Virus Merah Jambu

1. Nikah Aja

Kicau burung dipagi hari, sebagai pertanda bahwa malam telah berakhir, dan kini berganti cahaya matahari yang mulai menunjukkan keagungan dilangit kota.

”Safiraaaa, ayo cepat mandi nanti keburu pamanmu datang!”

Seorang wanita paruh baya yang sedang mengaduk nasi diatas kompor mengangkat kepala, suaranya melengking bising menggemparkan seisi rumah dipagi yang mulai sibuk.

Pak Hasan turun dari motornya tergopoh-gopoh, ia menghampiri sang istri seraya bernasihat.

”Pelan-pelan teriaknya, tetangga kita lagi sakit!” Ia mengingatkan agar si istri dapat mengontrol suara.

Gerak tangannya meletakkan kantong plastik berisi kue jajanan pasar keatas meja, teh panas yang masih mengepul didalam teko pun sudah menunggu disana.

”Kalau pelan-pelan namanya bukan teriak, mas!” Bu Maya menyahut galak.

Pak Hasan hanya menanggapi dengan gelengan kepala, iapun berlalu membiarkan Maya yang masih sibuk didapurnya.

”Safiranya mana, bilangin jangan sampai telat, takut keburu mas Andi datang!” Semakin ditegur, semakin nyaring pula suara bu Maya ini.

”Kak Fira udah mandi bu!” Kali ini, suara si bungsu Rama yang menjawab.

Bu Maya menoleh melihat anak bungsunya duduk dan mengisi cangkirnya dengan teh panas.

”Baguslah…!” Maya menaruh kue-kue yang dibeli Hasan kedalam piring dan ikut duduk.

”Assalamualaikuum!”

”Waalaikumsalam!”

Menyadari ada yang datang bertamu, Mayapun menyahut sambil segera bangkit dan berjalan kearah pintu utama.

”Eh, bu Leha!” Sapa Maya dengan senyuman cerah.

”Bu Hajjah!” Wanita itu meralat sinis, tak rela gelar kebanggaannya dilewatkan.

”Iya ibu Hajjah!” Dengan senyum yang belum pudar, mau tidak mau Maya menuruti keinginannya, maklum kepada yang lebih tua.

”Jadi berangkat hari ini? jam berapa?” tanya Pak Hasan turut menyambut dan mempersilakan wanita itu duduk, diikuti Maya yang juga mengangguk setuju.

Satu komplek sudah tahu, bahwa hari ini tetangga seberang rumah Maya itu akan pergi liburan ke Bali sekeluarga.

”Jam sepuluh kayaknya!” Bu Leha menjawab dengan bangga, matanya memindai ke setiap sudut kediaman Maya mencari seseorang.

”Emm, Safiranya mana?” Tanya Bu Leha lagi, karena yang dia cari belum terlihat batang hidungnya.

”Emm Safira…” Maya ikut celingukan terlihat ragu karena iapun tak tahu.

”Bu Leha, apa kabar?”
Seorang gadis muda dengan senyuman manis keluar dari sebuah kamar, menyapa langsung wanita yang tengah mencarinya.

Hijab pasmina abu-abu berkibar mengiringi langkah Safira saat berjalan menghampiri tetangganya itu.

”Alhamdulillah baik, kamu juga jadi berangkat?” jawab Bu Leha  seraya menyambut seraya bertanya balik.

Safira mengangguk sambil tertunduk lembut.

Sebaliknya, bu Leha langsung membuang muka, terkesan tidak menyukai jawaban Safira.

”Semoga sukses deh, walaupun aneh.” Ujarnya mendengkus. “Masa iya anak kota malah hijrah ke kampung, gak kebalik tuh!” Katanya lagi dengan senyuman miring meremehkan.

Maya gelisah, jujur saja ia risih mendengar kata menusuk dari bu Leha.

Sedangkan, Hasan dan Safira menanggapinya dengan senyuman santai, tak terlalu mengambil hati apa yang diucapkan..

”Gak papa bu hajjah, yang penting kerjaannya halal, suasana aman, tentram, dan yang terpenting bisa membuat saya nyaman.” Sahut Safira seadanya, penuh rasa syukur.

”Hum, coba aja kamu mau nikah sama anak saya, pasti sekarang kalian semua diajak ikut liburan ke Bali.” Ungkapnya menyayangkan dengan dramatis.

Maya makin kebakaran jenggot, ia melirik putrinya dengan kesal sambil bergeleng kepala tak habis pikir, bisa-bisanya Safira menolak Tofan, anak bungsu kesayangan bu Leha yang digadang-gadang akan menjadi pewaris berpuluh pintu kontrakan milik beliau. Apalagi, anak itupun juga sekarang sudah mulai merambah membuka usaha sendiri dibidang otomotif yang tentu dengan modal  tidaklah murah.

Alasannya, Safira merasa masih belum siap berumah tangga dan masih ingin merantau demi mencari pengalaman.

Entah pengalaman seperti apa yang bisa diraih oleh anak lulusan SMP tanpa prestasi seperti Safira, apalagi tujuannya pun bukan ke luar negeri ataupun kota-kota besar, melainkan hanya sebuah kota kecil diperbatasan antara dua kabupaten.

Maya mendengkus lelah, padahal dua minggu yang lalu anak perawannya itu genap berusia dua puluh tahun, dan disaat itu pula ia bersama suami kedatangan tiga lamaran termasuk Tofan, namun sayangnya tak satupun diantara mereka yang diterima Safira. Maya benar-benar menyesal, entah harus bagaimana lagi caranya membujuk anak itu untuk segera menikah, Maya sudah tak sabar ingin punya menantu yang bisa dibanggakan. Karena itulah, ia lantang bersuara pada orang-orang bahwa dirinya dengan senang hati menikahkan sang putri sulung meski usianya masih muda.

Puas memanas-manasi Maya dengan iming-iming kemewahan yang sempat ditolak, bu Leha pun berlalu pamit pada Hasan dan Safira dengan alasan ingin bersiap, sementara Maya hanya bisa mengangguk sendu tanpa bisa berkata-kata.

Sejurus kemudian, Rama sudah siap berangkat kesekolah menghampiri Maya untuk berpamitan, disusul Hasan yang juga ingin berangkat kerja sebagai buruh bangunan.

Setelah keduanya pergi, Maya membereskan meja makan yang masih tersisa jatah kue miliknya, sedangkan Safira kembali ke kamar guna menyiapkan barang-barang sebelum keberangkatan.

”Disana, ibu minta kamu jangan banyak tingkah kayak disini, kamu juga harus selalu ramah sama orang… Satu lagi! Kamu jangan langsung nolak kalo ada yang mau ngasih sesuatu, ngajakin kamu jalan, atau bahkan ada yang ngajak taaruf.” Pesan Maya menghentikan langkah Safira sebelum masuk kekamarnya, ibunya seolah menyindir sesuatu yang pernah terjadi belakangan.

”Safira kan juga harus pilih-pilih bu, gak asal sok akrab sama orang, apalagi kaum laki-laki.” Jelas Safira yang tak serta merta langsung mengiyakan pesan ibunya.

”Tapi kamu itu orang baru disana, harus tau diri lah! Syukur-syukur diterima dilingkungan mereka, dan terpenting gak bikin malu paman.”  sindir Maya lagi.

Bibir Safira terkatup rapat, mengunci segala kata yang ingin sekali keluar, jujur ia tidak sependapat. Niatnya sederhana, yaitu ingin menjalani hidup sesuai keinginan.

Safira hanya mengangguk pelan dihiasi senyuman terpaksa, menguatkan diri menahan tekanan yang terus dilakukan ibunya, rasanya begitu berat menyandang desakan itu setiap hari, bahkan kehidupan penuh drama itu dibebankan kepada Safira semenjak usianya delapan belas tahun.

Entah sudah berapa kali dirinya menolak lamaran yang datang, Safira bukan bermaksud sombong atau kebanyakan tingkah, namun ia hanya tidak ingin memberikan harapan palsu sedangkan hatinya sama sekali tak tertarik untuk berumahtangga dalam waktu dekat.

Sementara diluaran sana, ibunya seolah membuka sayembara, menjadikannya barang lelang yang layak ditawar siapa saja.

Rasa malu pada orang-orang sekitar membuat Safira perlahan jadi seorang yang introvert dan menarik diri. Ia harus kehilangan masa-masa indah dan keceriaan diusia remaja, berganti dengan pemikiran dewasa sebelum waktunya. Saat itu Safira dipaksa bijaksana dengan kondisi akal seadanya, apalagi semua langkah tersebut menentukan masa depannya sendiri.

Ada pula cerita kekecewaan lain, ditahun kelulusan Safira yang bertepatan dengan penerimaan gaji sang ayah atas proyek besar, Maya malah lebih memilih membeli satu set perhiasan emas senilai jutaan rupiah dibanding menggunakannya untuk mendaftarkan Safira masuk SMA, yang katanya demi persiapan biaya sekolah adik-adiknya kelak.

Sebagai kakak kamu ngalah dulu, adikmu kan laki-laki, kasian kalo gak sekolah, gimana mau kerja.” Ucap Maya kala itu.

”Anak perempuan gak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh ujungnya didapur juga, fokus ngurus suami, ngurus anak!”

Lagian kamu juga gak punya prestasi, kalopun sekolah juga belum tentu dapat kerja Lanjutnya mematahkan harapan anak gadisnya sendiri.

Semenjak putus sekolah, Safira tekun membantu ibunya membuat kue demi menunjukkan bahwa iapun bisa diandalkan dan bisa mencukupi kebutuhannya sendiri tanpa sibuk bermanja, atau merengek pada orangtua. Namun sayang, dua tahun bekerja dirumah tanpa meminta imbalan atau sekedar uang lelah karena tak ingin menyusahkan orangtua, nyatanya Safira tetaplah dianggap beban keluarga, malah sang ibu terlihat keberatan dengan keterlibatan sang putri dalam memperjuangkan usaha kuenya.

Maya semakin mendesak Safira untuk mencari pendamping agar tak lagi menjadi penjual kue.

Sebagai gadis muda yang beranjak dewasa dengan keterbatasan wawasan, pikiran-pikiran negatif pun mulai bermunculan, membuatnya merasa tersingkir dan tidak dianggap selayaknya seorang anak ketika mengetahui dirinya kerap ditawarkan sang ibu kepada bujang-bujang lapuk disekitar tempat tinggal dan pada siapa saja yang sanggup mencukupi biaya hidupnya. Sebegitu beratkah biaya hidup Safira selama ini?

Bagaikan sumur dipadang pasir, Safira mendapatkan kesejukan saat mendengar cerita tentang usahan sang paman yang lagi berkembang pesat, Safira pun inisiatif menawarkan diri menjadi karyawan, sekalipun Andi tidak menjanjikan upah yang banyak, namun setidaknya Safira bisa sedikit bernapas lega terbebas dari celotehan desakan ibunya.

Mungkin dengan begini, ibunya bisa menyadari jika anak yang pintar bukan berarti yang selalu rangking, orang cerdas tidak harus selalu dibidang mata pelajaran. syukur-syukur ia bisa mengembangkan potensi diri sebagai batu loncatan menjadi orang sukses jalur kreativitas dimasa depan. Ya, Safira yakin ia masih memiliki cita dan angan yang layak diterbangkan.

Yahh… Paling tidaknya lagi, disana ia memiliki warna kehidupan baru.

”Assalamualaikum, Safira! Ayo berangkat, kita hampir telat!

Lates Chapters

3. Pagi Dengan Tragedi

”Pagi cantik!!” ”Ish… Dia lagi!”  ”Napa sih, kesel banget sama Pakpol!”  Rahma mengernyit melihat wajah Safira yang langsung masam ketika pagi itu ia dihampiri seorang…

2. Cantik Dari Hati

Dua jam lamanya dalam perjalanan berboncengan bersama sang paman, Safira akhirnya sampai didepan bangunan megah lengkap dengan balkon beratap yang sudah terlihat dari kejauhan. Posisi…
error: Content is protected !!