BAPAK

1. Suara Bapak

Hari ini di sekolah ada rapat dewan guru, jadi anak-anak pulang lebih awal. Aku bersama tiga temanku melewati pematang sawah dan sesekali berhenti di sungai kecil untuk melihat ikan yang berlarian. Matahari di atas kepala rasanya panas sekali, membuat seragam putihku lengket oleh keringat. Aku berjalan pelan membawa tas bergambar Sailormoon yang talinya sudah agak longgar.

 

Biasanya, dari jauh aku sudah bisa mendengar suara ayam dan panggilan Ibu dari dapur.

 

 Di pinggir rumah, kadang ada suara  Bapak yang sedang memotong barang kayu tembakau saat pulang dari sawah. Mungkin mereka tidak tahu aku pulang lebih awal, jadi pintu masih ditutup dan Ibu pasti sibuk di dapur, memasak. Rumah kami sederhana, berdinding papan dengan jendela kayu,  juga lantainya masih tanah, tapi selalu terasa hangat dengan kasih sayang mereka berdua. 

 

Namun, hari ini berbeda. Kenapa rumah jadi sepi sekali. Jendela juga tidak ada yang dibuka, pintu depan tertutup rapat, tapi tidak digembok dari luar, artinya mereka ada di dalam. 

 

”Assalamu’alaikum, Pak, Bu. Adek pulaaang.”

 

Aneh, tidak ada sahutan dari dalam. Jadi, perlahan aku mendorong pintu. Seketika, tas yang kubawa terjatuh saat aku mendengar suara bentakan Bapak. 

 

“Kenapa kamu tidak pernah ngerti juga, Sari?” Suara Bapak terdengar keras dari ruang tamu. Aku berjalan mendekat, tapi tetap diam. 

 

“Aku di rumah sendirian ngurus anak-anak, Mas! Kamu pikir gampang, hah?” Suara Ibu meninggi, air matanya sudah meleleh. 

 

Aku tertegun di tengah pintu. Dadaku langsung sesak. Bapak yang kukenal tidak pernah seperti ini. Bapak yang setiap pagi berangkat ke sawah dengan cangkul di pundak, yang kadang membantu tetangga memanen padi atau memanen tembakau, Bapak selalu pulang dengan senyum meski bajunya basah keringat.

 

 Bapak yang kukenal sabar, yang selalu membelai kepalaku dengan lembut, tapi kenapa sekarang lain? Kenapa mereka bertengkar? 

 

Kulihat wajahnya merah, tangannya bergetar, suaranya menggelegar, menakutkan sekali. 

 

Aku menempel pada daun pintu usang ini, tak berani melangkah ke kamar. Kulihat, Mbak Yuni, kakakku yang kelas satu SMP, sudah berdiri di pojok ruangan dengan wajah pucat. Ia menatapku, matanya sudah dipenuhi embun yang meleleh satu per satu membasahi pipi. Hari ini Mbak Yuni tidak berangkat sekolah karena demam. Aku tahu, dia memang sering sakit-sakitan walaupun tidak paham masalahnya apa. 

 

”Dek,” panggil Mbak Yuni lirih dan membuat kedua orang tua kami menoleh ke belakang. Ke arahku. 

 

Mendadak suasana hening. Hanya suara kipas angin tua di ruang tengah yang berdecit pelan.

 

“Bapak,” panggilku bergetar. Antara takut dan bingung bercampur jadi satu. 

 

 “Bapak, kan, nggak pernah marah. Kenapa sekarang Bapak marah-marah seperti ini, Pak?” Ucapanku terpotong-potong menahan sesak dan sekejap saja aku menangis terisak, tak dapat menahan tangis lagi. 

 

Bapak terdiam, menunduk. Ibu buru-buru menghapus air matanya dengan ujung daster, tidak menenangkanku, langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Sementara Bapak, duduk di kursi kayu meja makan. Kulihat, tidak ada hidangan apapun di sana. Sungguh, hari ini aku bingung, apa sebenarnya yang telah terjadi dengan Bapak dan Ibu? 

 

Meskipun aku masih anak-anak, hanya kelas lima SD, tapi aku bisa merasakan sesuatu yang lain bahwa rumah kami tidak lagi sama. Dan suara Bapak barusan adalah suara yang tidak pernah ingin kudengar lagi. Aku takut dan ngeri. 

 

Malam ini, aku dan Mbak Yuni duduk di kamar, beralaskan tikar pandan yang anyamannya sudah mulai longgar. Kamar kami kecil, hanya ada lemari kayu dengan kaca retak di sudut, dan rak buku berisi majalah Bobo serta buku tulis bergambar Doraemon.

 

Aku memeluk bantal kecilku, sarungnya sudah pudar dan banyak jahit di bagian pinggir. 

 

 “Mbak, tadi aku takut sekali. Kayak bukan Bapak. ” Suaraku pelan sekali, takut didengar Bapak. 

 

Mbak Yuni mengusap kepalaku, lembut.

 

 “Mbak Yuni juga kaget, Dek. Tapi orang tua kadang begitu.”

 

”Tapi, Mbak. Selama ini aku belum pernah melihat Bapak dan Ibu bertengkar, loh. Mereka selalu baik-baik saja, ‘kan?”

 

”Orang tua mungkin ada masalah sendiri.”

 

Aku menatap wajah Mbak Yuni, berharap ada jawaban yang lebih jelas. Karena Mbak Yuni ada di rumah, jadi aku rasa dia lebih tahu. 

 

 “Tapi kenapa harus marah? Kan, bisa ngomong baik-baik, Mbak?” Aku menolak penjelasan kakakku tadi. Tidak setuju dengan sikap Bapak yang kasar meskipun ini baru kali pertama aku melihat Bapak marah. 

 

Mbak Yuni tersenyum tipis, senyum yang membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya. Memang selama ini, dia selalu menenangkanku. 

 

 “Kadang orang tua lupa, Dek. Mereka kira kita ini masih anak-anak yang nggak ngerti apa-apa. Padahal dengan kita melihat saja, semua sudah dapat kita rekam di dalam kepala.”

 

”Ah, iya-ya, Mbak. Tapi, semoga saja besok Bapak dan Ibu sudah akur lagi, ya.”

 

”Iya. Ayo, kita tidur. Kamu ada PR nggak?”

 

”Enggak, Mbak. Besok jadwal piket kelas jadi harus berangkat lebih awal.”

 

”Ya sudah, lampu Mbak Yuni matikan dulu. Kita tidur.”

 

Aku mengangguk. Di luar jendela, suara jangkrik bersahut-sahutan. Kamar sudah gelap, hanya ada cahaya kecil yang masuk dari lampu jalan di ujung gapura depan rumah. 

 

Adzan Subuh sayup-sayup terdengar, aku dan Mbak Yuni bangun. Seperti biasa Bapak akan mengajak kami salat berjemaah di musholla depan. Namun, aku dan Mbak Yuni tidak melihat Bapak di depan rumah, di kursi panjang yang biasa untuk duduk menunggu kami berdua. 

 

”Bapak ke mana, Mbak?” tanyaku khawatir. 

 

”Mbak juga nggak tahu, biasanya kalau Subuh bangunin kita, ya. Ini kita udah bangun awal, kok, Bapak malah nggak ada.”

 

Aku dan Mbak Yuni saling pandang. Buru-buru kami ke kamar, pintu masih dikunci dari dalam. 

 

”Terus gimana, Mbak? Apa kita cari di belakang rumah dulu?”

 

”Iya. Ayo  ….”

 

Aku bergandengan tangan dengan Mbak Yuni ke belakang rumah sambil terus memanggil Bapak. Tetapi, sepi. 

 

”Nggak ada semua, ke mana ya, Mbak?” tanyaku panik dan tiba-tiba terdengar suara salam dari luar. 

 

Aku dan Mbak Yuni saling pandang dan langsung menghambur ke depan rumah. 

 

”Bapaaakkk!” teriak kami bersamaan. 

 

”Bapak dari mana, kami cari sampai ke belakang rumah, kok, nggak ada?”

 

”Ohhh, tadi Pak RT minta tolong bapak untuk bantuin angkat beras mau dibawa ke Jakarta.”

 

”Ohhhh!”

 

Kami manggut-manggut mengerti. 

 

”Dan, bapak bawa sarapan untuk kalian. Mau lihat nggak?”

 

”Wah, apa itu, Pak?” tanyaku penasaran. 

 

”Ini, ada ayam goreng kesukaan Adek dan ikan lele kesukaan Mbak Yuni.”

 

”Horeee  …. ”  Aku bersorak senang. 

 

”Eh, tapi kita salat dulu, ya. Baru nanti sarapan, mandi terus berangkat ke sekolah.”

 

”Siap, Bapak!”

 

Aku dan Mbak Yuni berdiri sambil memberi hormat dan kami semua tertawa. Akhirnya, salat Subuh kami laksanakan di rumah. 

 

”Bapak nggak sarapan, Pak?” tanya Mbak Yuni setelah mengambil tiga piring. 

 

”Tidak, bapak sudah kenyang makan roti sama ngopi tadi di rumah Pak RT.”

 

”Ohh, kalau gitu. Panggil ibu saja ya, Pak. Biar sarapan bareng kita.”

 

”Boleh, bapak buatkan teh hangat dulu buat kalian sama Ibu.”

 

Bapak mengambil teko dan meletakkan di atas kompor, sementara aku mengetuk pintu kamar. Lama, tidak ada jawaban. 

 

”Pak, ibu kok diam saja, sih? Apa masih marahan?”

 

”Oh, biar bapak yang manggil coba.”

 

Aku kembali duduk untuk melanjutkan makan, tapi telingaku mendengar suara Bapak yang terus memanggil Ibu. 

 

Mbak Yuni menoleh lalu kami saling melempar pandang ke arah Bapak. Karena merasa aneh, kami pun berdiri menghampiri Bapak yang ternyata, kamar itu sudah kosong. 

 

Jadi, apa maksudnya? Apakah Ibu pergi? Ke mana perginya? 

 

#Day1

 

#20HariMencariMaaf

 

#novelgoodofficial

Lates Chapters

20. Ikhlas

"Pain doesn't mean you're broken, it means you're becoming.”      Menjadi manusia berarti menerima satu kenyataan bahwa tidak semua orang akan memahami dirimu. Kebaikanmu…

19. Apa itu Berbakti?

Karena hidup bukan soal dipahami semua orang, tapi tentang tetap menjadi baik meski dunia menilaimu berbeda."     Semenjak kedatangan Ibu dan suaminya, aku merasa…

18. Karma (Pov. Ibu)

Aku tahu semua yang terjadi karena hubungan sebab-akibat dari perbuatanku dulu. Itu, tanpa diberitahu pun, aku tahu. Hanya saja, dengan apa yang menimpa kami, aku…

17. Bukan Durhaka

Aku diam lama untuk memastikan bahwa yang datang adalah orang yang benar aku kenal. Sampai rasanya, suara teriakan bercanda tangis itu berhasil membuat suamiku diam,…

16. Pesan Terakhir

Waktu berlalu dengan cepat membawa segala kenangan, tanpa terasa sudah sepuluh tahun aku menyandang gelar dokter di rumah sakit ini. Satu gelar yang tidak dengan…

15. Janji yang Ditepati

”Ada doa yang tidak langsung dijawab, tapi tetap dicatat oleh langit.”   7 tahun kemudian  ….      Aku berdiri di ruang transfusi anak dengan…

14. Yang Terbaik

"Experience is the best teacher."   Apa yang kuperjuangkan hari ini, kelak akan menjadi alasan aku bertahan kemarin.   Menjadi santriwati membuatku jadi tahu bahwa…

13. Sebatas Rindu

"Ada beberapa luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, kita hanya belajar hidup bersamanya."   Hari Jum'at menjadi hari yang paling indah bagi anak yang tinggal…

12. Berpisah dengan Bapak

Ada yang terasa asing, tapi senyuman itu membawaku dalam ketenangan. Bapak  …. “     Rumah ini semakin terasa sepi, tidak ada Ibu dan sekarang…

11. Ketika Detakmu Berhenti

    Tiga tahun tanpa terasa, kami menjalani hidup penuh dengan kesederhanaan, tapi tidak melupakan rasa syukur karena Bapak sentiasa sehat untuk menjaga kami, walaupun…

10. Ternyata Aku (Pov. Bapak)

Sejak tahu penyakit yang diderita anakku Yuni, aku jadi sering murung dan bertanya-tanya, kenapa bisa penyakit seperti itu ada di dalam tubuh anakku? Padahal kami,…

9. Tanpa Ibu

    ”Durhaka bukan selalu dosa anak, tapi sering kali cermin dari luka yang ditanam orang tua, kasih yang adil dan kata-kata yang menusuk hati.”…

8. Tamu

Sebelum mempersilakan mereka masuk, Bapak lebih dulu menoleh ke arahku. Cukup lama seperti sedang memastikan kalau aku bisa menerima mereka. Tamu tengah malam yang tak…

7. Perjuangan Mbak Yuni

Kami sampai di depan ruang ICU, Bapak langsung diam. Seperti mengatur langkah. Aku hanya bisa berlari kecil di belakangnya sambil menahan napas. Pintu besar berwarna…

6. Kejujuran yang Menyakitkan

Kata-kata Bapak masih terngiang di kepalaku, pelan, berat dan terasa membingungkan. Apa maksud dari Bapak bukan bapak kandungku? Bukankah setiap hari aku tinggal bersamanya? Di…

5. Bukan Bapakku

Aku tidak paham apa yang dikatakan mereka. Tetapi, kulihat Bapak berulang kali memohon agar Ibu kembali untukku karena Bapak harus bekerja dan tidak mungkin meninggalkan…

4. Bingung

Aku duduk di kursi kayu kecil di samping ranjang Mbak Yuni. Tubuhnya lemah dengan beberapa bekas tusukan jarum infus di beberapa bagian. Wajahnya pucat sekali,…

3. Apa itu Talasemia?

Nomor itu langsung bisa aku hapal di luar kepala, karena di rumah tidak ada telepon. Aku bergegas ke rumah Bu RT, siapa tahu bisa membantu,…

2. Surat Dari Ibu

    "Pak  ... bapak," kataku sambil menarik ujung kaos oblong Bapak.    "Ibuuu  ... ke mana, Pak? Nggak pergi jauh, 'kan?" tanyaku kemudian dengan…
error: Content is protected !!