- Bab 1. Pertemuan yang Tak Terduga
Pagi itu, koridor SMA Gemilang sudah riuh rendah seperti pasar tradisional saat jam sibuk. Bisikan-bisikan renyah siswi-siswi berpadu dengan deru langkah kaki yang tergesa. Aroma parfum manis berbaur dengan bau buku lama, menciptakan sensasi yang bagi sebagian orang menenangkan. Hanya saja, bagi Olivia Claudine, justru terasa menyesakkan.
Gadis itu melangkah santai, tangannya memegang tali ransel yang tersampir di bahu kiri, sementara telinganya disumpal earphone yang menyenandungkan musik indie kesukaannya. Ia membiarkan melodi itu mengurung dunianya sendiri, menjauhkan segala keramaian dan gosip tak penting.
Seragam putih abu-abunya ia kenakan sekenanya. Kemeja putihnya tak sepenuhnya rapi; dua kancing teratasnya sengaja dibiarkan terbuka, dan dasi yang seharusnya terikat sempurna hanya menggantung longgar di lehernya, seolah keberadaannya hanyalah formalitas semata.
Sebuah celana bahan abu-abu yang sedikit longgar bukan rok lipit yang diwajibkan ia padukan dengan sepatu kets putih kesayangannya yang sedikit lusuh di bagian ujung.
Olivia tak pernah peduli dengan tatapan aneh atau bisikan di belakang punggungnya. Ia nyaman dengan dirinya, dengan gaya tomboynya yang jauh dari kesan feminin.
Beberapa siswi yang berkerumun di depan mading sekolah sontak membubarkan diri memberi jalan saat Olivia lewat, bukan karena takut, melainkan karena enggan berurusan.
Olivia hanya melirik sekilas, kemudian kembali menatap lurus ke depan. Pikirannya tidak sedang di pelajaran matematika atau gosip terbaru tentang guru BK. Ia hanya ingin hari ini cepat berlalu.
Ia terus berjalan, melewati hiruk pikuk yang semakin ramai menjelang bel masuk. Tujuannya hanya satu: loker miliknya tempat di mana ia bisa menyimpan ransel beratnya sebelum memulai hari yang panjang.
Aroma kopi dan roti yang berasal dari kantin samar-samar tercium. Akan tetapi, tak cukup kuat untuk menarik perhatiannya.
Olivia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya, agar bisa menghilang ke sudut kelas, tempat ia bisa menikmati ketenangan semu yang ditawarkan oleh buku-bukunya.
Tak jauh dari sana, di area lapangan basket yang kini mulai terisi beberapa siswa yang melakukan pemanasan, Alfian Zakyandra sedang bersandar santai di tembok bercat abu-abu.
Ia dikelilingi oleh sekelompok teman-temannya beberapa cowok dari tim basket, dan beberapa gadis yang terang-terangan menunjukkan kekaguman mereka. Kemeja putihnya terlihat pas di tubuh atletisnya, dasinya terikat sempurna tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar dan rambutnya tertata rapi seolah baru saja disentuh penata gaya profesional.
Setiap gerakannya memancarkan aura karisma yang sulit diabaikan.
Senyum tipisnya yang sering ia tebar adalah senjata ampuh untuk menaklukkan hati para gadis di SMA Gemilang. Ia terbiasa dengan bisikan kagum dan tatapan memuja.
Baginya, sekolah adalah panggung, dan ia adalah bintang utamanya.
Para gadis yang lewat tak jarang mencuri pandang, beberapa bahkan berani menyapa dengan rona merah di pipi.
Alfian hanya membalasnya dengan anggukan kecil atau kedipan mata yang membuat mereka histeris tertahan.
“Tadi malam kamu jadi ke kafe itu, Yan?” tanya Kevin, teman dekatnya, menyenggol lengan Alfian.
Alfian tersenyum simpul. “Tentu saja. Kenapa? Apa aku ketinggalan berita?” Nada suaranya santai, tetapi penuh percaya diri. Ia selalu berhasil membuat dirinya menjadi topik pembicaraan.
Kevin menggeleng pelan dan menyenderkan dirinya. “Pantesan sih, banyak wanita cantik di sana heboh melihatmu datang,” ujarnya dengan menaik-turunkan alis.
Alfian tersenyum renyah dan merangkul Kevin. “Begitulah, kan mereka tidak akan bisa menolak ketampananku.”
Kevin menanggapinya hanya tertawa kecil dan mengangguk.
Pagi itu, ia hanya ingin mencari sedikit hiburan, mungkin menggoda satu-dua gadis baru, atau sekadar menikmati popularitasnya yang tak pernah pudar.
Ia melirik jam tangannya dan melepas rangkulan dari Kevin. “Aku duluan, Vin.”
Kevin mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
Bel masuk akan berbunyi sebentar lagi. Dengan malas, ia menegakkan tubuh, berpamitan pada teman-temannya. Ia tak sabar ingin segera memasuki kelas bukan untuk belajar melainkan untuk mencari ‘target’ baru untuk hari ini.
Koridor utama akan menjadi ajang yang sempurna. Dengan langkah tenang dan aura bintang yang selalu melekat, Alfian berjalan menuju koridor, siap menghadapi apa pun yang akan sekolah tawarkan hari ini.
Koridor utama adalah lautan manusia menjelang bel berbunyi. Siswa-siswi berdesakan, berebut jalan menuju kelas masing-masing. Di tengah keramaian itu, Olivia melangkah cepat, ponsel di genggamannya menunjukkan waktu yang kian menipis. Ia baru ingat ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan pagi ini, dan buku catatan miliknya tertinggal di loker.
Tanpa menyadari sekitarnya, ia membelah kerumunan. Di waktu yang sama, Alfian muncul dari persimpangan koridor, tangannya sibuk merapikan tumpukan buku paket yang baru saja diambilnya dari loker. Ia masih asyik bercanda dengan teman di sampingnya, tawa renyah mereka memecah suasana.
Mata Alfian melirik sekilas ke arah kerumunan di depannya. Namun, ia terlalu asyik dengan obrolannya.Tubrukan keras tak terhindarkan. Olivia yang tak melihat dan Alfian yang tidak fokus, bertabrakan tepat di tengah koridor. Tumpukan buku di tangan Alfian sontak berserakan di lantai, beberapa di antaranya menabrak kaki siswa lain yang lewat.
Alfian hampir jatuh, begitu pula Olivia.
“Hei! Jalan itu pakai mata, dong!” Suara Alfian membentak, penuh kekesalan dan sedikit keterkejutan.
Tidak ada yang pernah menabraknya seperti ini. Ia menatap gadis di depannya dengan nyalang. Rambut panjangnya berantakan, seragam asal-asalan, dan sepasang mata tajam yang kini balas menatapnya tak kalah berani.
Olivia mendongak, matanya memicing. “Enak saja bicara! Harusnya kamu yang lihat-lihat! Jalan kok kayak punya jalan sendiri, apa karena koridor ini nenek moyang kamu yang punya?” Suaranya datar dan penuh sindiran.
Alfian membeku sesaat. Tidak ada yang pernah membalas ucapannya sepedas ini, apalagi seorang gadis. “Dasar cewek barbar! Kamu itu punya sopan santun tidak, sih?” Ia menunjuk buku-bukunya yang berserakan. “Lihat! Berantakan semua!”
Olivia mendengkus. “Ya sudah, tinggal ambil saja lagi, kan? Tidak usah lebay!” Ia melirik jam di ponselnya. Waktunya makin sempit. “Permisi, saya buru-buru!”
Tanpa menunggu jawaban, Olivia mencoba menyelinap pergi, melewati Alfian yang masih berdiri mematung.
Ada sesuatu.
Di tengah kemarahan itu, di sepersekian detik mata mereka bertemu, sebuah kilasan aneh melintas di benak Alfian.
Sebuah perasaan familier seperti pernah mendengar nada suara itu, atau melihat sorot mata itu di suatu tempat. Namun, itu terlalu cepat, dan rasa jengkel yang membuncah langsung menepisnya. Ia tak mungkin pernah mengenal gadis semenyebalkan ini.
Begitu pula Olivia. Ada aroma familiar yang tercium sesaat saat mereka berdekatan aroma maskulin yang entah kenapa mengingatkannya pada sesuatu yang sangat jauh.
Alfian mengepalkan tangan, menatap punggung Olivia yang menghilang di antara keramaian. “Cewek itu, benar-benar cari masalah denganku!” Ia bergumam, berjanji dalam hati tidak akan pernah mau berurusan lagi dengan gadis tomboy yang baru saja menghancurkan ketenangannya.