“Adara Henawati Putri” setelah hampir 12 tahun lama nya ia hanya debu di bangku sekolah dengan hantaman mental yang begitu keras dari teman temannya dan di hantui rasa takut untuk bergerak bahkan dalam pikirannya pun hanya berisi halusinasi berkepanjangan yang tak kunjung reda hingga saat ini
****
Kring,,,,, kring,,,,kring
Bunyi bel sekolah kembali mengusik telinga adara saat ia masih asik dengan halusinasinya, dan ia pun masuk ke kelas dengan keadaan yang sama seperti hari hari kemarin, tidak punya semangat dan gairah dalam dirinya
“Anak anak! sekarang kita ada acara di aula bawah di hususkan untuk anak kelas 12 biar termotivasi dan mempunyai tujuan lebih matang untuk ke perguruan tinggi” ucap jelas guru BK
“Jadi sekarang gada pelajaran buk?” Tanya sebagian siswa
“Untuk hari ini free ya,,, tapi ingat dengerin baik baik informasi yang di sampaikan, gausah rame, oke?” Jawab ibu BK
“siap bu,,,,” sahut semua siswa kecuali adara yang hanya terdiam beku di bangku duduknya
****
Adara seorang diri turun ke aula bawah dengan tas di pundak nya.
Di tangga saat ia melangkah untuk turun, terdengar rame di telinga adara
“Gua mau lanjut ke jakarta”
“Serius din?”
“Lah iyya! Bokap gua udah siap biayain gua”
“Enak banget ya jadi lu!”
“Gasabar banget jadi mahasiswa, bisa nongkrong bareng temen temen baru, bebas dari orang tua, pegang banyak uang, arrrrgggjhh,,, jadi bebas beli apa aja deh”
****
“Mereka semua punya tujuan yang jelas dan terlihat masa depan nya begitu cerah, tapi bagaimana dengan ku?? Aku bisa gak ya?” Isi kepala adara saat ia mendengar banyak omongan di belakang
“Eh adara! Lu mau lanjut kemana?” Tanya dinda siswa paling pintar di kelas itu
“Aku masih Bingung din!” Jawab adara santai
“Tapi lu mau kuliah kan??” Tanya dinda untuk meyakinkan
Adara terdiam saat pertanyaan itu terdengar di telinganya
“Aku duluan ya din” ucapnya dengan senyum manis di wajahnya
“Menurut gua dia gabakal lanjut si din!” celetuk raisa dengan senyum sadisnya
“Sok tau lu sa! Emangnya kenapa?” Tanya dinda
“Ya gatau lah, kayak gak punya tujuan aja hidupnya, lu kan tau sendiri di kelas dia hanya diam aja, gak aktif, gak pinter, lah gimana mau kuliah, dia aja belum tentu tau informasi² perkuliahan” jelas raisa
“Bodoamat lah, gua nanyak juga bukan kepo, cuma ini di kasih buku pendataan sama BK yang mau lanjut ke perguruan tinggi siapa aja” ucap dinda
Adara yang belum jauh melangkah dari tempat itu mendengar semua perkataan raisa dan dinda dengan jelas
“Tapi bener juga ya kata mereka, apa aku kerja aja ya? Tapi kerja apa? Aku minim banget pengetahuan, apalagi masih lulusan SMA gini” batin adara
Begitulah isi kepala adara yang setiap detik bertarung keras dengan keinginannya, ingin rasanya menempuh pendidikan lebih lanjut tapi takut untuk bertemu orang orang yang menjatuhkan mentalnya sama seperti teman temannya yang ia temui selama 12 tahun silam.
Raga adara memang terlihat baik baik saja, bahkan berkali kali ia di jatuhkan tetap tampak senyum di wajahnya namun tidak dengan batinnya.
****
“Halo adek adek bagaimana kabarnya nih? Bau bau mahasiswa ya,,,? Hmmm ada yang sudah gak sabar mau masuk ke kampus tahun depan??” Ucap moderator di aula itu yang membuat rame anak kelas 12
“Gak sabar banget kak, pengen ngerasaiin duduk sebagai mahasiswa” sahut sebagian siswa di aula itu
“Wahh,,, antusias anak kelas 12 kali ini benar benar menyala ya??”
“Dan untuk mempersingkat waktu, kakak pengin tau kampus mana aja nih yang menjadi tujuan adik adik di sini” kembali moderator itu bersuara dan memberikan selembar kertas kepada semua siswa di aula
“Kalian bisa tulis di kertas itu ya,,,” sambungnya
“Kak saya izin ke toilet sebentar, boleh?” Ucap adara sembari menggenggam kertas itu
“Iyya silahkan dek” sahut kakak moderator itu
****
Sesampainya di kamar mandi dia berdiri di depan pintu tanpa ekspresi sedikitpun
“Ya allah,,, aku pengin kuliah” ucapnya sambil menatap sendu kertas di genggaman tangannya
“tapi aku bodoh, bener kata mereka, aku gak pantas kuliah, toh ujungnya sama, aku hanya jadi debu” batinnya dan seketika meneteskan airmata yang terjatuh ke kertas itu hingga tak kerasa kertas itu robek karna derasnya air mata yang tertumbah
Tak berjangka lama di kamar mandi, Adara pun berlari keluar menuju pagar sekolah dan masih dengan deraian air mata yang menyertainya
“Loh loh loh,,, itu siswa kelas berapa lari larian di situ” ucap guru bk yang sedang duduk di teras ruangannya
“Pak saya mau keluar” ucap adara dengan lemes
“Loh jam pelajaran kan belum selesai mbak?” jawab satpam itu
“Saya kelas akhir dan sudah di izinkan pulang semua pak” sahut adara jelas
Tak membantah bapak satpam itu langsung membuka gerbang sekolah
****
Sembari menunggu angkot wanita itu berjalan kaki dengan pikiran kosong
Tut,,, tuuuttt,,,,
“Ayok neng” ucap kang angkot dengan keras
“Kok tumben sendirian? Biasanya kan rame sama temen temennya” tanya kang angkot itu
“Kapan saya punya temen pak? Kan saya emang selalu sendiri” sahut nya
“Enggak kan biasanya rombongan nungguin angkot, ini tumben sendirian, jalan kaki lagi” ucap kang angkot
“Biasalah pak” ucap singkat adara
****
“Udah kelas berapa neng?” Tanya kang angkot
“Sudah mau Lulusan pak” jawabnya singkat
“Bentar lagi udah gak naik angkot bapak lagi ya neng! Mau lanjut kemana neng?”
“Gamau lanjut kemana mana pak”
“Loh gamau kuliah neng?”
Adara terdiam tak membalas pertanyaan itu
“Bapak punya anak 2, yang satunya sudah semester 6, taun depan dia wisuda, yang satunya lagi sudah jadi direktur di jawa barat” ucap kang angkot itu dengan senyum lebar di wajahnya
“Wah enak ya pak, anak bapak masa depannya cerah semua, berbeda dengan saya pak” ujar adara juga dengan senyumnya yang manis
“Gada yang beda neng, semuanya sama di hadapan allah, cuma sebesar apa usaha kita untuk menjemput takdir baik itu”
“Karna gak ada usaha yang sia sia neng” sambung kang angkot itu
“Yaa berbeda dengan saya pak, pasti anak anak bapak pinter kan pak? Punya banyak temen, jadi bisa deh jadi direktur dan bisa belajar di perguruan tinggi, mimpi besarnya sudah terujud semua kan pak?” Ucap adara dengan senyum terpaksa
“Hidup punya teka teki sendiri neng, bapak aja masih belum abis pikir, anak anak bapak sudah ada di titik yang mereka impikan semua, karna bapak orang miskin, boro boro kuliahin 2 anak, makan tiap hari aja kadang ngutang di warung” ucap kang angkot itu dengan mata yang berkaca kaca
“Tapi kembali kepada diri sendiri, klo kita kuat menghadapi semuanya dengan bersyukur, insya allah pasti ada hal hal baik juga yang menghampiri kita” sambungnya
“Tapi masalahnya selama 12 tahun saya tidak pernah menemukan hal baik itu pak” sahut adara masih dengan senyumannya
“Dari kecil saya selalu di hina pak, gak di sekolah, gak di rumah, dan bahkan orang tua saya di tuduh maling sama mereka sampek di gebukin hanya karna saya bisa melanjutkan ke jenjang SMP, sekolah termahal di sini” air mata adara mulai menetes perlahan
“Dunia memang sejahat ini atau memang saya yang tidak pantas mendapatkan apa yang saya impikan” lanjutnya dengan nada terpatah patah
“Dunia bisa saja lebih jahat dari ini, kalau kamu terus menerus melihat ke atas, coba sesekali menunduk! Masih banyak orang orang yang lebih hancur dari pada kamu tetapi mereka tidak bersuara, memilih bangkit! karna mereka tau dunia tidak stay di sini aja, mereka ingin merubah hidupnya dengan perjuangan dan kerja kerasnya” celetuk pak supir itu dengan jelas dan sepenggal senyum di wajahnya
Mendengar ucapan itu adara memusatkan pandangannya pada pak supir itu sembari mengerutkan keningnya “maksud bapak apa?” Tanya adara penasaran
“Turun di depan kan neng?” Ucap pak supir itu
“Iyya pak” gegas adara yang sudah lupa dengan pertanyaannya
“Ini uangnya! Makasih ya pak” ucapnya ramah
“Iyya sama sama neng”
****
Adara seorang diri berjalan menuju rumahnya di plosok dengan jarak yang sedikit jauh.
dengan pikiran kosong ia kembali membuka genggaman tangannya yang masih terdapat sobekan buka dari sekolah itu. Kembali adara menatap buka tadi dengan senyuman ikhlas di wajahnya
“Buat apa juga aku bawa buku ini, toh gak bakal lanjutin kuliah kan” ucap adara dan melepaskannya di tengah jalan
****
Pandangan adara mulai terpusat ke sebuah lapangan yang rame dan terdapat banyak anak anak bermain, senyumnya kembali terpancar “bahagia banget ya jadi mereka, punya banyak teman, bisa main bareng” batinnya
Namun jelih matanya melihat seorang anak itu duduk sendirian dengan tawa bahagianya melihat teman temannya bermain, lalu perlahan adara mulai mendekatinya
“Dek kok gak ikut main?” Tanya adara dengan ramah
Anak itu hanya menggelengkan kepalanya “aku gak punya sepeda kak” sahutnya masih dengan tawa cerianya
“Kenapa gak pinjem?? Itu kan temen temen adek” ucap adara jelas
“Nanti pas mau pulang aku kebagian main kok” ujarnya
Tak lama kemudian orang tua mereka satu persatu menghampirinya dan menyuruh mereka pulang
“Yah,,, gak jadi main deh hari ini” ucap anak kecil itu yang mulai berdiri dan meninggalkan tempat itu
“Kok adek gak di jemput? Orang tua adek dimana?” Tanya adara penasaran setelah melihat semua teman temannya pulang bersama orang tuanya
“Gada kak” sahutnya simpel
“Yaudah kakak anterin ya,,, rumah adek dimana?” Tanya lagi adara dengan nada lembut
“Gausah kak, aku juga masih bingung mau pulang kemana” sahutnya jelas
“Loh ini udah siang dek, kasian orang tuanya nanti nyariin” gegas adara
“Orang tuaku udah gak ada kak” sahut anak itu dengan santai
Tak melanjutkan bertanya adara terdiam kaku, sedang anak itu mulai jauh dari nya
Adara dengan semangatnya kembali mengejar anak itu dengan lari kerasnya
“Pulang ke rumah yuk? Nanti bisa makan dan tidur di rumah kakak” pinta adara dengan senyumnya
“Gausah kak, abis ini aku harus kerja” jawabnya santai
“Kerja dimana?”
“Aku ngamen kak, biar dapat banyak uang, buat ngewujudin cita cita ku” jawabnya dengan senyum lebar di wajahnya
“Emang cita cita adek mau jadi apa?” Lanjut tanya adara
“Pengen jadi orang sukses, mau beliin rumah yang bagus buat mama papa, pasti mama papa bangga” masih dengan senyum yang sama anak itu kembali menjawab pertanyaan adara
“Tadi bilangnya mama papa nya udah gada, terus kenapa masih mau beliin rumah buat mereka” tanya lagi adara
“Batu nisan kak, biar mama papa gak kedinginan lagi” sahutnya jelas
“Ya allah ternyata benar anak ini gapunya orang tua” batinnya
“Kamu kuat banget ya, hidup sebatang kara gini, tapi kamu masih semangat untuk menjalankan hidup” pandangan lurus adara pada bola mata anak di depannya itu
“Aku masih di beri kesempatan untuk hidup kenapa harus milih menyerah kak?”
Mendengar jawaban itu adara menarik senyumnya perlahan “jika aku menganggap dunia tidak adil pada hidupku, lebih tidak adil lagi pada anak ini, yang jauh lebih hancur daripada hidupku” batinnya
“Bukan dunia yang tidak adil kak, tapi garis takdir yang sudah menentukan hidup kita, kenapa memilih tetap berjuang? Siapa tau takdir kita perlahan berubah sesuai keyakinan dan usaha kita” celetuk anak itu dengan jelas
“Terus terusan mau bicara dunia tidak adil, tapi nyatanya bukan hanya kita yang hancur, di luar sana masih banyak yang lebih menderita, tapi mereka memilih diam” lanjutnya
Adara lagi lagi terdiam kaget, anak di depannya ternyata mendengar isi hatinya “aku boleh peluk kakak gak?” Ucap anak itu sembari mengulurkan tangannya
Anggukan adara di barengi dengan deraian airmatanya “semangat ya kak, jangan pernah sia sia in kesempatan, karna waktu terlalu berharga jika hanya di gunain untuk memakan omongan orang” ucap anak itu dengan jelas
“Aku pergi duluan gapapa kan kak??” Lanjutnya
“Mau kakak anter?” Tawar adara sembari mengelap pipi yang basah karna air matanya
“Gausah kak, jangan nangis lagi! Senyum dong” ucap anak itu sambil menarik ujung bibirnya dan terpancar senyum lebar di wajahnya kala itu
****
Adara kembali melanjutkan langkahnya dengan keadaan yang sangat lega,
Saat tiba di pagar rumah, ia berlari kecil menghampiri ibunya yang sedang duduk di teras rumahnya
“Assalamualaikum, maa,,,”
“Waalaikum salam”
Adara memeluk erat tubuh ibunya “doakan adara ya ma,, biar bisa bahagiain mama sama papa”
“Tanpa adara minta, setiap hembusan nafas mama selalu doain yang terbaik buat adara”
“Besok adara ke sekolah mau urus pendaftaran kuliah, semoga adara bisa melanjutkan pendidikan yang adara impikan, tanpa meropotkan mama papa” jelas adara yang masih mencium tangan perempuan paruh baya itu
“Mama akan mendukung setiap kuputusan adara” ujarnya sembari mengelus lembut bahu putri sulungsu
****
Pagi buta adara dengan semangat berangkat ke sekolah dan langsung menghampiri ruang BK.
Tak sepenuhnya bisa, adara Sepenggal mengingat masa lalunya yang membuat mentalnya terhantam keras, namun saat ini berbeda, ketakutannya terhanyut penuh saat ia mulai mempunyai tekat yang keras untuk melawan rasa takut itu
“Jika mereka bisa kenapa aku enggak?”
“Mau berhasil atau tidak yang penting aku tidak mengeluarkan kata menyesal di akhir nanti” batin adara