POV Shereen
Papa kamu mendua, Reen
Itu perkataan Mama yang berulang kali membuatku shock tak percaya.
Bagaimana mungkin? Papa begitu perfect di mataku.
Pasti ada kesalahan, Papa tidak mungkin tega mengkhi//an//ati mama sejauh itu.
Beberapa bulan sebelum Papa menghembuskan napas terakhir, Mama menemukan sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf M.
Siapa M?
Ketiga wanita di rumah ini tidak ada yang berinisial M.
Namaku Shereen, Shereen Ayyubia Larasati, adikku Alesha, Alesha Tsabita Parameswari dan mama sendiri memiliki nama lengkap Ayudya Paramitha. Jadi siapa pemilik kalung berliontin huruf M itu?
Aku masih menjalani pendidikanku di Pondok Abah Hamdan ketika mama rutin menelpon menanyai kabarku sembari mengisahkan temuan-temuan yang menggelisahkan hatinya.
Semula mama dan papa bergantian menelpon sepekan sekali pada saat weekend, namun setahun terakhir ini, mama kerap menelpon manakala menemui kejanggalan dalam sikap Papa. Terhitung bisa lebih dari tujuh kali dalam sepekan mama menghubungiku. Itu menandakan mama butuh teman bicara. Mama mungkin merasa lebih nyaman berbagi denganku dari pada Bang Rafli, kakakku atau Alesha, si bungsu.
Saat ini Bang Rafli tengah sibuk bergelut dengan skripsinya sementara si tomboy Alesha begitu sibuk dengan berbagai ekstrakurikuler di sekolahnya yang baru. Ia baru duduk di kelas satu SMA favorit di kotaku. Sedari awal ia sudah dengan tegas menolak tawaran mondok dan kedua orang tua kami memang bukanlah tipe pemaksa. Masing-masing kami bebas memilih jalur pendidikan yang kami kehendaki.
Tentu saja konsentrasi belajarku sedikit banyak terganggu dengan adanya informasi yang Mama sampaikan setiap kali menelpon.
Aku tidak menyalahkan mama, aku yakin mama betul-betul membutuhkan sosok berbagi kegundahan hatinya saat ini dan ia menemukan kenyamanan itu padaku.
Papa semakin jarang pulang ke rumah, Reen.
Papa memang tidak bersikap dingin pada mama, tapi papa sering kali menghindar dari mama.
Menolak mama ajak bicara berdua, menjauh dengan menyibukkan diri dengan entah kesibukan apa yang membuat mama jengah.
Ada saja alasan Papa menolak memberikan nafkah batin.
Papa benar-benar berubah, Reen.
Bu Sasongko bilang melihat papamu wara wiri rumah sakit kota beberapa hari lalu.
Papamu memang terlihat makin kuyu, Mama khawatir papa sedang sakit, Reen.
Dan masih banyak lagi pernyataan kegelisahan yang Mama sampaikan padaku lewat sesi telpon wali santri yang semakin intens mama lakukan beberapa pekan terakhir ini.
Sungguh aku ingin berlari pulang dan mendekap erat mama. Menenangkan jiwanya dan menghapus air matanya kala kekecewaan itu hadir menggerus hatinya yang lembut. Aku bisa merasakan betapa menderitanya mama saat ini.
“Ma, husnudzon dulu ya. Sabar dulu sebelum papa mengatakan sesuatu pada mama,” bujukku.
“Papa mungkin butuh waktu, Ma. Bagaimana kalau mama fokus melayani papa supaya lebih segeran, siapa tahu Papa beneran sakit?”
“Iya, Reen. Mama ingin sekali berpura-pura semuanya baik-baik aja. Gak ada yang berubah. Tapi hati Mama nyeri banget, Reen.” Dari seberang sana dapat kudengar mama mulai terisak pilu.
Papa telah berhasil meluluhlantakkan keteguhan hati mama. Perlahan namun pasti tembok kepercayaan yang dibangun wanita paling kukasihi itu mulai rapuh dan siap runtuh kapan saja menghadapi sikap Papa yang kian berubah menjurus ke pengkhianatan.
Mama dinikahi papa berlandaskan rasa saling cinta. Tak ada paksaan, seharusnya kisah ini sempurna karena keduanya menyatu dalam frekuensi rasa yang sama. Dari apa yang terjadi, tak dapat kupungkiri meninggalkan baret-baret kasar melukai hati dan kepercayaan diriku pada sosok seorang lelaki.
Entahlah, ada trauma membetik di relung kalbu ini. Apakah Alesha merasakan hal yang sama? Aku benar-benar berharap ini hanyalah kesalahanpahaman semata.
Sungguh aku ingin turun tangan sendiri menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Papa adalah cinta pertamaku. Papa tak pernah membuatku kecewa, bersamanya aku merasa sebagai seorang anak yang sangat beruntung. Aku memujanya, begitu pula dengan mama dan saudara-saudaraku yang lain. Bahkan semua keluarga besar kami begitu takzim pada papa dikarenakan attitudenya yang sangat baik. Papa si pria tanpa cela, panutan dan kebanggaan kami semua. Mustahil rasanya sanggup berbuat nista dan menjatuhkan air mata mama, lagi dan lagi.
Dan pagi ini, berita menggemparkan menghempaskanku pada titik nadir. Papa berpulang setelah dilarikan ke rumah sakit tadi malam. Mama dengan suara lemah mengatakan Papa ternyata positif mengidap HIV. Informasi dan tindakan yang dinyatakan terlambat dikatakan menjadi penyebab kema//t14n papa.
Entah papa yang memang terlambat mengetahui tentang keadaan dirinya ataukah pengobatan setengah hati yang selama ini dijalaninya, semua masih menjadi tanda tanya. Namun yang tak kalah menjadi misteri adalah bagaimana bisa papa terjangkiti virus laknat itu. Siapa di balik semua ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Begitu banyak yang kami tidak ketahui hingga wanita itu menemui mama sehari setelah papa dimakamkan.
Aku mendapatkan izin pulang ke rumah saat Papa dikabarkan telah tiada. Bang Rafli yang menjemputku tak banyak bicara ketika kukorek informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Papa. Mata Alesha dan Bang Rafli memincing penuh kebencian saat keesokan harinya kami didatangi tamu tak diundang. Di depan mata kami semua, wanita bernama Mayang itu mengakui perbuatannya.
Perempuan dengan tubuh langsing berbalut dress hitam selutut itu membuka kaca mata hitam yang ia kenakan. Ada bekas sembab di matanya yang dibingkai tebal maskara dan bertengger bulu mata palsu merk ternama. Bibirnya dipoles tebal lipstik berwarna nude, blush on disapu menterang menyamarkan flek yang gagal ditutupi foundation. Sebuah tahi lalat bercokol manis di sudut bibirnya. Sebuah gingsul melengkapi keunikan sebentuk wajah yang bagiku tetap saja tak seindah raut penuh kesederhanaan mama. Sebentuk wajah yang tak hanya memenangkan hati kami, namun juga ratusan murid-murid mama di sekolah dasar tempatnya mengajar.
“Mas Elang terjangkit HIV setelah berhubungan denganku, Mbak.” Mayang menyibak tabir lusuh perselingkuhannya.
“Aku istri siri Mas Elang sejak setahun yang lalu, kamu mungkin masih mengingatku, Mbak.”
“Aku Mayang Maheera, rekan kerja Mas Elang setahun terakhir sejak aku dimutasi ke kota ini.”
“Kami bertemu kembali setelah hampir dua puluh tahun terpisah. Aku sudah berstatus janda cerai saat Mas Elang memutuskan menikahiku karena tak mau berzina, katanya.”
“Aku mantan kekasihnya di SMA dulu, Mbak. Tak pernah ada kata putus ketika Mas Elang melanjutkan studi ke kota ini, kami hanya lost contact dan tak kuasa menahan diri mengulang kisah …”
Plakkk
Alesha menghempaskan kelima jemarinya ke wajah perempuan yang di mataku nyata kalah jauh dibanding Mama. Hanya karena make up yang membuat wajah itu tampak lebih menarik, selebihnya hanya rasa jijik yang menguasai segenap jiwaku dan Alesha telah mewakili kami membungkam mulutnya dengan sebuah tamparan keras full speed full power tanpa ampun.
Aku memeluk mama yang luruh di sisiku, Bang Rafli dengan tegas meminta perempuan bernama Mayang Maheera itu segera angkat kaki dari rumah kami. Alesha bahkan telah bersiap akan kembali menghadiahkan pukulan m4utnya sebelum akhirnya perempuan itu mengangguk dan berlalu seraya lirih mengucapkan kata, “Maaf ….”
Satu kata yang tak akan pernah bisa menghapus begitu saja noda yang telah mengotori jalinan kisah indah perjalanan hidup keluarga kami.
“Aku akan kembali, ini belum selesai!” desisnya.
TBC