Sugar Puff

1

“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada hannyalah sesuatu yang disebut takdir di masa depan…. 

Sudah makan, tadi…mmm, sekarang? Lagi keluar sama teman-teman. Iya, nanti Brian segera pulang. Iya, Brian hati-hati…oleh-oleh? Enggak usah…ok, terserah.”

Brian sedikit mengigil. Tidak biasanya Surabaya sedingin ini. Makanya, dirinya tadi hanya memakai kaos hitam yang tidak terlalu tebal tanpa membawa jaket. Karena, biasanya Surabaya seperti bertetangga dengan matahari saking panasnya. 

“Sudah dulu ya, Bu? Brian mau gabung sama teman-teman. Brian telepon lagi kalau sudah sampai rumah. Da!” sela Brian dan ia pun memutuskan telepon secara sepihak.

Terkadang, ibu membuat dia merasa tidak nyaman. Perlakuan ibunya seperti tidak pernah berubah dari dirinya duduk di bangku kanak-kanak, sampai sebesar sekarang. Itu sangat mengganggunya.

Dia berpikir, dengan ibu dan ayah yang keluar kota untuk melakukan perjalanan bisnis, dia akan bisa bernapas dengan bebas. Kenyataannya, ternyata sama saja. Oke ralat, setidaknya dirinya bisa terhindar dari sinis dan tuntutan yang tidak masuk akal sementara waktu dari sang ayah.

Brian, kemudian menatap sebuah tempat yang ada di depannya. Bangunan tempat di mana beberapa waktu tadi dirinya ada di dalam sana. Ya, seharunya seorang pelajar tidak boleh ada di sana. Namun, tidak jika dirinya memiliki banyak uang dan pengaruh. Tempat dengan pencahayaan minim, suara musik kencang, serta minuman penghilang kewarasan bisa dengan mudah mereka masuki bahkan miliki.

Sepertinya, kali ini Brian harus mendengarkan apa yang ibunya katakan untuk pulang lebih awal. Entah karena apa? Mungkin perasaannya saja saat ini yang aneh atau memang dia sudah berada pada titik jenuh. Mungkin, sebenarnya dia hanya ingin menunjukkannya kepada dunia, jika dia sudah dewasa. Itu saja, dan sekarang dia hanya ingin pulang.

“Bruk!”

Begitu Brian memutar tubuhnya, pria itu langsung dikejutkan dengan ponsel miliknya yang sudah terbagi menjadi dua bagian di bawah sana. Ponsel yang baru dibelinya dua minggu lalu, tergolek mengenaskan dengan satu lagi yang memiliki tampilan sama dengan yang dimilikinya. Entah mempunyai kekuatan sebesar apa manusia yang menabraknya ini? 

“Hati-hati, dong!”

Brian terkejut sekaligus heran. Bukankah dirinya yang seharusnya meninggikan suaranya? Pria itu mengangkat salah satu alis saat dia mengetahui ternyata yang ada di depannya adalah makhluk betina. 

Bibir Brian berkedut menahan tawa, begitu melihat penampilan unik manusia asing yang tadi menabraknya. Eyeshadow hitam dengan warna bibir yang senada, memakai rambut palsu, dan celana kekurangan bahan. Itu sangat membuat mulutnya haus untuk berkata kasar. Namun tidak. Brian, tidak seburuk itu untuk begitu saja mengolok-olok tampilan seorang wanita, apalagi yang tidak dikenalnya. 

Brian berdehem. “Hei, tunggu dulu…bukannya kamu yang nabrak aku, tadi?” Dia bahkan masih berpijak pada tempatnya semula. 

Si gadis malah berkacamata pinggang. “Lo tuh yang harus tanggung jawab! Gue gak mau tau dan gak mau denger alasan apa pun!” serunya tanpa sungkan.

Tanpa berkata apa-apa, Brian menunjuk ponselnya yang mungkin tidak bisa digunakan lagi. Dia berharap gadis itu akan segera mengerti.

“Udah gue bilang, kan? Lo budek atau apa! Pokoknya, gue gak mau tahu! Lo, di sini yang salah! Gue gak peduli sama ponsel milik lo itu!” Gadis itu masih mempertahankan egonya. 

Brian memijat keningnya. Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk sekedar memberi gadis itu uang atau mengganti ponselnya, walaupun kenyataannya mungkin tidak ada toko elektronik yang buka pada jam segini. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan gadis aneh itu seenaknya sendiri. Jelas-jelas gadis itulah yang menabraknya. Bisa jadi, kan ini semua hanya trik kejahatan baru?

“Lagi pula, kenapa berdiri di sini, si! Jangan sok kegantengan, deh! Lo cari korban ya, pasti!” Gadis tadi tiba-tiba mendekat mengendus tubuh Brian. “Tuh, kan…ini tuh bau alkohol! Lo orang jahat, pasti!”

Brian melangkah mundur. “Kamu ngomong apa sih? Kayaknya, kamu deh yang mabuk?”

“Enak aja!” Gadis itu kemudian mengibaskan tangannya. “Gimana? Mau ganti rugi, gak? Kalau gak mau, kita bawa urusan ini ke kantor polisi!”

“Ok! Kita ke kantor polisi sekarang,” jawab Brian enteng. Karena, tentu saja dia juga tidak merasa salah.

Gadis itu diam beberapa saat, namun kemudian berjalan mendahului Brian dengan sengaja menabrak bahunya terlebih dahulu. Benar-benar tipe perempuan yang suka mencari gara-gara.

Untung saja kesabaran Brian setebal dompet ayahnya. Jadi, tak masalah gadis itu membuat gara-gara kepadanya. Dia hanya ingin gadis itu mengaku kalau dirinya salah, itu saja sebenarnya. Entahlah.

Namun, belum setengah perjalanan gadis tadi tiba-tiba berhenti. Ia kembali menatap Brian dengan ekspresi yang sulit diartikan. 

“Kenapa?” tanya Brian tanpa suara. Akan tetapi, manusia di depannya, malah diam saja sambil memainkan ujung jarinya.

Brian memejamkan mata, sambil menahan napas lagi. “Oke, ikut aku. Aku ganti.” Persetan dengan gadis itu yang sebenarnya bermaksud menipunya. Brian, hanya ingin segera pulang. Mungkin saja, gadis itu baru menyadari, jika urusannya akan panjang dengan dia yang berpenampilan aneh seperti itu.

“Tunggu dulu… lo, enggak sedang mau ngerjain gue kan?” telisik si gadis.

Langkah Brian terhenti. Bukankah seharusnya itu kata-katanya?

“Terserah, kamu mau aku ganti rugi atau enggak? Kalau mau ikut aku, kalau enggak ya uda urusan kita selesai sampai di sini,” ujar Brian mulai tersulut emosi.

Gadis itu terlihat menggerutu, namun pada akhirnya dengan enggan, menganggukkan kepala juga.

Setelah menghubungi dan memaksa kenalan Brian untuk membuka toko penyedia elektronik resmi, akhirnya dia mendapat dua ponsel untuk menggantikan tragedi tadi.

“Sudah?” Brian menyerahkan ponsel bermata tiga keluaran terbaru yang sama seperti yang dimilikinya. Namun, gadis di depannya malah hanya mengerjapkan mata menatapnya. “Kenapa lagi?” tanyanya tidak sabaran.

“Mau enggak? Aku sudah susah payah tadi nyuruh orang buat buka satu mall hanya untuk ini,” gusarnya sembari mengayunkan ponsel yang dari tadi hanya ditatap saja oleh calon pemiliknya. 

“Lo tuh siapa sih, sebenarnya?”

Brian membuang napas, enggan menjawab pertanyaan tidak penting dari gadis itu. Walaupun dia sadar, cukup lumrah sebenarnya pertanyaan yang dilontarkannya. Sebab memang tidak sembarang orang bisa menyuruh orang lain membuka mall hanya untuk membeli barang yang dia mau hanya khusus untuk dirinya sendiri.

“Kamu, mau ambil ini atau enggak?” ulangnya, saat melihat si gadis yang tak kunjung bereaksi. 

Melihat gadis tadi masih diam di tempatnya, Brian mulai bersuara kembali. “Mau apa lagi?”

“Ehm, gue juga enggak tahu jalan,” lirihnya sambil mengambil ponsel yang diayunkan Brian.

“Ha?”

“Gue, nggak tahu jalan!”

Brian menarik gadis itu mendekat, sebab tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tentu saja buru-buru pria itu melepasnya, karena pelototan tajam yang diterima. 

“Kamu ngomong, apa?” tanya Brian lagi, karena suara gadis tadi teredam oleh suara hujan yang tiba-tiba turun.

“Gue, nggak tahu arah!”

“Terus?”

“Karena lo tadi buat salah sama gue. Lo harusnya juga antar gue, dong,” lanjutnya.

“Ha? Apa?” Brian tidak salah dengar? Mengantarnya pulang, setelah memberi ganti rugi yang harusnya bukan tanggung jawabnya?

Si gadis menarik tangan Brian untuk segera melipir mencari tempat berteduh. Gadis itu, kemudian mengibas-kibaskan rambut dan pakaiannya sesampai di depan sebuah toko buku. “Anter gue ke hotel dekat bandara ya?” pintanya tanpa sungkan. “Gue bukan orang sini, soalnya.”

“Udah keliatan dari tampilan sama cara ngomong kamu itu. Kamu orang Jakarta kan, pasti?”

“Ada yang salah dengan cara gue dandan?”

“Sumpah masih perlu aku jelaskan?”

Tanpa menunggu makian yang akan terlontar ke arahnya, Brian berjalan menerobos hujan meninggalkan gadis itu. Namun, berbalik saat dirasa gadis tadi tidak segera menyusulnya. “Ayo! Mau diantar, enggak?” tawarnya walaupun sedikit jengkel, setelah sebelumnya memejamkan mata dan membuang napas membangun kesabaran.

“Ini masih hujan?” Gadis itu membuntuti Brian yang berjalan menuju tempat parkir. “Kita naik motor?” tanyanya, begitu melihat pria di hadapannya tadi bergerak menaiki motor merah yang terlihat mencolok dari pada sekitarnya. Motor yang ia ketahui hanya diproduksi lima ratus unit saja di seluruh dunia. Gadis itu tahu, karena diam-diam dia juga tertarik dengan dunia otomotif. Namun, apa gunanya motor mahal, jika hari ini dia akan kehujanan?

“Iya, kenapa?”

“Nanti ponselnya?”

Ponsel ini lebih penting dari apa pun. Dia, tidak mungkin mencari uang lagi untuk sekedar membeli ponsel baru dengan kebutuhannya yang semakin lama semakin banyak ini. Ini ponsel memberikan papanya, jika ketahuan rusak dia tidak ingin mendengar ceramah yang memekakkan telinga.

Brian buru-buru mengambil jas hujan lalu melemparkannya. “Pakai ini,” decak Brian mulai habis kesabaran.

“Lo gak bawa, helm? Percuma motor bagus kala—”

“Rumah aku dekat dari sini dan aku enggak tahu kalau bakalan ketemu sama orang aneh dan —”

“Oke, jalan!” potong gadis tadi sebelum emosi pria dihadapannya kembali datang dan dia berakhir sendirian tersesat di jalanan.

“Santai, dong! Mata gue sakit ini, kena air hujan!” seru si gadis di belakang, begitu motor mulai dijalankan. 

Brian seketika menghentikan motornya, menoleh tanpa ekspresi ke arah gadis yang ada di belakangnya. 

“Oke, lanjut….”

Gadis itu terhenyak, saat tiba-tiba topi basah pria di depan kemudi dipindahkan ke atas kepalanya. Brian pun kembali memacu motornya dengan kecepatan yang tidak berkurang sama sekali. Berbeda dengan tadi, si gadis hanya diam menyembunyikan pipinya yang entah kenapa menjadi hangat di saat cuaca dingin seperti ini.

“Makasih!” seru Brian, begitu gadis itu sudah turun dari motornya. 

Bukannya merasa malu, gadis tadi malah memelototinya. Brian hanya menenangkan kepala dan buru-buru menancapkan gas motor miliknya. Dia hanya membuang napas pasrah saat kemudian menyadari jas hujan beserta topi miliknya masih dipakai oleh gadis tadi.

Setelah semua drama yang terjadi, akhirnya Brian bisa pulang ke rumahnya juga. Basah kuyup sudah pasti. Namun, ada sesuatu yang aneh.

Kenapa, pelataran rumahnya ramai sekali?

Seorang pria berperawakan hampir mirip dengan sang ayah berjalan buru-buru mendekatinya. Namun, bukan sapaan hangat, senyum ramah atau pelukan kasih sayang, melainkan tamparan keras yang didapatnya. Bahkan Brian sampai terhuyung hampir terjatuh, saking kerasnya pukulan yang diterimanya.

“Anak setan! Darimana aja kamu!”

 

Lates Chapters

30 (end)

[embed]https://youtu.be/iLlLLBuuvVU?si=A1we1kaLuanXFjSj[/embed] Javas mengulurkan tangan ke arah Masha. Gadis itu memaksakan diri untuk berdiri walau kedua kakinya masih lemas seperti jeli. Javas tersenyum memandang satu persatu…

29

Masha meremas ujung jari tangannya, sesekali juga mengigit kuku-kukunya, kemudian mendongak menatap jalanan dan membuang napas setelahnya. Itu berulang kali ia lakukan sambil berkali-kali memanjatkan…

28

Senyum Masha menguar saat melihat Brian membuang tongkat, balik badan, dan berlari begitu saja. Apa ini? Apa dia terlalu percaya diri karena berpikir Brian benar-benar…

27

Sudah seminggu semenjak Brian pulang dari sumah sakit. Keadaan pria itu sudah baik-baik saja selain, kakinya yang masih menggunakan penyangga serta luka-luka bekas goresan yang…

26

"Kalian pacaran?" tanya Ara saat hanya ada dia dan Brian saja di sana. Gadis itu memang sengaja menyuruh kedua orang tuanya agar mengistirahatkan diri di…

25

Brian mengerjap. Apakah, dia salah lihat? Ada Masha melangkah pelan masuk mendekat ke arahnya. "Itu masha?" tanya Brian mencoba mencari kebenaran. Bisa jadi akibat cedera…

24

Begitu Brian membuka mata, dia sudah berada di dalam kamarnya. Pria itu menyingkap selimut yang tadi melindungi tubuhnya, mengamati sekitar. Cukup heran, walau ini adalah…

23

Brian semakin melajukan motornya. Pikirannya berkecamuk, menyesal dia mengiyakan Ara tadi untuk ikut dengannya. Kalau saja dia menolak, Ara tidak akan menghadapi situasi semacam ini. …

22

"Kenapa dari kemarin kamu susah dihubungi?" "Kita putus." Tanpa menatap Roland, Ara kembali mengecek ponselnya. Berdecak saat Luna memberitahunya, jika mereka akan terlambat. Katanya Belle…

21

Masha berlari begitu melihat orang-orang yang dia tahu suruhan ayahnya mondar-mandir di depan sekolahnya. Namun, kemudian ia berubah pikiran. Masha menghentikan langkah,  memejamkan mata, balik…

20

"Tumben telat, Bri?" todong Randy begitu melihat Brian baru meletakkan tasnya. "Ngantuk banget gue, Rand." Semalam Brian baru bisa tidur saat cengkaraman Ara mulai mengendor.…

19

"Mau ke mana?" tanya Ara kepada Brian. Begitu pria itu terlihat berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Namun, bukannya menjawab, pria itu malah mengabaikannya. "Heh! Diajak…

18

Masha menyandarkan kepala pada salah satu pohon dari berbagai pohon yang ditanam ditata rapi di sekitaran pemakaman.  Seperti pemakaman pada umumnya, pemakaman ini juga cukup…

17

"Kenapa muka lo, Bri?"   "Kenapa?"   "Lah, ditanya juga!"   "Pria tidak pernah bercerita."   "Tapi diam-diam beol di celana."   Kale sontak tertawa…

16

"Kenapa lo mau?" Brian menatap Leo. "Kenapa gue harus enggak mau?" Leo mendadak menawarkan hal aneh yang pada awalnya, Brian sulit mempercayainya. Bahkan, berulang kali…

15

"Hidup dan pilihan, seolah manusia tidak memiliki kebebasan"   Leo memegang lengan Masha. Menatap sahabatnya itu dengan pikiran yang saling beradu. "Lo, yakin, Sha? Gak…

14

"Gila gila gila!" Kenapa dia malah mengusap kepala Ara alih-alih menghindar dengan segera? Brian memukul-pukul kepalanya. Otaknya perlu direparasi, sepertinya. Oh, apa jangan-jangan akibat pukulan…

13

Ara mematikan televisi lalu menyalakan lagi. Mematikannya, kemudian mengulanginya untuk menyalakan kembali. Begitu terus, sebab dirinya bosan setengah mati. Seharusnya dia sudah berada di rumah…

12

Brian berjalan di trotoar yang sepi. Sekolahnya memang agak masuk ke dalam dan agak jauh dari jalan raya. Namun, siswa yang tidak mengendarai kendaraan pribadi,…

11

"Hey, ayo! Jadi pulang, enggak?" Kale menyadarkan Brian dari lamunannya tentang Leo baru saja. Brian akhirnya pulang, sengaja ia membelakangi teman-temannya untuk melirik Leo yang…
error: Content is protected !!