Pagi itu, sinar matahari menyapa desa kecil di lembah, mengusir sisa-sisa embun yang menempel di daun-daun pisang. Desa itu masih sepi, hanya terdengar kicauan burung dan sesekali langkah kaki para penduduk yang mulai beranjak dari rumah mereka menuju ladang atau pasar. Di sebuah rumah sederhana di ujung desa, seorang gadis bernama Maudy sudah bangun sejak fajar. Rambutnya yang panjang ia ikat sembari bersiap membantu ibunya, Ningsih, mempersiapkan dagangan yang akan mereka bawa ke pasar pagi itu.
Rumah kecil itu tak banyak berubah sejak ayah Maudy meninggal beberapa tahun lalu. Semenjak itu, hidup Maudy dan keluarganya dipenuhi perjuangan tanpa henti. Ibunya harus bekerja lebih keras, dan Maudy, yang dulu bercita-cita menjadi seorang guru, terpaksa melepaskan impian itu demi membantu keluarganya. Setiap kali ia melihat seragam sekolah Beni, adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP, hatinya selalu terenyuh. Namun, ia menepis rasa sedih itu, karena bagi Maudy, kebahagiaan keluarganya adalah yang paling utama.
“Maudy, sini bantu Ibu bawa sayur-sayur ini ke gerobak,” suara lembut Ningsih memanggilnya dari halaman rumah.
Maudy segera berlari ke arah ibunya, tersenyum meskipun kelelahan mulai terasa di tubuhnya. Mereka berdua bekerja tanpa banyak bicara, sudah terbiasa dengan rutinitas ini sejak lama. Setiap pagi mereka akan pergi ke pasar untuk menjual sayur-sayuran hasil kebun mereka sendiri, serta beberapa bahan lain yang mereka beli dari petani sekitar. Pendapatan dari berdagang inilah yang menjadi penopang hidup mereka sekeluarga.
“Nanti setelah ini, kamu bisa pulang lebih awal, Maudy. Biar Ibu yang jaga di pasar,” kata Ningsih tiba-tiba sambil meletakkan keranjang terakhir di gerobak.Maudy menoleh, menatap ibunya dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Tidak apa-apa, Bu. Aku juga ingin tetap membantu sampai nanti siang. Lagipula, lebih cepat selesai, kan?”
Ningsih hanya tersenyum lelah. Meski merasa bangga dengan ketegaran putrinya, di hatinya ada perasaan bersalah. Ia tahu Maudy seharusnya bisa menikmati masa mudanya seperti gadis lain, tetapi keadaan memaksa gadis itu menjadi dewasa sebelum waktunya.
“Mari, kita berangkat, Maudy,” ujar Ningsih sambil memasukkan keranjang berisi sayur ke dalam gerobak kayu tua mereka.
Maudy yang sejak tadi sibuk menyiapkan barang-barang, mengangguk dan menyusul ibunya. Meskipun hidup mereka penuh tantangan, Maudy tetap menjaga semangatnya. Ia tahu, tanggung jawabnya besar, tapi ia juga percaya, kerja keras ini akan membuahkan hasil.
Mereka berdua berjalan menuju pasar desa dengan langkah pasti, meski gerobak yang mereka dorong terasa berat. Jalan desa yang mereka lalui masih basah oleh sisa-sisa hujan semalam, membuat tanah menjadi licin dan berlumpur. Namun, mereka sudah terbiasa dengan kondisi ini. Setiap hari, Maudy dan Ningsih menempuh perjalanan yang sama, membawa dagangan mereka ke pasar yang menjadi sumber penghidupan.
Perjalanan pagi itu terasa seperti biasa, tenang dan damai. Namun, di tengah jalan, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Saat Maudy dan ibunya hampir tiba di pasar, sebuah mobil melaju dengan kencang di jalan sempit yang berlumpur. Maudy, yang saat itu berjalan di pinggir jalan, tak sempat menghindar. Mobil itu mencipratkan air lumpur tepat ke arah Maudy, membuat pakaiannya basah dan kotor.
“Aduh!” seru Maudy kaget. Ia menatap pakaiannya yang kini dipenuhi noda lumpur, lalu mengarahkan pandangannya ke mobil yang mulai berhenti di ujung jalan.
Emosi mulai membakar dadanya. “Hei! Apa nggak lihat jalan, ya?”
Pengemudi mobil itu turun. Seorang pemuda dengan pakaian rapi dan wajah yang terlihat terbiasa dengan kemewahan. Ia menatap Maudy dengan sedikit kebingungan, lalu bukannya meminta maaf, pemuda itu malah tertawa kecil.
“Ya ampun, itu cuma cipratan lumpur. Jangan marah-marah gitu, dong,” ucapnya dengan nada santai.
Maudy menatap pemuda itu dengan tajam. “Cuma lumpur? Apa kamu tahu seberapa susahnya aku bekerja hari ini, dan sekarang semua ini kotor gara-gara kamu?” balasnya dengan nada tinggi.
Pemuda itu, Riko, anak kepala desa, hanya mengangkat bahu. Baginya, ini bukanlah masalah besar. Ia menganggap Maudy terlalu berlebihan. “Tenang aja, nanti juga kering. Nggak usah drama deh,” katanya sambil menatap Maudy dengan tatapan meremehkan.
Perkataan Riko membuat Maudy semakin marah. Namun sebelum ia sempat membalas, Ningsih memegang lengannya, mencoba menenangkan putrinya. “Sudah, Maudy. Jangan dibesar-besarkan,” bisik Ningsih lembut, meskipun ia sendiri merasa tidak enak dengan kejadian itu.
Maudy menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Riko dengan pandangan penuh amarah yang ia tahan. “Lain kali hati-hati bawa mobilnya. Ini bukan jalan raya,” kata Maudy dingin sebelum berbalik pergi bersama ibunya.
Sementara itu, Riko hanya menggelengkan kepala sambil kembali ke mobilnya. Ia merasa tidak perlu meminta maaf atas kejadian tersebut, apalagi kepada gadis desa seperti Maudy. Bagi Riko, kejadian ini hanyalah hal sepele yang tak layak dipikirkan terlalu lama. Tanpa memikirkan perasaan Maudy, ia melanjutkan perjalanannya dengan santai.
Namun, bagi Maudy, kejadian itu meninggalkan bekas yang dalam. Bukan hanya karena pakaiannya yang kotor, tetapi juga karena sikap Riko yang meremehkan. Ia merasa sakit hati dan direndahkan. Baginya, Riko adalah contoh sempurna dari orang-orang kaya yang tidak peduli pada orang lain, hanya karena mereka hidup dengan segala kemudahan. Meski begitu, Maudy tidak ingin menghabiskan energi memikirkan Riko. Ia punya hal yang lebih penting untuk dilakukan: membantu ibunya dan memastikan Beni mendapatkan pendidikan yang layak.
Maudy menggerutu sambil membersihkan noda lumpur yang menempel di bajunya. Tangannya sibuk menyeka sisa-sisa kotoran, tapi pikirannya dipenuhi kemarahan. “Aku benar-benar benci sama dia,” gumamnya pelan namun penuh emosi. “Sombong, seenaknya… kayak semua orang harus tunduk sama dia.”
Matanya menatap tajam ke arah mobil Riko yang sudah menjauh, dan hatinya terusik oleh sikap acuh tak acuh pemuda itu. “Apa susahnya sih minta maaf dengan benar?” Maudy menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi bayangan wajah angkuh Riko terus terngiang di benaknya.
Setelah beberapa kali mengusap bajunya yang masih penuh dengan noda lumpur, Maudy akhirnya menyerah. Dia berdiri dengan kesal, merasa tak ada gunanya berusaha lebih keras untuk membersihkannya. “Percuma… lumpur ini nggak akan hilang hanya dengan diusap,” gerutunya.
Ia kemudian memandang ke arah pasar yang tidak terlalu jauh. Orang-orang di sekitarnya masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, seolah-olah tidak ada yang memperhatikan apa yang baru saja terjadi. Maudy menggigit bibirnya, rasa marahnya semakin memuncak.
“Kenapa sih orang kaya seperti dia selalu merasa lebih tinggi?” Maudy terus menggumam sambil berjalan menjauh dari tempat itu, menuju gerobak dagangan ibunya yang masih menunggu di pasar. “Nggak pernah ngerasain hidup susah, jadi mereka pikir semuanya bisa dibeli, termasuk minta maaf.”