Sudah tiga bulan sejak kabar itu datang. Kabar yang menghentikan langkahku, membuat dadaku sesak, dan pikiranku tak berhenti memutar ulang masa lalu.
Dia, temanku yang pernah begitu dekat. Teman yang kemudian, hilang kontak karena jarak, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya dari hidupku.
Waktu telah memisahkan dengannya, bukan karena kebencian, bukan karena kata-kata yang menyakitkan hanya karena hidup membawa kami pada jalan yang berbeda.
Tapi siapa sangka, percakapan terakhir yang sederhana, yang kuanggap biasa saja, dan tanpa perpisahan justru menjadi momen terakhir kami. Sejak dia tiada, aku sering memimpikannya.
Dalam mimpi itu, dia datang seperti dulu, dia santai, tersenyum, bercanda seolah tidak ada apa pun yang berubah. Tidak ada jejak kelelahan, tidak ada kabut kesedihan. Dia dengan caranya yang selalu membuatku merasa aman bila berada disampingnya.
Di mimpi itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kusadari selama ini betapa besar artinya dia bagiku.
Setiap kali terbangun, aku merasakan dua hal sekaligus bahagia karena bisa “bertemu”, tapi juga sedih karena sadar itu hanya mimpi. Rindu terasa seperti pintu yang terbuka setengah, memperlihatkan cahaya, tapi tak bisa kusentuh. Yang akhirnya aku akan kembali seperti semula, hanya mampu membayangkan kehadirannya.
Pada suatu malam, dalam mimpi yang paling jernih, aku melihatnya duduk di sebuah bangku taman. Angin sore menggerakkan dedaunan, langit oranye lembut, dan dia menoleh kepadaku dengan tatapannya, seakan dia telah menunggu kedatangku.
Aku menghampirinya. Tidak ada jeda. Tidak ada rasa asing. Hanya kehadiranmu yang terasa akrab.
Aku membuka suara, meski gemetar.
“Kalau kau tahu…,” kataku pelan, “kamu adalah orang yang paling berarti untukku. Aku tidak pernah benar-benar melupakanmu.”
Dia menatapku, tidak bicara seolah tahu aku perlu mengeluarkan semuanya.
Dia seakan ingin memberiku kesempatan untuk meluahkan segala isi hati yang selama ini membeku disana.
“Kenangan tentang kita… semuanya masih aku simpan. Rapi. Penuh hati. Tidak ada satupun yang hilang.” Aku menarik nafas yang terasa berat.
“Aku sudah memaafkanmu,” lanjutku. “Atas semua kesalahan di masa lalu. Tidak ada yang tersisa untuk disesali.”
Kata-kata itu terasa seperti membuka pintu yang lama terkunci.
“Tapi aku belum siap jauh darimu. Aku belum siap untuk kehilanganmu begini cepatnya.”
Wajahnya tetap tenang. Tidak sedih, tidak menyesal seolah ingin mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Bahwa tidak apa-apa bagiku untuk merindukannya.
Angin bertiup sedikit lebih hangat. Cahaya langit pelan-pelan meredup.
“Aku merindukanmu,” ucapan terakhir dari mulutku, suara hampir tak terdengar.
Untuk pertama kalinya, dia tersenyum, senyum yang sangat damai, lebih damai dari yang pernah kulihat semasa hidupnya. Dan dalam senyum itu, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan, seolah-olah dia mendengar. Seolah-olah dia menerima.
Lalu perlahan, ia bangkit, berjalan menjauh, dan tubuhnya memudar bersama cahaya sore.
Aku hanya mampu terpaku dalam kediaman. Kuingin mengejar dirinya. Tapi kedua kaki ini seakan tertanam jauh di perut bumi.
Mengapa, dia pergi disaat aku masih butuh akan kehadirannya. Apakah aku tidak akan bertemu dengannya lagi?
Apakah kisah yang pernah tercipta diantara kami berdua akan memudar bersama bergantinya waktu?
Jika memang harus terjadi, mengapa harus tercipta mimpi ini, mengapa aku harus bertemu dalam mimpi. Atau aku memang sangat merindukan kehadirannya.?