Guardians of Kendan (Book One : ZAR - Key of Realms )

1. Dreams

The person with big dreams is more powerful than one with all the facts.

(Orang yang memiliki mimpi besar lebih kuat daripada seseorang yang memiliki semua fakta.)

-Albert Einstein

 

༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻

Banyak orang menjadikan mimpi atau angan-angan sebagai tujuan pencapaian hidup, tapi tidak bagai Tizar. Menikmati bejibun privilese membuatnya lupa akan impiannya, kecuali mimpi-mimpi buruk yang menggerogoti tidurnya belakangan ini. Begitu terasa nyata di raga, tak seperti biasanya, hanya sekadar bunga tidur yang gugur ketika sadar lalu terlupakan.

Semalam dalam mimpinya, Tizar berada di sebuah ruangan yang mengerikan, gelap dan dingin. Dindingnya sepergi dibangun dari tumpukan manusia dengan raut wajah menderita. Mereka seolah-olah hidup dan meminta tolong padanya untuk diselamatkan, membuatnya berlari ketakutan mencari jalan keluar. Hingga akhirnya ia masuk ke sebuah ruangan dengan singasana besar.

Seseorang—bukan, lebih tepatnya sosok atau entitas raksasa—sedang duduk di atasnya. Dengan tubuh 180 cm Tizar yang termasuk tinggi untuk ukuran manusia pun hanya sebatas mata kakinya lebih sedikit. Tampak kuku-kuku hitam dan panjang bagai cakar, senada dengan gelang kaki yang dikelilingi paku-paku logam runcing di pergelangan kakinya. Sambil menelan ludah, Tizar memberanikan diri menyapu pandangannya ke arah atas. Perlahan bola matanya bergerak naik menyusuri kaki, pinggang, dada, lalu mereka pun saling bertatapan ….

“Dua juta per orang, gimana, Zar?” tanya Beni menepuk kencang bahu Tizar. Seketika pikirannya kembali ke alam nyata.

“Hah, apaan?” Tizar bertanya dengan wajah bingung.

“Yaaah, lu nggak nyimak dari tadi?” Beni mengeluh sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Akhir-akhir ini lu kebanyakan bengong, Zar. Mentang-mentang mau sweet seventeen-an bentar lagi,” ujar Marcel, mencoba menahan tawa.

“Cie, cie, bentar lagi bungsunya mama udah lulus jadi remaja plus bonus KTP sama SIM, dong. Lulus status perjakanya juga nggak, Zar?” Kevin meledek sambil menyikut bahunya.

“Enggak penting, anj—” Tizar menggerutu.

“Terus, lu kenapa tadi kayak baru dari dunia lain? Mimpi buruk lagi?” tanya Beni, suaranya sedikit lebih serius kali ini.

“Ho’oh,” jawab Tizar singkat, sambil mengusap lehernya yang terasa dingin.

“Oh iya, Zar, kayaknya gue tahu gimana biar lu nggak mimpi buruk lagi …” Ableh menyelutuk dengan nada serius dan misterius, membuat mereka semua fokus kepadanya. “Ruqyah! Hahaha,” selorohnya.

“Bener, bener!” Mereka semua kompak membenarkan sembari tertawa.

“Kamvret lu, gue udah serius,” Tizar mendengkus kesal, tetapi wajahnya sedikit melunak.

“Udah, udah … fokus, Bros! Jadi gimana nih, Nura?” tanya Glen, mencoba mengalihkan perhatian.

Nura adalah salah satu cewek cantik di sekolah, anggota Klub Sejarah atau biasa disebut “anak KS”, tempat di mana anak-anak introvert dan nerd berkumpul, katanya.

Klub itu tidak memiliki banyak anggota, saat ini hanya tujuh orang ditambah satu guru sejarah, Pak Rahmat, sebagai pembinanya. Mungkin karena minat anak muda sekarang pada sejarah tidak sebesar pada klub modern dance yang membuat para siswa gerah.

Meskipun begitu, pesona Nura seakan berbeda. Selain cantik, prestasi akademiknya selangit, anak akselerasi. Sayangnya, ia terkenal jutek dan sulit didekati, terlebih dia adalah atlet pencak silat daerah. Membuat para cowok ketar-ketir.

Sebaliknya, bagi para anggota Rebellion Ego Xquad atau Geng REX, hal itu menjadi tantangan yang mendebarkan. Mereka haus akan perhatian dan pengakuan, juga hiburan.

Ya, karena hampir semua hiburan telah mereka kecap: gadget dan permainan canggih, jalan-jalan ke luar negeri, hingga ngeclub. Namun, semua itu justru membuat mereka bosan. Hidup seakan terasa hambar karena segala sesuatu sudah diatur, mulai dari pendidikan bahkan beberapa hingga pernikahan.

Setelah semuanya sepakat, “Nura Champion” pun dimulai dengan total hadiah 100 juta rupiah, dan mungkin masih akan bertambah. Hasil polling di grup WA sementara 50 anggota, baik dari siswa maupun alumni sudah ikut bertaruh.

Selain itu bagi anggota kelas XVII yang berhasil memacari Nura otomatis akan menjadi ketua geng menggantikan ketua saat ini yang tahun depan akan lulus. Uang dan kehormatan, siapa yang tidak tergiur, termasuk Tizar.

“Eh, tuh, tuh, si Nura mau ke fotokopian sama anak KS,” ujar Kevin, menunjuk dengan dagunya ke arah ruko yang berada tepat di seberang tempat mereka berkumpul.

“Nuuu … Raa,” sahut Ableh dengan nada menggoda.

Nura yang sedang digodain tak menoleh sedikit pun.

“Dih, dicuekin. Hati kangmas sakit nih,” kata Ableh, lalu memegang dadanya, bergaya kesakitan.

Mereka pun tertawa.

“Kamu yakin orang yang kamu lihat ada di antara Geng REX?” tanya Nura berbisik kepada Tania, sahabatnya.

“Iya, aku lihat cowok itu pakai jaket Geng REX, Ra,” jawab Tere sambil melipat tangannya.

Nura lalu mendelik sedikit ke arah Geng REX di Warjo, Warung Bejo. Warung dekat sekolah yang memang sudah “dijajah” sejak Rex didirikan, seakan menjadi warisan yang diturunkan dari senior ke junior.

“Lirikanmu itu, loh, Ra. Setajam pisau yang menghujam di jantungku,” gombal Marcel dengan wajah penuh gaya.

“Tumben lu jadi puitis,” ledek Beni. “Eh, si Tizar mana kok tiba-tiba ilang?” tanyanya menyadari Tizar yang tadi ada di sebelahnya menghilang

Sementara itu, Nura menggerutu dalam hatinya.

Males banget urusan sama mereka.

Tepat di saat fotokopian mereka selesai, Nura dan Tania pun berbalik. Namun, dahi Nura menabrak dada bidang yang tiba-tiba ada di depannya.

“Ti-Tizar,” kata Tere disamping Nura, matanya membulat. Sementara Nura hanya mengusap-ngusap dahinya yang tak benar-benar sakit.

“Hai, Nura, makin cantik aja, deh,” sapa Tizar sambil menyunggingkan senyum.

“Makasih, udah dari lahir,” jawab Nura ketus.

“Boleh minta nomor kamu nggak?” tanya Tizar dengan nada penuh percaya diri.

“Buat apa?” Nura membalas cepat.

“Aku mau ngundang kamu sama anak-anak KS ke pesta ulang tahun aku, biar aku bisa kasih info dan share loc-nya,” jawab Tizar santai.

“Ga perlu, kita—” Nura belum selesai berbicara ketika Tania menarik-narik kain ujung lengannya, membuat Nura menghela napas.

Ia mengerti maksud temannya dan mengalah, lalu menengadahkan telapak tangannya pada Tizar sembari membuang muka.

Refleks, Tizar membungkukkan badannya dan menaruh dagu di telapak tangan Nura, membuat orang-orang terperangah, termasuk Nura yang sesaat membeku karena tak siap dengan respon Tizar.

“Iih!” Nura buru-buru menarik dan mengibaskan tangannya. “HP kamu mana maksudnya??” bentak Nura, menyembunyikan kegugupannya.

“Oh, maaf, kirain kamu lagi ‘chin on palm’ challenge,” jawab Tizar polos sambil merogoh saku celananya. “Nih.”

Secepat kilat Nura mengetik nomornya di ponsel Tizar, lalu menggandeng lengan Tania mengajaknya pergi.

“Makasih, Nura! Dateng, ya!” teriak Tizar, wajahnya berseri-seri.

Yesss.

Sorak sorai ramai terdengar dari arah Warjo.

 

༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻

“Ballroom Hamilton hotel?!” seru Sekar, matanya melebar tak percaya saat membaca pesan di layar ponsel Nura yang berada di tengah meja di ruang KS.

“Ultah apa nikah tuh,” Bayu menggeleng pelan, lalu menoleh pada David sambil mengangkat alis. “Vid, bulan depan kamu ultah dirayain kaya gini juga, nggak?”

“Nope, paling gue traktir kalian aja ya, di cafe,” jawab David santai, sambil memainkan bolpoin di tangannya. Memang, David anak cindo tajir.

“Asiiiik,” Bayu bersorak sambil mengangkat tangannya.

“Yah, mereka kan dari dulu gitu,” ujar Raka, ketua Klub Sejarah, dengan suara datar. “Ulang tahun ke-17 jadi ajang pamer. Cuma biasanya kita gak pernah diundang.” Ia terkekeh kecil.

“Kak, kenapa?” tanya Tere lembut, memperhatikan perubahan ekspresi Teo yang tampak lebih pendiam dari biasanya. 

“Nggak apa-apa,” jawab Teo singkat, meski jelas terlihat ia menyembunyikan sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Memang rasa cemburu muncul ketika mendengar cerita Tania bahwa Tizar mengundang Nura ke perayaan ulang tahunnya. Namun, lebih dari itu, ada firasat tidak enak yang menyelimuti pikirannya.

“Pasti nanti bakal banyak anggota REX yang hadir,” kata Pak Rahmat dengan suara bass khasnya. “Mungkin kita akan menemukannya.”

Semua anak-anak KS menoleh pada Pak Rahmat serentak, mengerti maksud perkataan gurunya. Mereka mengangguk kompak, lalu mulai membereskan buku dan alat tulis mereka, bersiap pulang.

Sebelum mereka benar-benar meninggalkan ruangan, Pak Rahmat mengetuk meja, memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak. “Bapak ingatkan sekali lagi,” ucapnya dengan nada penuh perhatian. “Jangan lupa, sebelum tidur nanti, kalian berdoa lalu gunakan shield energi agar mereka tidak dapat memasuki mimpi kalian.”

Anak-anak KS mengangguk lagi. Sekilas, ekspresi mereka yang tadi ceria berubah menjadi lebih serius. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar acara ulang tahun mewah yang kini memenuhi benak mereka.

 

Bersambung.

Halo kamu—pembaca Novel Good—yang baik hati, salam kenal aku Mama Rin 💜

Semoga tulisanku bisa menghibur dan ada manfaat yang bisa kamu ambil di dalamnya. Kalau kamu suka, tolong bantu support dengan rate bintang (paling tinggi, ya, hehe), share cerita ini, dan berikan kritik serta saran dengan penyampaian yang baik.

Please, Aku benar-benar kepo banget sama pendapatmu!

Oh, iya, apa kamu pernah punya mimpi yang terasa nyata juga seperti Tizar? Bahkan hingga sekarang masih ingat apa mimpinya. Atau mungkin kamu punya impian besar yang ingin diwujudkan?

Yuk, Cerita dan komen kamu aku tunggu, DM aku di IG @dunia_rin yaa.

Mari berteman! 

Lates Chapters

11 Wounded Laughs

"I think the saddest people always try their hardest to make people happy because they know what it feels like to feel absolutely worthless and…

10. The Bubble Multiverse

"Our universe is actually a single bubble in a bubble bath of universes. This creates a multiverse of parallel universes." (Alam semesta kita sebenarnya adalah…

9. A Secret Door

Why do you stay in prison when the door is so wide open? (Mengapa kamu tetap tinggal di dalam penjara padahal pintunya terbuka lebar?) -…

8. Learning by Doing

"Ut est rerum omnium magister usus." ( Pengalaman adalah guru dari segala hal. ) - Julius Caesar   ༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻ Siswa SMA Kendan sedang sibuk belajar…

7. The First Step

千里之行,始于足下   (Perjalanan seribu li dimulai dengan satu langkah)   - Lao Tzu     ༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻   Rika akhirnya memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Tizar…

6. Not A Coincidence

"Everything that happens does so for a reason." (Segala sesuatu yang terjadi memiliki alasan.) - Aristoteles   ༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻ "Bleh, si Tizar ke mana? Kok nggak…

5. Another Realms

"If you accept that our universe is a mathematical structure, then you must also accept that other physically different worlds might exist out there in…

4. Disguise

لا تُخْبِرْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِي الْمَنَامِ  (Jangan kabarkan permainan setan kepadamu dalam tidur) -HR. Muslim: 2268 ༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻ "Hai, Tizar, gimana kabarmu?" Tizar membaca pesan…

3. A Wolf in Sheep’s Clothing

A false friend is more dangerous than an open enemy. (Teman palsu lebih berbahaya daripada musuh yang jelas.) -Francis Bacon   ༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻ Tizar bangun terperanjat,…

2. Bittersweet Seventeen

Growing old is mandatory, but growing up is optional. (Menjadi tua adalah sesuatu yang tak terelakkan, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.) -Walt Disney   ༺═────ᮊᮨᮔᮓᮔ────═༻…
error: Content is protected !!