Dua dunia satu atap

Bab 1. Rumah Panggung Tua

Rumah panggung itu berdiri di tengah kampung seperti seorang kakek tua yang tetap bertahan meski digoyang angin dan langkah kaki puluhan penghuninya. Kayunya telah memudar, tangganya berdecit setiap diinjak, dan kolongnya dipenuhi bayangan gelap yang menjadi tempat bermain anak-anak atau bersembunyi para kucing liar. Namun bagi mereka yang tinggal di dalamnya, rumah itu lebih dari sekadar kontrakan—ia adalah panggung bagi cerita kehidupan yang tak pernah sepi.

Di lantai atas tinggal Bu Raras, perempuan berusia empat puluhan dengan tubuh berisi dan rambut ikal panjang yang hampir selalu terurai. Rambut itu seperti memiliki kehidupan sendiri: mengembang saat lembap, melingkar saat dia bangun tidur, kadang menutupi sebagian wajah ketika angin sore menyapa jendela. Namun, siapa pun yang mengenalnya akan berkata bahwa hal paling mencolok dari dirinya bukanlah bentuk tubuhnya atau rambutnya—melainkan kesabarannya.

Bu Raras hidup bersama tiga mahasiswa rantau. Ada Gilang, anak teknik yang pendiam; Sasa, mahasiswi pendidikan yang rajin; dan Rafi, mahasiswa ekonomi yang sering begadang membuat laporan. Mereka menyewa kamar-kamar kecil di lantai atas, sementara Bu Raras menempati ruang paling ujung yang jendelanya menghadap pohon mangga.

Pagi itu, seperti biasa, suara ayam kampung dan aroma gorengan dari warung depan sudah memenuhi udara. Bu Raras menyiapkan teh hangat besar di teko kaca, sebuah ritual yang ia lakukan setiap pagi untuk para mahasiswa. Ia percaya, minuman hangat adalah cara paling sederhana membuat orang merasa diperhatikan.

“Bu, terima kasih tehnya,” ujar Sasa yang paling pagi bangun.

“Sama-sama. Hari ini kuliah pagi semua, kan? Sarapan roti dulu biar nggak lemas,” jawab Bu Raras sambil tersenyum.

Sasa mengangguk, lalu memandangi lantai yang bergetar pelan.

“Loh, mulai ribut lagi,” gumamnya.

Dari bawah terdengar suara langkah kaki berlari, lalu dentuman seperti sesuatu jatuh. Bu Raras menghela napas panjang. Begitulah setiap pagi—ibarat alarm alami yang tak pernah telat.

Namun meski begitu, ia hanya tersenyum tipis. “Namanya juga rumah panggung, Nak. Sedikit ribut itu sudah sepaket.”

Ia tidak tahu, pagi itu adalah awal dari serangkaian hari yang lebih rumit dari biasanya.

 

 

Lates Chapters

Bab 11. Bu Raras yang hampir kehilangan kesabaran

Pagi itu, rumah panggung tua itu kembali dibangunkan oleh suara yang tidak biasa. Bukan suara ayam. Bukan suara pedagang sayur yang lewat di depan gang.…

BAB 10. Geng HP Kalah Judi Online

Malam itu seharusnya menjadi malam yang tenang. Hujan yang sejak sore mengguyur kampung akhirnya berhenti. Udara terasa sejuk. Lampu-lampu rumah tetangga mulai dipadamkan satu per…

Bab 9. Ibu Minah Pasang Badan

  Rumah panggung itu kembali ramai sejak pagi. Bukan karena hujan bocor.Bukan juga karena anak-anak berkelahi. Penyebabnya jauh lebih sederhana… dan jauh lebih memusingkan. Sandal…

Bab 8. Rumah Warisan dan Keributan yang Tak Pernah Selesai.

    Malam itu hujan turun perlahan di atas atap seng rumah panggung tua. Bunyi tik… tik… tik… biasanya terasa menenangkan bagi penghuni lantai atas.…

Bab 7. Hati yang tidak selalu keras

Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada suara langkah kaki berlari ke lantai atas. Tidak ada ember dipukul-pukul. Tidak ada teriakan “JACKPOT!” dari kolong rumah. Bahkan…

Bab 6. Dua dunia yang bertabrakan

Bu Minah menoleh cepat. “Bu Raras, saya tidak terima anak saya diusir begitu saja.” Raras melangkah mendekat, rambut ikalnya jatuh lembut di bahu. Ia memandang…

Bab 5. Tangga yang tidak lagi ramah

  Sore itu udara terasa lebih panas dari biasanya. Lantai atas rumah panggung dipenuhi kertas tugas, buku tebal, dan wajah-wajah tegang. Gilang sedang menghitung rumus…

Bab 4. Ketika tugas dan kebisingan bertabrakan.

Sore hari adalah waktu paling rawan di lantai atas. Tugas menumpuk, jadwal kuliah padat, dan suara dari bawah justru semakin menjadi-jadi. Rafi mengusap wajahnya berkali-kali.…

Bab 3. Penghuni bawah yang tidak pernah sepi.

Jika lantai atas rumah panggung itu memiliki ritme pelan seperti jam dinding tua, maka lantai bawah adalah genderang yang dipukul tanpa aturan. Sejak pagi hingga…

Bab 2. Bu Raras dan mahasiswa perantau

Siang hari, ketika cahaya matahari menerobos celah-celah papan dinding, para mahasiswa di lantai atas biasanya tenang belajar atau tidur siang. Tapi ketenangan itu tidak pernah…
error: Content is protected !!