KESETIAAN YANG DIUJI

Teman Facebook

Seperti biasanya, sebelum aku memulai rutinitasku sebagai ibu rumah tangga, aku selalu menatap layar hp. Tidak banyak hal yang aku lakukan dengan benda pipih itu. Aku hanya melihat pesan dari seseorang yang aku kenal lewat media sosial biru berlogo huruf f tersebut.

Senyumku mengembang saat membaca pesan dari seseorang yang aku panggil adik. Kami berkenalan sekitar satu tahun yang lalu. Akunnya bernama Putra Arimba, dia bilang lebih suka dipanggil Ari. Awalnya kami hanya saling berkomentar dalam postingan, tapi lama kelamaan kami saling chatting lewat aplikasi messenger.

Selama satu tahun ini, aku belum pernah melihat wajahnya. Ari bilang kalau wajahnya jelek. Dia takut setelah aku tahu, aku tidak mau berbalas pesan lagi dengannya. Selain berkirim pesan, kami juga sering bertelepon dan video call. Tapi saat video call, Ari selalu mematikan kameranya.

Kami semakin akrab ya bisa dibilang seperti saudara. Aku pun tidak sungkan bercerita masalah pribadi pada Ari. Aku mulai mempercayainya melebihi orang yang kutemui di dunia nyata ini. Kisah hidupku bisa dibilang menyedihkan. Makanya aku sering lari ke dunia maya untuk menjadi gila agar beban hidupku sedikit berkurang.

Aku seorang istri dan ibu dari dua orang anak. Namaku Alita Kusuma, biasa dipanggil Lita. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, makanya namaku Alita yang asal katanya alit yang berarti kecil. Suamiku bernama Hermanto, biasanya aku memanggilnya Mas Her. Usianya satu tahun lebih tua dariku. Kami dulu memang teman sekolah satu angkatan.

Anak pertamaku seorang jagoan yang bernama Satria Gilang yang biasa dipanggil Satria. Usianya sembilan tahun dan sekarang kelas 3 Sekolah Dasar. Adiknya seorang putri, anak keduaku seorang gadis kecil yang kami beri nama Melody Prameswari dengan nama panggilan Riri. Usianya baru dua tahun dan sekarang sedang aktif-aktifnya belajar berjalan.

Usia kedua anakku terpaut jauh. Sebenarnya aku sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Bukannya aku tidak suka anak kecil, tapi jalan hidupku yang membuatku berpikiran seperti ini.

Tuhan berkata lain, Dia menitipkan seorang putri untukku. Walau awalnya aku sempat ragu dengan kehadiran Riri, tapi sekarang aku sangat bersyukur atas hadirnya. Rencana Tuhan semesta alam memang yang terbaik.

Setiap kehidupan berumah tangga memang mempunyai jalan tersendiri. Begitu juga dengan kehidupan keluarga kecilku. Aku menikah dengan Mas Hermanto atas kemauanku sendiri. Tidak ada paksaan yang mengharuskan aku menerima lamarannya. Meski kedua orang tuaku tidak menyetujuinya, aku tetap menikah dengan Mas Hermanto.

Yang namanya orang tua pasti memiliki firasat yang kuat untuk anak-anaknya. Aku bahagia menjalani pernikahan ini walau banyak sekali perubahan sikap suami yang baru aku ketahui setelah menikah. Dia malas bekerja, bukannya tidak mau bekerja, tapi malas.

Berkali-kali dia keluar masuk dalam sebuah lingkup pekerjaan. Mulai dari penjaga toko, pekerja pabrik, kurir ekspedisi bahkan pernah menjadi pegawai kantoran. Karena sifatnya yang malas, Mas Hermanto sering dipecat dari pekerjaannya.

Hingga pada akhirnya dia memilih jalan yang salah. Dia sering keluar masuk penjara karena kasus pencurian atau pencopetan. Entah mengapa aku masih tetap bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Apa ini tandanya aku telah menjadi seorang budak cinta. Saat Mas Hermanto di dalam penjara, aku bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. Ya saat itu aku hanya memiliki satu anak yaitu Satria.

Kedua keluarga besar kami sudah tidak mau tahu tentang bagaimana hidup kami. Mereka malu dengan perbuatan yang dilakukan Mas Hermanto. Aku pun membanting tulang demi putraku. Aku yang minim pengalaman kerja menerima pekerjaan apapun. Karena setelah lulus SMA, aku langsung menikah dengan Mas Hermanto.

Karena alasan itu juga yang membuatku tidak ingin memiliki anak lagi. Satu tahun lebih Mas Hermanto bebas dari penjara, dia bekerja serabutan untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Aku pun juga bekerja sebagai buruh cuci untuk membantu memenuhi kebutuhan kami bertiga.

Dan saat aku hamil anak kedua, Mas Hermanto kembali masuk hotel prodeo karena kasus penjambretan. Usia kandunganku saat itu hampir sembilan bulan. Mas Hermanto beralasan melakukan hal itu lagi untuk biaya aku melahirkan nanti. Aku mencoba sabar karena takut terjadi sesuatu pada calon bayiku.

Tidak hanya itu cobaan yang aku rasakan. Karena tidak bisa membayar uang kontrak, terpaksa pemilik rumah mengusirku dan Satria. Aku juga tidak menyalahkan pemilik rumah, tapi aku bingung akan tinggal di mana.

Pemilik rumah kontrakan mungkin merasa kasihan melihatku. Dia mengantarku ke sebuah panti asuhan milik kenalannya. Karena bantuan pemilik rumah kontrakan itu, aku diizinkan tinggal di sana dengan syarat ikut membantu membersihkan panti asuhan. Aku pun langsung menyetujui permintaan tersebut. Yang penting ada tempat berteduh untuk Satria dan calon bayiku yang akan lahir.

Satu tahun lebih aku tinggal di sini sambil menunggu Mas Hermanto bebas dari penjara. Aku pun berharap suamiku tidak mengulangi perbuatannya lagi. Aku berdoa agar suamiku bisa istiqomah mencari pekerjaan yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.

Aku terkejut merasakan getaran pada ponselku. Aku kembali tersenyum melihat nama orang yang meneleponku.

“Iya, Dek?” sapaku.

“Kok tumben gak bales chat ku? Kakak baik-baik saja?” tanya Ari.

“Iya, aku baik-baik saja. Ini Riri ikut bangun jadi belum sempat balas chat darimu,” ucapku beralasan.

“Syukurlah. Kalau begitu kakak lanjutkan saja pekerjaannya!”

Setelah itu sambungan telepon terputus. Aku masih tersenyum senang mengingat sosok Ari. Seseorang yang belum pernah aku temui. Entah dia itu nyata atau tidak. Saat aku lelah dengan semua aku selalu berbagi kisah dengannya. Dia memang tidak bisa on selama 24 jam, tapi dia selalu berhasil memberiku semangat.

Tidak hanya aku yang selalu berkeluh kesah, Ari pun akan bercerita padaku jika dia sedang badmood. Hingga aku pun mengetahui satu rahasia besar seorang Putra Arimba. Dia seorang gi**lo dengan nama Rimba Perkasa. Seperti halnya aku, Ari pun tidak sungkan bercerita tentang masalah pribadinya.

Tidak hanya kisah hidupku yang susah. Kehidupan Ari pun tak kalah menyedihkan. Aku tidak tahu bagaimana detailnya kisah hidup Ari. Tapi dia menceritakan secara garis besarnya. Mungkin kami sama-sama merasakan hidup yang kurang beruntung hingga kami merasa adanya kecocokan.

Sebenarnya aku ingin bertemu secara langsung dengan Ari, tapi itu sangat tidak mungkin. Dia bilang dia tinggal diluar pulau Jawa. Meskipun dia tinggal di pulau Jawa belum tentu juga aku bisa menemuinya.

Aku segera bergegas ke dapur panti untuk membantu pengurus yang lain memasak untuk sarapan. Aku menitipkan Riri yang masih tertidur pada Satria. Itu sudah biasa aku lakukan. Untung anak-anakku pengertian. Walau masih kecil, Riri sangat mengerti dengan kondisiku. Saat aku bersih-bersih, Riri akan diam bermain sendiri. Hanya saat tidak enak badan saja Riri akan rewel. Begitu juga dengan Satria, saat dia ada di rumah, dia akan menjaga adiknya saat aku melakukan pekerjaan membantu bersih-bersih panti.

Aku sangat bersyukur memiliki kedua bocah itu.

Lates Chapters

Istri Orang

"Kakak apa kabar?" Aku tersenyum membaca pesan dari adik dunia mayaku. Enam hari nomornya tidak aktif. Ada perasaan senang dan lega melihat pesan itu. Kehadirannya…

Penolakan

Sekitar satu jam, aku selesaikan tugasku. Bergegas kulangkahkan kaki menuju ruang tempat Riri tidur. Tidak ada pengurus panti di sana. Aku langsung masuk untuk menggendong…

Gara-gara Paksu

Pagi ini aku memulai rutinitasku seperti biasa. Setelah Satria berangkat sekolah, aku pergi ke panti untuk melaksanakan tugasku. Riri ikut pergi dengan salah satu pengurus…

Penantian

Hari yang aku nantikan pun tiba. Hari di mana suamiku bebas dari penjara. Sejak pagi aku sudah bersiap-siap dengan memasak sedikit mewah untuk menyambut kedatangan…

Tentang Arimba

"Kak, ibu mau minta maaf soal tadi!" ucapku pada Satria. Dia sedang fokus dengan buku sekolahnya. Tadi sepulang sekolah dia langsung pergi setelah membahas tentang…

Kemana Satria?

Malam telah menjelang. Langit yang berwarna biru kini telah berubah menjadi kelabu. Aku cemas menunggu Satria yang sedari tadi belum pulang. Entah kemana putraku itu…

Kabar Gembira

Hari ini aku sangat senang karena mendapat berita jika satu bulan lagi Mas Hermanto akan bebas. Rasanya aku sudah tak sanggup menunggu untuk hari itu.…
error: Content is protected !!