1. She’s The Expendable
Sesuatu yang menusuk relung hati itu, semakin menusuk lebih dalam lagi. Menembus dengan sayatan yang lebih menyakitkan. Seolah hati terasa mati rasa. Sedu sedan tangisan yang terdengar menjadi saksi lara dalam hatinya.
Tsabita kecil menangis melihat kepergian kedua orang tuanya. Menyisakan dirinya yang memegang besi pagar berwarna hitam hingga mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya tak terlihat oleh mata beriris cokelatnya.
“Sudah sayang! Ayo kita ke rumah Umi saja,” Maira yang sedang di seberang pagar, menghampiri Tsabita dan berusaha menenangkannya.
“Tapi Mi, kenapa? Kenapa, Bita selalu ditinggal? Ini kan hari libur, kenapa mereka selalu nggak punya waktu buat Bita,” Tsabita tergugu, dadanya sesak. Mama dan Papa tidak memedulikannya. Tsabita seperti anak yang dibuang. Tsabita seperti anak yang tak diharapkan.
“Mereka kerja buat Tsabita. Siapa nanti yang beliin es krim kalau mereka nggak bekerja, Sayang?” ucap Maira sambil mengusap kepala Tsabita, menghapus jejak air mata yang mengaliri pipi Tsabita.
Anak berusia tujuh tahun itu, terlihat termenung. Mencoba berpikir positif, mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mama dan Papa akan kembali ke pelukannya, mencoba berbesar hati membuang impiannya untuk bermain bersama di hari libur.
Ya, ia harus menjadi dewasa dan mandiri sebelum umurnya. Ia harus bisa mengerti keadaan Mama dan Papa nya.
“Kalau gitu Bita mau main sama Arga, Mi,” ucap Tsabita sembari mengusap kasar air matanya yang tak bisa berhenti mengalir.
Maira tersenyum, “Nah gitu dong! Bita harus semangat. Mana coba Umi lihat senyumnya?”
Tsabita tersenyum, lama-kelamaan ia tertawa.
“Bita sayang Umi,” Tsabita memeluk Maira.
“Aduh-aduh, Umi juga sayang banget sama Bita.” Maira mendekap erat tubuh Tsabita yang kecil.
“Umi sayang juga sama Arga, nggak?” Bocah kecil laki-laki berlarian menuju ke dua perempuan yang sedang berpelukan itu.
“Sayang nggak, ya?” Maira mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir.
Arga mencebik, “Umi harus sayang sama Arga kalau nggak Arga marah.”
“Umi juga sayang sama Arga kok. Buktinya Umi selalu bikin susu cokelat sebelum tidur khusus buat Arga,” ucap Tsabita, melepas pelukannya pada Maira.
“Bener kan, Mi?” Arga mengerjapkan matanya lucu.
Maira mencubit pipi Arga, “Umi sayang sama kalian berdua.” Maira merentangkan tangannya, “sini peluk.” Arga pun menghambur kepelukan Maira bersama Tsabita, “aduh, kesayangannya Umi.”
Dari balik jendela mobil, seseorang laki-laki berdehem, “Oh gitu, jadi Abi bukan kesayangan Umi lagi?”
“Abi!” seru Arga saat melihat Manaf keluar dari mobil nya. Manaf berjalan perlahan menghampiri Maira, Arga, dan Tsabita.
“Kesayangan Umi yang paling besar cemburu nih ceritanya,” goda Maira kepada Manaf.
Manaf tersenyum, “Abi masih jadi yang tersayang buat Umi, kan?”
“Masih enggak, ya?” Manaf yang semula tersenyum cerah, menjadi murung. Menatap tidak percaya pada Maira.
Maira menyentuh dagu Manaf, “Ngambek deh,” lalu melihat ke arah Tsabita dan Arga, “Bita, Arga,” panggilnya pada mereka berdua, “enaknya Abi diapakan ya, biar nggak ngambek?”
“Digelitikin,” seru Arga.
Mereka, Maira dan Arga pun menggelitiki Manaf, ketiganya tertawa.
Tsabita bergeming, memandang keluarga sempurna itu dalam diam. Dalam diamnya, Tsabita berkata dalam hatinya, Arga kamu sangat beruntung memiliki orang tua yang sayang sama kamu.
“Eh Bita sini Nak, kita berpelukan,” Manaf melambaikan tangan ketika melihat Tsabita yang masih berdiri mematung. Tsabita tersenyum dan merentangkan tangan kecilnya menuju keluarga yang harmonis itu.
Aku harap, aku bisa merasakan pelukan hangat ini selamanya.
🌫🌫🌫
“UMI HIDUNG BITA BERDARAH,” Arga berteriak sambil menutup matanya. Baginya, darah adalah sesuatu yang menakutkan.
“Bita, kamu sakit di hidung ya? Biar nanti Umi yang periksa. Tunggu bentar ya? Aku cari Umi dulu,” Arga berkata sembari berdiri, mengintip Tsabita dari balik tangan kecilnya. Arga berlari mencari Maira.
“UMI HIDUNG BITA BERDARAH,” teriak Arga lagi, mencari di mana keberadaan Umi nya, mencari ke sudut-sudut rumah, “Umi?” panggil Arga lagi.
Arga terus mencari-cari Uminya. Ia lelah. Arga menghampiri Bita lagi, “Bita, Umi nggak ada di rumah. Tunggu sebentar aku telepon Abi dulu, ya?”
Tsabita mengusap darah di hidungnya dengan menggunakan ujung kerudung berwarna peach yang dikenakannya, “Nggak usah, Ga,” Kembali menyeka darahnya Tsabita melanjutkan, “ini bakalan berhenti kok.”
“Gimana mau berhenti kalau nggak diobatin. Itu darahnya udah ke mana-mana, Ta,” Arga menjauh dari Tsabita, menekan nomor Abi nya, menelepon dengan menggunakan telepon rumah di ruang keluarga.
“Abi angkat dong!” gerutu Arga yang sudah meletakkan gagang telepon di telinganya sembari menunggu panggilan diangkat.
“Halo, assalamualaikum!” dengan cepat Arga memberi salam setelah teleponnya diangkat oleh sang Abi. Manaf.
“Abi, hidung Bita berdarah,” seru Arga setelah Abi nya menjawab salam.
“Umi ke mana?” tanya Manaf di seberang sana.
“Nggak tau Abi. Umi nggak ada di rumah. Cepet Abi ke sini. Ayo ke sini! Hidung Bita berdarah,” Arga merengek kepada Manaf.
“Tenang dulu, Kak. Abi pasti pulang tapi Kakak jangan panik. Tenang ya? Temani dulu Bita nya.”
“Abi, Arga takut darah,” Arga mengeluh. Bocah tujuh tahun itu, terlihat frustasi.
“Jangan takut. Anak soleh nggak boleh takut. Sekarang Kakak banyak berdoa sama Allah, semoga Allah menghentikan darah di hidung Bita, semoga Allah sembuhkan Bita. Abi tutup dulu. Abi akan segera pulang.”
Setelah menjawab salam dari Abi nya, Arga mengangkat tangannya, “Ya Allah tolong Bita. Ya Allah sembuhkan Bita.”
Arga berlari lagi ke arah Tsabita, bocah perempuan kecil itu sudah lemas, tergeletak di lantai ruang tamu.
“Ya Allah, Bita,” Arga panik melihat muka pucat Tsabita.
“Bita bangun. Bita!” Arga menangis. Tak mengerti harus melakukan apa.
Kenop pintu di buka, Maira datang dengan dua kantong plastik di tangan kanannya, “Innalillahi, ada apa ini, Kak?” Tanpa pikir panjang Maira meletakkan begitu saja belanjaannya dan menghampiri Tsabita juga Arga.
“Umi!” pekik Arga, “Ke mana aja? Hidung Bita berdarah. Hiks,” Arga sesenggukan.
“Allah, maafin Umi ya, Kak,” Maira dengan sigap memeriksa Tsabita di mulai dari kecepatan nadinya.
“Tolong Bita, Umi! Ayo, kita ke rumah sakit,” Arga sudah menarik tangan kiri Umi yang bebas.
“Iya bentar, Kak. Umi mau ambil kapas buat menyumbat pendarahan di hidung Bita. Kakak, tolong telepon Abi ya?”
“Arga tadi udah telepon Abi, Mi,” ucap Arga sembari menghapus air matanya.
“Oke, Kakak tenang ya? Jagain Bita. Umi ke atas dulu ambil kapas.”
Arga mengangguk, meletakkan kepala kecil Bita di pangkuannya.
🌫🌫🌫
“Kamu dari mana tadi, Maira? Bisa-bisanya meninggalkan dua anak kecil di rumah sendirian,” Manaf menegur Maira. Mereka kini sedang berada di depan ruang rawat Tsabita.
“Maaf banget, Bi. Maaf. Apa pun alasannya aku salah. Aku lalai,” Maira menunduk, menghindari tatapan tajam Manaf.
“Aku mau dengar alasannya,” tegas Manaf.
Maira menghela napas, “Aku mau masak makan siang. Tapi bahan-bahan di rumah habis. Jadi aku belanja di mini market depan. Aku kira bakal memakan waktu paling nggak lima belas menit. Qadarullah, antrian kasir nya panjang. Maaf.”
“Kesalahan kedua mu tahu kan apa?” Manaf menyentuh dagu Maira membuat Maira mendongak, menatap Manaf.
Mata Maira berkaca-kaca melihat wajah Manaf, “Aku lupa izin ke kamu, Bi. Ya Allah, aku keluar rumah tanpa izin. Astaghfirullah.”
Manaf menghela napas, “Lain kali jangan diulangi. Sekarang aku ridho kepada mu. Istighfar pada Allah yang banyak. Mohon ampun.” Ada jeda sejenak. Manaf melihat ke arah jam tangannya, “aku harus kembali ke kantor ada meeting, tolong jaga anak-anak dulu.”
Manaf perlahan-lahan melepas dagu Maira dan berjalan meninggalkan Maira.
“Tunggu Bi!” seru Maira. Maira bergegas menghampiri Manaf, “Maaf, aku belum bisa jadi istri yang baik,” Maira mengecup punggung tangan Manaf, “Maafin aku.”
Manaf memegang bahu Maira, “Kamu yang terbaik. Aku cuma mau menegurmu saja jika salah. Aku harus bisa memainkan peran, memposisikan diri saat aku menjadi suamimu, menjadi kekasihmu, menjadi partnermu atau menjadi ayah dari anak-anak kita. Dan sekarang, aku memposisikan diri menjadi suamimu, menegurmu jika salah, membimbingmu sebisa aku. Jadi Sayang, jangan menangis.” Manaf menyeka air mata yang mengalir di pipi Maira.
“Maafin aku.” Maira memeluk Manaf.
Manaf mengangguk, memberi kecupan di dahi Maira, “Aku pergi dulu sebentar, jaga anak-anak. Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam, hati-hati Bi.”
Manaf menghilang dari balik dinding rumah sakit.
Maira memutar arah, menuju ruang rawat Tsabita. Memutar kenop, ia melihat Arga tertidur di sofa.
“Maafin Umi ya, Kak,” Maira mengelus dahi Arga.
“Umi?” panggil Tsabita lirih.
“Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat, Bita udah sadar?” Maira menghampiri Tsabita.
“Umi kepala Bita sakit.” Tsabita mengeluh, memegangi kepalanya.
Maira mencelus, “Sakit banget ya, Sayang?”
Tsabita mengangguk. Maira mengelus kepala Tsabita pelan, “Umi bacain shalawat ya?”
“Allahuma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin thibbil quluubi wadawaa-iha wa‘aafiyatil abdaani wasyifaa-ihaa wanuuril ab-shaari wadhiyaa-ihaa wa’alaa aalihii washohbihii wasaliim.”
Shalawat tibbil qulub terlantun di bibir Maira, membuat Tsabita perlahan demi perlahan menutup matanya. Tertidur.
“Tidur yang nyenyak, Bita. Maaf Umi tidak bisa membawa orang tua mu ke sini. Mereka sangat sibuk sekali. Tapi Umi janji akan menjaga Bita di sini bersama Arga. Jangan pernah merasa sendiri Bita sayang,” Maira mengecup kening Tsabita hingga tanpa sadar air matanya menetes.
“Umi!” panggil Arga, menyentuh tangan Maira.
Maira menunduk, “Ada apa, Kak? Kok udah bangun.”
“Umi nangis pasti gara-gara khawatir sama Bita ya, Mi?” Arga mengusap pipi Maira dengan kedua tangannya yang kecil.
“Bita. Kasihan sekali, Kak. Dia sakit tapi Mama nya nggak bisa dateng.” Maira memegang tangan Arga yang masih berada di pipinya, “Kakak harus temenin Bita terus, ya. Jangan sampai disakiti apalagi dinakali,” Maira terkekeh.
“Siap Umi. Arga akan jadi teman hidup nya Bita,” jawab Arga sungguh-sungguh.
Maira heran dengan perkataan Arga, “Kakak tahu apa arti teman hidup?” Maira bertanya.
Arga mengerutkan dahinya, “Ya aku jadi teman selamanya Bita. Biar Bita nggak ngerasa sendiri lagi.”
Maira tertawa, merasa lega. Arga masih bocah kecil yang polos, “Oke-oke. Umi mau kasih pesan satu lagi, Kak.”
“Apa Umi?”
Maira mencubit gemas hidung Arga. Jika dilihat dengan saksama, hidung Arga mirip sekali dengan Manaf. Tulang hidungnya tinggi dan kecil, “Kakak harus banyak bersyukur. Selagi Kakak punya orang yang Kakak sayangi jaga mereka, peduli sama mereka seperti Umi sama Abi.”
“Iya Umi siap. Arga akan selalu sayang sama Umi dan Abi.” Arga merangkulkan tangan kecilnya ke leher Maira.
“Sekarang, ayo kita salat Asar, Kak!”
🌫🌫🌫
“Barusan Manaf telepon kasih kabar kalau Tsabita udah sadar,” Hasyim berkata pada istrinya.
Firda, Mama Tsabita berseru senang, “Beneran Pa?”
Hasyim mengangguk, “Anak itu suka sekali merepotkan orang lain. Tak bisa apa Tsabita diam di rumah bersama Mbok Sin. Selalu aja begini kalau kita lagi pergi.”
“Mau bagaimana lagi, Pa? Mbok Sin sibuk bersih-bersih, siapa yang mau main sama Bita kalau bukan Arga. Udah lah, Mama mau telepon Maira dulu biar Mama bisa bicara sama Bita.”
“Nggak usah lah, Ma. Untuk apa? Yang penting anak kita baik-baik saja. Setengah jam lagi klien Papa datang ke hotel ini. Mama siap-siap sambut klien Papa nanti.”
Firda terdiam sebentar, “Tapi Pa,”
Hasyim menghela napas, “Ini tender besar Ma. Jangan buat Papa malu. Nanti bisa telepon Bita nya.”
Firda hanya bisa mengangguk, menuruti apa perkataan suami nya.
🌫🌫🌫