Aku Bukan Pelakor

Part 1 Perkenalan singkat Fatimah dengan Rahmat.

Namanya Rahmat, pria berusia tiga puluh delapan tahun itu telah berhasil menghipnotisku. Aku memanggilnya Mas Rahmat, tentu saja atas permintaan dia. Setelah sekian tahun merasakan hidup sendiri dan sulit untuk menerima sosok pria di hidupku, Tuhan mengirimkannya untukku. Kami bertemu melalui wadah organisasi non profit. Disini kita satu Visi satu Misi sama-sama alumni dari berbagai macam pekerjaan ribawi yang berniat hijrah mencari jalan rejeki lain yang lebih baik, halal dan berkah. 

Berawal dari sebuah grup Whatsapp, grup besar non profit ini di setiap daerah ada. Kita semua dalam satu grup banyak yang belum saling kenal satu dan lainnya, belum pernah juga sekalipun bertemu. Dalam grup tersebut ada kegiatan mempromosikan produk di hari Selasa dan Sabtu, karena aku tidak berwirausaha tapi masih bekerja maka aku memposting sebuah lowongan kerja Freelance yang dibutuhkan oleh kantor tempatku bekerja. Beberapa menit berselang, banyak bermunculan notifikasi berlogo hijau tersebut, tentunya menanyakan informasi lowongan kerja yang telah aku share, termasuk salah satunya dari Mas Rahmat.

[Assalamualaikum, ana Rahmat. Ana tertarik dengan Property Syariah yang ibu tawarkan.], begitu pesan masuk pertama kali darinya.

Tanggapanku tentu saja biasa, sama seperti layaknya chat lain yang menanyakan keperluan sama, yaitu mengenai Marketing Freelance Property Syariah. Rata-rata memang peminatnya para pria. Bahkan di kantorku bekerja juga lebih banyak kaum adam, perempuannya cuma beberapa orang saja.

[Waalaikumsalam, saya Fatimah bapak. Monggo, untuk informasi lebih lengkapnya bapak bisa datang ke kantor.] balasku, untuk alamatnya sudah ada di gambar info lowongan yang aku kirim pada grup tersebut, sehingga aku pun tidak perlu mengulang menuliskannya pada percakapan chat kami.

[Sabtu kantor buka ngga ya, Bu.], balasnya lagi. Mungkin dia ini seorang pekerja kantoran yang libur kerjanya ada di hari akhir pekan, yaitu Sabtu Minggu. Aku melihat pak Rahmat ini sangat antusias untuk tahu lebih lanjut, semoga benar begitu.

[Buka Pak.], jawabku singkat.

[Alhamdulillah.]

Percakapan singkat kami di WA tersebut membuatku sekilas berfikir kok sepertinya dia orang yang memang baik, sopan dan bagus agamanya, seperti bener- bener the real of hijrah. Berapa banyak pesan WA masuk entah kenapa hanya WA dari dia yang mampu membuatku berfikir dan bertanya-tanya dalam hati, sosok seperti apakah dia yang sebenarnya.  

Sebelum hari Sabtu tiba dia kembali bertanya [Afwan mau tanya, kantornya pinggir jalan atau agak masuk?]

[Pinggir jalan Pak. Depan puskesmas persis], balasku, seharusnya dia pun bisa menemukan dengan mudah melalui google map. Ingin mengasih saran begitu, hanya saja tidak semua orang mengerti, nantinya akan lebih ribet menjelaskan. Siapa tahu juga beliau ini sudah sangat sepuh. Dikarenakan memang di grup Eks Perbankan tersebut tidak hanya orang-orang yang murni resign, ada juga yang memang sudah pensiun.

Klunting,

Sebuah notif kembali masuk [Ancer-ancernya mana, dekat apa.], aku tepuk jidat dibuatnya, duh sepertinya memang dia ini tidak mudengan, ataukah memang sengaja biar bisa komunikasi denganku lebih banyak. Karena kebetulan masih jam kerja dan aku masih di kantor, aku pun keluar sebentar.

Cekrek.

Kuambil gambar bagian depan kantor dengan sangat jelas, selain agar terlihat semua juga agar tulisannya bisa terbaca. Langkah selanjutnya, langsung aku balas dengan mengirim foto kantor bagian depan tersebut.

[Syukron] balasnya dengan bahasa arab.

Dari balasannya yang terakhir ini entah kenapa aku jadi tertarik belajar bahasa arab, awalnya hanya mencari jawaban arti kata Syukron ini. Terkadang hal kecil yang bahkan orang yang mengajak bicara tanpa menyadari pun, sebenarnya banyak pesan berharga yang bisa kita ambil hikmahnya. Kita bisa belajar hanya dari sebuah kata singkat. Sebuah niat untuk kebaikan yang muncul tiba-tiba. Mungkin karena hal itu juga kita memang seharusnya memfilter circle pertemanan. Karena ketika dikelilingi teman dan lingkungan yang positif, sudah pasti akan menguntungkan untuk kehidupan kita, membuat kita akan tetap berjalan dengan kebaikan bukan sebaliknya.

Hari Sabtu pun tiba dan karena tidak ada chat yang masuk dari dia, aku memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu. Agar semua bisa terjadwal lebih baik.

[Assalamualaikum Pak Rahmat, jadi ke kantor hari ini?]

[Waalaikumsalam, afwan ana tidak bisa datang untuk hari ini. Mendadak ada sripah saudara meninggal dunia]

Gagal ketemu dong dengannya, seseorang yang aku rasa dalam sekejap berkomunikasi saja sudah membuatku belajar lebih baik. Apalagi jika nantinya bisa ketemu, sepertinya akan lebih baik lagi, lebih banyak hal yang bisa aku pelajari. Duh, kenapa berharap banget. Sebelum berkomunikasi dengan Pak Rahmat ini, padahal juga banyak yang lainnya dari anggota grup tersebut, beberapa diantaranya sudah ada yang datang langsung ke kantor. Laki, perempuan, tua, muda, tapi tidak ada yang membuatku berfikir lebih. Beda dengan ketika komunikasi dengan Pak Rahmat.

[Oh baik bapak. Saya turut berduka cita, semoga amal ibadahnya di terima di sisi Allah, diampuni segala dosanya. Diberikan kesabaran, ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan.]

[Aamiin. Syukron Bu.]

Mungkin aku memang tidak bisa bertemu, tetapi bisa jadi juga pekerjaan ini sangat berarti untuknya dan keluarga. Lebih baik aku tawarkan untuk menjadwalkan ulang, meskipun nantinya tidak bisa ketemu denganku secara langsung.

[Maaf bapak, sekedar info. Misal hari Minggu bapak bisa, silahkan datang saja. Akan tetapi karena saya libur, nanti saya aturkan jadwal dengan bapak Direktur.] kataku memberikan penawaran. 

Di kantor kami Minggu tetap buka, hanya bergantian siapa yang libur saja. 

[Iya Bu, besok Minggu bisa sebelum Zuhur atau setelah Zuhur. Nanti sekalian ana ke Masjid.] jawabnya.

Setelah selang beberapa lama, kurang lebih tiga jam, aku baru bisa balas pesan dia karena tentu nunggu kepastian jadwal kosongnya Pak Direktur dulu.

[Habis zuhur ya Pak, jam 13.00 WIB. Ketemu dengan Pak David Direktur Marketing dan Operasional kami.]

[Baik Bu, Syukron.]

Sore sebelum pulang masih aku pastikan sama direkturku, karena dikhawatirkan beliau lupa. Meskipun, sebuah pertemuan dengan para prospek dan marketing akan sangat berpengaruh bagi perusahaan. Terkadang hal tersebut bisa saja terlupakan, apabila agenda banyak. Apalagi ketika hari Minggu, terkadang banyak kegiatan bersama keluarga, walaupun di dunia property tidak mengenal hari libur baik hari Minggu maupun tanggal merah. 

“Pak David, saya pulang dulu. Mohon jangan lupa bahwa besok bapak ada janji dengan Pak Rahmat jam 13.00 WIB,” kataku.

“Iya Mba, siap. Hati-hati ya Mba,” jawab Pak David ramah. 

Sebelumnya tentu sudah aku sampaikan mengenai siapa Pak Rahmat dan kenal dari mana, meski baru sekilas yang baru diketahui. Karena sebab itu, maka Pak David sangat antusias karena Pak Rahmat ini alumni dari pekerjaan Ribawi yang sudah Hijrah, satu tujuan dengan perusahaan kita berdakwah memerangi riba.

****

Waktu bergulir dengan cepat, Senin pagi Aku tanya sama April staf administrasi di kantor kami. Karena ketika aku libur, April masuk. Kita bergantian untuk libur di hari Minggu. 

“Pril kemarin Pak Rahmat jadi kesini?” tanyaku to the point membuka percakapan. 

“Jadi Mba,” jawab april singkat sambil menyeruput teh panasnya yang baru saja dihidangkan oleh OB di kantor kami. 

“Terus gimana? Kamu udah dibuatin akad Freelance untuknya?” tanyaku lagi, ngga sabar aku tahu dengan hasilnya. Lumayan juga kan profitnya kalau Pak Rahmat jadi masuk dan juga dia potensial jadi Marketing Freelance. 

“Belum Mba,” sahut April. 

“Lho kok belum, dia ngga jadi gabung atau gimana?” Aku kaget dong, secara ya berharap banget Pak Rahmat ini join di Perusahaan ini. 

“Ngga tau Pak David juga ngga bilang apa-apa,” jawab April cuek seperti ngga mood sambil mengedikkan bahunya. 

Setelah Pak David datang beliau cerita kalau ternyata Pak Rahmat jadi gabung, tapi karena ditandatangan akad atau bahasa umumnya kontrak kerja hanya ada tanda tanganku dan Pak Rahmat maka menungguku untuk bisa tandatangan akad tersebut. Dalam hati ‘Alhamdulillah’ karena dari kemarin penasaran pengen ketemu langsung sama Pak Rahmat ini.

Sejurus kemudian aku ambil gawaiku lalu buka aplikasi berlogo hijau, kucari segera kontak bernama Pak Rahmat.

[Pak jadi gabung jadi marketing Freelance?] pesan whatsappku terkirim. 

Tanpa menunggu lama, ada jawaban darinya [InsyaAllah jadi Bu.]

[Kapan bisa datang ke kantor lagi untuk tanda tangan akad, Pak?]

[Maaf Bu ana sedang di Luar Kota, nanti ana kabari kalau sudah pulang]

[Oh gitu, kirim KTP nya dulu aja ya. Nanti saya buatkan dulu akadnya.]

Semua ini aku lakukan agar mudah dan segera selesai. Karena marketing juga ujung tombak perusahaan, tentu aku berharap dapat team yang tepat. Semakin banyak team handal akan semakin bagus progress penjualan properti. 

[Baik Bu.]

Dia kirim foto yang aku minta dan bilang, [jelas ngga fotonya]

[Kurang Pak, mungkin sebaiknya ngga usah pakai flash.]

Karena memang foto yang dia kirim tidak terbaca jelas tertimpa cahaya berlebih. 

Dia kirim foto lagi [sudah bu?]

[Ok Pak, sudah. Syukron.]

Aku selalu menyesuaikan lawan bicaraku baik bahasa maupun cara berkata. Meskipun tak pandai bahasa Arab, aku bisa menyesuaikannya apalagi bahasa sapaan yang mudah. 

[Afwan] Balasnya kemudian

Di Kartu Identitas Penduduk tersebut dia sudah Kawin statusnya, tapi aku mikirin dia juga tidak sampai segitunya ingin memiliki. Murni ingin menjadikannya team marketing dalam Perusahaan ini. Hanya aku salut saja, berharap bisa bertemu langsung dan bisa belajar dari dia. Sepertinya kisahnya dari awal sampai setelah hijrah akan menarik untuk aku bisa ambil sebagai motivasiku yang belum lama keluar dari lembaga ribawi.

Sejak keluar dari lembaga ribawi memang tidaklah mudah, berbagai cobaan aku lalui. Harapan utama tentu untuk bisa istiqomah dalam berhijrah. Karena pengalaman di Lembaga ribawi tentu temannya kebanyakan dari lembaga sama, tawaran itu akan terus datang entah dengan posisi yang lebih baik dan tentunya juga gaji yang jauh lebih menggiurkan.

Masih ingat sebelum resign aku menguatkan dulu dengan niatku dan target resignku. Alhamdulillah Allah memudahkan jalanku dan setelah resmi resign tidak menganggur langsung bisa bekerja di sebuah perusahaan non riba, bahkan disini bisa dakwah anti riba.

****

Sejak hari itu tidak ada kabar lagi dari Pak Rahmat, hingga di siang hari ketika kerjaanku tidak banyak aku teringat akan dia. Kemudian aku WA menanyakan lagi kapan akan datang ke kantor.

[Assalamualaikum Pak Rahmat, kapan bisa ke kantor]

[Kalau misal Minggu gimana Pak, kebetulan ana tidak libur.]

[Waalaikumsalam, iya bu ini ana kemarin sore juga baru pulang dari luar kota.]

Wah kok bisa pas banget ya bisik hatiku, lega rasanya karena merasa kirim pesan disaat yang tepat.

[Ana ngga bisa Bu karena anak saya lagi manja ngga mau ditinggal.]

Lagi-lagi tentang anaknya, jadi ngiri punya keinginan bisa punya suami seperti dia. 

[Kalau Senin gimana Pak. Kalau bisa saya tunggu jam 10.00 WIB.] 

Di sini entah kenapa aku yang jadi kayak ngebet banget ketemu dia. Padahal dia yang butuh pekerjaan, awalnya. Karena memang Perusahaan Grand Mansion Syariah atau biasa kami singkat GMS ini baru banget dan penjualan unit pun baru sedikit, sedangkan untuk yang join tentu tidak semudah properti dengan sistem konvensional. Apalagi yang subsidi, karena penjualan lebih mudah tentunya. 

[Baik Bu.]

Hari Senin pun tiba, berharap dia tidak ada halangan dan bisa datang. Bayanganku langsung ke arah Pria yang berjenggot dan lengkap dengan pakaian sunnahnya, celana congklang.

Tepat jam 10.00 WIB ada motor berhenti di parkiran depan kantor. Berharap itu dia. Kemudian yang datang seorang pria, beda jauh dengan yang ada di bayanganku.

 

Lates Chapters

Bab 44. Episode Terakhir

Bab 44 Part Ending   Rangkaian warna warni bunga segar menghiasi dekorasi setiap sudut ruang. Lampu-lampu gantung dan beberapa tersemat diantara bunga menyala dengan indahnya.…

Bab 43 Penyesalan

Bab 43 Penyesalan Rahmat     POV Rahmat   Perkenalan yang dirangkum dengan acara makan malam tersebut memberikan kesan mendalam untukku. Lagi-lagi aku terpesona. Gadis…

42.

Bab 42   “Apa kamu telah berubah pikiran?” tanyaku lagi.   Etzar menatapku sekilas lalu pandangannya kembali ke depan. “Bukan begitu,” kata Etzar datar.   …

41. Garis Waktu

  Part 41 Garis Waktu   Etzar. Aku cari nama itu di kontak, kemudian menelponnya. Aku merasa sangat bersalah padanya atas kejadian malam itu, ketika…

Bab 40. Drama Pertemuan Terakhir

Part 40 Drama Pertemuan Terakhir "Tadi kami habis antar terapi rutin si kecil. Setelah itu kami kesini bareng." Ana yang menjawab, dari raut wajahnya dan…

Bab 39. Ajakan Ketemu

POV Fatimah Akibat pertemuan hari itu. Belakangan ini membuat teringat kembali, Mas Rahmat, sungguh membuatku stress. Apa bagusnya dia sih, gantengan juga Etzar. 'Klunting.' Suara…

Bab 38. Mulai Dari Awal

Mulai dari awal POV Rahmat Perpisahan yang paling menyakitkan adalah perpisahan yang tak terucap. Tiba-tiba menghilang, lalu kemudian meninggalkan tanda tanya. Aku tahu rasa tersebut…

Bab 37. Farel?

"Hehehe ... boleh jujur ngga." "Apa? Kamu udah naksir aku saat itu?" tebakku.  "Ye ... GR kamu Mah, bukan itu. Aku sebenarnya memang mengikuti kamu…

Bab 36. Lembaran Baru

"Mah … gimana?" tanyanya lagi Detak dalam dada bertalu-talu, berdebar tidak beraturan.  Diam sesaat, aku masih belum bisa menyampaikan jawaban yang sudah aku persiapkan berhari-hari.…

Bab 35. Aku Akan Dijodohkan

"Mungkin lebih baik aku menjauh" "Kenapa?" "Agar tak membuatmu menunggu dan menyakiti hatimu.” Saat dia membuat peraturan dengan bilang tidak boleh di WA dulu, mungkin…

Bab 34. Menikahlah denganku

Sejak pertemuan hari itu kita pun sering curhat banyak hal, tentang keluarga tentang bisnis tentang apapun itu. Setiap aktivitas Etzar selalu dia bagi kepadaku. Entah…

Bab 33. Asal Bukan Rahmat

Hangatnya mentari pagi menyusup melalui celah jendela, diiringi kicauan merdu burung-burung beterbangan bersiap menyambut pagi. Udara sejuk khas pedesaan masih bisa kuhirup dari sini, di…

Erzar

Astagfirullahaladzim Reflek aku menutup mulut dengan telapak tangan.  Ternyata dia …  Seorang laki-laki yang aku kenal di masa putih abu-abu, Willy Jonaetzar. Dia menyematkan di…

Pria Maskulin Misterius

Tepat pukul 11.30 WIB aku sudah sampai di lokasi. Tanpa sadar di area parkir terlihat seseorang yang sepertinya aku kenal.  ‘Siapa Pria itu, sepertinya tidak…

Terhasut Sanas

Ada apa ini? Jangan-jangan ini ada hubungannya sama apa yang dikatakan Sanas tadi. Cari masalah saja itu orang. Karena Pak Hans orang yang sangat sibuk…

Keputusan Berat

Seperti biasa alarm berbunyi di pukul tiga pagi. Meskipun tidak berbunyi alam bawah sadarku tetap peka dan sudah secara natural bangun.  Aku mengambil gawai yang…

Ibu Salah Paham

“Lho ada apa ini?” Aku refleks mengucap kalimat tersebut. Mungkin karena sudah capek seharian bekerja, dapat musibah juga. Malah sekarang Ibu bertingkah seperti ini. Apa…

Maafkan Aku, Ayah

Sungguh, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Ayah. Apalagi kalau sampai …  Tidak itu tak boleh terjadi. Aku harus berpikir positif. …

Viral

Ada apa?  Kami pun mendekat melihat layar 7 inch tersebut. Sontak kami semua kaget. Aku refleks menutup mulut, melihat apa yang terpampang di sana.  Gambarku…

Drama yang belum selesai

[Nanti sore kalau tidak sibuk, mari ketemuan di Akasia Cafe] ketikku pada Nisa.  [Ajak Vita juga ya kalau dia free dan mau] sambungku.  [Ok] jawab…
error: Content is protected !!