Aku berjalan menuju ke dapur, tempat dimana Mbok Ijah sedang menyiapkan makanan. Wajahnya terlihat sangat pucat.
“Mbok Ijah pucat sekali, Mbok sakit?” tanyaku.
“Ndak apa-apa, Den. Simbok hanya sedikit lelah.”
“Aku panggilkan Mama ya, Mbok.”
“Ndak usah, Den. Simbok —”
Aku segera berlari menuju kamar Mama tanpa mengerjakan ucapan Mbok Ijah.
“Ma, Mbok Ijah sakit,” ucapku pada Mama yang duduk diam di atas ranjang.
“Sudah, Nak. Kasihan Mbok Ijah. Jangan ganggu Mbok Ijah terus, ya. Dia akan selalu pucat setiap kali melihat kita.” Mama berkata dengan lirih.
Ah, iya, aku lupa. Aku memang sudah berjanji untuk tak menampakkan diri lagi di depan manusia. Tapi apa daya karena memang aku sangat suka untuk bermain-main dengan Mbok Ijah.
***