Cinta Hanya Sebatas Kontrak

Bab 1. Gosip Alvarendra dengan Alisa

Breaking news Alvarendra pria tampan dengan sejuta pesona yang memikat kaum hawa, selain tampan dia juga kaya raya selama ini menjabat sebagai CEO FR GROUP. Dikabarkan sedang dekat dengan seorang artis cantik yang sedang naik daun yaitu Alisa. Bahkan kabar terbarunya FR GROUP baru saja membeli salah satu unit apartemen di Grand Luminor untuk Alisa. Gosip tentang Alvarendra dengan Alisa selalu menjadi trending topik, bahkan tidak sedikit orang yang mendukung hubungan mereka.

“Alvarendra dan Alisa sangat cocok, mereka benar-benar pasangan yang serasi.”

“Aku dukung mereka sampai ke pelaminan!”

“Bagaimana dengan istrinya, apakah Alvarendra akan menceraikan?”

“Aku hampir lupa kalau Alvarendra sudah menikah, padahal sudah dua tahun menikah tapi istrinya tidak pernah muncul ke publik.”

“Aku yakin Alvarendra menikah karena urusan bisnis tidak ada cinta sama sekali, sebentar lagi mereka pasti bercerai.”

“Menurutku juga begitu, wanita yang dicintai oleh Alvarendra hanyalah Alisa. Bahkan demi Alisa, Alvarendra rela membeli apartemen di Grand Luminor yang merupakan apartemen elit.”

“Apa sama sekali tidak ada yang merasa kasihan dengan istrinya Alvarendra. Meskipun mereka menikah karena urusan bisnis, sebagai sesama wanita aku turut prihatin dengannya karena setiap hari harus melihat suaminya digosipkan dengan wanita lain. Harus sesabar apa dia?”

Aretha yang kebetulan lewat di dekat mereka tentu saja mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Dia berusaha tetap tenang tidak terpengaruh dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Aretha adalah istrinya Alvarendra, pernikahan mereka terjalin demi keuntungan dua belah pihak. Dua tahun yang lalu perusahaan ayahnya Aretha mengalami kebangkrutan, karena hal tersebut ayahnya Aretha memutuskan untuk bunuh diri. Penyakit jantung yang diderita oleh ibunya Aretha kambuh setelah mengetahui suaminya bunuh diri. Di saat Aretha terpuruk Alvarendra datang mengulurkan tangan ke arahnya.

“Menikahlah denganku! Aku butuh seorang istri yang penurut dan tidak suka membuat masalah.”

“Baiklah aku akan berusaha menjadi istri seperti kamu inginkan.” Aretha menerima uluran tangan Alvarendra.

Sejak saat itu Alvarendra menikah dengan Aretha, tidak ada resepsi pernikahan mewah. Pernikahan mereka hanya sekedar formalitas saja di hadapan keluarga Alvarendra, sehingga tidak banyak yang mengetahui pernikahan mereka. Hanya keluarga Alvarendra serta teman dekatnya yang mengetahui pernikahan mereka. Meskipun tidak ada resepsi pernikahan mewah, pernikahan mereka tetap sah secara hukum.

Kedatangan Alvarendra dalam hidup Aretha bagaikan malaikat penolong. Setelah menikah dengan Alvarendra, Aretha tinggal di villa Grand Luxury tidak perlu lagi tinggal di kontrakan sederhana yang hanya satu petak. Selain itu dia juga tetap bisa melanjutkan kuliahnya.

“Aku menikah dengan Alvarendra demi keuntungan, karena itu aku tidak berhak ikut campur urusan pribadinya.” Batin Aretha berusaha menghibur dirinya sendiri.

Aretha berjalan masuk ke dalam supermarket begitu saja, terlalu malas mendengar gosip suaminya dengan Alisa. Dengan cepat dia mengambil beberapa bahan makanan serta sayuran, di dalam supermarket Aretha masih bisa mendengar beberapa orang membicarakan tentang gosip Alvarendra dan Alisa.

“Aku istrinya Alvarendra tapi kenapa berasa menjadi simpanannya.” Aretha berujar di dalam hatinya merasa miris dengan status dirinya yang tidak lain adalah istrinya Alvarendra.

Setelah membayar barang belanjaannya Aretha keluar dari supermarket lalu kembali ke villa Grand Luxury. Dia merasa heran melihat pintu villanya sedikit terbuka.

“Kenapa pintunya terbuka, bukankah tadi aku sudah menguncinya?” Monolong Aretha dalam hati merasa heran. Dia membuka pintunya semakin lebar lalu masuk ke dalamnya, terlihat seorang pria berdiri membelakanginya.

“Mas Alvarendra sudah pulang tanpa memberi tahuku terlebih dahulu? Padahal aku baru saja belanja belum sempat masak.” Aretha berujar dalam hati merasa heran melihat suaminya sudah pulang tanpa memberitahunya terlebih dahulu, padahal hari masih sore dia juga baru saja belanja bahan makanan dan sayuran belum sempat masak.

“Mas, kenapa sudah pulang?” Aretha bertanya kepada pria yang sedang berdiri membelakanginya, pria tersebut merupakan Alvarendra suaminya. Alvarendra membalikkan badannya mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Aretha.

“Kenapa kamu kelihatan tidak senang mas pulang?” Alvarendra mengerutkan keningnya berjalan menghampiri Aretha.

“Tentu saja senang, Mas pulang lebih cepat dibandingkan dengan biasanya.” Aretha memeluk suaminya, perlahan mendongak menatap wajah suaminya berusaha tersenyum ke arahnya.

Bukankah sebagai seorang istri dia harus menyenangkan suaminya, apalagi selama ini Alvarendra sudah memberikan banyak uang kepadanya.

“Kamu menggoda suamimu?” Alvarendra tersenyum penuh arti menatap wajah istrinya. Aretha yang menyadarinya berusaha memalingkan wajahnya menghindari tatapan Alvarendra yang ditunjukkan ke arahnya.

“Apa salahnya seorang istri memeluk suaminya sendiri?” Alvarendra menaikan salah satu alisnya mendengar pertanyaan Aretha.

“Sekarang kamu semakin lengket dengan mas?” Alvarendra tersenyum ke arah Aretha. sedangkan Aretha memutar bola matanya malas mendengar ucapan Alvarendra.

“Apa hari ini mas tidak menemani Alisa?” Aretha mendongak menatap wajah suaminya. Dari gosip yang beredar hari ini Alvarendra sedang berkencan bersama dengan Alisa.

“Kenapa, kamu cemburu?” “Mana ada, aku harus selalu dalam suasana hati yang baik.” Aretha melepaskan tangannya yang sedang memeluk suaminya.

Dibanding dengan cemburu Aretha lebih sadar diri siapa dirinya.

“Sayang, kamu hamil?”

“Bukankah seharusnya Mas yang lebih tahu aku hamil atau tidak?” Bukannya menjawab pertanyaan Alvarendra, Aretha justru balik bertanya.

“Apa kamu ada rencana memberikan mas seorang anak?” Alvarendra menatap ke arah Aretha menunggu jawaban darinya. Aretha terkejut mendengar pertanyaan Alvarendra, namun dengan cepat merubah kembali ekspresi wajahnya.

“Anak? Sejak awal aku hanya setuju menikah dengan Mas. Jika Mas menginginkan seorang anak, tentu saja beda lagi harganya.”

“Belanja sesuka hatimu dengan kartu pembayaran yang sudah mas berikan untukmu!” Alvarendra mengulurkan tangannya meraih pinggang Aretha lalu menariknya agar merapat dengannya. Salah satu tangannya bergerak mengusap pipi Aretha dengan lembut.

“Baiklah jika Mas bisa membuatku hamil maka aku akan mempertahankannya.” Aretha tersenyum ke arah Alvarendra.

“Jika pada akhirnya kamu tidak menginginkannya maka aborsi sangat menyakitkan.” Ujar Alvarendra mengingatkan.

“Aku tidak tahu Mas akan pulang secepatnya ini, jadi aku belum sempat menyiapkan makan malam. Kalau begitu aku akan masak terlebih dahulu.” Aretha melepaskan tangan Alvarendra yang melingkar di pinggangnya.

“Kamu tidak perlu masak untuk makan malam, ibu mengundang kita untuk makan malam di rumahnya.”

DEG

Aretha tampak terkejut mendengar ucapan Alvarendra, bahkan kedua matanya sampai membulat sempurna. “Ha! Rumah ibu?”

Lates Chapters

Bab 43. Ending

"Aretha, ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu."   "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, hubungan kita sudah berakhir. Silahkan pergi dari sini!" Usir Aretha,…

Bab 42. Kembali bertemu

Lima tahun berlalu kini Aretha tidak lagi sendirian ada seorang anak laki-laki yang bersama dengannya. Yaitu anak laki-laki yang lahir dari rahimnya, anak dirinya dengan…

Bab 41. Lembaran baru

Alvarendra berjalan dengan cepat keluar dari restoran lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa secepatnya sampai di apartemen untuk…

Bab 40. Berakhir sudah

"Mungkin seperti ini jauh lebih baik, Aku menikah dengan Alvarendra demi uang agar tetap bisa melanjutkan kuliah serta membiayai pengobatan ibu. Sekarang aku sudah lulus…

Bab 39. Cerai

"Aretha!" Panggil Evan membuat Aretha mengangkat pandangannya menatap ke arahnya.   "Iya Kak?"   "Kenapa nggak dimakan soto ayamnya?" Tanya Evan melihat soto ayam di…

Bab 38. Selamat jalan Ibu

Evan yang melihatnya segera menahan tub uh Aretha sehingga tidak jatuh ke lantai, mengangkatnya ke dalam gendongannya. Dia membawa Aretha menuju ruang rawat.   "Aretha…

Bab 37. Sia-sia

Dari awal sampai akhir aku tidak pernah berpikir untuk mengakuisisi HR GROUP secara menyeluruh. Kontrol mutlak merupakan strategi FR GROUP terhadap HR GROUP kali ini.…

Bab 36. Alvarendra vs Ariana

Breaking news   FR GROUP berhasil mendapatkan lebih dari 50% saham HR GROUP. Secara resmi mengambil alih kepemilikan perusahaan tersebut dengan kepemilikan saham mutlak.  …

Bab 35. Diam-diam perhatian

Alvarendra meminta Fano untuk datang ke ruangannya.   "Iya Pak, ada apa?" Fano bertanya kepada Alvarendra setelah berada di dalam ruang CEO.   "Mari kita…

Bab 34. Dilema

Mobil yang dinaikki oleh Aretha melaju dengan kencang menuju apartemen Grand Luminor.   "Jadi Aretha sekarang tinggal di sini." Gumam Evan lirih melihat Aretha masuk…

Bab 33. Aretha vs Ariana

"Jadi maksudmu Alvarendra mengajakmu ke ruangan VIP, lalu di sana kalian bertemu dengan Ariana?" Tanya Tasya kepada Aretha setelah mendengar cerita yang diucapkan olehnya.  …

Bab 32. Pelakor

"Nggak perlu dibahas lagi! Bukankah hubungan kita sudah berakhir?" Aretha membalikkan badannya berjalan keluar dari ruang rawat ibunya, meninggalkan Evan yang masih berada di sana.…

Bab 31. Ibu

"Tinggal di apartemen Grand Luminor lebih dekat dengan kampus, mall, supermarket dan sebagainya. Kalau di Villa Grand Luxury mau kemana-mana jauh." Terang Aretha menjelaskan.  …

Bab 30 Cerai?

"Setelah masalah akuisisi HR Group selesai aku akan membahas hubunganku dengan Aretha."   "Kamu akan menceraikannya? Jangan terlalu sadis bagaimanapun juga dia sudah menemanimu selama…

Bab 29 Aretha sakit

Semalam Alvarendra tidur di kantor sampai pagi. Dia mengambil hpnya memeriksa panggilan serta pesan yang masuk ke dalamnya, namun dari sekian banyak panggilan serta pesan…

Bab 28 Marah

Alvarendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, bahkan sampai menyalip beberapa kendaraan yang kebetulan melintas di sana.   "Mas, berhenti!" Aretha memijat pelipisnya yang berdenyut, kepalanya…

Bab 27 Mengubur perasaan

Aretha sudah berada di depan mall menunggu kedatangan Tasya. Mendengar suara seseorang memanggil namanya Aretha segera menoleh ke arahnya. "Aretha!"       Terlihat Tasya…

Bab 26 Pindah tempat tinggal

"Dari awal aku sudah tahu kalau akan berakhir seperti ini, kenapa juga aku harus bersedih." Monolog Aretha dalam hati.   Aretha baru saja pulang dari…

Bab 25 Patah hati

Aretha yang sedang menyiapkan sarapan segera menoleh ketika mendengar suara langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Terlihat Alvarendra berjalan menghampirinya.   "Mas, sarapan dulu!"  …

Bab 24 Kado Anniversary

"Ayo pergi!" Alvarendra menarik pergelangan tangan Aretha agar mengikutinya keluar dari restoran lalu masuk ke dalam mobil.   "Mas, kamu terlalu romantis menyuruh istrinya menjual…
error: Content is protected !!