Mia, Pulanglah Nak

Mia, Pulanglah Nak

Judul: Mia, Pulanglah Nak!

Penulis: Ayaa

“Pokoknya Mama mau tahu, kalau hari ini kamu dapat nilai di bawa delapan puluh. Kamu ngak usah pulang ke rumah!”

Aku memberi ultimatum kepada Mia, anakku satu-satunya yang baru duduk di kelas dua SD. Lelah rasanya setiap hari menegur dan mengajarinya supaya nilai sekolahnya membaik.

Mia tidak bodoh, di kelasnya ia masuk sepuluh besar. Tapi aku yakin ia bisa lebih dari itu jika dia mau berusaha lebih keras.

Kalau Mia masuk tiga besar, aku bisa membungkam mulut Bu Lisa. Dia temanku sama-sama ikut arisan. Dia selalu membanggakan anaknya yang selalu peringkat satu di kelasnya.

“Macam anaknya saja yang pintar,” sungutku.

Kulihat Mia berjalan gontai meninggalkan rumah. Mia pulang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Toh sekolahnya tak jauh dari rumah. Sekalian aku mengajarkan dia mandiri.

Seperginya putriku, aku pun segera larut dalam pekerjaanku sehari-hari. Membersihkan rumah, memasak, mencuci seakan tidak ada habisnya pekerjaan seorang ibu rumah tangga sepertiku.

Aku melirik jam dinding. Sudah pukul setengah dua belas. Seharusnya Mia sudah pulang ke rumah.

Hmm, pasti keasyikan main anak ini. Biarlah sepuluh menit lagi kalau ia tidak pulang juga, biar kujemput pakai motor, pikirku.

Sepuluh menit berlalu, Mia belum pulang juga, aku mulai was-was. Kupacu motorku menuju sekolah. Di jalan aku berpapasan dengan Bu Rere, anaknya satu kelas dengan Mia.

“Bu Rere … Tadi lihat Mia nggak di Sekolah?” tanyaku.

“Loh, bukannya Mia sudah pulang dari tadi Bu Isti, tadi saya lihat Mia jalan pulang ke rumah sambil menangis Bu. Saya tanya kenapa, dia cuma menggeleng. Saya tawarin buat antar dia pulang, Mianya nggak mau Bu.” Bu Rere menjelaskan panjang lebar.

Degg…

perasaan tidak enak langsung menjalar. Setelah mengucapkan terima kasih aku memacu motorku kembali ke rumah mana tau Mia berselisih jalan denganku. Kuperiksa teras depan kosong, tidak ada Mia.

Aku pun kembali memacu motorku mencari Mia. Kudatangi sudut-sudut sekolah tempat dia biasa bermain. Kutanya guru kelasnya, jawabannya sama seperti Bu Rere tadi. Mia pulang sambil menangis.

Mia… Di mana Kamu Nak!

Aku mulai panik, terpikir untuk menelpon suamiku. Ah nanti dulu biar kususuri dulu kompleks perumahan ini. Bisa jadi Mia masih ada di sekitar kompleks.

Aku sampai di jalan besar, mustahil rasanya Mia berani sampai kesini. Untuk menyeberang jalan sendiri saja dia belum berani. Aku pun menyusuri jalan besar sambil mataku awas melihat ke kiri dan ke kanan.

Sesudah belokan, mataku tertuju pada kerumunan orang. Aku penasaran dan sekelumit perasaan tidak enak datang menghampiri.

Aku parkirkan motorku di pinggir trotoar dan berusaha menyibak kerumunan orang.

“Tabrak lari,” kata itu yang sekilas terdengar dari orang-orang yang berkerumun.

“Mia!” aku berteriak histeris.

Seorang anak masih mengenakan seragam sekolahnya tergeletak bersimbah darah. Dia anakku! Dia Miaku!

“Tolong… Ini anak saya. Tolong antarkan saya ke rumah sakit!”

Aku menjerit sambil memangku tubuh Mia. Darah mengucur dari kepalanya. Ya Allah apa yang terjadi padamu, anakku.

“Tadi saya lihat anak Ibu ini mau menyeberang jalan Bu, tapi ia ragu-ragu. Mau saya bantu tapi ia sudah terlanjur melangkah ke tengah jalan. Lalu ada motor ngebut langsung menghantam anak Ibu,” seorang bapak memberi penjelasan kepadaku.

“Tolong anak saya, Pak! Tolong saya membawanya ke rumah sakit!” aku menangis menjerit-jerit.

Tubuh Mia terasa dingin di pelukanku, Mia, bertahanlah Sayang. Maafkan mama Nak.

“Ayo, Bu, ikut mobil saya,” seorang bapak-bapak meraih tanganku sambil berusaha mengurai kerumunan orang yang sibuk mengabdikan peristiwa ini melalui telpon genggam mereka.

“Kenapa mereka tidak membantuku, apa yang mereka lakukan,” aku menjerit dalam hati.

Mobil melaju dengan kencang menuju rumah sakit. Aku merasakan Mia bergerak dalam pangkuanku.

“Mia, sabar ya Sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Nanti Mia diobati oleh Dokter ya!” aku mengajak Mia bicara berusaha untuk mengembalikan kesadarannya.

“Ma …” Mia mengerang.

“Iya, Sayang, mama di sini. Mia nggak usah khawatir,” ucapku sambil memeluknya erat.

“Ma, maaf. Mia tadi dapat nilai tujuh puluh. Mia takut pulang, takut Mama marah,” hatiku hancur mendengar perkataannya.

“Ibu macam apa kamu, Isti,” makiku pada diriku sendiri.

Inilah akibatnya keegoisanku. Kau jadikan anakmu korban ambisi hanya supaya kau bisa terlihat lebih baik di mata orang-orang.

“Mama nggak marah, Nak. Mama nggak akan marah lagi sama Mia, Maafin mama ya Nak. Maafin mama, habis dari rumah sakit nanti kita pulang sama-sama ya Sayang,” ucapku agar gadis kecilku tenang.

Uhhuuk!

Mia terbatuk dari mulutnya keluar darah segar.

“Ya Tuhan, tolong anakku!” jerit batinku.

“Pak, cepat Pak! Anak saya batuk keluar darah. Cepat sedikit Pak! Aku mohon!” aku menangis histeris.

“Iya Bu. Kita hampir sampai,” ucap supir tersebut. Dari kejauhan bangunan rumah sakit sudah terlihat.

Mia segera dilarikan ke IGD. Tiga orang perawat segera tergopoh-gopoh melakukan pemeriksaan awal. Aku tidak boleh mendampingi bidadari kecilku. Mereka menyuruhku menunggu di di luar.

Aku segera menelepon suamiku memberi keterangan sekilas dan memintanya segera datang ke rumah sakit. Perawat mendatangiku membawa sebuah berkas.

“Bu, anak ibu harus segera dioperasi, keadaannya kritis. Anak Ibu mengalami pendarahan di kepala akibat benturan keras. Ini berkas persetujuan operasi yang harus Ibu tanda tangani,” secepat kiat aku tanda tangani berkas itu tanpa membaca dengan detail.

“Tolong anak saya Suster. Tolong anak saya!” aku mengguncang bahu suster tersebut. Aku kalut luar biasa.

“Ibu sabar ya. Ibu duduk saja di sini dulu menunggu sampai operasi selesai” Suster itu membimbingku kembali duduk di kursi yang tadi aku tempati.

Tak berapa lama suamiku datang. Aku pun menceritakan kronologis kejadian dari awal aku memarahi Mia sebelum dia berangkat sekolah. Sampai akhirnya menemukan Mia tergeletak di pinggir jalan.

Wajah suamiku merah padam. Aku tahu ia marah besar, ia tak pernah setuju dengan caraku yang menurutnya terlalu keras kepada Mia dalam hal nilai akademik sekolah.

“Tiap anak punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Fokus pada kelebihannya jangan hanya pada kekurangannya,” begitu suamiku selalu menasehati kalau aku tidak puas akan nilai putri kami di sekolah.

Aku menangis meminta ampun pada suamiku. Dia merengkuh tubuhku. Kulihat matanya juga basah. Hatiku makin hancur melihat itu. Aku telah menyakiti orang-orang yang paling berharga dalam hidupku dengan keegoisanku.

Menit demi menit bagaikan siksaan menunggu anakku selesai di operasi. Setelah tiga jam berlalu seorang dokter menghampiri kami karena operasi sudah selesai.

“Dokter, bagaimana Mia anak saya. Baik-baik saja kan dok?” aku bertanya dengan suara gemetar.

Raut wajah dokter ini seperti menyiratkan sesuatu, tapi tidak, itu tidak mungkin. Aku menepis semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

“Maaf Bapak dan Ibu, kami sudah berusaha semampu kami, tapi Putri Bapak dan Ibu tidak tertolong. Cedera kepalanya begitu parah dan organ dalamnya pun kerusakannya cukup fatal, kami tidak bisa menyelamatkannya, Saya harap Bapak dan Ibu tabah menerimanya,” dokter itu menyentuh bahuku sekilas mencoba menguatkan kemudian berlalu.

Tidak… Ini tidak mungkin. Mia tidak mungkin pergi. Tadi ia masih kugendong dengan tanganku. Kami akan pulang ke rumah bersama-sama.

“Tidak! Mia! Jangan tinggalin mama, Nak! Maafin mama, Nak. Mama janji nggak akan marah-marah lagi sama Mia. Mia boleh pulang!” aku menjerit histeris menangis sejadi-jadinya.

Benakku seolah otomatis memutar kejadian tadi pagi. Aku yang memarahi anakku disertai ekspresi anakku yang tertunduk lesu. Lalu dengan langkah kuyu meninggalkan rumah. Ternyata itu adalah langkah terakhirnya yang bisa aku lihat. Aku bahkan tidak sempat memeluknya seperti biasa.

Sekejap aku tidak ingat apa-apa lagi. Dunia terasa jungkir balik. Hanya hitam pekat yang rasa. Aku terjatuh tidak sadarkan diri.

Aku berlahan terbangun, Di depanku Mia berbaring seperti tidur pulas. Kutatap wajahnya tenang dan bersih. Aku tak lagi menangis. Aku tak bisa lagi menangis.

“Mia, ayo kita pulang, Nak! Ayo kita pulang, Sayang.” Hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku

TAMAT

error: Content is protected !!