“Minggir Yud! Aku harus kembali ke ruanganku,” ucap Amanda setelah perbincangan mereka usai.
Yuda bergeming enggan berubah dari posisinya yang menghalangi jalan Amanda hingga akhirnya dengan lancang lelaki itu mencium Amanda membuat wanita itu terbelalak tak percaya. Dia berniat menjauhkan wajah, tetapi Yuda berhasil menahan tengkuknya.
“Gila, kamu!” hardik Amanda ketika dia berhasil mendorong tubuh sahabatnya yang telah lancang itu.
“Kenapa? Aku salah,” kata Yuda seolah perbuatannya adalah hal wajar.
Amanda tercengang, ada apakah dengan Yuda? Dia seolah tak mengenali sahabatnya sendiri. Lelaki itu berubah menjadi orang lain.
“Kamu itu yang kenapa? Tiba-tiba cium aku seperti itu.”
Yuda tersenyum meremehkan. Mengatakan kalau Amanda tak perlu berpura-pura lagi, dia yakin bahwa wanita itu sudah sering melakukannya.
“Maksud kamu apa?” Amanda benar-benar tak mengerti dengan perkataan lelaki itu.
“Kamu pikir aku nggak tahu semuanya, salah! Aku tahu kamu ada sesuatu, kan, sama Pak Angga,” tuduh Yuda membuat Amanda murka.
“Kenapa marah? udahlah Amanda! Aku udah tahu semuanya, bukan hanya sekali dua kali aku lihat kalian jalan bersama tapi sering. Dari naik motor berdua malam itu, makan siang selalu bersama, berangkat dan pulang pun bersama,” singkap Yuda, mengatakan apa yang pernah dia lihat beberapa bulan ini.
“Itu hanya ….”
“Hanya kebetulan. Ya, kebetulan yang disengaja, pantas aja kamu tolak lamaranku jadi karena ini … mencari lelaki yang memiliki pangkat lebih tinggi,” sindir Yuda. Namun, Amanda hanya diam meski menahan amarah.
“Kalian sudah melakukan apa aja selama beberapa bulan ini?” tuduh yuda, sambil memicing menatap Amanda yang terbelalak mendengar ucapannya.
“Maksud kamu apa?” Amanda mulai gusar, apakah selama ini ….
“Jangan pura-pura polos, Amanda! Aku sering lihat Pak Angga keluar-masuk rumah kamu. Bahkan, sampai menginap di sana, mana mungkin kalian nggak melakukan apa pun padahal berada dalam satu atap. Mungkin, kalian berdua ….”
“Stop, Yud! Kamu nggak tahu apa-apa jadi jangan ambil kesimpulan sendiri,” sangkal Amanda mulai tak tahan dengan segala tuduhan yang Yuda lontarkan.
“Ya, udah. Beri tahu aku apa hubungan kalian?” tutup Yuda supaya semua rasa penasarannya segera menguap. Namun, Amanda memilih bungkam membuat lelaki itu berpikir bahwa tuduhannya memang benar adanya. Mengatakan bila Amanda sahabatnya yang selalu pemalu dan tak pernah mengajak lelaki mana pun menginap di rumahnya kini malah melakukan itu, Amanda telah berubah itu menurut Yuda.
Amanda mengernyit menatap sahabat laki-lakinya itu. “Kamu mata-matain aku?” tebak Amanda dengan tatapan menyelidik.
Yuda tersenyum dan detik berikutnya dia mengangguk, bertanya lebih lanjut tentang apa saja yang telah mereka lakukan selama berada satu atap. Tuduhan demi tuduhan lelaki itu lontarkan membuat Amanda geram dan akhirnya menampar Yuda.
“Kamu nggak tahu apa-apa, Yuda. Aku ada hubungan atau enggak sama dia, itu bukan urusan kamu. Stop mau tahu kehidupan pribadiku!” tukas Amanda dan segera pergi meninggalkan Yuda dengan hati dongkol dan kecewa.
Amanda mendesah kecewa ketika kejadian beberapa hari lalu yang hampir membuat hubungannya dengan Angga hancur kini muncul. Merasa tak percaya kalau Yuda—sahabat yang amat dia percaya—berubah seperti itu. Dia sejujurnya ingin mengatakan semuanya kalau Angga adalah suaminya. Namun, dia ragu dan takut.
“Astaga,” pekik Amanda ketika Angga tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya tanpa berkata lebih dulu.
“Angga apa-apaan, sih. Turunin! Aku bisa jalan sendiri.”
Amanda meronta dalam gendongan Angga. Namun, pria itu tak acuh, terus membawanya menuju kamar mandi. Meminta Amanda mengambil air wudhu’ dan membuat wanita itu semakin bingung.
“Aku tunggu di tempat sholat, ya!” seru Angga, mengusap pucuk kepala istrinya penuh sayang.
Sholat sunnah dua rakaat telah ditunaikan, Amanda mencium tangan Angga takdzim membuat lelaki itu merasa damai dan dihormati. Amanda memejamkan mata ketika sang suami memberikan kecupan lama di kening, rinainya menetes ketika Angga mengucapkan maaf berkali-kali karena tlah menyakiti dirinya. Suasana seolah berubah sakral ketika lelaki itu mengucapkan doa dan meniup ubun-ubun sang istri. Amanda seolah merasa bahwa mereka adalah pasangan baru.
Lagi-lagi Amanda dibuat terharu sekaligus bahagia setelah melihat kamar mereka yang berubah menjadi romantis. Lilin-lilin aroma terapi berada di berbagai tempat dan sisi, penerangan yang temaram dan jangan lupakan tempat tidur mereka yang penuh dengan kelopak mawar merah.
“Kamu yang buat ini semua?” tanya Amanda yang dibalas lirikan kesal oleh Angga.
“Menurut kamu siapa lagi kalau bukan aku, suamimu ini. Anggap aja ini sebagai ganti malam pertama kita yang buruk.” Angga menuntun Amanda menuju kasur membuat wanita itu berdebar tak menentu.
“Sebagai ganti malam pertama kita, maksud Angga apa? Jangan-jangan dia ….” Amanda menebak-nebak dalam hati.
Amanda kembali memekik ketika Angga membawanya jatuh bersama ke atas kasur penuh bunga itu. Keduanya sama-sama diam terhanyut dengan tatapan masing-masing mengabaikan posisi yang kini begitu intim. Amanda memejamkan mata dan menahan napas ketika tak ada lagi jarak antara wajahnya dengan Angga. Suasana kamar yang temaram dan romantis menjadi saksi bisu bersatunya mereka untuk pertama kali, membuat Amanda seolah lupa akan kenyataan bahwa Angga belum sepenuhnya menerima dia di dalam hatinya, sentuhan demi sentuhan yang lelaki itu berikan membuat dia merasa diinginkan.
Amanda tersenyum menatap wajah Angga yang masih terlelap di sampingnya. Kilasan memori semalam muncul membuat pipinya bersemu di pagi ini, setelah Delapan bulan penantian akhirnya dia telah menjadi seorang istri yang utuh. Penyatuan mereka untuk yang pertama membuat kesan yang mendalam bagi Amanda. Setidaknya lelaki di sampingnya itu sudah bersiap membuang nama Nessa dalam hatinya.
“Asal kamu tahu, sampai mati pun aku nggak akan sudi menyentuh kamu, kamu bukan istriku tapi sebuah kesialan.”
Penolakan Angga hari itu membuat Amanda mendesah. Namun, mencoba meyakinkan hati bila lelaki itu telah berubah sekarang.
“Angga bangun! Sholat subuh dulu,” ucap Amanda sambil menggoyangkan bahu Angga yang polos tanpa satu benang pun.
Angga menggeliat sebentar, mengubah posisi jadi miring dan menelusupkan kepala di samping Amanda duduk. “Jam berapa sekarang?” tanyanya dengan mata tertutup.
“Sudah jam lima pagi, ayo bangun!” Amanda mengusap kepala lelaki itu membuat si empunya semakin memejamkan mata menikmati. Namun, menit berikutnya dia membuka mata dan mendongak, menatap sang istri yang sudah harum dan segar.
“Kamu udah mandi?” tanya Angga dengan nada kecewa dan dibalas anggukan kepala oleh Amanda.
“Kenapa nggak bangunin aku? Malah mandi sendiri.” ucapnya kesal membuat Amanda menaikkan satu alisnya bingung.
“Jadinya kita nggak bisa mandi bersama,” lanjut Angga, membuat Amanda langsung terbelalak, menggelengkan kepala dan mengatakan bila dia pasti malu bila mandi bersama.
“Kenapa harus malu? Lagipula aku udah lihat semalam, meskipun nggak jelas,” ungkap Angga disertai tawa kecil membuat Amanda menunduk dengan pipi yang merona.
Angga tertawa melihat kedua pipi sang istri yang bersemu di pagi hari membuatnya ingin terus menggoda wanita itu. Namun, Amanda lebih dulu beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju almari pakaian. Menyiapkan baju koko dan sarung untuk lelaki itu.
“Udah sana bangun! Mandi dulu, habis itu kita sholat berjamaah,” titah Amanda membelakangi sang suami dan sibuk memilah pakaian dalam almari. Namun, dia terkesiap ketika merasakan Angga memeluknya dari belakang.
“Mandi lagi, yuk!” ajak Angga sambil meletakkan kepala di atas bahu Amanda, menghirup aroma manis yang menguar dari tubuh istrinya.
“Udah sana mandi!” Amanda berusaha melepas pelukan Angga, tetapi tak bisa karena lelaki itu mendekapnya erat.
“Iya, tapi sama kamu. Ayo! Mandi lagi.” Amanda masih saja menolak karena dia tak ‘kan mau bila harus mandi bersama.
Usai menunaikan kewajiban-Nya Angga memutuskan tidur kembali dengan syarat bersama Amanda. Hari libur membuatnya terbebas dari segala aktifitas dan berduaan dengan sang istri adalah jalan terbaik untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.
“Maaf untuk kejadian semalam dan aku yakin pasti masih sakit,” ujar Angga ketika kilasan memori semalam muncul membuatnya merasa bersalah telah menyakiti Amanda.
Amanda mengangguk pelan lalu menunduk, menyembunyikan pipinya yang kembali merona ketika mengingat kejadian semalam.
“Sekarang kita tidur lagi dan aku maunya sama kamu. Nggak ada bantahan apa pun!” tegas Angga sebelum Amanda mengeluarkan bantahannya. Memeluk wanita itu dari samping supaya tak bisa lagi menghindar.
Kening, pipi dan bibir tak ada yang terlewat dari kecupan Angga sebelum memejamkan mata. Menyembunyikan wajah ke dalam ceruk leher Amanda membuat wanita itu terkekeh karena geli.
“Angga geli, stop kayak gitu!” Amanda mendengkus ketika Angga terus saja menggodanya.
Angga menghentikan aksi jahilnya, mengangkat kepala dan menyangga dengan satu lengan. Menatap lamat wajah polos dan segar sang istri. “Terimakasih karena kamu udah sabar menghadapi sikapku yang selalu kasar sama kamu.”
“Sama-sama,” jawab Amanda dengan senyuman.
“Aku sayang sama kamu jadi kumohon! Jangan pernah ninggalin aku,” ungkap Angga, menatap lekat netra teduh milik Amanda.
Amanda kembali tersenyum dengan hati bahagia, berjanji takkan pernah meninggalkan Angga sampai kapan pun.
“Aku sayang sama kamu. Kapan kamu cintanya sama aku, Angga? Tapi aku bersyukur setidaknya itu adalah awal yang baik, tinggal menunggu kapan rasa sayang itu berubah jadi cinta,” gumam Amanda lalu ikut memejamkan mata dan membalas pelukan Angga.