Kita Saja Cukup

Teman Lama

Naya tak pernah menyukai teman sendiri.

Sepanjang ia hidup di dunia menyebalkan ini. Naya selalu mampu memisahkan perasaannya pada tiap lelaki yang ia kenal. Jika sejak awal mereka adalah teman, maka mereka akan tetap begitu sampai akhir. Jika sejak awal ia ingin mereka menjadi kekasihnya, maka Naya akan mengincar mereka sampai dapat, atau ditolak.

Pada banyak kasus, ia malah mampu menghapus rasa sukanya, karena dalam proses pendekatan, gadis itu sadar bahwa mereka ternyata tidak begitu cocok. Orang-orang itu berakhir menjadi teman Naya, tanpa mengetahui bahwa dulu ia sempat menaruh hati pada mereka.

Namun, pada kasus kali ini segalanya terasa begitu berbeda, dan konyol.

Ia bahkan tak percaya dengan apa yang kini memenuhi hatinya.

Satu minggu sebelum bulan puasa, biasanya para pemuda-pemudi di Desa Bunga berkumpul untuk melakukan rapat kecil tentang jenis makanan apa yang akan mereka bawa untuk Makan Bersama atau Mabar, tepat sehari sebelum puasa dimulai.

Dua tahun terakhir, Naya tak pernah hadir dalam perkumpulan ini karena urusan pekerjaan dan studi yang diambilnya di pulau Jawa, juga alasan-alasan pengecut lain yang tak pernah ia ungkap. Hari ini, seharusnya pun ia tak ingin datang. Namun, acara itu dilakukan di sebelah rumahnya, dan Naya diseret sahabatnya untuk hadir di sana.  

Matanya memerhatikan wajah-wajah asing di sana. Beberapa anak-anak kecil yang kini sudah menjadi remaja, teman-teman lama yang kini terlihat jauh lebih dewasa, dan sedikit abang-abangan yang belum menikah.

“Nay, kamu sudah denger gak sih?” tanya sobatnya, Rena. Naya hanya menoleh, sejujurnya masih betah memerhatikan wajah-wajah baru yang ada di sana. “Mantanmu sudah punya anak tahu, belum ada setahun gak si nikahnya?”.

Naya mengangguk santai, ia bahkan tahu kapan pemuda itu menikah dan alasan dibalik pernikahan tersebut. “Emang hamil duluan Ren, makanya nikah.”

“Kam sudah tahu?”

“Orangnya ngubungin aku agak jauh sebelum nikah itu.” Ia melirik Rena sambil memasang senyuman kecil, “Kalo gak gitu, masih main sana-sini kali tu orang.”

Rena terkekeh mendengar hal itu, “Kam gak mau ikutan juga?”

Senyuman Naya kini mengembang sempurna, “Ikutan apa? Punya anak duluan?”

“Mata kam! Nikah dululah!” kesalnya membuat Naya tertawa.

Gadis itu lalu menggeleng kecil, “Gak,” balasnya santai. “Kemudaan gak sih umur segini mau nikah?” balasnya lagi, sengaja memancing emosi Rena.

“Muda dari mana njir! Kita dah 27 ya!” Naya hanya terkekeh mendengar hal itu, “Aku tahun depan juga rencananya nikah Nay, ayolah bareng kita. Cari-cari pacar sana,” goda gadis itu hanya membuat Naya kembali terkekeh sambil menggeleng.

Ia tak tertarik pada pernikahan. Tidak ada alasan khusus, terlalu lama sendiri ternyata membuatnya punya kesimpulan bahwa sendiri pun jauh lebih menyenangkan dibandingkan berdua. Ia tak merasa bahwa hubungan seperti itu akan bekerja dengan baik pada orang serumit dirinya, Naya tak merasa bahwa pernikahan akan membawanya pada kehidupan yang lebih menyenangkan.

Ia sudah cukup bahagia dengan hidupnya yang sekarang.

Walau terkadang jatuh cinta membuatnya dirinya sedikit gila.

“Atau mau kucariin?” tawar Rena.

Naya memandangnya dengan alis berkerut, “Dih?” kesal gadis itu membuat Rena tertawa. “Bapakku nyarikan saja langsung kutolak apa lagi kam?”

“Ih! Aku loh paham tipemu ya anjir!” kesal sobatnya itu. Kini Naya tak begitu mendengarkannya, “Kau suka tipe cowok yang rajin kan? Yang sopan—“

Naya memandang sekeliling, mata gadis itu tanpa sadar bertatapan dengan mata salah satu pemuda yang dikenalinya, mereka sudah lama sekali tak bertemu atau pun bertegur sapa. Teguh? pikirnya tanpa sadar.

Ocehan Rena kini terasa seperti angin lewat saja di dalam telinganya, “—yang kalo baik gak mandang orang, yang enak diajak bercanda, terus kalo senyum tuh manis—“

Naya otomatis tersenyum sambil menaikkan alis, menegur pemuda itu, yang langsung dibalas dengan tingkah yang sama. Ni orang masih aja tengil tingkahnya, batin Naya.

“Iya kan?” Gadis itu sama sekali tak mendengar apa yang Rena katakan.

Teguh membuang muka, mengobrol pada kawan lain yang baru datang selagi melangkah ke arahnya. Ia memerhatikan pemuda itu yang sedang tersenyum lebar pada teman mereka. Lama gak keliatan, manis juga ni manusia ternyata? pikir Naya masih betah memerhatikan pemuda itu.

“NAY!” tegur Rena membuat Naya terperanjat. “Babi kam gak dengerin aku ya njing?!” kesalnya membuat Naya memasang senyuman tak berdosa.

“Maap.”

“Cot!”

Naya hanya terkekeh, kekesalan Rena tak bertahan lama ketika rapat kecil itu dimulai dan semua orang dipersilahkan untuk duduk bersama. Naya melirik ke arah sosok yang mendudukkan diri di sebelahnya bersamaan dengan pemuda itu yang menatapnya. Ada detak besar aneh yang mengganggu kerja jantungnya ketika mata mereka bertemu.

Gadis itu menelan saliva, mengabaikan respons konyol alam bawah sadarnya, “Lama gak keliatan masnya yaa?” tegur gadis itu, membuat orang tersebut menatapnya datar.

“Ngaca deh,” kesal orang itu. Naya tersenyum, Teguh masih seperti dulu, paling tak suka jika ia panggil dengan sebutan Mas,  “Dari kapan pulang Nay?” lanjut Teguh membuka pertanyaan.

“Sudah sebulan di sini,” balas Naya ringan.

“Balik ke Jawa lagi ntar?” Naya menggeleng, “Sudah kelar urusan di sana?”

“Yup,” balas gadis itu ringan.

Obrolan singkat tersebut berhenti karena rapat yang mulai dibuka. Mereka mulai  berdiskusi tentang jenis makanan apa yang akan dibuat untuk acara nanti, dan jenis kejutan apa yang ingin diselipkan ke dalam makanan tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga mulai membahas tentang kemungkinan buka bersama, urusan iuran, dan persiapan untuk hias desa  menjelang lebaran.

Naya mengambil alih urusan mencatat segala keperluan selagi ketua itu menyusun anggota-anggota yang akan mengurus segala kegiatan selama bulan puasa nanti. Teguh sesekali membantunya menyebutkan hal-hal yang terkadang terlewat oleh telinga Naya, “Untuk Mabar nanti, urusan konsumsi sama Teguh ya.” Gadis itu menulis nama tersebut di kertasnya, “Partnernya siapa Guh?”

“Ini, anak baru!” ujar Teguh sambil mengetuk pelan ujung kepala Naya menggunakan telunjuknya.

Naya mengangkat kepala untuk menatapnya, “Dih? Aku gak tahu apa-apa anjir!”

“Ya karna kau gak tahu apa-apa mba,” balas pemuda itu membuat Naya cemberut, ada perasaan konyol yang terbesit di hati gadis itu, entah apa. Mau tak mau, ia lantas menulis namanya di sebelah nama Teguh, pemuda itu lalu berujar pelan di sebelahnya. “Kita cari bumbu-bumbu baru di pasar ntar.”

Naya menoleh, memandang Teguh yang kini memasang seringai padanya, membuat Naya sadar dengan apa yang ingin diperbuat oleh pemuda itu. “Okeh!” balasnya membuat Teguh menarik senyuman lebar, benar-benar senang.

Setelah beberapa tahun tak bertemu, bahkan tak saling bertukar kabar selama ia di Jawa, ternyata mereka masih memiliki tingkah yang sama, masih semudah ini untuk mendekat, masih sering sekali saling tatap di waktu yang bersamaan.

Ni anak kalo bucin tingkahnya kayak apa ya?  

Naya membeku, baru menyadari pertanyaan konyol yang melintas di otaknya.

Shit! 

Lates Chapters

Diskusi

Bisa dibilang, ini adalah kali pertama mereka kencan setelah status itu berganti. Naya sejujurnya agak takut dengan hal-hal seperti ini meski Teguh adalah temannya sejak…

Tentang Yudis

Satu minggu sejak pertemuan mereka di kafe itu. Naya baru menyadari bahwa tingkah Teguh sebelum dan setelah berpacaran dengannya tidaklah berbeda jauh. Mereka jarang bertukar…

Kepastian

Naya menghela napas, rasanya seperti baru kemarin mereka menangis karena kematian Rahayu. Namun kini sudah tiga hari berlalu. Gadis itu melirik ke arah ponselnya, pesan-pesan…

Rahayu

Naya tidur sepanjang hari usai kejadian malam itu. Perasaannya benar-benar tak enak ketika ia bangun. Ia masih tak habis pikir dengan betapa bodoh dirinya menolak…

Pacaran?

Apa ... aku salah denger ya? Naya berusaha tak memikirkannya bahkan setelah konser itu berakhir. Pertanyaan itu terdengar sangat jelas ketika Teguh menanyakan arti hubungan…

Kita Ini Apa?

“Jadi nonton Hindia?” Naya tak bisa menahan senyumannya ketika membaca pesan itu. Padahal minggu lalu dia hanya iseng menunjukkan poster konser Hindia yang akan diadakan…

Manis?

Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika Naya selesai sembahyang Magrib, gadis itu mengecek ponselnya, tidak menemukan satu pun pesan dari Teguh di sana.…

Ex

TeguhAku kerja malam Naya membaca pesan itu dalam diam. Sudah nyaris sebulan berlalu sejak mereka makan nasi goreng malam itu, dan kini hubungan Naya dan…

Nasgor

Naya sejujurnya hanya menganggap segala tingkah Teguh sebagai angin lalu. Tidak peduli bahwa tiap mengingatnya ia tak mampu menahan senyum, tak peduli jika matanya mampu…

Nasgor

Naya sejujurnya hanya menganggap segala tingkah Teguh sebagai angin lalu. Tidak peduli bahwa tiap mengingatnya ia tak mampu menahan senyum, tak peduli jika matanya mampu…

Nyindir

Satu hari penuh sebelum hari lebaran tiba, hujan deras mengguyur Desa Bunga. Sepanjang malam orang-orang disibukkan angkut-angkut barang ke bagian rumah yang lebih tinggi, lantai…

Tentang Mati Rasa

Akhir-akhir ini, Naya sering sekali melihat Teguh. Beberapa hari yang lalu pemuda itu menegurnya ketika pulang kerja, tepat jam setengah enam sore saat Naya sedang…

Pengen Nikah Gak?

Hubungan Rena dan Ardan terasa begitu dingin bahkan di dalam grup internal mereka. Tidak ada lagi olok-olokan di dalam sana antar keduanya, tidak ada lagi…

Perkelahian

Berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya, Naya tidak membutuhkan waktu lama untuk lepas dari jeratan tingkah jahil Teguh malam lalu. Ia tahu, itu tak berarti apa pun. Itu…

Cobaan

Ketika seseorang jatuh cinta, ia akan masuk dalam fase obsesi di mana segala hal yang dilakukan oleh sosok yang disukainya akan sangat menarik dan menimbulkan…

Mencari

Ketika masih masa sekolah, entah itu SMA atau pun kuliah, mendekati orang yang disukai bukanlah hal yang sulit. Tidak peduli mereka berbeda kelas dengan kita,…

Jahil

Naya tahu kalau Teguh itu orang yang tengil, namun ia tak menyangka bahwa Teguh akan semenyebalkan ini dalam memberinya panggilan. Sejauh yang ia ingat, Teguh…

Babe

Rumah Naya dulu selalu dijadikan tempat nongkrong ketika mereka berada di peralihan masa SD ke SMP. Rumah itu selalu ramai tiap siang hari hingga sore…

Tak Sesuai Kata

Pertemuan mereka malam itu membuat Naya bertanya-tanya tentang perasaannya sendiri. Tentu tidak ada momen menarik di sana, jika dipikir dengan rasional pun interaksinya dengan Teguh…
error: Content is protected !!