PELET

Di Tolak Cinta

Dadang adalah seorang pemuda  berasal dari Jawa Timur, yang sedang menimba ilmu dengan berkuliah di kota Bandung-Jawa Barat.

 

Sampai suatu ketika Dadang bertemu  dengan seorang gadis di kampus tersebut, dan gadis itu bernama Rima. Dia cantik, modis dan cukup terkenal di kalangan mahasiswa lainnya dan hal itu membuat Dadang tertarik padanya.

 

Ia mencoba mendekati Rima dengan tujuan untuk menjadikannya pacar. Namun baru saja Dadang ingin berkenalan, ia justru di tolak mentah-mentah oleh Rima. Mungkin karena penampilan Dadang yang culun, di mana hal itu juga yang membuat Dadang selalu dibully oleh teman-temannya di kampus.

 

Tak hanya Rima, bahkan teman-temannya pun turut menertawakan Dadang yang berani mengajak seorang gadis populer di kampusnya untuk berkenalan. Dadang tidak menyerah sampai disitu, dia terus mencoba untuk mendekati Rima.

 

Sepulangnya dari kampus Dadang sengaja menunggu Rima di tepi jalan setapak yang selalu dilewati olehnya, dengan sebuah motor yang menemani.

 

Sampai akhirnya ia melihat Rima dengan sepeda motor yang di kendarainya.

 

“Rima!” Dadang memanggil Rima seraya menghentikan motor Rima. Dengan  terpaksa Rima berhenti daripada harus menabrak Dadang.

 

“Ada apa?!” Rima menjawab dengan ketus. Ia merasa terganggu karena selalu diganggu oleh Dadang. 

 

Tatapan Dadang tajam bak harimau yang siap menerkam mangsanya. “Santai dong tidak usah jutek begitu, toh aku cuma ingin berkenalan saja sama kamu!” 

 

Kemudian Dadang mengulurkan tangannya di depan Rima. Tapi bukannya menyambut jabatan tangannya, Rima justru berdecak kesal.

 

“Cuih!! Tidak tau malu ya kau ini. Sudah ku tolak di depan teman-teman, masih saja belum kapok. Tak punya urat malu kah?” Ucapan Rima membuat hati Dadang tertohok, rasanya seperti ada benda keras yang menghantam dadanya.

 

Namun Dadang masih sabar sebab dia benar-benar mencintai Rima. Dadang ingin menjadikan Rima sebagai kekasihnya dan kalau perlu menjadikannya sebagai istri. Sehingga perlakuan Rima yang kasar pun tak digubris olehnya.

 

Dadang mundur setelah Rima mengatakan bahwa dirinya tidak punya urat malu, dan membiarkan Rima pergi begitu saja. Setelah itu barulah Dadang pulang dalam keadaan sakit hati atas perlakuan Rima. 

 

Di sudut jendela kamar kostan nya Dadang berpikir. “Bagaimana ya cara menaklukan gadis sombong itu, supaya dia mau menerimaku?” 

 

Pikiran Dadang melayang jauh sampai ia mengingat salah satu temannya yang berada di kampung. Kemudian Dadang menyambar ponselnya dan menghubungi temannya itu, untuk meminta pendapat dan solusi terhadap permasalahan dirinya.

 

“Halo, ini saya Dadang!” sapa Dadang, ketika panggilan itu terhubung.

 

“Dadang, apa kabar lama tak bersua?” sang teman pun membalas sapaan Dadang.

 

“Baik sob, saya sedang ada masalah nih!” 

 

“Masalah apa rupanya? Uang, perebutan harta warisan atau masalah cinta,  haha!” Teman Dadang menertawakannya di saat dia mengatakan kalau Dadang sedang ada masalah.

 

“Cinta, saya mencintai seseorang di kampus saya. Tapi dia menolak saya mentah-mentah dan saya ingin meminta solusi sama kamu, sob!” Dadang jujur dengan ucapannya tidak ada sedikitpun yang ditutup-tutupi.

 

“Pasti gadis itu sangat cantik, sehingga seorang Dadang yang misterius jatuh cinta padanya, haha!” Teman Dadang terus meledeknya. Akan tetapi Dadang tidak menghiraukan ledekan itu, demi untuk meminta solusi kepada temannya.

 

“Apa kamu sudah mengungkapkan perasaanmu padanya?” tanya temannya Dadang.

 

“Sudah, tapi dia malah menghina saya dan menolak saya. Dia tidak mau berkenalan dengan saya, apa kamu punya solusi?” Dadang tetep meminta pendapat dan solusi kepada temannya itu.

 

“Pelet, datang saja pada Ki Anom minta jampi-jampinya, supaya gadis yang kamu suka itu takluk di kakimu!” mengejutkan! Saran dari temannya Dadang, sangat mengejutkan! 

 

Dadang berpikir keras dengan solusi yang diberikan oleh temannya. “Haruskah aku melakukannya, agar gadis  yang ku sukai itu jatuh ke pelukanku?” Dadang memutar kembali otak dan perasaannya agar tidak salah langkah, bagaimana pun dia masih memiliki iman.

 

Keesokan harinya Dadang datang ke kampus dan berjalan menuju kelas. Dia dibully oleh teman-teman Rima ketika dia melewati mereka, termasuk Rima sendiri.

 

“Eh kalian tau tidak? Kemarin saat pulang dari kampus, dia mengungkapkan perasaannya sama aku. Tapi sudah ku tolak pun masih tidak tau malu, tetap saja mengejar-ngejarku, cuih!” Rima berkata dan meludah didepan Dadang dan teman-temannya. Ludah Rima hampir saja mengenai wajah Dadang

 

Dari situ Dadang menatap tajam ke arah Rima, hatinya begitu sakit karena dipermalukan oleh Rima. 

“Kamu tunggu pembalasanku, Rima!” batin Dadang berkecamuk, ketika mendapatkan perlakuan seperti itu dari Rima, gadis yang dia sukai.

 

Dadang kembali melanjutkan langkahnya ke dalam kelas dengan dirinya yang ditertawakan oleh Rima dan teman-temannya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan membalas dendam pada Rima.

 

Sore sudah menjelang, dimana Dadang pun sudah pulang dari kampusnya. Ia membereskan baju-baju dan berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Dia akan menemui teman SMK-nya yaitu Andra, sehingga ia pun tidak akan mampir ke rumah orangtuanya dulu.

 

Dadang menunggu bis di terminal, setelah ia menggunakan angkot ke terminal ini dari kostannya yang cukup  jauh. Dadang memasuki bis jurusan Jawa Timur. Di dalam bis Dadang membayangkan perlakuan Rima yang meludahinya di depan teman-teman. 

 

Dadang geram ketika mengingat hal itu. Niatnya sudah bulat untuk membalaskan dendamnya pada Rima, dan ia harus berhasil menaklukan Rima agar bertekuk lutut di hadapannya. 

 

Akal dan pikiran Dadang sudah tidak sehat karena sudah dirasuki oleh hal-hal negatif, namun ia tak peduli karena yang terpenting adalah dia berhasil menaklukan gadis yang telah menyakitinya.

 

Sesampainya di Kota Surabaya Dadang melanjutkan perjalanannya menuju rumah temannya yang berada di malang. Dia naik angkot lagi untuk mencapai tujuan akhir.

 

Sampai di sebuah desa Dadang berjalan menyusuri jalanan sempit menuju rumah temannya yang bernama Andra. Jarak antara Jawa Barat dan Jawa Timur lumayan memakan waktu seharian. 

 

Setelah Dadang berjalan cukup lama, akhirnya ia sampai juga di rumah Andra sekitar pukul sembilan pagi. Dadang mengetuk pintu rumah Andra, sampai akhirnya ayah Andra yang membukakan pintu untuknya.

 

“Assalamualaikum,” ucap Dadang. 

 

“Waalaikumsalam! Maaf, mau cari siapa ya?” tanya Ayah Andra. Beliau tidak mengenal Dadang karena jarang sekali bertemu.

 

“Saya temannya Andra Pak, apa Andra ada di rumah?” Dadang menanyakan Andra karena tidak melihatnya di rumah ini.

 

“Kebetulan Andra masih kerja, apa mau ditunggu? Ayo duduk dulu!” Ayah Andra mengajak Dadang untuk masuk ke dalam rumahnya.

 

“Permisi!” Dadang pun masuk ke dalam rumah Andra dan duduk di kursi yang sudah lapuk dimakan usia. Maklum di kampung tidak ada barang mewah seperti umumnya di kota. 

 

Ayah Andra kembali bertanya pada Dadang. “Nak ini darimana? Dan siapa namanya?”

 

“Saya Dadang Pak, saya dari kampung sebelah. Saya baru pulang dari kota dan ingin mampir ke sini karena ingin ketemu dengan Andra. Dulu Andra dan saya satu sekolah saat SMK, Pak!” jawab Dadang menjelaskan pertemanannya dengan Andra.

 

“Oh begitu…” angguk Ayah Andra. “Kamu sudah makan? Kebetulan Bapak habis masak nih, maklum Andra tidak punya Ibu. Jadi, bapak sendiri yang masak!” 

 

Dadang memberanikan bertanya meskipun sedikit sungkan. “Oh, kemana Ibunya, Pak?” 

 

“Beliau sudah pergi menghadap Sang Pencipta,” bersamaan dengan itu ayahnya Andra tertunduk lesu.

 

“Oh, maaf Pak!” lirih Dadang dengan rasa bersalah.

 

Singkat cerita sekitar jam tiga sore Andra pulang dari pekerjaannya. Dia sumringah mendapati Dadang teman semasa SMA-nya sudah berada di rumah.

 

“Dadang, apa kabar?” tanya Andra memeluk Dadang.

 

“Baik-baik Sob, kamu sendiri apa kabar?” Dadang membalas pelukan Andra. Dia sejenak melupakan rasa sakit hatinya ketika bertemu dengan sahabat lamanya.

 

Dadang dan Andra mengobrol setelah Andra beristirahat. Dadang menceritakan rasa sakit  yang diukir oleh seorang gadis cantik di kampusnya. Dia menjelaskan semuanya pada Andra, dari awal pertemuannya dengan Rima sampai ke akhir.

 

Andra kemudian bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

 

“Seperti saran kamu waktu itu, saya harus mendatangi Ki Anom. Itu jalan satu-satunya yang bisa saya ambil, karena saya sakit hati sekali dengan gadis itu. Sok cantik dan sok paling populer di kampus, saya ingin dia tunduk di bawah kaki saya dan memohon-mohon cinta kepada saya!” ungkap Dadang. Dia merasa sangat terhina ketika Rima meludahinya di depan semua teman-temannya.

 

Andra menyetujui keinginan Dadang karena Andra juga pernah merasakan sakit hati seperti Dadang, bedanya Andra diselingkuhi. Hingga akhirnya sang kekasih meninggal dunia akibat ulahnya sendiri. “Jadi, kapan kamu mau bertemu dengan Ki Anom?”

 

“Terserah kamu saja sob, kapan bisanya mengantar saya ke sana?” Dadang balik bertanya pada Andra.

 

“Nanti malam saja, lebih cepat lebih baik. Biar cepat tau hasilnya seperti apa, asal kamu yakin mau melakukannya!” Andra berkata dan meyakinkan Dadang supaya tidak setengah hati untuk melakukan tindakan balas dendamnya.

 

“Tidak, saya sudah bertekad ingin memiliki gadis sombong itu!” jawab Dadang dengan tegas. 

 

“Baik kalau begitu, mari kita siap-siap untuk keberangkatan nanti malam, karena Ki Anom biasa menerima tamu di malam hari. Maharnya sudah ada?” Andra menanyakan mahar kepada Dadang.

 

“Mahar apa?” tanya Dadang yang tidak begitu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Andra.

 

“Kamu harus punya mahar untuk membeli perhiasan, minimal satu juta!” Andra mengibaratkan ke perhiasan yang akan dibeli.

 

“Aduh, saya belum narik uang dari rekening. Terus bagaimana? Kan jauh kalo harus ke kota?” Dadang kebingungan.

 

“Ya sudah, pake uang saya saja dulu. Nanti gampang kamu tinggal transfer ke saya!” Andra menawarkan pinjaman kepada Dadang. Dia berbaik hati kepada temannya yang tengah membutuhkan bantuannya.

 

“Terimakasih Andra! Pasti akan saya ganti kalau sudah selesai dengan Ki Anom,” Dadang merasa bahagia mempunyai teman yang mensupport segala-galanya. Dia merasa tidak sia-sia untuk datang kemari.

 

Aki Anom adalah seseorang yang di tuakan di salah satu kampung tetangga Andra dan Dadang. Dia terkenal akan pengobatan tradisionalnya, di samping membantu orang-orang yang berobat Aki Anom juga membantu orang-orang untuk melakukan santet, pelet dan pesugihan kepada siluman-siluman yang dianutnya.

 

Sama sperti Dadang saat ini, dia tengah membutuhkan  bantuan Ki Anom untuk memelet seorang gadis yang disukainya. Gadis itu berada di kota Jawa Barat jauh dari kampungnya. Apakah bisa dengan pelet jarak jauh? Meskipun sedikit ragu, Dadang menjumpai Aki Anom yang menurut Andra sangatlah ampuh dalam segala hal.

 

Sekitar jam sembilan malam mereka akhirnya sampai di rumah Ki Anom, dengan mengendarai motor. Tidak sampai di situ, Andra dan Dadang harus mengantri dengan pasien lain yang akan berobat. 

 

“Penuh!” Andra berkata kepada Dadang.

 

“Antri ya?” tanya Dadang.

 

“Masuk aja yuk!” Andra mengajak Dadang setelah memarkirkan motornya di depan rumah Ki Anom. Lalu mereka berdua masuk dan ikut antri.

 

Semakin malam semakin banyak yang bertamu ke rumah Ki Anom dengan tujuan yang berbeda-beda. Hingga akhirnya giliran Dadang dan Andra untuk masuk ke ruangan Ki Anom yang hanya diterangi oleh lampu temaram.

 

“Apa tujuan kalian datang kesini?” tanya Aki anom yang langsung bertanya tanpa basa basi dahulu.

 

“Begini Aki, teman saya ini bernama Dadang membutuhkan pertolongan Aki untuk menaklukan seorang perempuan yang telah menyakitinya!” Andra mewakili Dadang berbicara kepada Aki Anom. Karena Dadang yang terlihat gugup untuk langsung berkata.

 

“Oh begitu? Maunya seperti apa?” Aki anom menatap Dadang yang gemetaran. Andra tidak sadar kalau Dadang melihat satu sosok gaib di belakang Ki Anom. 

 

“Sa-saya!” Dadang terbata-bata. Akhirnya Andra yang meneruskan keinginan Dadang.

 

Andra menceritakan kalau temannya ingin menaklukan seorang gadis yang berada di kota Jawa Barat. Dia telah menghina bahkan merendahkan Dadang sebagai seorang laki-laki, hanya karena berpenampilan culun dan tidak sesuai dengan kriteria si gadis itu.

 

Aki Anom manggut-manggut tanda mengerti penjelasan Andra. Dia melirik ke Dadang dan menanyakan foto wanita yang dia sukai. Kemudian Dadang pun memperlihatkan dan memberikan foto Rima dan menyebutkan namanya.

 

Andra menepuk pundak Dadang mensupport sang teman supaya yakin apa yang akan dilakukan selanjutnya. Dadang tersenyum meskipun sempat merasa takut karena melihat sosok makhluk halus yang ada di belakang Ki Anom. Namun saat mengingat kembali Rima meludahinya, dia bersemangat kembali untuk menaklukan sang pujaan hati dengan cara di pelet.

 

Rasa cinta yang dirasakan oleh Dadang berubah menjadi keinginan untuk menaklukan dan mempermalukan Rima seperti Rima yang mempermalukan dirinya.

 

Aki Anom memberikan sebuah sabuk yang harus dipakai oleh Dadang. Yang di dalamnya ada sebuah benda untuk menaklukan gadis yang telah menyakiti Dadang.

 

Aki Anom menyuruh Dadang untuk memakai sabuk tersebut. Namun ada persyaratan yang harus di penuhi oleh Dadang. Dadang pun menyanggupi semua syarat yang diberikan Aki Anom terhadapnya, demi untuk memuaskan hasrat dendamnya pada Rima.

 

Akankah Dadang berhasil menaklukan hati Rima? Atau justru malah menghancurkan dirinya sendiri? Tidak ada yang tau seperti apa kekuatan yang Dadang pakai untuk membalaskan dendamnya pada Rima….

Next 

 

error: Content is protected !!