Mansion Red Pack
“Kita harus membunuh anak itu. Kau paham?”
“Tapi … tapi anak itu tidak berdosa, Igor.” Anura menangis tersedu membayangkan bagaimana bisa dia membunuh cucunya sendiri.
“Dia adalah sebuah dosa. Dosa yang terulang.” Igor langsung memasang mimik marah sekaligus takut. Sebuah kutukan akan terjadi di depan matanya. Kutukan pada pack akhirnya menjadi nyata.
Semua yang ada di ruangan itu terlihat diam. Bagaimanapun yang Igor bicarakan adalah anak dari Alpha mereka. Pemimpin mereka. Bagaimana bisa mereka membunuh anak seorang Alpha?
“Apakah tidak ada cara lain selain membunuh?” tanya Anura. Dia sudah teramat sakit hati hanya karena kutukan bodoh yang tertulis di kitab suci mereka. Anura membencinya, dia bahkan benci dilahirkan sebagai penyihir yang bertugas melindungi pack merah. Pack Merah adalah pack tertua dan terkuat di antara semua pack.
Igor mendekati Anura dan mulai bersimpuh dibawah kaki istrinya.
“Maafkan aku, Sayang. Aku tidak menyangka akan begini. Aku tidak tahu kutukan ini terjadi pada anak kita. Oliver, maafkan ayah. Ayah bersalah padamu.” Igor menangis dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh Anura selain ikut menangis bersama suaminya. Anura melihat awan suram pada pack mereka untuk pertama kali.
“Igor. Di mana Oliver sekarang? Kurasa dia harus diberi peringatan tentang ini sebelumnya?” Ujar Louie-panglima tinggi pack mereka. Louie tahu saat ini keadaan Igor dan Anura tidak baik-baik saja. Bahkan keadaan pack mereka tidak akan baik sampai mereka mendapat petunjuk dari Dewi mereka. “Apa kau sudah mendapat mimpi dari moon goddess, Anura?” tanyanya lagi.
Igor mengusap air mata dan menatap pada Louie. Dia tidak sanggup berdiri sehingga Louie membantu Igor berdiri. Bagaimanapun Igor tetap kakaknya. Sebagai adik dan juga panglima pack, Louie menjadi orang di garda terdepan untuk melindungi pack dan juga keluarganya.
“Aku tidak mendapat mimpi atau firasat apa pun, Louie.” Anura menjawab dengan mata nanar. Tampak kekecewaan di matanya. Dia masih berharap ada jalan keluar dari masalah ini.
Louie tampak diam dan berpikir sejenak. Lalu dia melihat ke Igor lalu berakhir menatap Anura.
“Anura. Kau kira bibimu tahu tentang hal ini? Bagaimanapun kalian adalah keturunan penyihir terakhir pack merah.” Louie berharap banyak bahwa akan ada jawaban dari Bibi Anura yang terkenal dengan kehebatan sihirnya.
“Seharusnya aku tak memaksakan kehendakku untuk bersamamu, Anura.” Igor dengan lemah berucap. Mengingat penyesalan yang sekarang sudah tidak ada lagi artinya.
“Hetikan Igor. Kita saling mencintai dan moon goddess menyetujui pernikahan kita.” Anura tidak menyangka Igor akan mengucapkan hal itu kembali. Anura langsung mengingat kisah cintanya dengan Igor yang tragis dan berbahaya.
“Tetapi tetap saja. Kita yang bersalah, Sayang. Oliver adalah darah kita dan kutukan itu terjadi karena Oliver menikahi seorang manusia.”
Anura terdiam. Dia tahu bahwa kutukan inilah yang tertulis dalam perjanjian Pack merah dengan penyihir yang membantu mereka memenangkan peperangan merah.
“Aku sangat tahu hal itu, Igor. Aku tahu bahwa semua ini sudah tertulis di perjanjian itu. Tapi kita tidak bisa menyalahkan Oliver jika selama ini dia tidak menemukan mate yang seharusnya.”
“Harusnya aku membunuh Alexandra sejak awal.” Ujar Igor penuh amarah.
***
Alexandra
“Jadi Alex? Kau akan menerima tantangan untuk berkencan secara random?”
“Apa maksudmu?” tanyaku balik pada Steven. Salah satu sahabat yang menginginkan aku menerima tantangan mereka setelah permainan truth and dare yang sedang kami mainkan.
“Itu tantangan. Instal aplikasi kencan Forcelove,” ujar Steven dengan senyuman iblisnya.
“Astaga. Aku tidak mau, nama aplikasi itu saja sudah membuatku mual. Apa aku sedepresi itu untuk main dengan aplikasi kencan?”
Mereka tidak menjawab dan hanya menatapku dengan tatapan yang mengatakan iya. Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu. Aku selalu gagal dalam menjalani hubungan meski aku cantik dan seksi.
“No … I won’t do that stupid dare!”
“Why not? It’s just stupid game like u said.”
Aku tahu mereka benar-benar menantangku dengan memutar semua ucapanku. Ucapanmu harimaumu. Peribahasa itu sekarang tertuju padaku.
“Oke. Why not?” akhirnya aku menyerah. Pantang bagiku menyerah dengan mereka.
“Nah … That’s our girl! Go have sex … go have sex …” Steven and Nate langsung teriak kegirangan, begitu juga Mia. Mereka berteriak seperti orang gila. Untung saja kami berada di private room sekarang ini.
Nate dan Steven langsung membuka celananya dan menari streaptease, sedangkan Mia memegang ponselnya untuk merekam aksi gila Steven dan Nate. Dua lelaki gila yang akan siap membully kami selama setahun penuh, jika tidak berani menerima tantangan dari permainan ini.
Mereka semua adalah sahabat yang kubenci dan kucinta. Bagaimana lagi? Aku hanya memiliki mereka sebagai teman untuk melepas penat. Hidupku memang semenakutkan itu. I’m old and alone. Dan aku sudah lama tidak bercinta. Aku pulang dan merebahkan diriku di bed dan merasa lega karena aku sungguh lelah.
Setelah permainan gila itu, aku langsung melihat aplikasi FORCELOVE. Oh please, Alex! Aku menghujat diriku sendiri karena melakukan hal gila ini. Tapi aku juga penasaran. Apakah kencan online itu benar berhasil atau tidak. Para teman-teman gilaku itu bilang, jika aku beruntung, aku akan mendapatkan pasangan yang lumayan.
Aku membuka aplikasi itu dan mendaftar sebagai pengguna. Aku disarankan membuat nama samaran yang jika aku lihat di profil lain, mereka memakai kata-kata vulgar dan nakal. Mungkin tujuannya membuat orang lain penasaran sehingga langsung chat. Aku membuat namaku sebagai Xasy. Meski geli, aku memakai nama itu. Terdengar bitchy.
Selanjutnya mereka meminta fotoku. Dan sebagai perbandingan aku melihat foto profil lain yang ditampilkan apk itu. Semuanya luar biasa seksi dan banyak yang menampilkan foto setengah telanjang. Mengundang siapa pun untuk mengajak kenalan. Palsu atau asli tidak ada yang akan bertanya selama saling nyaman selama dan saling memuaskan satu sama lain.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk memasang fotoku dan Leslie. Anjing kesayanganku yang bermata bulat. Aku ingin dikenal sebagai wanita nyata meski bermain di dunia maya.
Saat mengisi jenis pekerjaan, aku tidak yakin akan mencantumkan penulis sebagai profesiku. Tapi aku tidak ingin mengarang cerita hidupku agar disukai orang lain juga. Semakin jauh aku mengisi profil ini semakin aku malas dan merasa putus asa. Aku merasa bodoh dan ini bukan diriku sama sekali.
Apa yang aku lakukan sebenarnya? Tidak ada yang menarik dariku sama sekali. Aku hanya buang waktuku dengan melakukan kegilaan ini. Lebih baik aku tidur agar segar besok hari, aku tidak mau tampak lelah saat menyambut bos baruku.
Tring …
Tring …
Aku melepas Headset dan melihat notifikasi dari simbol Hati berwarna biru.
“Forcelove?” tanyaku dalam hati.
Aku membuka aplikasi itu dan mulai melihat satu pesan masuk ke akunku.
“DM-Owe. Kurasa ini menarik.” Aku membuka kolom chat dan melihat salam dari seseorang yang berinisial DM-Owe.
“Hai, namaku Oliver. Pic-profile mu tampak alami. Dan aku suka anjingmu.”
Aku masih membaca pesan yang dia tulis di kolom chat itu sambil tersenyum sendiri. Oliver, aku yakin dia lelaki, semoga dia benar lelaki. Aku mengklik profil nya dan aku tidak melihat info apa pun selain foto punggungnya saja. Dia hobi lari sepertinya.
Apakah harus aku balas? Kurasa aku harus membalasnya karena aku terlihat online di layar. Rasanya tidak sopan bersikap acuh.
“Hai juga. Kau bisa panggil aku Alex. Kau suka anjingku?”
“Ya. He is cute.”
“Memang.”
Hening … kurasa dia mulai bingung mau memulai bahan pembicaraan. Aku pun tidak begitu lihai menjadi ice breaker. Apa dia salah satu orang yang ‘lumayan’ seperti yang dikatakan Steven dan Nate?
“Aku tidak pandai berbasa-basi. Aku hanya lelaki dewasa yang ingin kencan denganmu.”
Wah! Lelaki yang menarik. Biasanya akan butuh waktu lama bagi seorang lelaki untuk meminta wanita kencan. Tapi dia memintanya begitu saja. Mungkin karena kami memang sengaja bertemu lewat aplikasi ini.
“Baiklah. Brown Cafe besok pukul 9 malam. Jika kau bisa?”