Ternyata Mencintai Anak Pemilik Mal

111. Ujian Ketulusan Cinta

“Well, kalian akhirnya ada di sini. Thank you sudah mau datang!” Asterita menyambut kedua wanita yang sedang bersitegang saling menatap dengan kesal.

Sapaan Asterita membuat mereka mengalihkan pandangan pada ibu pria yang sama-sama mereka kejar.

“Jadi, Tante Aster juga mengundang wanita tua ini ke sini?” Retha bicara dengan nada ketus, sementara tangannya menunjuk pada Hera.

“Apa? Wanita tua? Sembarangan! Jaga mulut kamu!” Hera tersinggung dengan ucapan Retha.

Lusia dan Mentari saling memandang. Dua pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka juga saling memandang. Asterita melebarkan mata karena kaget dengan tingkah Retha dan Hera.

“Kamu yang ga tahu diri. Udah ninggalin Leon sekarang mau sok-sokan balik. Mau bikin dia menderita lagi?” Retha melanjutkan adu mulut mereka.

“Hei! Lu kagak tahu apa-apa. Mending lu diem atau gue …”

“Cukup!!” Dengan suara keras sekali Asterita berteriak menghentikan dua wanita itu dari pertengkaran yang tidak perlu terjadi.

Retha dan Hera seketika berhenti dan memandang Asterita. Wajah keduanya sama-sama merah karena marah. Tatapan mataya penuh kebencian. Asterita sangat kaget dengan kelakukan mereka. Dia tidak mengira ini yang dia hadapi ketika meminta mereka datang ke rumah menemuinya secara bersama.

“Aku shock dengan tingkah kalian!” Asterita yang tidak suka basa-basi langsung bicara apa yang muncul di kepala dan yang dia rasa.

Retha dan Hera tersentak dengan ucapan Asterita.

“Leon itu bukan mainan yang perlu kalian perebutkan!” Asterita melanjutkan.

“Tan, kalau sejak aku dikenalkan dengan Leon, Tante bisa meyakinkan Leon sama aku, ga akan kayak gini jadinya. Ga akan ada gadis rendahan itu di sini, ga akan ada wanita tua dan janda ini juga di sini,” kata Retha. Ternyata dia masih juga tidak mau mengontrol dirinya.

Asterita belum selesai bicara, Retha sudah menyela dan membela diri, bahkan menyalahkan Asterita.

“Menurutmu, Leon tidak mau denganmu karena aku ibu yang tidak becus mengurus anakku?” Suara Asterita merendah. Tapi nada marah terasa jelas ada di sana.

“Bukan kayak gitu maksud aku, Tan. Dari awal, Tante yang mengajak aku bicara, memberitahu soal Leon, bagaimana caranya biar dia luluh dan …”

“Apa?” Hera menyela. “Tante memang berniat menjodohkan Leon dengan gadis kurang gaul ini?” Hera memandang Asterita dengan pandangan kesal bercampur sedih.

“Kamu sudah pergi jauh dari hidup anakku, Hera. Kamu yang memulai semua kekacauan di hidup Leon. Seburuk itu yang kamu lakukan, aku tetap tidak mau membencimu. Aku berusaha menghargai yang kamu pilih meski harus melihat anakku terpuruk, seperti orang setengah gila,” ujar Asterita dengan perih sedikit menusuk di dadanya.

“Tante, karena itu aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau menebus kesalahanku dan membuat Leon bahagia.” Hera mulai meluncurkan jurusnya. Dia harus bisa membujuk mama Leon. Bagaimanapun Leon akan mempertimbangkan apa yang Asterita minta.

Lusia menggeser posisi tepat di sebelah Mentari. Dia memegang tangan Mentari. Dia bisa melihat Mentari sangat tegang menyaksikan adegan luar biasa di depan matanya. Asterita mengundang dua wanita yang pernah hadir di hidup Leon.

Yang satu, Hera, wanita yang dengan sepenuh hati Leon cintai. Leon yakin jika Hera adalah tujuan hidupnya, ternyata Hera menghancurkan hati Leon. Lalu Retha, memang baru memulai pendekatan, tetapi Leon langsung memilih menolaknya, karena merasa Retha bukan wanita yang tepat, sebab hatinya mulai bersinar lagi karena Mentari.

“Tari, aku akan di pihakmu, jangan kuatir.” Lusia bicara dengan pelan, tapi tegas, tanpa melihat pada Mentari, matanya tetap lurus melihat keseruan episode ekstra di rumah besar Alvarez.

Mentari menoleh pada Lusia. Dia kaget Lusia mengatakan itu. Mentari mengangguk, dan dalam hati dia sangat berterima kasih.

“Aku minta maaf untuk semua itu, Tan. Dan aku yakin, sekarang dengan aku mendapat kebebasanku lagi, Tuhan membuka pintu buat aku dan Leon bisa kembali sama-sama. Sudah seharusnya begitu sejak awal.” Hera berusaha membuat Asterita melihat situasinya dari sisi yang sama.

“Tan, aku punya masa depan baik. Aku siap mendukung Leon dan aku tidak akan mengecewakan Tante. Aku bisa jamin itu,” kejar Retha. Dia tidak akan mau diremehkan oleh seorang mantan yang tidak tahu diri.

“Aku tidak mau bertemu kalian untuk berdebat.” Asterita merasa tidak ada gunanya terus mendebat dua wanita yang tampaknya cinta mati pada putra sulungnya. Dia memang sudah ada rencana untuk bisa melihat ketulusan hati mereka terhadap Leon.

Asterita menoleh ke belakang. Dia melihat Mentari yang berdiri dengan Lusia di sampingnya. Lusia menggandeng tangan Mentari seolah mau menjaga gadis itu. Asterita tahu, Lusia sudah mulai suka pada Mentari. Asterita sendiri, dia masih perlu bukti apa sungguh-sungguh memang Mentari tulus cinta Leon, atau dia punya motivasi lain.

Dilihat dari kondisi, situasi, Mentari yang paling mungkin punya motivasi salah bersedia menjadi kekasih Leon, apalagi jika nanti Leon peristri. Hidup Mentari selama ini begitu berat, dan Leon menjadi pahlawan baginya. Mentari diangkat dan mendapat segala kebaikan yang mungkin hanya bisa dia bayangkan sejak dia kecil.

“Mentari, berdirilah di sini, bersama Hera dan Retha,” titah Asterita.

Dada Mentari seketika berdetak sangat cepat. Apa maksud Asterita dengan semua itu? Mengapa Asterita meminta Mentari dan dua wanita pengganggu dalam hubungannya dengan Leon datang ke rumah besar itu? Jika boleh, Mentari ingin kabur saja. Hubungan cinta bukan untuk diperdebatkan seperti ini.

Mentari memandang Lusia. Lusia mengeratkan tangannya yang masih menggenggan tangan Mentari. Lusia juga bingung dengan apa yang mamanya lakukan. Tapi dia belum ingin protes atau apa. Lusia akan menunggu sampai waktu yang tepat memanggil bantuan ke rumah.

“Pergi ke sana. Jangan kuatir, aku di sini,” bisik Lusia. Dia yakinkan Mentari jika dia siap bertarung buat Mentari.

Mentari melepas tangan Lusia dan berjalan ke arah Hera dan Retha yang berdiri kira-kira tiga meter di depan Asterita. Mentari memilih berdiri paling kiri, di sebelah Hera.

“Bagus, kita akan mulai sekarang,” kata Asterita. Dia menegakkan badan, memandang tajam satu-satu pada tiga wanita di depannya.

“Aku tidak akan mudah melepas anak lelakiku pada seorang wanita. Aku mengandung dan melahirkannnya dengan susah payah. Aku membesarkan dia dengan perjuangan seumur hidup. Kalau sampai pendamping hidupnya tidak bisa menjadi penolong yang tulus dan setia, anakku akan menderita. Kalian paham?” Asterita tegas bicara dengan wajah tegang.

“Ya, Tante.” Bersamaan Retha dan Hera menyahut.

“Karena itu aku punya tiga ujian buat kalian sebagai bukti kalian tidak sedang berpura-pura, sebenarnya hanya mau memanfaatkan Leon,” lanjut Asterita.

Ketiga wanita itu tidak menjawab tetapi pandangan mereka terlihat sangat kaget.

 

 

Lates Chapters

125. Di Atap Mal

"Mama! Lihat!" Suara kecil dan ceria itu memaksa Mentari mengangkat wajah ke depan. Bocah tiga tahun itu menunjukkan sebuah mainan robot di tangannya. Wajahnya sumringah,…

124. Satu Lagi Keajaiban

Dada Leon semakin menderu, bergejolak, berdetak cepat, dan entah apa lagi yang dia rasa. Tiba di depan ruangan Mentari, Leon makin tidak karuan. Leon cepat…

123. Leon Junior!

Mentari membuka mata. Entah berapa lama dia tertidur. Badan rasanya sakit semua. Mentari menoleh ke sisinya. Leon masih terlelap dengan posisi meringkuk. Sebelah tangan Leon…

122. More Than I Can Wish

"Uffhhh!!" Leon meletkakkan pantatnya di kursi pesawat dengan penuh rasa lega.  Tinggal beberapa menit pesawat mengudara, Leon dan Mentari akhirnya bisa juga masuk pesawat. Mentari…

121. Kejutan Leon

Mentari makin mendekat. Pelan sekali Mentari naik ke kasur dan duduk di samping Leon. Sama sekali Leon tidak bergerak. Dia pasti sangat lelah dan terlelap…

120. Tidak Malam Ini

Leon menggaruk kepalanya sambil memutar badan melihat ke arah pintu. Ada apa lagi? Tamu datang di saat dia sedang mulai permainan manis dengan istrinya? Astaga!…

119. Di Kamar Pengantin

Upacara sakral itu masih berlangsung. Hari bersejarah bagi dua insan yang dilanda asmara, yang bersiap memasuki kehidupan baru bersama. Saat itu saat di mana di…

118. Gaun Putih

Lila berlari kecil menuju kamar utama apartemen. Di depan pintu kamar, ada Irma sudah menunggu. "Wah, cantik banget! Warna putih dan merah. Thank you!" Irma…

117. So? How?

Perkataan Asterita jelas dan tegas dia katakan. Leon merasa ada kehangatan kasih ibu yang begitu dalam hadir untuknya. Awalnya dia sangat kesal. Mamanya bertingkah aneh-aneh.…

116. Masak, Make Up, Manner

Rumah bagian depan sepi. Ada mobil merah terparkir di halaman. Leon dan Horacio tahu jika memang ada tamu karena kendaraan itu. Tetapi mereka bisa belum…

115. Huru Hara di Rumah

Asterita memegang kertas di tangan. Penilaian sudah dia beri dan siap memberikan pengumuman. Hera dan Mentari berdiri di tempat mereka menunggu dengan wajah tegang. Jelas…

114. Soal Penampilan

Lusia mendekati mamanya. Dia harus mencegah Asterita bertindak terlalu jauh. Lusia bisa paham tujuan mamanya baik sekalipun aneh yang dia lakukan. Tetapi jika akan membuat…

113. Satu Gugur

Asterita melirik Lusia. Bagaimana Asterita bisa lupa kalau Lusia juga jatuh cinta pada Mentari? Dia sangat menyukai kekasih Leon yang belum bisa Asterita terima dengan…

112. Persaingan Sengit

Tidak kalah kaget, Lusia sampai melotot dengan mulut menganga begitu mendengar kata-kata Asterita. "Mama?!" ucapnya. Asterita tidak bereaksi pada keterkejutan Lusia. Asterita harus maju dan…

110. Panggilan Tiba-tiba

Detak jantung Mentari makin jadi ketika semakin dekat dengan kediaman mewah keluarga Alvarez. Apa yang diinginkan Asterita? Kenapa dia tidak minta Leon saja yang mengajak…

109. Asterita Beraksi

Leon, Mentari, dan Alman hanya memandang saja pada Hera yang kebingungan menghadapi anaknya. Anak dua tahun itu seperti tak terkendali karena ponsel yang dia pakai…

108. Jawaban Buat Hera

Mentari tidak percaya apa yang dia dengar. Hera terang-terangan meminta Mentari melepaskan Leon. Hera mengatakan masih cinta Leon dan yang terjadi di masa lalu mereka…

107. Bujuk Rayu Sang Mantan

"Kesal aku, Om. Bikin malu banget, kelakuannya kayak gitu. Penampilan sama tingkahnya ga ketemu. Ihh, aku pingin cakar mukanya!" Mentari meluapkan kesal pada Alman. Alman…

106. Dilabrak Pesaing

"Wahh, keren!! Bisa gitu, ya?" Mata Mentari melebar tak percaya setelah mendengar cerita Lila. "Aku juga ga percaya rasanya." Senyum manis Lila terurai. Matanya bersinar…

105. Marry Me

Dada Lila berdegup kencang. Lila sangat sadar, dia telah memiliki rasa sayang pada Baharudin meskipun bukan jatuh cinta yang meletup-letup. Kebaikan hati dan sikap penyayang…
error: Content is protected !!