Langit sore itu berwarna kelabu, seperti menahan tangis yang belum tumpah. Arka berdiri di pinggir tebing kecil di belakang rumah neneknya, menatap hutan pinus yang memanjang ke barat. Suara desir angin menyapu pucuk-pucuk pohon, membawa aroma tanah basah dan bisikan kenangan yang samar.
”Arka! Jangan jauh-jauh!” suara neneknya, Bu Ranti, terdengar dari kejauhan.
Arka mengangguk pelan meski neneknya tak mungkin melihat. Ia tak menjawab. Langkahnya justru semakin dalam masuk ke jalur tanah setapak yang menuju hutan. Sesuatu memanggilnya ke dalam — bukan suara, tapi perasaan yang dalam dan tak bisa dijelaskan.
Ia selalu merasa aneh ketika menginjakkan kaki di desa itu. Seolah tanahnya mengingat sesuatu darinya yang ia sendiri lupakan. Ada mimpi yang selalu datang saat malam tiba, mimpi tentang cahaya yang retak, terowongan berkilau, dan suara-suara asing yang memanggil namanya dari bawah bumi.
Hari itu, gempa datang tanpa peringatan.
Tanah bergetar pelan, lalu menggila dalam hitungan detik. Pohon-pohon bergoyang liar, burung-burung beterbangan ke segala arah. Arka jatuh tersungkur, tangannya menyentuh tanah yang mulai merekah. Dari celah batu yang terbuka, cahaya putih kebiruan menyembur, menyilaukan.
“Apa ini…” bisik Arka, tubuhnya terguncang oleh ketakutan dan rasa kagum yang bersatu.
Retakan tanah makin lebar. Dalam satu tarikan napas, tanah di bawah kaki Arka ambruk, menelannya bulat-bulat ke dalam kegelapan. Ia tak sempat berteriak. Udara seakan hilang, digantikan oleh arus energi yang aneh — tidak panas, tidak dingin, tapi penuh getar yang menusuk kulit.
Ia jatuh. Lama.
Saat akhirnya ia menghantam sesuatu yang lembut, matanya sudah tak bisa membedakan mana atas dan bawah. Ia terbaring dalam kegelapan, tubuhnya nyaris tak bisa digerakkan. Tapi yang mengejutkan adalah… keheningan.
Tak ada suara. Bahkan napasnya sendiri nyaris tak terdengar. Saat perlahan-lahan penglihatannya menyesuaikan diri, ia sadar bahwa ia tidak berada dalam kegelapan total.
Di sekelilingnya, batu-batu kristal kecil menyala redup — biru, ungu, dan perak — menempel di dinding gua seperti bintang yang bertebaran. Langit-langit gua menjulang tinggi, dipenuhi stalaktit yang berkilau. Kabut tipis melayang-layang, menyelimuti udara dengan misteri.
”Di mana aku…?” Arka berbisik.
Ia mencoba berdiri. Tubuhnya sakit, tapi tidak parah. Anehnya, ia tidak merasa takut seperti seharusnya. Ada sesuatu yang menenangkannya — mungkin cahaya itu, mungkin suara samar seperti nyanyian dari kejauhan.
Ia mulai berjalan, menyusuri jalur sempit yang membelah gua. Setiap langkahnya menghasilkan gema, seolah tempat itu hidup dan mendengarkan.
Setelah beberapa menit, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Sebuah gerbang batu raksasa berdiri di ujung lorong. Tingginya dua kali lipat pohon pinus, ukirannya rumit dan bercahaya samar. Di tengah gerbang, ada simbol aneh yang tampak seperti lingkaran dengan tiga garis menyilang — dan entah kenapa, simbol itu terasa… familiar.
Saat Arka menyentuhnya, simbol itu bersinar terang. Gerbang membuka perlahan dengan suara mendalam seperti raungan bumi. Di baliknya… dunia lain terbentang.
Sebuah lembah bawah tanah yang luas, diterangi cahaya dari kubah kristal di atasnya. Bangunan-bangunan aneh menjulang — perpaduan antara alam dan teknologi yang tidak dikenal Arka. Sungai-sungai cahaya mengalir di sela bebatuan, dan makhluk-makhluk asing berjalan di kejauhan.
”Selamat datang, Pewaris Cahaya.”
Suara itu datang dari belakangnya. Arka berbalik, terkejut.
Seorang wanita tinggi, berpakaian dari helaian sinar dan kain gelap, berdiri dengan senyum samar. Matanya bersinar seperti batu bulan, dan kulitnya memantulkan cahaya lembut dari sekeliling.
”Siapa kamu?” tanya Arka waspada.
”Aku penjaga gerbang,” jawabnya tenang. “Namaku Lysra. Dan kedatanganmu telah ditunggu sejak seribu tahun lalu.”
Arka tertawa kecut. “Kamu pasti salah orang.”
”Tak mungkin salah. Cahaya itu ada dalam darahmu. Lumen mengenal pemiliknya.”
”Lumen?” ulang Arka bingung.
Lysra hanya tersenyum. “Segera kau akan mengerti. Tapi untuk saat ini… kau harus ikut denganku. Dunia ini sedang runtuh. Dan hanya kau yang bisa menghentikannya.”
Arka ingin menyangkal, ingin lari, ingin bangun dari mimpi gila ini. Tapi bagian terdalam dari dirinya tahu… ini nyata. Terlalu nyata.
Dan mungkin, inilah alasan kenapa ia selalu merasa tidak sepenuhnya milik dunia atas.