Windy Stefiolla, atau kerap dipanggil Windy, hanyalah seorang gadis cantik yang berusia 20 tahun. Di sekolahnya dulu, Windy selalu menjadi incaran para lelaki karena parasnya yang mempesona itu.
Saat Windy masih sekolah, tepatnya saat dia berusia 12 tahun, Windy sangat suka dengan hal yang berbau gunung. Saking sukanya, Windy sangat berharap suatu saat nanti akan ada seseorang yang ingin mengajaknya pergi ke atas gunung.
Keinginan Windy akhirnya terwujud ketika Windy berusia 15 tahun. Saudara Windy mengajak Windy untuk hiking ke Gunung Lawu saat Windy sedang liburan kenaikan kelas. Wajah Windy langsung berbinar ketika mendengar ajakan dari saudaranya itu, ia tak pernah menyangka kalau dirinya bisa memenuhi salah satu wish list dari banyaknya wish list yang ingin ia penuhi.
Sebelum berangkat, Windy tak lupa meminta izin kepada orang tuanya untuk pergi hiking bersama saudaranya. Beruntungnya orang tua Windy langsung mengizinkan Windy untuk pergi hiking tanpa adanya drama, namun dengan satu syarat, yaitu Windy harus selalu mematuhi perintah saudaranya dan juga mematuhi aturan yang ada di sana.
Windy dan juga saudaranya sepakat untuk pergi ke Gunung Lawu selama 3 hari 2 malam. Di dalam pikiran Windy, Windy akan bersenang-senang selama 3 hari 2 malam itu bersama saudara-saudaranya. Namun, kenyataan berkata lain. Di malam pertama Windy membangun tenda di area Camp Gunung Lawu, Malam yang seharusnya menjadi malam yang menyenangkan bagi Windy, malah menjadi malam terburuk yang pernah ada bagi Windy.
Semua saudara Windy sudah tertidur pulas malam itu, hanya tersisa Windy saja yang belum tidur. Windy tidak bisa tidur karena perasaan dia tidak enak, tapi Windy tetap mencoba untuk bisa tidur seperti saudaranya yang lain. Namun, tetap saja, Windy masih belum bisa tidur.
Tepat pada pukul 00:00. Suasana di tenda Windy semakin dingin, Windy semakin dibuat tidak bisa tidur. Malam itu, malam yang terasa begitu panjang bagi Windy, saking panjangnya, Windy sampai diganggu oleh makhluk-makhluk halus yang ada di situ berkali-kali.
Windy mencoba untuk tetap tenang, supaya tidak mengganggu saudaranya yang sedang beristirahat, tapi bagaimana bisa Windy tetap tenang kalau dirinya terus-menerus diganggu seperti itu? Alhasil, di malam itu, Windy tidak tidur, dia menangis dalam diam di dalam sleeping bag-nya itu. Sejak kejadian itu, Windy jadi ragu untuk pergi hiking yang kedua kalinya.
***
Hari ini, Windy dan juga tiga teman SMK-nya sedang berkumpul bersama di rumah Windy.
“Kangen banget kita ngumpul kaya gini,” ucap salah satu teman Windy, Alya.
“Iya ih, kangen banget, kalian sih diajak kumpul susah banget,” ucap Windy
“Bukan susah, Win, emang lagi sibuk aja.”
“Sesibuk itukah sampai-sampai kamu melupakan temanmu yang imut ini?” Windy memasang muka imutnya.
“Najis, Win ….”
“Hiking, yuk!” celetuk Yoga, teman Windy.
“Huh? Hiking?”
“Iya hiking, kenapa emangnya? Lagian kita juga udah lama nggak quality time.”
“Aduh, jangan hiking dong, aktivitas yang lain aja kan bisa.” Windy berusaha mencari alasan agar rencana temannya untuk pergi hiking dibatalkan.
“Kenapa, Win? Bukannya dulu kamu suka banget ya sama Gunung? Bahkan dulu katanya kamu punya whis list mau muncak bareng temen-temen kamu?” ucap Alya bingung dengan sikap Windy.
“Ya-ya iya sih.”
“Ayolah, Win, sekali-kali kita Hiking bareng berempat,” ucap Alya dengan nada manja.
“Ta-tapi, Al.” Sejujurnya, Windy masih belum bisa lepas dari traumanya saat dia berusia 15 tahun itu. Windy masih belum berani cerita tentang masalah ini ke siapa pun, bahkan saudara dan juga orang tuanya tidak tahu kalau Windy saat itu diganggu oleh makhluk halus.
“Lo kenapa sih, Windy? Ada masalah? Cerita aja sama kita, kita kan udah deket dari masa masa kita kelas 7, masa masalah kaya gitu aja lo nggak mau cerita, sih?” ucap Putra kesal.
“Iya, Win, kalau ada masalah cerita aja sama kita berempat. Kita udah lima tahun lebih temenan, Win, jadi lo nggak usah sungkan-sungkan lagi buat cerita tentang masalah hidup lo sama kita,” lanjut Yoga.
“Bener tuh kata si Putra sama si Yoga. Jadi sekarang ayo cerita, kenapa ekspresi lo kaya ketakutan gitu pas si Yoga ngajak buat hiking?” tanya Alya.
Posisi Windy saat ini sudah terpojokkan oleh teman-temannya. Mau tidak mau, Windy harus menceritakan pengalaman mengerikan yang dia alami saat mendaki Gunung Lawu.
“Merinding sih Win sumpah,” ucap Putra.
“Sama woy, kita yang dengernya aja udah merinding, apalagi Windy yang ngalamin ya,” ucap Yoga.
“Kalo gua sih udah nangis nangis minta pulang,” ucap Alya.
“Cengeng lu,” ejek Putra kepada Alya.
“Monyet.” Alya ancang-ancang ingin memukul Putra.
“Eh iya Maas Maf.”
“Maas Maf?” Yoga kesulitan dengan kalimat yang diucapkannya.
“Huh? Maas Maf?”
“Lu tadi bilang Maas Maf anjir, Maas Maf apaan?”
“Maas Maf? Oh itu mah Maaf Maf anjir.”
“Maaf Maf apalagi, Putra?” Kali ini Windy yang ikut kebingungan dengan kalimat yang keluar dari mulut temannya.
“Maaf Maf anjir, eh? Maas Maf? Maas Mas? Ma—”
“Maaf Mas, tolol, keliatan banget begonya anjir,” ucap Alya yang kesal dengan mulut temannya yang suka typo itu.
“Nah iya itu, Maas Maf.”
“Terserah lo, Put, capek gue.”
“Lu kalau kesel sama Putra tonjok aja, Al. Nggak usah sungkan-sungkan,” celetuk Yoga.
“Wey, pala lu duluan sini yang gua tonjok, monyet.”
“Aduh takut, si Maas Maf marah.”
“Apasih, Yoga, sengaja banget ya lu bikin gue marah besar?”
“Ih, takutnya.”
“Apasih, Put, Yog, dari dulu random banget sifatnya,” ucap Windy sambil ketawa melihat tingkah laku temannya yang tidak berubah meski sudah 2 tahun berpisah.
“Dia duluan, Win, tonjok aja,” ucap Putra.
“Yeu cemen lu main ngadu.”
“Udah udah ah, berisik banget si lu berdua, jangan sampai gua kawinin ya?” ucap Alya.
“Najis, Al, gua masih suka cewek,” ucap Yoga.
“Yaudah makanya diem monyet, jadi ini gimana? Windy mau nggak hiking-nya? Cuma ke Gunung Sindoro kok.”
“Tapi, aku masih takut, Al.”
“Nggak usah takut, Win. Ada kita di sini, kita bakal terus ngelindungin lu kok selama perjalanan,” ucap Yoga meyakinkan Windy.
“Ayolah, Win, kapan lagi loh kita ada kesempatan emas kaya gini?” ucap Putra.
Windy menghela napasnya sejenak, “Oke, aku ikut kalian hiking.”
“Wanjay, serius, Win?” ucap Alya.
“Iya, kapan berangkatnya? Lebih cepat lebih baik.”
“Nah, ini temen baru gue, kita berangkat besok lusa aja gimana?”
Mereka berempat akhirnya merencanakan kapan mereka akan pergi ke Gunung Sindoro dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan saat mereka berada di sana.
Walaupun Windy masih ada rasa takut, ia percaya kepada teman-temannya, ia percaya bahwa teman-temannya akan melindunginya.
***
Hari ini, tepat hari di mana Windy dan teman-temannya pergi memuncak ke Gunung Sindoro. Sebelum berangkat menuju basecamp, mereka semua berkumpul terlebih dahulu di rumah Windy, mereka berempat mempersiapkan mental mereka terlebih dahulu sebelum nanti akan dibuat lelah oleh perjalanan mereka yang cukup panjang itu.
“Siap, Guys?” tanya Alya.
“Siap dong,” jawab Yoga dan Putra serentak.
“Windy siap, Win?”
“Insya Allah, Al.”
“Yaudah, ayo berangkat ke basecamp guys.”
“Gas,” ucap Putra, Yoga, dan Windy serentak.
Mereka berempat berangkat diantar oleh Ayah Windy menggunakan mobilnya. Sesampainya di tempat basecamp, Windy dan teman-temannya pergi berpamitan kepada ayah Windy sebelum mereka diberi instruksi oleh penjaga yang bertugas di gunung itu.
“Windy pamit ya, Yah, Assalamualaikum,” pamit Windy.
“Kami juga pamit ya, Om, makasih udah mau nganterin kami sampai basecamp, maaf banget Om kalau kesannya ngerepotin Om,” ucap Alya mewakilkan teman-temannya.
“Waalaikumsalam, iya sama sama, Nok, udah sana berangkat, baik baik ya di sana, jangan nakal nakal, Om titip Windy sama kalian ya.”
“Baik Om, kalau begitu, kami pergi dulu ya Om,” ucap Alya.
Setelah selesai sesi berpamitan, Windy dan yang lainnya langsung menuju ke penjaga yang ada di sana. Mereka berempat diberi arahan untuk naik menuju puncak Sindoro. Mulai dari aturannya, sampai ke etika pendaki selama melakukan pendakian di Gunung Sindoro.
Setelah semua Arahan yang diberikan oleh penjaga yang ada di sana sudah disampaikan, mereka berempat berdoa terlebih dahulu sebelum mereka benar-benar melakukan pendakian. Sesi berdoa sudah selesai, kini mereka melanjutkan perjalanan mendaki menuju puncak Sindoro.
—
Malam sudah tiba, Windy dan yang lain juga sudah membangun tenda sejak sore tadi. Kini mereka sedang berbincang-bincang hal random mengenai masa lalu mereka. Dirasa hari sudah semakin larut, dan besok pagi pagi sekali juga mereka harus melanjutkan perjalanannya menuju ke puncak Sindoro, akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi sesi berbincang-bincang ini dan pergi beristirahat.
Windy satu tenda dengan Alya, Alya tahu, Windy pasti susah tidur karena takut kejadian di masa lalunya terulang kembali.
“Windy? Belum tidur?” tanya Alya.
“Eh? Belum, Al, takut.”
“Nggak usah takut, Win, ada aku di sini. Ayo tidur, aku temenin kamu sampai kamu benar-benar tidur.”
“Serius kamu, Al?”
“Iya, udah cepetan tidur, besok harus bangun pagi-pagi buta.”
Tak lama dari itu, Windy langsung tertidur pulas. Begitu juga dengan Alya, dia langsung tertidur saat memastikan Windy sudah benar-benar terlelap di dalam mimpinya.
***
Keesokan harinya, Windy terbangun karena alarm handphone-nya yang terus berbunyi itu. Windy bersyukur karena malam ini ia tidak diganggu oleh siapa pun. Tak lama setelah Windy bangun, Alya juga langsung terbangun. Mereka berdua langsung mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanannya yang masih panjang itu.
Windy dan yang lain sudah berkumpul, seperti biasa, sebelum melanjutkan perjalanan, mereka berempat selalu berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan. Setelah selesai berdoa, barulah mereka melanjutkan perjalanannya. Selama perjalanan, Windy merasa aman karena ada teman-temannya yang selalu sedia di saat dia membutuhkan bantuan.
—
Tak terasa, kini mereka sudah sampai di puncak Sindoro. Mereka sampai di saat yang tepat, mereka mendapati sunrise yang sangat indah.
“Thanks ya, Guys. Udah mau ngejagain gue,” ucap Windy.
“Santai, Win, kaya sama siapa aja sih lo,” jawab Alya
“Ayo foto, buat kenang-kenangan,” ajak Putra.
“Hayuk gas,” jawab mereka bertiga serentak.
Windy sangat bersyukur bisa bertemu dengan teman seperti mereka, teman yang benar-benar teman, bahkan Windy sudah menganggap mereka sebagai saudaranya sendiri.
“Ya Allah, teman yang lain boleh asing, asal jangan mereka bertiga, ya Allah, mereka rumah kedua hamba,” ucap Windy dalam hati.
End.