Bencana Selingkuh

1.

“Dia siapa, Mas?” tanya Melani kepada suaminya. 

Melani terkejut melihat Candra datang dengan seorang wanita cantik dengan penampilan terbuka.

“Perkenalkan ini Riana, madu kamu. Kami udah nikah minggu lalu,” jawab Candra singkat.

“Kok bisa? Kamu kenapa gak ijin dulu sama aku, Mas!” pekik Melani.

Candra tertawa mengejek mendengar sang istri yang mulai histeris melihat kedatangan  istri barunya. 

“Sejak kapan suami kalo nikah perlu ijin istri? Nikah ya nikah aja,” sahut Candra, “satu lagi hal yang harus kamu tau Riana bakal tinggal sama kita di kamar yang sama,” tambahnya.

Melani sudah tidak tahan dengan sikap dan juga keputusan  sang suami yang dianggapnya sungguh keterlaluan dan konyol. Bagaimana mungkin satu kamar dengan madunya, sementara menerima kehadiran orang ketiga tersebut dia enggan.

“Kamu jangan becanda deh, Mas. Nerima kehadiran dia aja aku gak bisa, sekarang kamu bilang kita tidur bertiga? Ini ide paling konyol yang pernah aku dengar,” tolak Melani, “satu lagi yang harus kalian ingat, pernikahan tanpa izin istri memang beberapa menganggap sah secara agama tetapi tidak secara hukum dan bisa dikenai tindakan hukum pidana,” kata Melani sengit. 

“Halah, udah kamu gak usah banyak bacot. Kalau mau ikuti permintaanku silahkan kamu ikuti peraturannya, kalo gak mau pergi dari sini!” usir Candra dengan wajah memerah.

Melani diam mematung, dia tidak percaya akan perkataan yang terlontar dari bibir Candra barusan. Perjuangan mempertahankan pernikahan selama tujuh tahun kandas sudah. Marah, sedih, kecewa bercampur aduk dan tampak dari raut wajah ayunya.

Air mata lolos begitu saja tanpa aba-aba. Melani menahan tangis yang akan membuncah kapan saja, kali ini, haram baginya menangis di hadapan lelaki yang dia cintai sebagai suami.

 Tanpa banyak bicara, Melani menuju kamar di lantai tiga. Di sana dia mulai mengemas pakaian, surat berharga atas namanya serta seluruh perhiasan ke dalam sebuah koper besar.  Usai berkemas, istri sah Candra mengambil kunci mobil dan kembali ke bawah. Pemandangan yang di lihatnya sungguh membuat perutnya mual, bagaimana tidak Candra dan Riana bercumbu seolah tidak mengenal tempat yang layak.

“Hei, jangan lupa tutup pintunya. Tunggu saja surat panggilan dari pengadilan selamat menjadi janda, hahaha,” cemooh Candra.

“Setidaknya aku lebih terhormat ketimbang pelakor,” balas Melani dengan sinis.

Wajah Candra memerah dan urat di pelipis tampak menonjol karena tidak suka dengan kata penghinaan yang ditujukan kepada istri barunya. Melani tidak peduli lalu bergegas menuju mobil dan melajukannya keluar dari rumah mewah tersebut.

“Salahku apa, Mas? Aku sudah berdamai dengan keadaan dan pura-pura gak tau, kalau kamu ternyata mandul dan menukar hasil lab. Aku juga udah terima kau hina sebagai perempuan mandul, sekarang rumah tangga kita hancur gara-gara  pelakor!” raung Melani di dalam mobilnya.

Khawatir akan terjadi kecelakaan, Melani menepikan mobilnya. Dia menumpahkan semua kekesalan dan juga tangis yang sudah ditahan sedari tadi.

Bisa dibayangkan bagaimana sakitnya hati seorang wanita yang berusaha mempertahankan pernikahan. Akan tetapi harus kandas di tengah jalan karena kehadiran orang ketiga, yaitu kekasih sang suami yang kini sudah berstatus sebagai istri muda.

“Tunggu dulu, kayaknya aku pernah deh liat pelakor itu, tapi di mana? Kok gak asing?” gumamnya.

Kini Melani sudah menguasai hatinya dan berhenti menangis. Baginya tidak perlu berlama-lama meratapi nasibnya yang kurang beruntung dalam urusan asmara.

Siapa yang tidak kenal dengan Candra Wirawan, pemilik dari CM Corporation berusia tiga puluh tujuh tahun yang memiliki paras tampan dengan tinggi 180cm. Sikapnya yang ramah serta berwibawa tentu saja menjadi magnet tersendiri bagi kaum hawa, apalagi kekayaannya yang sudah barang tentu membuat silau.

Jabatan serta kekayaan yang dia miliki membuatnya lupa kalau itu semua didapat dari hasil kerja keras dirinya bersama Melani sang istri yang setia menemani dari nol. Dia lupa bahwa setengah saham dari perusahaan adalah milik Melani Hartawan, putri konglomerat yang diusir karena pernikahan yang tidak direstui.

Kendati di usir, bukan berarti keluarga Hartawan melepaskan Melani begitu saja. Mereka tetap memantau keberadaan cucu kesayangan dari Wandra Hartawan. Melani berusia tiga puluh lima tahun berparas menawan, dengan tinggi 170cm, gigih dan pekerja keras serta sabar menerima kekurangan pasangan adalah keunggulannya, kelemahannya adalah tidak mudah berbicara kepada siapapun tentang isi hati yang sebenarnya, sedikit pelupa serta tidak memiliki jari kaki kelingking sebelah kiri. Dia juga mudah emosi jika ada penolakan. Melani  menikah selama tujuh tahun dan harus ikhlas ketika suaminya divonis dokter mandul. Bahkan dengan licik Candra menukar hasil pemeriksaan laboratorium miliknya dengan milik Melani. 

“Cih, sudahlah, ngapain juga aku harus susah payah ngingat si pelakor itu. Aku harus bangkit dan lebih sukses dari sekarang, lihat saja nanti,” tekad Melani.

Berbagai macam rencana pun disusun di dalam benaknya meski kini pikirannya sedang carut marut. Bagi wanita cerdas seperti Melani tidaklah kesulitan untuk berpikir.

Akan tetapi sisi wanita dari dirinya tidak bisa di pungkiri kalau kini hati sedang hancur dan merasa perih tak terperi. Bohong jika mengatakan dia baik-baik saja.

“Ayolah semangat, tidak masalah setiap hari bertemu di kantor. Melani Hartawan adalah wanita kuat, tangguh dan hebat. Harus semangat,” ujarnya, “gak pantes keturunan Hartawan lembek begini, kaya kerupuk kena air ujan,” imbuhnya lagi.

Puas menyemangati diri dan merutuk kesal atas sikap Candra, Melani kembali melajukan mobilnya ke sebuah rumah pribadi yang sederhana miliknya sebelum menikah dengan Candra. Tidak bisa dibilang sederhana karena rumah dua lantai itu cukup besar dan mewah.

Tiba di rumah pribadi, seorang petugas keamanan yang berjaga tidak mengenali mobil miliknya karena sudah lama tidak berkunjung, lelaki itu mendekat dan tidak membuka pagar, setelah kaca mobil diturunkan, sontak saja petugas itu terkejut dan bergegas membuka pintu.

“Maaf, Non eh, Nyonya. Saya gak kenal mobilnya,” cakap lelaki itu.

“Ga papa Pak Usep, udah lama juga kita gak ketemu. Gimana kabar? Rumahku aman nih kalo ada Bapak,” sapa Melani. 

Pagar besar dan mewah itu pun terbuka dan Melani melaju ke dalam kemudian memarkirkan mobilnya.

“Sebentar, Nyonya. Saya bangunin istri saya dulu buat angkat barang ke kamar,” pamit Pak Usep. 

“Ah ga perlu, Pak. Saya bisa sendiri. Besok tolong siapin sarapan saya seperti biasa karena saya balik lagi tinggal di sini,” tolak Melani. 

Pak Usep pun mengangguk meski batin bertanya-tanya ada apa gerangan dengan majikannya itu. ingin rasanya mencari tahu namun, dia harus menahan rasa itu karena tidaklah pantas  ingin tahu permasalahan sang majikan.

Melani mengangkat koper menuju ke kamar di lantai dua, kemudian membersihkan tubuh dan mencoba memejamkan mata di atas kasur yang empuk. 

Satu jam sudah sejak dirinya berbaring, mata enggan diajak bekerja sama untuk tidur meski sudah di paksa. Tiba-tiba, ponsel miliknya bergetar. Tampak pemberitahuan pesan masuk di sana. Melani meraih benda pipih canggih kemudian membaca sebuah pesan yang membuat mata indah membulat sempurna. 

 

Lates Chapters

34

“Juan, kau gila ya? Jujur aku ragu apa kamu beneran kenal istrimu itu. Dengar, aku masih mencintai Melani sampai detik ini. Ingat itu aku masih…

33

“Siapa ya itu?” tanya Melani sambil berbisik. “Nyonya diem di sini dan jangan bersuara. Saya mau buru-buru buka pintu,” jawab Bu Murni sambil berbisik juga.…

32

[Kalian cari di mana keberadaan istri dan anakku, laporkan segera.] Tulis Juan pada sebuah pesan. [Baik, Tuan,] balas seorang yang dikirim pesan tersebut. Juan kembali…

31

[Aku tunggu di kantin ya.] Candra membaca pesan dari Lusi. “Padahal aku udah sarapan, ga papa deh,” gumam Candra. Candra tampak senang pagi ini dan…

30

Pagi ini wajah Candra tampak ceria, dia sudah tampak rapi juga bersih. Tidak lupa menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya. Senyum menghiasi wajahnya sambil mematut…

29

“Hei, kamu kenapa, Riana!” seru Candra dengan wajah panik.   Bu Murni mengambil tisu dan menengadahkan kepala Riana, lalu menyumbat lubang hidung dengan tisu.  …

28

“Bentar, kok itu mirip Riana ya?” gumam Candra. Candra memundurkan mobilnya dan memerhatikan sosok wanita yang dia yakini sebagai istrinya. Posisi wanita itu sedang membelakangi,…

27

Tidak sampai empat jam orang suruhan Juan menemukan bahwa orang-orang Candralah pelakunya, Melani memutuskan untuk melaporkan mantan suaminya ke polisi untuk menuntut Candra agar diproses…

26

“Oh ada tamu. Apa kabar Candra? Udah lama gak ketemu,” sapa Juan. Juan menghampiri sang istri kemudian mencium keningnya. Melani tampak bahagia terpancar dari raut…

25

Juan mengucapkan terima kasih atas harapan Alex. Sang sahabat berpamitan kepada Juan. Jika Juan dan Melani sedang berbahagia dengan pernikahan mereka, berbeda dengan Candra yang…

24

“Vivian itu gadis yang dijodohkan untuk Juan saat kamu menikah. Dia ngotot minta dinikahi Juan sampe ngaku hamil anak Juan, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu…

23

“Kakak!” seru Juan dan berlari memeluk sang kakak. Wanita cantik yang sedang menarik koper, berpenampilan sederhana namun elegan tersebut melepas kacamata dan merentangkan kedua tangannya.…

22

Waktu berlalu begitu cepat, Melani dan Juan sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Berbeda dengan Candra yang kini penampilannya kusut masai. Riana sudah kabur meninggalkan Candra dengan…

21

“Ketemu!” seru Riana. Riana mengambil semua berkas sertifikat serta surat berharga lainnya. Dia bergegas menuju kamar dan menyimpan dengan rapi di salah satu tas. “Sebentar…

20

“Itu karena istrinya Bapak sedang hamil dan sepertinya kandungannya lemah atau bisa saja kehamilannya terganggu oleh sesuatu,” ungkap bidan tersebut. Candra terperangah karena terkejut dan…

19

“Duduk, Pak Candra,” ujar Tama dengan ramah. Candra duduk sambil tersenyum, ‘kok itu mirip nomer istriku yang lagi chat? Kenapa panggil sayang-sayangan gitu? Eh tapi…

18

“Bau? Bau apa?” Riana mengendus sekitarnya. Candra mendekati Riana sambil terus mengendus, wajahnya tampak marah. “Bau parfum siapa ini? Seingatku gak pernah ada parfum kamu…

17

Candra melihat Riana yang duduk lemas, dia segera menghampiri.  “Kamu kayanya kecapean deh sampe lemas begitu, ayo berobat ke dokter,” ajak Candra. “Gak usah, Sayang.…

16

“Siapa, Sayang? Kok gak dijawab teleponnya?” tanya Candra heran. “Temen aku ajak nongkrong di cafe, udah aku tolak tapi masih juga nelpon-nelpon,” jawab Riana berdusta.…

15

“Rama? Sama siapa kamu di sini? Binimu mana?” tanya Riana terkejut. “Aku sendirian, udah cerai juga aku sama istri sekitar dua bulanan gitu lah. Ya…
error: Content is protected !!