Hati Adisti masih berdetak tidak nyaman. Pembicaraannya dengan Lestia dan Hanny menarik Adisti kembali melihat sisi kelam yang Adisti ingin buang jauh-jauh. Ramon, tiba-tiba muncul dalam pikiran Adisti. Pria yang pernah melekat dengannya, tapi membawa petaka dan penyesalan.
Adisti menekan perasaannya dan dengan kuat bicara dalam hati. “Sudah, semua sudah berlalu. Jangan dipikir lagi. Ingat Cia. Dia masa depan kamu. Jangan pikir yang lain.”
“Santai saja, Dis. Bisa jadi, pikiran aku dan Mbak Lesti terlalu jauh. Kali Pak Cahyo kalau lihat kamu ingat keponakannya. Bisa saja, kan?” ujar Hanny.
“Ga apa, Kak Hanny. Aku malah terima kasih, ada yang ingatin aku.” Adisti merapikan kotak bekalnya. “Aku balik kerja, ya? Udah selesai makan, kok.”
“Oke. Aku juga. Lima belas menit lagi mesti ketemu manajer divisi sebelah. Ga bisa telat dikit. Bisa naik tanduknya.” Lestia pun beranjak kembali ke mejanya.
Adisti menyimpan kotak makan, lalu dia menuju ke kamar kecil. Masih ada waktu sebelum jam habis dan pekerjaan harus berlanjut. Adisti sedikit tergesa menuju toilet. Namun, langkahnya terhenti seketika karena di lorong sebelum berbelok tepat di pintu toilet. Dia mendengar suara orang bertengkar dari ruangan direktur.
“Kamu ga bisa cuma nyerahin semua sama asisten kamu. Harusnya kamu yang mengurusnya, Rima!” Jelas suara Vernon sedang meninggi.
Adisti penasaran. Kenapa lagi Pak Bos dan Nyonya Sihir seksi itu. Adisti beringsut, merapatkan badan ke dinding, sengaja menguping.
“Buat apa banyak duit kalau ikut repot? Tinggal perintah dan bayar semua beres, Ver!” Rima membantah kata-kata Vernon. “Kamu juga ga mau mikir, kan? Nyalahin aku memang paling gampang!”
“Ini bukan soal siapa yang salah dan siapa yang disalahkan! Kamu serius nggak mau kita nikah?!” Vernon lebih keras bicara.
“Aduh, Sayang, tentu saja! Orang tua kita sudah mendesak. Tahun ini kita harus nikah. Muka keluarga Gunawan dan Hardianata mau ditaruh di mana? Kamu siap dihujat keluarga besar?!” Rima juga makin kencang bicara pada Vernon.
“So, aku harus ikut repot dengan urusan katering dan dekorasi dan lain-lain? Aku belum bisa cuti, Rima! Kamu bilang sama teman-temanmu, kamu ga bisa ikut mereka shopping, ke salon, atau apalah itu, setidaknya sampai pernikahan selesai!” geram Vernon.
“Kalau kamu ga mau ikut ribet, serahkan sama aku. Mau kayak gimana, kamu tinggal oke aja. Beres, kan?!” tukas Rima.
“Ah, capek aku begini terus. Kerja jadi ga bisa fokus juga mikir yang harusnya ga usah bikin naik darah!” Rasa kesal Vernon belum turun.
Tuttt!! Bunyi dering telpon.
“Ga ada hasil aku datang ketemu kamu! Lebih baik aku habiskan waktuku di tempat lain daripada cuma jadi emosi!” Rima berbalik dan melangkah keluar.
Tutt!! Kembali dering ponsel dan Rima menerimanya. Dia terus melangkah dan tidak menyadari ada Adisti yang menempel di dinding mendengar pertikaian seru yang baru terjadi.
“Oh, hai, Babe! Ya, sorry, lagi ada meeting … Aku ingat, segera meluncur. Di apartemen, kan? I miss you too … Iya ….” Suara Rima begitu manis dan ceria, berubah drastis dari nada emosi tinggi yang sebelumnya dia tunjukkan.
Adisti tertegun. “Itu perempuan pintar akting banget,” gumam Adisti.
Perlahan dia mendekat ke pintu yang masih terbuka. Dia mengintip Vernon yang ada di dalam. Pria itu termenung dengan wajah tegang dan kusut. Tapi tetap tampan.
“Kasihan juga Pak Bos. Ternyata tidak sebahagia kelihatannya meskipun punya segalanya.” Hati Adisti kembali berbicara. Adisti masih memandangi Vernon yang hanya termenung saja di tempatnya.
Tiba-tiba ide gila muncul di pikiran Adisti. Dia tersenyum sendiri, dengan ide yang nongol. Segera dia menjauh dari situ, masuk ke toilet. Dia selesaikan urusan belakang, lalu dia mengeluarkan ponsel dan memesan es krim untuk Vernon.
“Moga jadi lega dan dingin lagi kepala si Pak Bos.” Senyum tipis menghiasi bibir Adisti. Lalu dia beranjak kembali ke ruangannya.
Adisti duduk di kursinya dan memperhatikan list hari itu, apa yang dia masih perlu selesaikan.
“Ah, wawancara. Iya, aku ada janji sama Mbak Syeilla,” ujar Adisti.
“Kenapa, Dis?” Hanny yang mendengar Adisti bicara menoleh. “Perlu bantuan?”
“Nggak, Kak. Ini jadwal wawancara Mbak Syeilla. Hampir lupa,” jawab Adisti.
“Ohh … Sama aku kapan jadinya?” Hanny kembali bertanya semenara wajahnya kembali memandang monitor.
“Masih minggu depan. Cuma, ini … satu narasumber aku belum pasti. Maunya sih, salah satu pimpinan di level atas. Kok aku ragu ya, mau minta siapa?” Adisti mengerutkan kening.
“Gampang.” Hanny tersenyum sambil melirik Adisti. “Pak Cahyo aja.”
“Ihh, nggak!” Cepat Adisti menampik. “Takut, Kak.”
“Haa … haaa ….” Hanny langsung ngakak karena jawaban Adisti.
Tuuttt!! Intercom di depan Hanny berbunyi. Tangan Hanny segera bergerak menerima panggilan.
“Halo, dengan Hanny, DPM.” Hanny menyapa penelpon. “Oh, baik, Pak. Sekarang? … Iya, siap, Pak.” Hanny meletakkan lagi telepon di tempatnya.
Hanny menoleh pada Adisti yang sudah mulai sibuk lagi dengan pekerjaan.
“Adisti … panggilan khusus ….” Hanny memanggil dengan suara bernada.
Kata-kata itu membuat Adisti menoleh cepat. “Panggilan apa, Kak? Siapa?” Adisti tiba-tiba merasa tidak nyaman. Dia membayangkan Cahyo di pikirannya.
“Pak Bos. Minta berkas di Mbak Lesti, lalu antar ke ruangannya. Dia bilang ada yang penting dia mesti kasih tahu kamu.” Hanny menjelaskan.
“Oh, iya, Kak.” Dada Adisti segera melaju. Debaran kuat cepat melanda di sana. Bukan Cahyo, Vernon yang memanggil. Adisti bisa menduga apa yang menjadi alasannya.
Adisti menemui Lestia dan meminta berkas yang Vernon perlukan. Tak lama Adisti sudah berada di depan pintu kantor Vernon. Dia mengetuk lalu membuka pintu setelah terdengar sahutan dari dalam.
“Permisi, Pak.” Adisti menyapa. Mata Adisti melebar memandang Vernon. Si Bos dengan santai duduk di sofa sambil mengangkat kaki sebelah, sementara di tangannya ada es krim sedang dia kulum.
“Hai, duduk sini!” Vernon menepuk kursi di sebelahnya.
Adisti masuk, duduk di kursi seberang Vernon. Dia meletakkan berkas dari Syeilla di depan Vernon.
“Ini berkasnya, Pak,” kata Adisti. Dia perhatikan wajah Vernon tidak kusut, tidak terlihat marah. Apa benar-benar hatinya sudah membaik?
“Kok ada yang tahu, ya, aku lagi kacau?” Vernon melirik Adisti, masih menikmati es krim yang tinggal sedikit lagi.
“Oh … itu.” Adisti tidak mengira Vernon bisa tahu kalau dia yang mengirim es krim.
“Ehh … Cia, dia pesan es krim. Jadi sekalian beli buat Bapak.” Adisti merasa wajahnya memerah dan panas.
“Makasih buat perhatiannya. Thank you berkasnya. Nanti saja aku lihat.” Vernon membuang bungkus es krim di tempat sampah, lalu membersihkan tangan dengan tisu.
“Gimana kuliah kamu? Dengan kerja gini, masih bisa handle?” Suara Vernon lebih tenang. Cepat juga emosinya kembali normal.
“Masih wawancara buat skripsi. Proses, Pak, perlu melengkapi narasumber,” jawab Adisti.
“Aku juga sedia kalau diperlukan. Tentang kantor ini, tulisan kamu, benar?” tanya Vernon sambil menyandarkan punggungnya.
“Serius, Pak, boleh?” Adisti terkejut juga dengan kata-kata Vernon.
“Asal nanya yang baik-baik aja.” Vernon tersenyum lebar.
Adisti ikut melebarkan bibirnya.
Dering ponsel terdengar. Vernon menerima panggilan itu. Suara pria sayup-sayup Adisti tangkap di telinganya.
“Hei, jangan gila! Kamu pasti mau cari gara-gara, kan?” Seketika nada suara Vernon kembali tinggi.