Pagi ini matahari bersinar dengan cerah. Di ufuk timur tampak cahaya keemasan sang mentari menyinari seluruh alam. deretan rumah kardus di pinggiran kota Makassar. Tepatnya di Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ). Seorang anak berusia 8 tahun tengah sibuk mempersiapkan seluruh peralatannya untuk beraktifitas seperti biasanya.
Diraihnya keranjang bambu dan ditaruhnya di punggungnya. Di tangan kirinya dia memegang gancu yang dipakainya untuk mengais sampah yang membukit yang hanya beberapa meter dari rumah kardusnya.
Nampak berseri di raut wajahnya, tanpa ada sedikitpun rasa iri pada anak – anak sebayanya yang berjalan menuju ke sekolahan.
Baginya anak – anak itu sangat beruntung, tak seberuntung dirinya yang hidup sebatang kara. Yang dia tahu bagaimana mendapatkan rezeki untuk membeli nasi di hari ini.
“ Selamat pagi Bayu !” sapa seorang gadis kecil sebayanya yang berseragam sekolah .
“ Pagi juga Mira!” salam balik Bayu pada gadis kecil yang memiliki rambut keriting dengan postur tubuh yang agak gemuk. Walaupun gemuk tetapi Mira memiliki wajah cantik.
“ Tetap semangat ya, Yu “ Mira menyemangati sahabatnya itu.
“ Makasih, Mir “ balas Bayu yang berjalan di sisi kanan gadis itu.
Di persimpangan jalan mereka berpisah. Bayu menuju ke bukit sampah. Tujuannya bukit sampah yang berada di sebelah timur, tepatnya dimana mobil – mobil truk sampah yang baru tiba dan tengah menumpahkan seluruh muatannya.
Dari kejauhan Bayu melihat beberapa anak seumurannya telah sibuk mengais sampah – sampah untuk mendapatkan barang bekas yang dapat dijual.
Dengan berlari kecil Bayu mendekat. Jalan menuju bukit sampah dia melirik – kiri – kanan mengamati sampah – sampah siapa tahu ada barang bekas yang bisa diambil dan dimasukkan ke dalam keranjang yang berada dipunggung.
“ Pagi teman – teman !” Bayu menyapa teman – temannya yang sibuk mengais sampah.
“ Telat banget kamu, Yu “ kata Hari yang terus mencari barang – barang bekas.
“ Semalam aku begadang, aku menemukan buku cerita yang bagus “ jawab Bayu.
“ Boleh dong aku lihat buku kamu ?’ tanya Hari pada Bayu yang mulai menelusuri bukit sampah dan mengais sampah – sampah yang menimbulkan bau menyengat.
Bagi anak – anak pemulung dan pemulung dewasa,aroma itu telah menjadi bagian dari hidup mereka.
Yang mereka tahu, hari itu mendapatkan barang bekas yang berharga untuk dijual di tempat penimbangan dan mendapatkan uang.
“ Bayu kamu sudah sarapan kan ?” tanya Bagas pada Bayu yang hanya mengangguk.
“ Memangnya kenapa kalau belum, kamu mau traktir aku ya “ balas Bayu dengan tersenyum.
“ Setelah kita memulung, ke rumahku yuk “ ajak Bagas.
“ Mang dirumahmu ada apa, Gas “ tanya Bayu pada sahabatnya itu.
“ Nanti aja kamu tahu !” Bagas membuat hati Bayu penasaran dengan jawaban tu.
Bagas dan Hari bernasib sama dengan Bayu. Mereka sama – sama anak yatim piatu. namun semangat mereka tetap membara untuk bertahan hidup di tempat pembuangan akhir tersebut.
Ketiganya harus putus sekolah. Bayu berhenti sekolah di kelas 4 SD, sementara kedua temannya itu di kelas 3 SD. Selisih setahun saja. Mereka harus berhenti bersekolah karena keterbatasan biaya, apalagi mereka bersama keluarga penghuni setia tempat pembuangan akhir tersebut. Dan gubuk yang mereka diwariskan kedua orang tuanya.
Matahari telah meninggi, panasnya seakan membakar kulit tubuh. Membuat ketiga sahabat itu menghentikan pekerjaannya mencari barang bekas.
Tampak pada keranjang yang berada di punggung telah penuh dengan barang – barang bekas.
“ Istirahat dulu yuk, panas banget “ ajak Hari pada kedua sahabatnya yang ada di sisi kiri dan kanannya.
“ Yuk “ balas Bayu.
Ketiga menuruni bukit sampah tersebut dan mencari tempat berteduh dari sengatan panas matahari siang itu.
Setelah mereka mendapatkan tempat bernaung. Ketiga pemulung kecil itu meletakkan keranjang sampah masing – masing. Dari kantongan masing – masing dikeluarkan air minum yang dibawa dari rumah mereka.
“ Hari ini matahari terasa banget panasnya “ sungut Bagas.
“ Iya, tidak seperti biasanya “ Bayu membenarkan ucapan sahabatnya yang bertubuh kecil itu.
“ Gas, memangnya ada apa sih di rumahmu ?” tanya Bayu pada Bagas merasa penasaran dengan ajakan Bagas.
“ Nanti aja kamu deh “ Bagas membuat Bayu makin penasaran.
“ Pokoknya ada deh buat kamu, Yu“ timpal Hari yang dari tadi hanya diam.
“Hmmm, buat aku penasaran banget nih , teman -teman “ tandas Bayu kepada kedua sahabatnya yang hanya tersenyum penuh misteri