Syair Tak Berkidung

Perang Batin

 

“ Apa saya tidak bisa merasakan bahagia seperti mereka?” 

“ Apa saya harus hidup dalam situasi keluarga yang hancur ini?” Mustika membatin.

 

Malam itu, suasana Mustika berperang, dia tak mampu mencerna lagi dengan keadaan keluarganya yang sebentar lagi tidak akan utuh.

Sampai rasa kantuk tak tertahan lagi, dia terpulas dalam mimpi yang entah indah atau suram, sesuram hatinya.

 

Pagi datang menjemput, kulihat jam dinding kamarku menunjukkan pukul 6.00 pagi. Aku langsung meraih handuk yang tergantung di gantungan pakaian terdapat di pintu kamar.

Seperti biasanya, aku harus tepat waktu tiba di sekolah.

Jam masuk 07.15 sudah harus ada di sekolah jika tidak ingin telat mengikuti pelajaran. Maklum jarak rumah dengan sekolah lumayan jauh. Dengan berjalan kaki tentunya butuh waktu.

 

Suasana kelas seperti hari – hari sebelumnya. Para siswa mengikuti pelajaran dengan serius. Sesekali kulirik teman – teman yang duduk di bangku belakang. Pemandangan yang sama. tidak ada yang berbeda di dalam kelas ini.

“ Semuanya masih seperti hari – hari yang telah berlalu” gumamku dalam hati

“ Yang berbeda hanya padaku dan keluargaku” pikiranku kacau.

Aku tak lagi mampu mencerna pelajaran, semuanya bagaikan belati menghujam hulu hatiku.

“ Mustika, hari ini sepertinya kamu tidak serius memperhatikan pelajaran “ sebuah suara membuyarkan lamunanku.

Saya langsung melihat ke arah sumber suara, ternyata Ibu Sri yang menegurku.

Bu Sri, guru Bahasa Indonesia. Dia guru yang tergolong disiplin, tetapi sangat perhatian dengan para siswa. Dia sangat mengerti dengan situasi dan keadaan yang kami alami.

“ Maaf bu “ meminta maaf pada Bu Sri.

“ Ya sudah kamu harus fokus dengan pelajaran nak” pinta Bu Sri padaku yang mengangguk pelan.

 

Suara bel tanda jam istirahat berbunyi. Para siswa berhamburan keluar menuju ke kantin.

“ Mustika, ikut sama ibu sebentar ya “ Bu Sri memintaku untuk ikut dengannya ke ruangan guru.

“ Iya bu” jawabku singkat.

 

Di Dalam ruangan guru, saya dipersilahkan duduk di hadapan Bu Sri. Di dalam ruangan tersebut, Bu Tika, Bu Fira juga ada.

“ Kamu kenapa ?” tanya Bu Tika padaku yang melihatku datang bersama dengan Bu Sri.

“ Gak ada apa – apa bu “ kata Bu Sri.

“ Mustika, akhir – akhir ini ibu melihat kamu sering duduk sendiri dan melamun”

“ Kamu kenapa, apa kamu ada masalah atau kesulitan “ 

“ Coba kamu ngomong sama ibu “ ujar Bu Sri yang menatapku dengan senyum menyejukkan hati.

Saya memandangi Bu Tika dan bu Fira, sebelum membuka mulut yang seakan kaku untuk mengungkap sebuah kenyataan yang saya rasakan begitu menikam jantungku.

“ Entahlah saya harus memulai darimana bu” mendesah, nafasku seakan ingin berhenti.

“ Saya saat ini seperti hilang harapan untuk tersenyum ceria, seperti teman – temanku”

“ Ayah dan ibu telah tiada.” air mataku tak tertahan lagi. Isak tangisku mulai terdengar pelan.

Bu Sri segera memelukku. Entah mengapa aku langsung memeluk Bu Sri dan terisak.

“ kamu harus sabar. Ini sebuah cobaan buat kamu” nasehat Bu Sri yang memelukku dengan penuh kasih sayang.

“ Apapun yang terjadi di dalam hidupmu, jangan pernah menyurutkan semangatmu untuk menuntut ilmu, nak”

“ Yakinlah dibalik semua yang kamu alami akan ada hikmahnya” ucapan Bu Sri seakan begitu penuh keyakinan untukku.

Saya melepaskan pelukanku pada Bu Sri, yang memberikan tisu untuk menghapus butiran air bening yang membasahi mataku.

“ Saya tahu bu, tapi semuanya begitu terasa, perih. 

“ Saya tidak tahu harus kemana sekarang” ungkap.

“ Satu – satunya keluarga yang kuanggap akan memberikan rasa aman, rasa bahagia, ternyata bertolak belakang dengan harapanku, bu”

“ Selama saya tinggal dengan tante, saya tidak pernah lagi mengenal bahagia” Mustika menuturkan nasibnya yang malang. 

“ Saya bagaikan orang termiskin di atas bumi ini. Jika seorang pengemis sebelum berangkat ngemis masih bisa merasakan sarapan pagi.

“ Namun saya tidak, Bu”

“ Kadang saya berangkat ke sekolah dengan perut kosong, nanti di sekolah jika ada teman yang mentraktir gorengan barulah perutku terisi” suara terisak terdengar mengungkapkan apa yang dirasakan.

“ Loh, mang tantemu tidak memberimu makan?” tanya Bu Sri

“ Tidak, Bu “ jawabku pelan

“ Pulang sekolah pun kadang, saya harus ke tetangga, meminta sesuap nasi untuk mengisi perut, Bu “

“ Karena tante tidak pernah memberikan makan padaku, katanya tidak cukup kalau saya harus ikut makan” tuturku pada Bu Sri yang memandangku.

“ Maafkan saya bu” keluh lidahku.

“ Kamu tidak bersalah nak, namun keadaanlah yang membuat kamu harus kuat” ujar Bu Sri yang membelai rambutku.

“ Aku tahu bagaimana rasanya menghadapi situasi seperti ini. Apalagi usiamu yang masih remaja seperti ini “

“ Jika kamu butuh seseorang untuk curahkan isi hatimu, silahkan datang ke ibu “ kisah Bu Sri padaku yang tangisku mulai terhenti.

“ Terima kasih banyak, bu “ ucapku pelan.

“ Ya sudah, kamu kembali ke kelas, atau kamu mau ke kantin ?” tanya Bu Sri kepada saya yang berdiri.

“ Mungkin ke kantin bu” jawabku dan meraih tangan Bu Sri dan salaman.

Sesampainya di kantin, aku langsung memesan minuman dan gorengan yang dijual disana.

“ Mus, tadi saya lihat lo dipanggil sama Bu Sri?” tanya Salsa yang tahu – tahu sudah ada di belakangku.

“ Mang ada apa ?” Salsa penuh selidik soal pemanggilan ke ruangan guru.

“ Gak ada apa – apa kok, Sal” jawabku.

“ Gak mungkinlah kamu dipanggil, kalo gak ada masalah” tukas Salsha padaku yang menerima gorengan dari Bu Kantin.

“ Bener gak ada apa – apa kok” jelasku meyakinkan sahabatku itu.

“ Ya udah, kalo kamu gak mau terus terang sama saya” ucap Salsha yang duduk disampingku.

“ Nanti sajalah, saya curhat sama kamu” ungkapku pada sahabatku yang selalu setia mendengar curhat ku.

Terik matahari hari ini begitu menyengat kurasakan. Sepanjang jalan pulang, kurasakan hati bergejolak, membayangkan suasana rumah yang sudah dapat saya tebak. Pulang sekolah harus ke tetangga minta nasi untuk mengisi perut kosong.

 

Kudapati tante tengah menggendong anaknya yang berusia 2 tahun.

“ Assalamualaikum” ku ucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.

“ Kamu lama amat sih pulangnya?” tanya suara tante dengan nada ketus pada saya.

“ Saya jalan kaki, tante “ suaraku pelan

“ Makanya kamu berhenti saja bersekolah” kata tante padaku.

“ Loh berhenti?” tanyaku sambil melihat ke arah tante.

“ Memang kamu punya uang untuk bayar nanti kalau ujian?”

“ Makan saja susah” sela tante

“ Kan sekolahnya gratis, tante “ membalas ucapan tante yang wajahnya menunjukkan ketidak senangnya.

“ Sudah ini, asuh Tiwi, tante mau keluar” tante memberikan anaknya ke saya.

Setelah Tiwi beralih dari gendongan, tante segera keluar dan menghilang sangat cepatnya.

Suara keronncongan perutku semakin terdengar untuk diminta segera diisi

Sambil menggendong Tiwi saya menuju rumah Tante Jumi yang berada di sebelah rumah.

“ Assalamualaikum, tante Jum “ mengucapkan salam.

“ Waalaikum, eh kamu Tika, pasti deh seperti biasa” jawab tante Jumi padaku yang melihat saya menggendong Tiwi.

“ Hari ini saya masak sedikit, tapi tidak papa deh saya, ngasih kamu juga “ tutur tante Jumi.

“ Kamu duduk dulu, sebentar saya ke dalam” tante Jumi persilahkan saya duduk di kursi plastik yang ada di teras.

Tidak lama kulihat dari dalam Tante Jumi datang membawa sepiring nasi dengan hanya tempe goreng 2 potong.

“ Nih cuma ini yang tante masak” kata tante Jumi sambil memberikan piring berisi nasi dan 2 irisan tempe tipis.

“ Terima kasih banyak tante” jawabku.

“ Ya sudah kamu makan saja dulu” tante Jumi berjalan masuk ke dalam rumahnya. 

Terasa hambar makanan yang turun di tenggorokan, seperti hambarnya hatiku saat ini.

Tapi tubuhku perlu nutrisi masuk ke dalam tubuhku. karena itu sangat diperlukan, untuk dapat bertahan. Bertahan dari segala kemungkinan hidup yang akan ku jalani berikutnya.

Tanpa orang tua yang selama ini mengisi kehidupan hidupku

 

“ Mustika, hari ini kau akan berbeda dengan – hari – hari kemarin” 

“ Kamu akan kehilangan pegangan, mungkin harapan untuk tetap semangat”

“ Hatimu hancur, tantemu itu memperlakukan kamu tidak lebihnya seorang babu”

Peran batin mulai bergejolak, saya seperti terbawa oleh suara – suara yang tidak ku tahu dari mana datangnya. Mungkin suara itu benar ?

 

“ Tidak saya harus kuat, seperti dikatakan Bu Sri padaku” menepis suara itu.

“ Hahaha,  kamu bukan dewa Mustika, kamu tuh anak remaja yang butuh pegangan” suara itu kembali membalasku.

“ Saya punya pegangan kok” ucap pelan.

 

“ Pegangan…pegangan apa. yang mana akan kau jadikan pegangan.” kembali suara itu seakan ingin memojokkan posisi saya saat ini.

Lates Chapters

Apa Itu Harapan

“ Apalagi yang kau harapkan, semuanya telah berakhir, Tika “ suara - suara itu terus terdengar. Suara itu begitu jelas di gendang telingaku. Seperti suara…
error: Content is protected !!