Misteri Takdir Anya

24

“Lewis?” Anya menoleh, matanya membulat tak percaya. Dia tidak mendengar langkah kaki tunanganya mendekat.

 

Lewis sudah lama berdiri di dekat Anya, lelaki tersebut mengenakan jaket denim, dengan ekspresi yang sulit diartikan, perpaduan antara senyuman lembut dan sorot mata penuh kesungguhan.

 

Pikiran Anya yang sedang berkelana, membuatnya tidak menyadari kehadiran Lewis. 

 

“Aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Tetapi kau tampak sedang melamun dan tidak menyadari kehadiranku. Aku takut lama-lama tersingkir,” ujar Lewis pelan, sambil duduk di sisi Anya tanpa menunggu persetujuan.

 

Anya menarik napas panjang, lalu menatap tunangannya lekat.

 

“Kamu dari tadi? Berarti liat Beno telepon aku?” tanya Anya lembut. 

 

“Cukup lama. Aku tau kau wanita setia, Sayang,” jawab Lewis sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba terlihat santai, meski jantungnya berdetak lebih cepat, “dan aku tahu kamu baru saja memblokir nomornya,” sambungnya lagi. 

 

“Kalo tau, kenapa bilang kasih kesempatan kedua?” tanya Anya sambil menatap Lewis tajam.

 

 Ada kilatan emosi yang tidak bisa  disembunyikan Anya. Amarah, kecewa, atau mungkin sisa luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

 

Lewis menghela napas, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan sebelum menjawab Anya.

 

 “Dengar, aku tahu kamu punya alasan kuat untuk memutuskan hubungan dengan Beno. Aku gak akan mencampuri itu, tapi ….” Lewis menjeda pembicaraan dengan menatap Anya yang memotong pembicaraan.. 

 

“Tapi apa?” potong Anya, nada suaranya terdengar tegas.

 

“Tapi aku pikir dia layak diberi kesempatan. Bukan sebagai seorang yang mencoba kembali ke hidupmu, karena aku aku akan menghalangi apapun caranya. Akan tetapi sebagai orang yang mungkin butuh hidupnya diselamatkan.” Lewis membelai rambut Anya penuh kasih sayang.

 

Anya melipat dahi sambil menatap Lewis, dia mencoba menerka apa yang dimaksud tunangannya tersebut. Sementara Lewis sibuk merangkai kata-kata yang tepat agar Anya tidak tersinggung.

 

“Kok gitu?” tanya Anya penasaran. 

 

 “Aku … aku sudah bicara dengannya. Maaf, ya,” jawab Lewis sambil menunduk. 

 

Mata Anya melebar. “Kamu bicara dengan Beno?”

 

“Iya,” jawab Lewis tanpa ragu, “aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi, sebelum aku tahu dia mencoba menghubungimu lagi,” sambung Lewis lagi. 

 

Anya terdiam, benaknya berpikir keras. Apa yang Lewis bicarakan dengan Beno? Lelaki brengsek yang menghancurkan hatinya. 

 

Pikiran Anya seperti dihantam balok kayu yang keras, dia merasa Lewis sudah terhasut oleh perkataan Beno.

 

“Jadi, kamu lebih percaya kata-kata dia daripada aku? Gak nyangka aku,” lontar Anya. 

 

“Bukan begitu, Anya.” Nada suara Lewis terdengar memohon, “aku percaya sama kamu, sepenuhnya. Tapi aku juga tau, kalau kita harus menutup pintu untuk semua orang yang pernah menyakiti kita, kadang kita juga menutup pintu untuk sesuatu yang mungkin baik. Aku nggak mau dia kembali menyakitimu, tapi aku juga nggak mau dia tenggelam lebih dalam kehidupannya yang sekarang,” urai Lewis dengan hati-hati. 

 

“Kan dia yang memilih jalannya sendiri, Lewis. Untuk apa coba menyelamatkan dia.” Hanya menatap Lewis dengan tatapan meminta jawaban. 

 

“Aku cuma mau memberi dia kesempatan untuk membuktikan dirinya. Biarkan dia bekerja di restoran, setidaknya dia bisa membantu jika Ririn mengganggumu,” kata Lewis. 

 

Anya memandang Lewis dengan tatapan tak percaya. 

 

“Aku bisa mengurus diriku kalo Ririn ganggu aku. 

 

“Kamu serius? Kamu mau Beno bekerja di restoranku?” tanya Anya sambil membelalakkan mata. 

 

 Lewis mengangguk perlahan, lelaki tersebut sedang menimbang apakah akan memberitahu alasannya atau tidak. 

 

Mengingat  Anya berwatak keras, Lewis pun menjelaskan alasannya. Anya terdiam. Kata-kata Lewis bergema di kepalanya, menyentuh bagian kecil di hatinya yang masih menyimpan rasa iba. Akan tetapi, kenangan pahit bersama Beno terlalu kuat, membuat dinding pertahanan Anya semakin tebal.

 

“Dia nggak pantas mendapat kesempatan kedua,” kata Anya. 

 

“Aku tahu kamu terluka, Anya. Aku nggak akan pernah memaksa kamu untuk melupakan apa yang terjadi. Tapi aku pikir, kesempatan kedua bukan tentang dia pantas atau nggak. Kadang, itu soal memberi ruang bagi orang untuk memperbaiki dirinya. Bahkan kalau dia pernah gagal sebelumnya,” kata Lewis lembut.

 

“Kalau dia mendekati aku lagi?” Anya menantang Lewis dengan tatapan tajam.

 

“Dia nggak akan punya kesempatan untuk itu, karena aku ada di sini dan nggak akan biarkan itu terjadi,” tegas Lewis. 

 

Anya terdiam lama, menatap calon suaminya yang terlihat begitu yakin dengan saran memberi kesempatan kepada Beno. 

 

Hatinya saja masih diliputi keraguan, tetapi dia menyadari ada sesuatu dalam cara Lewis berbicara. Sebuah kesungguhan yang tidak bisa diabaikan.

 

“Kamu benar-benar percaya dia bisa berubah?” tanya Anya meyakinkan keputusannya. 

 

“Aku percaya semua orang punya potensi untuk berubah. Aku percaya kamu dan aku cukup kuat untuk menghadapinya, apapun yang terjadi. Beno sekarang gelandangan, dari cerita yang kudengar, Ririn memang memaksanya meninggalkanmu, tetapi sekarang dia menyesali perbuatannya.”

 

“Kau tahu? Dia menghubungimu untuk meminta pekerjaan. Itu karena aku yang menyarankan begitu, sebagai lelaki, awalnya aku tidak ingin masa lalu calon istriku dekat-dekat. Akan tetapi, aku melihat kejujuran di matanya. Dia bahkan menangis menyesal atas sikapnya kepadamu,” ungkap Lewis. 

 

Anya memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya yang berkecamuk. Lewis selalu punya cara untuk menyentuh sisi dirinya yang paling lembut, membuatnya ragu pada keputusannya sendiri. Dia tahu Lewis bukan sekadar membela Beno. Calon suaminya itu berbicara atas dasar keyakinan yang lebih besar, keyakinan bahwa semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik.

 

“Baiklah,” gumam Anya akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

 

Lewis tertegun. “Maksudmu?”

 

“Aku bilang baiklah.” Anya membuka matanya, menatap Lewis dengan ekspresi yang masih dipenuhi kebimbangan, “kalau kamu pikir ini penting, aku akan mencoba memberinya kesempatan. Tapi kalau dia mengecewakan lagi … aku gak tinggal diam,” tandas Anya. 

 

“Aku yang akan menanggung apapun hukuman yang kau inginkan,” potong Lewis cepat, senyumnya perlahan merekah.

 

Anya menghela napas panjang, merasa lega sekaligus resah. 

 

“Jangan buat aku menyesal, Lewis.” Anya bangkit berdiri. 

 

Lewis mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Anya dengan lembut.

 

 “Aku nggak akan buat kamu menyesal. Aku janji,” lontar Lewis sambil menatap mesra Anya. 

 

Malam itu, meski rasa ragu masih menggelayuti hati Anya, dia memilih percaya pada Lewis. Di sisi lain, Lewis merasa lega karena berhasil meyakinkan calon istrinya. Akan tetapi dia tahu, perjuangan ini baru saja dimulai. Beno mungkin akan menjadi ujian, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi hubungan mereka. Lewis yakin Anya akan menjaga hati untuknya, dan tidak akan kembali tergoda dengan Beno. 

 

Bukan tanpa alasan dia begitu yakin, sebab dia dan Beno sudah membuat sebuah kesepakatan tidak tertulis dengan mantan suami Anya. Usai mengantar wanita yang dia cintai, Lewis kembali menuju sebuah tempat untuk menemui Beno. 

 

Lewis menceritakan bahwa Anya setuju untuk menerima Beno bekerja, wajah Beno berubah menjadi berbinar. 

 

“Aku berjanji tidak akan berkhianat. Aku tidak memiliki tujuan apapun asal aku memiliki tempat tinggal dan punya uang buat makan,” kata Beno. 

 

“Se putus asa itu kah kau?” tanya Lewis serius. 

 

“Lewis, sebenarnya aku ….” ucapan Beno terhenti sejenak.

Lates Chapters

30

[Mila, jangan lupa atur pernikahan Anya,] tulis Anton dalam sebuah pesan kepada Karmila. [Oke, Pa. Kita buat pernikahan paling megah dan indah di seantero negeri.…

29

Hotel Grand Imperial yang terletak di jantung kota sudah berubah menjadi bak istana mewah sejak tadi malam, langit-langit tinggi ballroom hotel itu dihiasi dengan ribuan…

28

Ririn memang bukan siapa-siapa bagi Anya. Hatinya teriris mendengar kabar yang baru saja dia dengar, Lewis datang tergesa-gesa, menyusul calon istrinya yang terlihat terguncang. “Apa…

27

Di tempat lain, Ririn berdiri di depan jendela rumah kontrakannya, memandangi hujan yang turun deras membasahi jalanan di depan rumahnya. Tatapannya kosong, tubuhnya gemetar, dan…

26

Dukungan Lewis kepada Beno tidak pernah surut. Dia melakukan semua diam-diam, tanpa sepengetahuan Anya. Setiap pekan, Lewis rutin mengunjungi Beno di rumah rehabilitasi, membawakan buku-buku…

25

“Sebenarnya aku benar-benar jatuh cinta sama Anya. Aku menyadari saat aku bersama Ririn, dan sayangnya itu sudah terlambat untuk ku,” ungkap Beno jujur kepada Lewis. …

23

Ririn sudah tiba di kontrakannya, pintu dia banting keras. Menimbulkan gema suara yang memecah keheningan. Wanita itu masuk dengan langkah berat, wajahnya merah padam penuh…

22

“Pergi?” Ririn tertawa sinis, “eh denger, ya. Aku gak akan pergi sebelum semua orang di sini tahu siapa kamu sebenarnya.”   Beberapa pelanggan mulai berbisik-bisik.…

21

“Aku gak peduli dengan apapun ancaman dari pelakor. Pergi sana, aku sibuk,” usir Anya dengan suara ketus.     “Anya, jangan kira kamu di atas angin…

20

“Maksudnya apa? Kan kamu yang maksa deketin Anya. Aku terpaksa akting biar dia percaya dan bisa ngasih duit lah, kok malah ngamuk, aneh!” hardik Beno. …

19

“Apa-apaan ini, Mami!” seru Beno sambil bangkit berdiri dengan wajah marah.    “Pergi dari sini, atau dihancurkan mukamu yang jelek itu!” hardik Karmila dengan wajah…

18

"Tapi mereka kan inget kita. Uang dan kekuasaan mereka bisa buat kita celaka, trus kita gimana? Bisa aja diciduk kapan aja." Beno tampak mulai panik,…

17

“Mami?” gumam Ririn dengan mata terbelalak.    Beno tertawa kecil, lalu menyerahkan kembali benda yang berupa buku menu dengan tampilan mewah tersebut.   “Di dunia…

16

“Apa aku boleh tau, Tuan?” tanya Lewis sopan.    “Tentu, kau bagian dari keluarga. Aku cuma perlu menunggumu melamar putri bungsuku,” jawab Anton sambil menepuk…

15

Lewis menyerahkan Indra ke pihak berwenang dengan semua bukti yang telah dikumpulkan, termasuk pengakuannya. Dia tahu keadilan harus ditegakkan untuk Anya, meskipun itu tidak akan…

14

Indra menggeleng, dia tidak terima dengan semua yang diungkapkan Anton. Dia merasa semua salah, dia sudah melakukan yang terbaik, tetapi tetap saja salah. Akhirnya dia…

13

Rupanya, saat Lewis mendengar perintah untuk Karmila, dia meminta asistennya untuk mencari Indra dan Lastri.    Asisten Lewis berhasil menemukan alamat orang yang menculik Anya…

12

Karmila pun panik, tepat saat Lewis tiba terdengar teriakan wanita itu memanggil pelayan, dan bertanya apa yang sedang terjadi.   Karmila meminta lelaki itu menghubungi…

11

“Untung aku sempat ambil rambut Anya, nanti tinggal kasih aja,” gumam Karmila.   Dua orang lelaki bertubuh tegap datang, mereka adalah asisten sekaligus pengawal setia…

10

Anya dirawat selama tiga hari, dan keadaannya jauh lebih baik. Dokter menyarankan agar dia tidak berusaha mencari tahu akan kepingan ingatan yang tidak dia mengerti…
error: Content is protected !!