“Keina, kami turut berduka atas kepergian Bapak Marteen yang mendadak. Kami pun tidak menyangkanya. Beliau pemimpin yang baik, mengayomi seluruh karyawannya. Kami dari jajaran direksi sangat kehilangan beliau,” ucap salah satu direktur saat bertemu di rumah duka.
Keina tidak begitu hapal dengan wajah mereka, tetapi tetap berusaha tersenyum dengan wajah sembabnya. Sambil berjuang menelan ludah di kerongkongannya yang kering.
Sejak berita kematian ayahnya, Keina tidak sanggup menelan apa pun, bahkan air mineral. Air matanya terus saja lolos ke pipi putihnya. Di sampingnya, duduk lelaki yang berstatus suaminya sedang merangkul, demi menguatkannya. Tanpa bicara sepatah kata.
Rumah duka berada di kediaman Marteen. Karangan bunga dari berbagai kalangan menghiasi pagar rumah.
Marteen sudah dikebumikan sejam yang lalu. Keina merasa terpukul saat detik terakhir tidak bisa menemani laki-laki yang sangat mencintainya tulus tanpa syarat. Keina merasa kehilangan yang sangat dalam. Marteen tidak menunjukkan gejala sakit sebelum meninggal, Keina pun tidak memiliki firasat apa pun.
Setelah suasana sepi, dengan tertatih Keina berjalan menuju kamar tidur utama yang menjadi kamar ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Keina menyesal karena jarang menemani masa tua ayahnya yang telah ditinggal ibunya meninggal sejak Keina berusia delapan tahun. Sejak saat itu, yang Keina tahu ayahnya lebih memilih membesarkannya seorang diri tanpa menikah lagi. Keputusan ayahnya itu melegakan Keina. Karena Keina tidak perlu menghadapi drama memiliki ibu tiri.
Hari-hari sedih Keina sejak kehilangan ibunya perlahan sirna karena kasih sayang ayahnya yang terlampau besar hingga ia beranjak dewasa dan menikah dengan Jovan Rusadi, pria yang sangat dicintainya.
Marteen menyetujui saja keinginan Keina, putri semata wayangnya. Bahkan berjanji kepada Jovan setelah resmi menikah dengan anaknya, ia akan memberikan jabatan direksi di perusahaannya.
Bagi Jovan yang berasal dari keluarga biasa, tentu saja seperti keruntuhan buah durian. Jabatan direksi di perusahaan industri terbesar untuk Jovan yang fresh graduate, yang baru saja mengantongi ijazah sarjana, merupakan kesempatan yang sangat langka. Dimana-mana, teman seangkatannya atau sarjana muda lainnya masih banyak yang kesusahan mendapatkan pekerjaan di negara ini, negara yang konon sangat makmur loh jinawi.
Tanpa ba-bi-bu, Jovan melamar Keina dan segera menikahinya. Baginya cinta itu urutan kesekian, ia harus bisa menjadi orang kaya dan sukses dulu. Cukup cintanya Keina saja, itu sudah senjata dan kekuatannya yang ampuh baginya untuk memenuhi semua ambisinya.
Keina sangat merasa senang sekali karena beranggapan Jovan memiliki perasaan yang sama dengannya. Keina tidak tahu jika dibelakangnya, Marteen menawarkan jabatan direksi pada Jovan jika bersedia menikahi putrinya.
Ya benar, Marteen sudah salah langkah dan salah sangka jika Jovan akan perlahan mencintai Keina seiring pernikahan mereka.
Niat Marteen hanya ingin Keina bahagia. Tetapi Marteen tidak sadar jika itu semua awal dari penderitaan Keina, putri semata wayangnya.
Keina masih memeluk pakaian terakhir yang dipakai Marteen di atas ranjang. Wangi tubuh ayahnya masih lekat menempel, membuat Keina semakin terisak. “Maafkan Keina, ayah…”
Keina sudah tidak peduli dengan keadaan di luar, terlebih pada suaminya, yang telah duluan menghilang sebelum acara kirim doa dimulai. Keina lebih memilih mengurung diri di kamar tidur ayahnya.
Ingatan Keina melayang di Minggu terakhir ketika Keina menemui Marteen di sebuah kafe favorit ibunya dulu.
“Kei, kamu bahagia menikah dengan Jovan? Jika tidak, kamu bebas memutuskan pilihanmu. Ayah tidak masalah mempunyai anak berstatus janda.
Sungguh Kei, meski kamu menyandang status janda atau status terburuk lainnya di muka bumi ini, kamu tetap anak ayah. Putri satu-satunya kesayangan ayah.
Jadi, jangan malu karenanya. Jangan berpikir terlalu berat. Putuskan rantai yang buat kamu tersiksa, Kei!”
Keina saat itu menunduk mendengarkan perkataan Marteen. Tidak berani menatap mata ayahnya. Keina tahu jika ia melihat ayahnya saat ini Keina tidak bisa lagi membendung air matanya.
Keina merasa ayahnya seolah tahu apa yang terjadi pada biduk rumah tangganya. Terlebih sudah dua tahun ini, Keina belum juga bisa melahirkan sang buah hati. Keina merasa tertekan.
“Kei, lihat ayah!” Marteen mengusap lembut punggung tangan putrinya.
Keina ragu untuk mendongak. Tapi ia harus paksakan jika tidak ayahnya akan semakin curiga jika Jovan telah semena-mena kepadanya. Menghina dirinya sebagai perempuan mandul. Padahal Johan sendiri tidak mau setiap diajak Keina untuk menjalani tes paternitas. Malahan mendorong semua kesalahan kepada dirinya.
Keina memaksakan senyumnya lalu menatap ayahnya dengan sayu.
“Keina, kamu putri ayah satu-satunya. Kamu bahagia, ayah ikut bahagia. Tapi jika kamu sedih, ayah jauh lebih sedih.
Apa yang kamu kuatirkan? Selepas kamu berpisah, kamu bisa memulai bekerja membantu ayah. Perlahan menjalankan bisnis ayah. Banyak orang baik yang akan membantumu nanti disana.
Selama ini ayah juga heran sama Jovan yang melarang kamu ikut menjalankan bisnis ayah. Padahal itu perusahaan ayah yang nantinya ayah wariskan untuk kamu.
Tetapi sekali lagi ayah mengalah demi menuruti semua kemauan kamu. Kamu bilang itu semua untuk memberikan kesempatan kepada Jovan mengembangkan dirinya dan belajar bisnis bersama ayah agar lebih leluasa.
Tapi jika kamu tidak bahagia bersamanya, untuk apa, Keina?
Ayah bisa mengusirnya detik ini juga dari perusahaan dan juga dari rumah yang sekarang kalian tempati, itu ayah belikan untukmu.
Semakin hari ayah melihat kelakuan Jovan semakin meresahkan. Semua itu ayah dapat laporan dari orang kepercayaan ayah.
Ada saja kesalahan yang seharusnya sebagai direktur, ia sudah tahu jika keputusannya itu bisa merugikan perusahaan, tetapi tetap saja diteruskan.
Dan kamu tahu kan ayah sudah jarang ke kantor. Ayah mengurus semuanya dari rumah.”
Keina menelan ludahnya berat sebelum bicara. “Ayah, jangan terlalu dipikirkan. Keina bahagia kog. Doakan saja Keina, itu yang Keina butuhkan saat ini.
Ingat kesehatan ayah. Meski Keina tahu kalau ayah selalu sehat-sehat saja tapi ayah harus tetap kontrol emosi ayah.
Maafkan Keina, ayah, kalau jarang menemani ayah di rumah.
Keina senang selama ini ayah masih setia sama almarhumah ibu. Ayah sungguh tidak kesepian?”
Marteen terbatuk. Keina segera memberinya air. “Kenapa ayah? Keina ada salah bicara?”
Marteen menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Ayo, kita lanjutkan makannya, keburu dingin.”
Marteen tampak menyembunyikan sesuatu dari Keina. Tetapi Keina buru-buru menepis pikiran negatif tentang ayahnya.