THE SERIES : NUNA ANAK KOMPLEK

Boneka Berpita Pink

Mentari pagi menembus jendela kamar mungil yang dihiasi stiker kupu-kupu dan bintang warna-warni. Di sudut kamar, NA duduk di depan cermin kecil yang menempel di lemari pakaian. Tangannya sibuk menyisir rambut boneka pink kesayangannya. Boneka itu mengenakan baju kelinci dan memiliki pita kecil di telinganya. Namanya Lala.

“Lala cantik banget hari ini!” ucap NA sambil mencium pipi bonekanya. “Hari ini kita main di taman, ya. Tapi kamu harus kelihatan rapi, soalnya nanti ketemu Kak NU.”

NA, bocah perempuan berusia tujuh tahun itu, punya imajinasi tinggi. Baginya, Lala bukan sekadar boneka. Ia adalah sahabat sejati, teman bicara, bahkan ‘adik kecil’ yang selalu diajaknya ke mana pun pergi.

Di sisi lain kamar, NU, kakak perempuannya yang berusia sepuluh tahun, tengah duduk tenang di meja belajar. Ia mengenakan bando biru dan sedang membaca buku dongeng sambil sesekali menulis sesuatu di buku catatannya.

NU memperhatikan adiknya dari balik kacamata mungil yang baru saja dipakainya seminggu lalu. Melihat NA yang berbicara dengan bonekanya membuat NU tersenyum.

”NA, kamu sudah dari tadi ngobrol sama Lala. Dia pasti capek tuh dengerin kamu terus,” ujar NU sambil terkikik.

NA memelototkan mata kecilnya. “Enggak, Kak! Lala suka kok dengerin aku. Dia boneka paling pengertian.”

NU bangkit dari kursinya dan duduk di ujung tempat tidur NA. Ia memiringkan kepala, menatap boneka pink yang tampak lemas di pelukan adiknya.

“Lala emang cantik. Tapi jangan terlalu posesif dong. Nanti kalau teman kamu mau lihat atau pinjam Lala, kamu mau berbagi nggak?”

NA langsung mengeratkan pelukannya. “Nggak boleh! Lala cuma buat NA!”

NU mengangkat alis. “Wah… berarti Lala cuma boleh temenan sama kamu? Dia nggak boleh kenal orang lain?”

NA terdiam. Ia tampak bingung, tapi tetap bersikeras. “Tapi… nanti kalo orang lain bawa pulang Lala gimana? Atau kotorin bajunya? Atau… atau malah ngunyah tangannya?”

NU tak bisa menahan tawa. “Hahaha, NA, itu boneka, bukan permen! Lagipula, kalau kamu sayang sama sesuatu, bukan berarti kamu harus menyimpannya terus-terusan. Kadang, berbagi juga bikin kita makin dekat sama orang lain.”

NA mengernyit. “Tapi aku takut, Kak.”

NU menepuk pelan bahu adiknya. “Wajar kok takut kehilangan. Tapi percaya deh, rasa sayangmu akan makin besar kalau kamu bisa berbagi. Nggak sekarang juga sih. Tapi suatu saat nanti, kamu pasti ngerti.”

NA menggigit bibir, lalu memandangi Lala dengan pandangan campur aduk. “Lala, kamu mau dibagi ke orang lain nggak?” tanyanya pelan.

NU tersenyum dan berdiri. “Yuk, kita bantu Ibu bikin sarapan. Abis itu, kita main di taman bareng Lala.”

NA mengangguk kecil, lalu mengecup kepala bonekanya. “Ayo, Lala. Hari ini kita main, tapi kamu harus janji… jangan ninggalin NA.”

Mereka berdua pun turun ke dapur, meninggalkan kamar yang dipenuhi sisa-sisa percakapan hangat antara kakak dan adik—percakapan sederhana yang diam-diam mengajarkan tentang cinta, kepercayaan, dan berbagi.

error: Content is protected !!