Memeluk Harapan Ibu

Memeluk Harapan Ibu

Mentari kembali menampakkan wajahnya di langit yang cerah pagi ini, kicauan burung-burung gereja terdengar begitu merdu di telinga. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang menimba air untuk persediaan minum. Dengan tangan yang begitu kurus tapi kokoh, dengan pandangan mata yang sudah tampak sayu, tetap menjalankan rutinitas seperti biasa.

Ibu Mirna, adalah seorang single parent yang sudah hampir 20 tahun ditinggal sang suami tercinta untuk menghadap sang Ilahi, suaminya meninggal karena kecelakaan. Bu Mirna memiliki anak semata wayang yang bernama Dinda yang sudah menginjak usia remaja, Dinda saat ini menempuh pendidikan di salah satu SMA yang ada di kotanya, di sekolahnya Dinda termasuk anak yang berprestasi dan mendapat beasiswa dari sekolahnya.

Dinda termasuk anak yang rajin dan penurut, setiap pulang sekolah, ia selalu membantu ibunya[4]  untuk jualan kue di pasar dekat rumah mereka. Ibu Mirna sangat ingin Dinda bisa sekolah tinggi dan kelak bisa menjadi dokter. Ya, itu adalah satu keinginan Bu Mirna  kepada anak semata wayangnya itu, tapi Bu  Mirna juga tidak memaksa Dinda untuk jadi apa yang Bu Mirna inginkan, semua keputusan ia serahkan ke anaknya mau jadi apa nantinya, yang terpenting bisa bermanfaat untuk orang lain.

Hari berganti hari terasa cepat berlalu, sebentar lagi Dinda sudah mau lulus sekolah, dan ia kini lagi fokus belajar untuk ujian yang kurang beberapa minggu lagi. Di sela-sela waktunya belajar, ia masih menyempatkan diri untuk membantu sang ibu menyiapkan keperluan untuk jualannya. Semakin hari, tubuh Bu Mirna tambah kurus serta kekuatan kakinya pun semakin hari semakin menurun. Hari ini, Bu Mirna jalan kaki ke pasar seperti biasanya, tapi tiba-tiba di pertengahan jalan, kaki Bu Mirna terasa lemas dan seketika Bu Mirna jatuh pingsan di pinggir jalan. Orang-orang yang lewat di situ  langsung membawa Bu  Mirna ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Dinda yang lagi ada tambahan jam di sekolahnya pun mendapat kabar bahwa sang ibu tercinta tadi jatuh pingsan di jalan. Tak menunggu lama, Dinda dengan perasaan khawatir langsung meminta izin gurunya untuk segera pulang, sesampainya di puskesmas, Dinda langsung memeluk sang ibu dengan deraian air mata yang membasahi pipinya. Tiba-tiba seorang bidan datang dengan membawa surat di tangannya.

“Permisi, saya mau menyampaikan sesuatu kepada keluarga Ibu Mirna”, kata bu bidan.

“Iya, Bu Bidan. Saya anaknya, ada apa dengan ibu saya, Bu?” tanya Dinda.

Bidan itu menarik napas panjang sebelum mengatakan maksudnya,  “Nak, ibu tidak bisa memastikan sakit ibumu itu karena untuk mengetahuinya, kita perlu alat medis yang lengkap, dan itu hanya ada di RS besar. Ini ibu buatkan surat rujukan untuk ibumu, “ jelas Bu Bidan sembari memberikan sebuah amplop kepada Dinda.

Dinda begitu takut dan khawatir mendengar penjelasan dari Bu Bidan.

Setelah sampai di rumah, Bu Mirna mencoba menenangkan sang anak agar tidak terlalu khawatir dengannya dan fokus belajar saja.

“Nak, ibu tidak kenapa-napa, ini hanya sakit biasa saja. Mungkin karena kecapekan jadinya ibu lemas, kalau sudah istirahat insha Allah baik lagi, kamu fokus belajar saja ya, sebentar lagi kamu mau ujian akhir,” pinta  sang ibu.

Dinda pun hanya diam, pikirannya sudah tidak fokus lagi, dia takut terjadi apa-apa dengan ibunya, karena hanya ibunya satu-satunya yang dia miliki sekarang.

Besok paginya, Dinda dan Bu Mirna pergi ke RS, setelah beberapa lama ibunya dicek  semua, kini tinggal menunggu hasilnya, 2 hari lagi hasilnya baru bisa keluar. Dalam penantian itu, Dinda dan Bu  Mirna hanya bisa berdo’a, semoga hasilnya semuanya baik-baik saja. Selama 2 hari ini Dinda izin dari sekolah untuk merawat sang ibu.

2 hari berlalu, kini saatnya Dinda dan Bu Mirna mengetahui hasil pemeriksaan, dan hasilnya adalah Bu  Mirna mengidap sakit kanker paru-paru stadium akhir. Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Dinda terasa lemas dan tak berdaya sama sekali. Air matanya sudah tidak bisa lagi ia bendung. Bu Mirna yang dari tadi diam ternyata diam-diam ia juga ikut meneteskan air mata, tapi langsung dengan cepat ia seka air matanya agar anaknya tidak melihatnya menangis.

Sesampainya di rumah, Dinda mencoba untuk tegar, ia tidak mau melihat ibunya sedih kalau melihatnya terus menangis, meskipun dalam hatinya begitu hancur dan sudah tidak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata betapa hancur hatinya. Dia bingung harus bagaimana, sebentar lagi dia akan mengikuti ujian akhir dan dia juga harus merawat ibunya yang sedang sakit.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, kini ujian akhir Dinda sudah di depan mata, besok adalah hari di mana segala lelah dan letihnya belajar Dinda akan dilepaskan semua, besok adalah hari di mana ujian akhir akan dilaksanakan. Dinda bingung dan khawatir dengan keadaannya sekarang, dia bingung harus melanjutkan untuk ikut ujian besok atau harus merawat ibunya yang memang akhir-akhir ini terus menurun kondisinya. Bahkan, hari ini saja Bu Mirna sudah tidak mampu lagi untuk menggerakkan tubuhnya, bicara pun sudah tidak bisa lancar seperti sebelumnya. Hati Dinda begitu perih dan hancur melihat kondisi ibu tercintanya yang kini sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi di satu sisi, ia juga ingin sekali mewujudkan harapan terbesar ibunya untuk bisa menjadi seorang dokter hebat dan bisa membantu mengobati banyak orang.

Bu Mirna yang menyadari kegelisahan anaknya ini pun  berkata kepada Dinda, ” Nak, ibu tidak apa-apa, ibu sudah ikhlas jika memang umur ibu sudah tidak lama lagi, dan ibu tidak mau di sisa umur ibu yang ibu pun tidak tahu sampai kapan ibu bertahan ini, ibu melihat anak ibu yang cantik ini sedih terus menerus. Ibu sangat yakin kalau Dinda kelak akan jadi dokter yang hebat yang bisa menolong orang-orang yang membutuhkan. Teruslah belajar yang rajin, Nak. Jangan tinggalkan shalatmu, dan jagalah diri dengan baik. Maafkan ibu yang selama ini tidak bisa membahagiakanmu dengan kehidupan yang layak, Nak. Ibu berdo’a  kehidupanmu nanti akan lebih baik dan pasti akan lebih baik dari harapan ibu, kejarlah cita-citamu dan jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain, Nak Dimanapun kamu berada. Sebenarnya ibu ingin sekali melihat anak ibu yang cantik ini sukses jadi dokter, ibu ingin melihat anak ibu ini nanti berdiri dengan memakai jas putih dengan kalung stetoskop yang menggantung di lehermu, Nak.” Dengan nafas yang sudah ter engah-engah Bu Mirna memberi pesan dan nasihat kepada anak tercintanya itu.

Dinda tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa menangis dari tadi mendengar pesan dan nasihat yang disampaikan ibunya itu. Dengan deraian air mata yang terus mengalir, ia mencoba membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kepada ibunya sambil menggenggam tangan ibunya yang kini terasa sudah mulai dingin.

“Ibu, Dinda janji sama Ibu Dinda akan berusaha sekuat Dinda untuk menjadi dokter dan bermanfaat untuk orang lain, Dinda akan berusaha keras untuk terus belajar agar Dinda bisa mewujudkan harapan Ibu untuk melihat Dinda memakai jas putih dan berkalung stetoskop di leher Dinda, Dinda tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Ibu dan Ayah selama  ini, dan satu lagi Dinda bangga punya Ayah dan Ibu di hidup Dinda, Dinda tidak pernah merasakan kemewahan tapi Dinda selalu merasakan kenyamanan bersama Ayah dan Ibu. Dinda sayang Ib- Saat ingin melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Dinda merasakan  ada sesuatu janggal dengan ibunya, seperti orang yang sedang sakaratul maut, sekuat tenaga Dinda berdiri di samping ibunya dan membacakan 2 kalimat syahadat di telinga ibunya dan Bu Mirna pun dengan suaranya terbata-bata melafalkan 2 kalimat syahadat itu. Saat sudah selesai kalimat syahadat itu berhenti di bibir Bu Mirna, berhenti pula napas Bu Mirna.

Dinda yang sudah mencoba menguatkan diri dari tadi kini ia langsung terduduk lemas di samping tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa. Air mata begitu deras mengalir di pipinya, bibirnya tak mampu berucap apa-apa selain kata innalillahi wa innaillaihi roji’un.

Setelah merasa sedikit tenang, Dinda memberitahukan kepada tetangga dekatnya untuk mengurus jenazah sang ibu.

Besoknya, dengan hati dan perasaan  yang masih hancur dan sedih, Dinda memutuskan untuk datang ke sekolahnya meskipun terasa begitu berat. Namun, semua perasaan sedih itu ia balut dengan pesan-pesan yang disampaikan ibunya kemarin sebelum meninggal, ia sudah berjanji kepada ibunya kemarin. Sekarang saatnya memulai untuk menepati janji itu.

Beberapa tahun kemudian, Dinda kini sudah menjadi dokter spesialis bedah, kini ia sudah menjadi dokter yang sukses. Hari ini, ia datang ke makam ayah dan ibunya, di samping makam orang tuanya air matanya  mengalir begitu deras mengingat 2 sosok yang begitu berjasa di hidupnya. Ia merasa sangat rindu kepada orang tuanya yang kini sudah menduhuluinya. Ia berbicara di samping makam kedua orang tuanya,

“Ayah, Ibu, sekarang Dinda sudah mewujudkan keinginan Ayah dan Ibu, Dinda bahagia sekali karena sudah bisa memenuhi harapan Ayah dan Ibu, tapi Dinda juga sangat sedih karena saat Dinda bisa mewujudkan harapan Ayah dan Ibu tapi Ayah dan Ibu tidak ada di samping Dinda lagi. Tapi Dinda janji, Dinda akan selalu berusaha untuk bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Ayah dan Ibu tenang saja, Dinda akan selalu ingat pesan dan nasihat Ayah dan Ibu, Dinda juga akan berusaha melaksanakannya. Terima kasih sudah menjadi orang tua Dinda, terima kasih sudah melahirkan Dinda ke dunia ini. Dinda selalu berdo’a agar kita bisa berkumpul lagi kelak di Surga-Nya. Ayah, Ibu, sudah dulu ya, Dinda harus balik ke RS lagi. Dinda akan sering mengunjungi Ayah dan Ibu ke sini.”

Setelah puas bercerita di samping makam orang tuanya, Dinda melanjutkan pekerjaannya. Begitulah Dinda jika ia sedang merindukan orang tuanya, ia sering pergi ke makam orang tuanya dan bercerita di sana, tak lupa ia selalu mendo’akan kedua orang tuanya agar selalu diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Karena sekarang ia tak mampu lagi memeluk tubuh kedua orang tuanya, ia hanya bisa memeluk harapan ibunya dulu semasa masih hidup.

 

error: Content is protected !!