas mundur, peluh bercucuran membasahi wajahnya yang masih terlihat panik.
“Bagas …” Suara lirih Andi memanggilnya. Andi tersadar setelah ditangani oleh petugas kesehatan.
Bagas bergegas masuk ke dalam ambulans. Dia duduk di samping Andi yang tengah terbaring sambil memegang bahu sahabatnya itu.
“Ndi, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud membuatmu celaka,” ucap Bagas penuh penyelesalan.
“Aku nggak apa-apa, Gas. Cuma, kakiku sedikit terkilir” Andi meringis menggerakkan kaki sebelah kanannya dengan susah payah.
Seorang pria berusia tiga puluhan tahun, berdiri di depan pintu ambulans. “Andi, gimana keadaanmu? Kita nggak punya banyak waktu,” ujar pria yang merupakan pelatih mereka, sambil melirik pada arloji yang melingkar di tangannya.
“Sebaiknya cari pengganti Andi saja, Kak. Karena kaki Andi nggak bisa digerakin,” sahut Andi.
“Tapi siapa? Kita enggak punya cadangan pemain andal kayak kamu!”
Andi menunjuk Bagas. Seketika Bagas membuka matanya lebar, lalu menggelengkan kepalanya dengan keras.
“Nggak mungkin aku ….”
“Gas, kamu mau ‘kan tanggung jawab?” Andi berujar dengan tatapan serius.
Bagas dirundung kebingungan. Bagaimana bisa dia menggantikan Andi sebagai pemain andal, sementara dirinya sangat takut dengan suara peluit.
“Kamu pasti bisa, Gas! Ini kesempatanmu untuk melawan rasa takutmu pada suara peluit!” tegas Andi.
“Kak, kita harus segera ke lapangan! Pertandingan akan dimulai!” Rio menyeru pada sang pelatih.
“Ayo!” sang pelatih menarik tangan Bagas. Namun, Bagas menahan diri dan masih bergeming di sisi Andi.
Andi memohon pada Bagas dengan menangkupkan kedua tangannya. Mata Andi berbinar dengan ekspresi memelas.
“Tapi aku nggak bisa, Ndi!” Bagas tetap menolak.
“Kamu lihat kakiku! Kamu harus bertanggung jawab dengan cara menggantikanku!” Wajah Andi tegas dan penuh penekanan.
“Buruan!” teriak sang pelatih sambil berlari menuju lapangan. “Pertandingan akan dimulai!”
“Gas, lawan! Itu cuma suara peluit, bukan suara teko air panas!” Andi pantang menyerah untuk membujuk Bagas. “Kamu tega, sekolah kita didiskualifikasi dari pertandingan ini?”
Tanpa menolak lagi, Bagas langsung berlari menuju lapangan dan mengganti kaus bola yang diberikan kakak pelatih.
Suara peluit menggema menusuk ke telinga Bagas. Lelaki remaja itu sekuat tenaga melawan ketakutannya dengan mengingat perkataan Andi.
Pertandingan berlangsung. Bagas berlarian penuh semangat menendang bola hingga berhasil mencetak goal beberapa kali. Suara peluit yang berkali-kali berbunyi terabaikan oleh perasaan bahagianya karena akhirnya dia bisa menjalani hobinya lagi.
“Kita menang!”
Sorak sorai dan tepuk tangan memenuhi tribun mini itu. Andi berlari dengan wajah riang. Dia memeluk satu pe r satu teman-temannya.
“Kakimu?” tanya Bagas heran.
Andi tertawa. “Aku baik-baik saja.”
“Kamu menipuku?” Raut wajah Bagas tampak kesal.
“Akhirnya kamu bisa menghilangkan rasa takutmu pada suara peluit, ‘kan?” Andi menepuk bahu Bagas dengan senyun sumringah.
“Terima kasih, sahabatku .” Bagas memeluk Andi dengan perasaan haru.
Trauma masa lalu yang kelam sungguh tak mudah untuk dihilangkan. Namun, jika kita mempunyai tekad dan keyakinan yang kuat, rasa takut sebesar apa pun pasti bisa kita taklukkan.