Inti begitu bahagia dan antusias ketika menceritakan tentang Lettu Erlangga ke salah satu sahabatnya—Nurhidayah Sawira. Saat itu, mungkin Hidayah—panggilan akrab gadis itu—berpikir Inti tidak akan jatuh cinta lagi setelah mendapatkan pengkhianatan dari mantan kekasihnya. Mengenal Lettu Erlangga adalah suatu hal yang indah, sebab hanya terhitung beberapa bulan saja sejak berkenalan, tiba-tiba pria itu memberikan kejutan dengan melamar Inti ketika sedang wisuda. Perkenalan yang singkat, hanya selama KKN di Papua dan pertemuan secara tidak sengaja di kompleks para tentara.
Hidayah merupakan sahabat Inti yang selalu ada dalam suka maupun duka, mereka adalah dua orang yang unik. Baru mengenal satu sama lain selama empat tahun saat test masuk kuliah sebagai calon mahasiswi baru. Saat itu, Hidayah yang sedang berkeliling mencari ruang test FKIP, secara tiba-tiba Inti datang entah darimana dan menarik tangannya menuju ruang test. Hingga selepas kejadian tersebut, mereka menjalin persahabatan yang kuat seperti saat ini.
“I, beli obat yuk di warung! Atau mau ke apotik?” ajak Hidayah.
“Buat apa?” tanya Inti dengan polosnya.
“Kayaknya kamu perlu obat, stok obat di rumah abis ya? Soalnya dari tadi senyum-senyum sendiri, kan ngeri,” jawab Hidayah.
“Aku mau cerita, kamu mau dengerin nggak?”
“Kalau kamu cerita tentang mantan, mending nggak usah.”
“Nggak kok.” Inti kembali tersenyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa sih, I? Ih, senyum-senyum sendiri terus.” Hidayah balik bertanya, karena merasa aneh dengan tingkah Inti.
“Lagi seneng aja.”
“Seneng? Abis dapet lotre ya? Eh, iya aku lupa. Tadi ada Abang tentara yang ngasih amplop sama bunga, nih, sama coklatnya juga,” ucap Hidayah, “katanya buat kamu, cuma bukan dari dia, tapi dari atasannya. Coba kamu buka amplopnya, kayaknya ada surat. Baca aja,” lanjutnya.
Inti melihat apa yang Hidayah sodorkan pun menerima dengan baik.
“Siapa, I? Day kepo.”
“Nggak tahu, Day. Ini nggak ada namanya cuma ada inisial aja sama pangkat,” papar Inti sembari menunjukkan nama pengirim.
“Lettu E P?” beo Hidayah.
Beberapa saat kemudian, gadis itu langsung memekik. “Ah! Day tahu ini siapa, I! Lettu Erlangga Prasaja, bener nggak?”
Mendengar nama itu keluar dari mulut Hidayah, Inti pun langsung teringat akan seseorang yang dulu selalu berpapasan dengannya saat KKN di Papua. Ia juga teringat pada suatu pagi ketika akan berangkat mengajar seorang diri. Saat itu, sekolah—tempat Inti mengajar—bersebelahan dengan kompleks elit para tentara sehingga ia harus melewati kompleks tersebut untuk menuju ke sekolah dari kontrakannya.
Saat itu, Inti berjalan lebih cepat, karena hari sudah beranjak siang. Dia terlambat karena selepas salat Subuh tiba-tiba perutnya sakit. Ia meminta Hidayah berangkat lebih dulu. Saat melewati kompleks tersebut, beberapa tentara tengah berkumpul dengan berbincang sambil berdiri. Salah satu tentara, menatap Inti dan menghentikan langkah gadis itu.
“Hai, maaf mengganggu. Kamu kenal saya nggak?” Inti menatap ke arah pria itu dengan intens.
Setelah beberapa saat terdiam, Inti akhirnya mengingat bahwa pria itu adalah kakak dari Alice Prasaja—salah satu pembaca novel milik Hidayah—yang mengantar sang adik ke toko buku di salah satu mall.
“Iya, saya kenal kok. Maaf, ada apa ya, Pak?”
“Tidak ada, saya hanya berniat menyapa saja. Kamu mengajar di tempat anak saya sekolah ya?”
Inti mengangguk ragu. “Anak Bapak sekolah di SDIT itu juga?”
“Iya, anak saya sekolah di sana, baru masuk. Kelas 1A namanya Aina Erlangga Putri,” ujar Lettu Erlangga Prasaja.
Inti membelalakkan mata mendengar nama anak yang telah Lettu Erlangga sebutkan. Jadi, anak kecil yang sering datang sama aku dan Day dengan minta bantuan, padahal ada wali kelasnya, itu ternyata anak Pak Angga? Kenapa kebetulan sekali ya? Inti membatin.
“Hei, kenapa melamun?”
“Nggak, Pak. Aina itu sering meminta bantuan kepada saya atau Day. Pergi ke mana pun,” pungkas Inti, membuat Lettu Erlangga terdiam.
“Terima kasih ya, Aina dan kedua anak saya yang lain memang susah dalam bergaul, apalagi dekat dengan orang asing. Hanya orang tertentu saja yang bisa berdekatan dengan mereka bertiga. Mungkin ia merasa dekat dengan kamu dan Day,” jelas pria dewasa itu.
“Oh iya, kamu ada waktu nggak nanti sore? Saya mau ajak makan di kafe dekat sini. Saya ingin kenal lebih jauh, apa boleh?”
Inti tersenyum malu-malu. “Boleh, Pak.”
Terdengar klise memang, baru beberapa kali bertemu dengan Inti dan mengamatinya, Lettu Erlangga langsung tertarik, jatuh cinta.
“Ya sudah, saya nanti hubungi kamu. Tenang saja, Day ngasih nomor kamu lewat junior saya.”
Setelah pertemuan itu, Inti dan Lettu Erlangga menjadi akrab. Ke mana-mana selalu antar jemput, sehingga Inti merasa tidak enak kepada sahabatnya. Namun, Hidayah malah senang karena dengan begitu Inti bisa bahagia dan membuka hati untuk pria lain.
Mengingat kejadian kala itu, Inti pun tidak berhenti tersenyum. Selama ini Hidayah pun tahu kalau sahabatnya tersebut jatuh dalam pesona Lettu Erlangga. Saat itu adalah perjumpaan ke sekian kalinya, dan yang paling terkenang adalah pertemuan di mana ketika Inti jatuh dari motor.
“Hm, pasti lagi ngebayangin Pak Angga, makanya sampe senyum-senyum sendiri. Atau lagi inget sama kejadian pas nyungsep dari motor?” Hidayah tertawa bila mengingat kejadian lucu itu.
“Jangan diingetin, Day. Bikin malu! Mana banyak tentara lagi duduk, ngobrol gitulah. Kamu bukannya nolongin malah ngetawain!” gerutu Inti dengan raut wajah masamnya.
“Kalau nolongin sahabat lagi kesusahan, itu udah biasa. Nah, kalau ngetawain, itu luar biasa,” sahut Hidayah dengan tawa yang terus saja menghiasi wajah cantiknya.
“Ya udah, yuk!”
Cinta memang sulit. Tumbuh di waktu dan tempat yang tidak elit.