Pertemuan di Bawah Langit Kota

Bab 1 Ketakutan dan Cinta

Kota ini selalu penuh dengan keramaian, hiruk-pikuk yang seolah tidak pernah berhenti. Gedung-gedung tinggi di sekelilingku menjulang seperti raksasa, menelan segalanya dengan bayangan mereka yang dingin. Aku Tara, seorang pria yang hidup sebatang kara di ibu kota, menjalani hari-hari sebagai manajer pemasaran di sebuah startup teknologi. Karierku berada di puncak, namun ada sesuatu yang hilang dari hidupku. Di tengah kesibukan dan ambisi, aku merasakan kehampaan yang selalu mengintai.

Setiap hari, aku memandangi lalu lintas yang sibuk dari jendela kantor di lantai 30, mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan yang terus menghantui pikiranku. Apakah semua ini sepadan? Kesuksesan yang kuraih, target yang terpenuhi, apakah ini benar-benar yang aku inginkan? Pikiranku sering melayang ke masa lalu, percintaan yang pernah kumiliki namun hilang begitu saja, meninggalkan luka yang hingga kini belum sepenuhnya sembuh.

‘Terkadang aku berpikir, mungkin aku telah menukar cinta dengan ambisi. Apakah aku terlalu takut untuk mencoba lagi, atau memang cinta sudah tidak ada tempatnya di dalam hidupku?’ Beberapa monolog selalu hinggap dalam benakku.

“Tara!” Seseorang memanggilku dengan nada sedikit berteriak.

Aku menoleh ke sumber suara yang berada dibelakang, ku yakini dia Pak Yusbar karena dari suara bass nya yang khas bagaikan seorang tentara.

“Hemmm…” hanya deheman untuk membalas pria yang berperut buncit itu.

“Lagi-lagi kamu disini sendirian. Gabunglah dibawah sama karyawan yang lain,” ajaknya sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang tak utuh.

“Aku malas turun kebawah,” jawabku singkat.

Aku mendengar helaan nafas pria yang menjadi atasanku itu setelah aku berjalan untuk duduk di meja kerjaku.

“Jika bapak tidak ada kepentingan yang lain, silakan tinggalkan ruangan ini segera.”

Tidak ada respon dari atasanku bernama Pak Yusbar yang lambat laun kaki nya ia langkahkan keluar ruangan, tidak ada paksaan karena mungkin dia sudah tahu karakterku yang banyak orang mengatakan aku tipikal orang yang cuek dan dingin.

*****

Aku duduk di depan jendela apartemenku yang menghadap langsung ke jalanan kota yang selalu sibuk. Lampu-lampu jalan berpendar, menerangi trotoar yang penuh dengan kendaraan yang seakan terburu-buru. Namun, meskipun suasana tampak ramai, ada perasaan sepi yang tak bisa kulepaskan. Di luar, semua orang tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing tetapi di dalam hati, aku tahu bahwa aku hanya berlari dari sesuatu yang lebih dalam—perasaan yang kubiarkan membeku sejak bertahun-tahun lalu.

Malam ini, pikiranku semakin kacau rasa kesepian semakin menghimpitku. Aku memutuskan untuk keluar apartemen dan berjalan-jalan tanpa arah tujuan, berharap angin malam bisa mengusir kekosongan yang mendera. Tanpa sadar, kakiku membawaku ke sebuah kafe kecil yang tak jauh dari pusat kota. Cahaya redup dari dalamnya memberikan kehangatan yang tak pernah kuduga akan kutemukan di tempat yang begitu asing. Pintu kayu tua itu berderit saat aku membukanya, dan aroma kopi segar langsung menyambutku, bersama dengan alunan musik jazz lembut yang mengalir dari sudut ruangan.

Langkahku terhenti sejenak di ambang pintu. Kafe ini meskipun kecil, memiliki pesona yang tidak bisa diabaikan. Lampu-lampu gantung yang memancarkan cahaya kuning lembut, kursi-kursi kayu yang tertata rapi, serta dinding yang penuh dengan foto-foto hitam putih membuat tempat ini terasa seperti pelukan hangat setelah hari yang panjang. Aku melangkah masuk, merasa seolah menemukan oase di tengah gurun yang kering. Setelah memesan secangkir latte, aku mencari tempat duduk yang agak jauh dari keramaian.

Saat pandanganku mengelilingi ruangan, mataku tertumbuk pada seorang wanita yang duduk di pojok. Dia tampak sibuk dengan gawainya, namun ada sesuatu dalam cara dia menatap layar yang membuatku merasa ada ketenangan di balik wajahnya. Aku tidak tahu mengapa, tapi ada dorongan kuat dalam diriku untuk mendekatinya.

“Permisi, apa kursi ini kosong?” tanyaku kepada wanita yang mempunyai rambut sebahu itu.

Ku lihat wanita itu mengangkat pandangannya dari layar gawainya, “Oh, tentu saja. Silakan duduk,” sahutnya sambil tersenyum hangat dan kembali menatap layar gawainya kembali.

Aku duduk di depannya, merasa sedikit canggung. Ini bukan hal yang biasanya kulakukan—berbicara dengan orang asing di kafe. Tapi ada sesuatu tentang dirinya yang membuatku merasa nyaman. Setelah beberapa saat, aku berdehem untuk berusaha mencairkan suasana sebelum berucap, “Nama saya Tara,” kataku memperkenalkan diri.

Dia mengangkat kembali pandangannya dan menatapku dengan mata yang penuh tanda tanya. ‘Apa aku terlalu lancang. Bodohnya aku, kenapa aku tiba-tiba memperkenalkan diri.’ rutukku dalam hati.

Nasi sudah jadi bubur, seorang Tara Budiman pantang mundur. Dengan percaya diri aku menyodorkan tanganku ke arahnya, “Nama saya Tara, dan kamu?” tanyaku kembali karena dia masih diam tanpa suara.

Kulihat dia tersenyum kecil dan menerima uluran tanganku, “Nadia. Senang bertemu denganmu, Tara.”

Tangannya hangat dan genggamannya lembut, memberikan kesan bahwa dia adalah seseorang yang dapat dipercaya. Percakapan kami dimulai dari hal-hal sederhana—tentang kopi, cuaca, hingga bagaimana suasana kota ini di malam hari. Tapi, semakin lama kami berbicara, aku mulai merasakan ada koneksi yang lebih dalam antara kami. Cara dia berbicara, cara dia mendengarkan, semua itu membuatku merasa dihargai, sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.

“Kota ini… kadang membuatku merasa terasing. Begitu ramai, tapi di saat yang sama, begitu sepi.” Tanpa sadar mengucapkan hal yang tidak penting. Aku langsung melirik hendak meminta maaf pada Nadia, namun wanita itu menatapku dengan lembut.

“Aku mengerti. Kadang, di tengah keramaian seperti ini, kita justru merasa paling sendiri,” sahutnya yang sukses membuat bibir ini tertarik sempurna membentuk seperti bulan sabit.

Kata-katanya menyentuh sesuatu di dalam hatiku. Selama ini, aku berusaha menyembunyikan kesepian di balik karierku yang gemilang, berpikir bahwa dengan tetap sibuk, aku bisa mengabaikan perasaan itu. Tapi di hadapan Nadia, semua itu terasa sia-sia. Dia bisa melihatku apa adanya, tanpa aku harus berpura-pura kuat.

Senyum sumringah itu mendadak pundar disaat sekelibat ingatan masa lalu itu datang kembali. Aku menunduk menatap cangkir kopi di depanku, “Aku tidak pernah menyangka bisa merasa sepi di tempat yang begitu hidup,” ujarku sambil tersenyum pahit.

“Mungkin kamu hanya belum menemukan tempat yang benar-benar bisa kamu sebut sebagai rumah,” jawabnya menjadi gagasan baru didalam hidupku. Nada bicaranya begitu hangat membuat aku nyaman bersamanya.

Aku tidak tahu mengapa aku merasa nyaman berbicara dengannya, padahal kami baru saja bertemu. Mungkin karena ia tidak mencoba untuk memaksakan percakapan, atau mungkin karena ada kehangatan dalam suaranya yang membuatku merasa aman. Kami mulai berbicara tentang hal-hal sepele, namun tak lama kemudian, pembicaraan kami berubah menjadi lebih dalam, tentang kehidupan, tentang patah hati, dan tentang kesepian di tengah keramaian kota.

*****

Hubungan kami berkembang dengan cepat setelah malam itu. Setiap kali kami bertemu, percakapan kami semakin mendalam, melampaui basa-basi dan masuk ke hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup. Namun, di balik semua itu, aku mulai merasakan ketakutan yang semakin kuat. Perasaan ini tumbuh begitu cepat, dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupku lagi, terutama setelah semua yang terjadi di masa lalu.

Setiap malam setelah lembur di kantor, aku merasa tidak ingin langsung pulang. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri, untuk berpikir dan mungkin, untuk merasa hidup lagi. Dan aku sudah tahu dimana tempatnya berada yaitu di sebuah kafe kecil dengan cahaya hangat yang memancar dari dalamnya. Musik jazz yang lembut terdengar dari pintu yang sedikit terbuka, mengundang pengunjung untuk masuk.

“Malam yang panjang, ya?” tanyaku sambil tersenyum ramah dan seperti biasa aku duduk di depannya.

Aku melihatnya seperti kelelahan karena terlihat dari senyumnya yang tidak seperti biasanya.

“Iya, sepertinya begitu. Kadang butuh tempat seperti ini untuk melepaskan diri sejenak,” jawabnya dengan nada suara yang begitu menenangkan.

Aku menatap cangkir kopiku, merasa ada dorongan untuk mengungkapkan sesuatu yang selama ini kusimpan dalam hati, “Aku sering bertanya-tanya, di mana aku bisa menemukan cinta yang nyata di tengah kehidupan yang serba cepat ini…” ucapanku tergantung dan aku melirik sekilas ke arah Nadia ternyata dia menatapku dengan tatapan yang susah diartikan. Apa aku terlalu berharap lebih darinya, berharap lebih dari teman darinya.

“Mungkin cinta ada di tempat yang tak kita duga. Seperti pertemuan kita malam itu,” jawabnya final sambil berdiri dan hendak berpamitan.

Aku ingin sekali melarangnya dia pergi untuk lebih lama bersama denganku, namun keberanian itu harus ku telan pahit-pahit sampai dia bayangannya tak terlihat olehku lagi.

*****

Aku selalu merasa nyaman di dekat Nadia, tapi di saat yang sama, ada perasaan takut yang tidak bisa kugoyahkan. Takut bahwa jika aku jatuh terlalu dalam, aku akan terluka lagi. Kenangan tentang mantan tunanganku yang mengkhianati kepercayaan dan cintaku terus menghantui pikiranku, membuatku ragu untuk melangkah lebih jauh dengan Nadia. Malam ini aku meminta kami ketemuan di tepi danau, aku merasa perlu untuk jujur padanya—tentang rasa takutku, tentang masa laluku.

Aku berdiri di tepi danau menatap air yang tenang bersama Nadia yang berdiri disampingku.

“Nad, aku harus mengatakan sesuatu…” ucapanku tergantung. Aku melihat Nadia menoleh menatapku dari pantulan air di tepi danau. “Apa itu, Tar? Kamu bisa mengatakan apa saja padaku,” jawabnya.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosi, “Aku… aku takut. Aku takut kalau aku membiarkan diriku jatuh cinta lagi, aku akan terluka seperti dulu,” ungkapku kepadanya.

Ada keheningan yang terasa begitu berat setelah kata-kataku meluncur keluar. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, menunggu tanggapannya. Nadia menatapku dengan mata yang penuh tanda tanya, namun juga dengan kesedihan yang tidak bisa dia sembunyikan. Aku pun membalas tatapan yang sama.

“Tara, aku tidak bisa menjanjikan bahwa semuanya akan selalu sempurna. Tapi yang bisa aku janjikan adalah bahwa aku akan selalu ada di sini untukmu, apapun yang terjadi,” terangnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut mungilnya meskipun sederhana, namun menghangatkan hatiku. Dia tidak mencoba memaksaku untuk melupakan masa lalu, atau memaksakan cinta kami. Dia hanya menawarkan keberadaan dan kesetiaannya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa ada harapan.

Nadia kembali membuka mulutnya sambil tersenyum samar, “Aku tidak tahu apakah kamu bisa langsung melupakan semuanya, tapi… kita harus mencobanya. Karena aku ingin bersamamu.”

Kata-katanya kembali seperti angin yang menerbangkan ketakutanku. Di bawah langit yang mulai dipenuhi bintang, aku merasa bahwa mungkin, inilah saatnya untuk membiarkan hatiku terbuka lagi. Aku menatap Nadia dengan mata yang kini penuh harapan.

Tanpa permisi aku langsung menggenggam tangannya, nadanya penuh dengan ketulusan, “Kita akan melakukannya bersama, Nad. Satu langkah kecil demi masa depan kita,” ungkapku sambil tersenyum manis.

“Aku ingin tahu ke mana cinta ini bisa membawa kita,” sahutnya.

Aku yang mendengar respon dari wanita pujaanku spontan tersenyum semakin lebar dan ada rasa lega dalam dadaku, “Kita akan menemukannya bersama-sama,” ucapku sambil mempererat genggaman tanganku padanya. Hingga kami saling berpelukan dibawah bulan dan bintang bertaburan diatas langit.

*****

Setelah malam itu, hubungan kami terus berkembang. Setiap pertemuan menjadi lebih berarti, setiap percakapan semakin mendalam. Tapi kemudian, hidup memberikan ujian baru. Aku menerima tawaran promosi yang sudah lama kuimpikan, namun tawaran itu mengharuskanku untuk pindah ke cabang perusahaan di luar negeri. Ini adalah kesempatan yang tidak mungkin kutolak, tapi juga berarti meninggalkan Nadia dan semua yang telah kami bangun bersama.

Aku dihadapkan pada pilihan yang sulit. Karier atau cinta? Impianku selama ini atau perasaan yang baru saja mulai tumbuh? Aku tahu, jika aku memilih karier, mungkin aku tidak akan mendapatkan kesempatan kedua untuk merasakan cinta ini. Tapi jika aku memilih cinta, aku takut akan menyesali kesempatan yang kulewatkan. Aku memutuskan untuk berbicara dengan Nadia, meskipun aku tahu percakapan ini akan sangat berat.

“Aku dapat tawaran promosi di luar negeri,” ucapku dengan nada serius, saat kami duduk bersama di kafe tempat kami pertama kali bertemu.

Dia tidak langsung menjawab memilih terdiam sejenak sambil menatapku dengan perasaan campur aduk, “Itu kesempatan besar, Tar. Apa kamu akan mengambilnya?” bukan jawaban yang aku harapkan.

Aku hanya mengangguk pelan, meski hatiku terasa berat. Dia tersenyum lembut ke arahku, aku merasa lega sekaligus sedih. Nadia menatapku dengan pengertian yang dalam. “Aku ingin kamu bahagia, Tar,” katanya akhirnya, “Kalau ini yang terbaik buat kamu, aku akan mendukungmu. Kita bisa mencari cara untuk tetap bersama, meski jarak memisahkan kita,” lanjutnya.

Kata-katanya membuat hatiku sedikit tenang. Aku tahu keputusan ini akan sulit, tapi dengan Nadia di sampingku, aku merasa mampu menghadapi apa pun. Di bandara, saat ia mengantarku, aku berjanji padanya dan pada diriku sendiri bahwa ini bukanlah akhir dari cerita kami. Ini hanya permulaan dari babak baru yang penuh dengan tantangan, tapi juga penuh dengan harapan.

Nadia berbisik pelan sebelum aku memasuki gerbang keberangkatan, “Aku akan menunggumu, Tara.”

Aku menatapnya dengan senyum penuh keyakinan, “Dan aku akan kembali, Nad. Kita akan membuat cerita kita sendiri.”

error: Content is protected !!